
Dengan langkah tegap dan terlihat sangat gagah, Matteo memasuki ruang kerja sang ayah. Sedangkan Damiano mengikutinya dari belakang. Ia tampak begitu setia mengiringi pria muda yang ada di depannya.
Di dalam ruang kerja, telah menunggu Antonio bersama putranya, Marco. Mereka segera berdiri ketika Matteo telah memasuki ruangan itu. Antonio juga menyambut Matteo dengan sebuah anggukan pelan.
“Tidak perlu terlalu formal, Paman,” ucap Matteo seraya memersilakan Antonio beserta putranya untuk kembali duduk.
“Ada apa, Theo? Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting,” tanya Antonio. Raut mukanya terlihat begitu penasaran. Sedangkan Marco hanya ongkang-ongkang kaki dan seakan tidak tertarik untuk mengikuti pertemuan tersebut.
“Begini paman, seperti yang sudah Paman ketahui bahwa orang tuaku telah tiada. Saat ini, tim forensik tengah bekerja keras untuk mengidentifikasi jenazah mereka berdua, karena kondisi mereka sangat mengenaskan dan tidak dapat dikenali lagi. Itu sesuatu yang sangat menyedihkan untukku,” Matteo langsung membuka pertemuan tersebut tanpa banyak basa-basi.
“Akan tetapi, di sisi lain ayah meninggalkan segudang pekerjaan yang masih harus terus dijalankan. Organisasi ini dan juga roda perekonomian keluarga de Luca. Bukannya aku tidak menghormati mendiang ayahku. Namun, sebagai satu-satunya putra dari Roberto de Luca, maka aku telah mengambil keputusan untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan dari Klan de Luca. Aku harap Paman dapat membantuku untuk menjalankan segala tugas dengan baik,” lanjut Matteo lagi dengan nada bicaranya yang datar.
Antonio terkejut saat mendengar semua yang diucapkan oleh Matteo. Ia tidak menyangka jika Matteo akan mengambil keputusan secepat itu. Diliriknya Marco untuk sejenak. Pria itu masih bersikap tak acuh, seperti biasanya. Antonio kembali mengalihkan pandangannya kepada Matteo. Keponakannya itu masih setia dengan raut wajahnya yang datar dan terlihat dingin. Antonio pun mengempaskan napas berat. “Apa itu tidak terlalu terburu-buru, Theo?” tanyanya. Ia terlihat sedikit keberatan dengan keputusan Matteo.
“Kita tidak bisa membiarkan kursi kepemimpinan kosong, Tuan Antonio,” sela Damiano seraya menatap ke arah pria dengan janggut yang cukup tebal itu.
“Ya, aku paham itu Damiano. Akan tetapi, kita masih dalam masa berkabung, bahkan jenazah adikku beserta istrinya belum dimakamkan. Tidak etis rasanya jika harus memikirkan hal-hal seperti itu saat ini. Lagi pula, Roberto adalah adikku satu-satunya. Melihatnya tewas mengenaskan seperti itu, membuat hatiku begitu teriris. Entah bajingan mana yang telah berani melakukan hal seperti itu? Semoga saja adikku dan istrinya dapat beristirahat dengan tenang,” ujar Antonio dengan sedikit berapi-api. Ia terlihat menahan emosi. Pria itu mengubah posisi duduknya. Ia tampak begitu angkuh dengan kaki kiri yang ia letakan di atas paha sebelah kanannya.
__ADS_1
“Kita pasti akan dapat mengetahui siapa pelakunya. Tunggulah hingga beberapa waktu ke depan, karena saat ini polisi sedang menyelidiki kasusnya. Tidak akan menguntungkan bagi kita jika bergerak tanpa perencanaan yang kurang matang,” sahut Damiano dengan tenangnya.
“Ya, lagi pula menurutku apa yang harus diselidiki? Mereka menaruh bom di mobil Matteo. Itu artinya sudah jelas jika yang menjadi sasarannya adalah si pemilik mobil. Paman dan bibi hanya mengalami nasib sial karena memakai mobil yang salah,” celetuk Marco dengan seenaknya.
Mendengar perkataan dari sepupunya yang dirasa kurang pantas, seketika raut wajah Matteo berubah. Tatapan tajam ia layangkan untuk pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu. Jika tidak sedang dalam suasana berkabung, maka Matteo sudah pasti langsung membungkam mulut Marco dengan sebuah pukulan keras. “Jaga bicaramu, Marco! Jangan karena kau sepupuku, maka kau berpikir aku akan mentolelir semua ucapanmu yang kurang ajar itu! Beruntung saat ini aku masih dalam suasana berduka,” geram Matteo.
Marco masih terlihat tenang. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan dari Matteo. Sementara Antonio hanya mengeluh pelan seraya menggelengkan kepalanya. Sejujurnya ia tidak ingin Marco mencari masalah dengan Matteo. Akan tetapi, putranya memang selalu bersikap seenaknya. “Sebaiknya kau keluar dari ruangan ini, Marco!” suruh Antonio.
“Kenapa Ayah tidak menyuruhku sejak tadi? Buang-buang waktu saja aku berada di sini. Membosankan!” celoteh Marco seraya beranjak dari duduknya. Tanpa berbasa-basi lagi, ia segera meninggalkan pertemuan itu sambil bersiul-siul. Tak terlihat suasana berkabung dalam dirinya. Hal itu membuat Matteo dan Damiano sama-sama mengernyitkan kening.
“Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku memukulnya,” sahut Matteo. Ia menahan rasa jengkel di hatinya. Sebenarnya sudah dari dulu Matteo ingin sekali memberi pelajaran kepada sepupunya itu.
“Sudahlah, jangan hiraukan anak itu,” balas Antonio. Ia mendehem demi menetralkan perasaan jengkel di hatinya atas sikap menyebalkan yang ditunjukan oleh Marco. “Begini, Theo. Aku punya usul untukmu,” ucap Antonio lagi. Ia membetulkan posisi duduknya.
“Aku pikir, sebaiknya kita membuat tim investigasi sendiri. Aku rasa itu akan jauh lebih efektif dan juga lebih cepat. Kau tahu sendiri bukan, proses hukum itu biasanya sangat lama dan berbelit-belit. Ada banyak sekali prosedur yang harus mereka jalankan dengan benar, dengan segala aturan yang menurutku itu sangat membuang waktu,” tutur pria berusia setengah abad lebih itu dengan sangat meyakinkan.
Matteo melirik kepada Damiano. Ia seakan tengah meminta saran dari pria itu. “Maaf Tuan Antonio. Saya rasa polisi tidak akan menghentikan investigasi yang telah mereka lakukan dengan begitu saja. Kita tahu seperti apa reputasi tuan Roberto. Beliau orang penting. Saya rasa, mereka juga akan bekerja keras untuk dapat menemukan titik terang siapa pelakunya,” bantah Damiano. "Apa tidak sebaiknya kita menunggu terlebih dahulu, barulah bergerak? Kita harus menyusun rencana yang matang dan juga ...." Damiano menjeda kata-katanya.
__ADS_1
“Aku tahu bagaimana caranya agar polisi segera menghentikan investigasi yang tengah mereka lakukan,” sela Antonio dengan segera.
“Bagaimana caranya, Paman?” tanya Matteo dengan sorot matanya yang tajam.
Antonio kemudian meletakan sikunya pada tangan sofa di sebelah kanannya. Pria itu lalu mengusap-usap janggut tebal yang menghiasi sebagian wajahnya seraya tersenyum. Damiano melihat ada hal aneh dalam senyuman itu. Baginya, itu sebuah senyuman yang tampak sangat misterius. Namun, pria itu tak ingin berspekulasi.
Sementara itu, Coco baru tiba di kota Venice dengan motor sport yang dikendarainya. Lajang dua puluh enam tahun tersebut memasuki sebuah bangunan berlantai dua, yang sudah disiapkan oleh Matteo untuk dirinya selama tinggal di sana. Bangunan itu berhadapan langsung dengan bangunan yang ditempati Mia dan keluarganya, sehingga ketika ia membuka jendela, maka Coco akan langsung melihat gadis itu dengan segala aktivitasnya.
Coco merasa kagum akan suasana di sana. Venice memang kota terapung yang sangat indah dengan suasana romantisnya yang begitu kental. “Pantas saja kau jatuh cinta dengan tempat ini, Theo,” gumam Coco seraya berdiri di dekat jendela kamarnya. Sebatang rokok pun menemaninya sore itu, ketika ia melihat seorang gadis dengan rambut pirang dan penampilan yang terbilang cukup berani. Gadis itu memasuki bangunan tempat tinggal Mia. Coco yakin jika gadis itu pasti Daniella yang pernah Matteo ceritakan kepadanya. “Luar biasa,” decak Coco seraya tersenyum nakal. Sayangnya, ia ke sana bukan untuk Daniella, melainkan untuk mengawasi Mia.
Hampir setengah jam berdiri di dekat jendela, tetapi tidak ada tanda-tanda Mia di sana. Coco kemudian melihat arloji di pergelangan kirinya. Ia baru sadar jika belum waktunya Mia untuk kembali dari kedai. Coco akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Namun, niatnya tertunda ketika ia melihat gadis lain yang melintas dan menuju ke dalam bangunan itu. Gadis berambut lurus dengan panjang sebatas punggung. Penampilannya terlihat begitu simpel, tapi sangat manis.
Tersungging sebuah senyuman tipis di sudut bibir pria itu. Coco yakin jika gadis itu pastilah yang bernama Francesca. “Manis sekali, seperti permen,” gumam Coco. Entah apa yang ia pikirkan tentang gadis yang kini telah menghilang di balik pintu rumahnya.
__ADS_1