Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Cuori Spezzati


__ADS_3

Hingga pagi hari menjelang, Matteo tak kunjung memejamkan mata. Benaknya terus mengulang percintaan panas yang ia lakukan bersama Mia semalam. Tak disangka, Mianya yang lugu bisa bersikap seliar itu di atas ranjang. Sungguh pengalaman pertama yang menakjubkan bagi Matteo sejak pertama kali bercinta dengan wanita muda itu.


Ditatapnya wajah pulas Mia yang tampak begitu kelelahan. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, tetapi Mia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Tersungging senyuman lembut dari bibir Matteo. Seluruh kecemburuannya menguap begitu saja, hanya dengan perlakuan penuh cinta dari Mia. Perlahan, jemarinya menyusuri wajah cantik sang istri yang terlihat begitu damai. Setitik penyesalan terbit di sudut hati Matteo akibat sikapnya yang berlebihan terhadap Mia. Mungkin seperti itu juga yang Mia rasakan, saat Camilla datang kepada dirinya.


“Perdonami, Mia. Aku akan belajar menahan diri dan menghindari pertengkaran yang tak perlu denganmu,” bisik Matteo lirih, tepat setelah ia mengecup pipi istrinya. Matteo kemudian bangkit dari ranjang dan berniat untuk membersihkan diri. Pergerakan dari pria itu telah berhasil membuat Mia terbangun. “Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara yang agak parau.


“Tidurlah lagi, Cara mia. Hari masih pagi,” Matteo kembali ke tepian ranjang dan berbaring di samping Mia. Ia lalu mencium bibir indah itu untuk beberapa lama. Akan tetapi, Mia tak percaya begitu saja atas perkataan suaminya Segera wanita muda itu menoleh pada jam digital di atas laci. Matanya seketika terbelalak. “Astaga! Aku bangun terlalu siang! Aku belum menyiapkan sarapan!” serunya panik. Dengan terburu-buru, Mia menyibakkan selimut dan menampakkan tubuh indahnya yang masih berada dalam keadaan polos. Terlihat ada tanda merah dari sisa-sisa percintaan semalam suntuk bersama Matteo, di beberapa bagian tubuh kuning langsatnya.


Saat itu, Matteo hanya mampu menatap nanar seraya menelan ludahnya berkali-kali. Tanpa banyak bicara, ia segera menggendong tubuh Mia dan membawanya ke kamar mandi. “Akan kubantu untuk membersihkan dirimu,” ujarnya pelan. Sementara Mia tak menolak sama sekali. Ia menganggap perlakuan manis Matteo, sebagai ekspresi dari perasaan cinta yang dirasakan pria itu terhadapnya.


Wajah cantik Mia bahkan terus saja merona, ketika ia mengingat perlakuan Matteo beberapa jam yang lalu. Walaupun saat itu ia tengah sibuk menyiapkan sarapan, tetapi angannya tak jua lepas dari adegan nakal yang dirinya lakoni bersama sang suami.


“Kau kenapa, Mia? Apa kau baik-baik saja? Lihatlah, wajahmu merah. Apakah kau demam?” tiba-tiba saja Francesca sudah berdiri di sampingnya, yang juga diikuti oleh Daniella dan Marco. Mereka kemudian duduk di samping kiri dan kanan Matteo yang sedari tadi telah siap di kursi makan. Matteo hanya bisa tersenyum simpul melihat istrinya yang tergagap atas pertanyaan saudarinya itu.


“Mia hanya kelelahan,” sahut Matteo, membuat wanita itu melotot ke arahnya.


“Ah, aku sudah tahu ke mana arahnya,” sungut Daniella yang diiringi gelak tawa dari Marco dan Francesca.


“Aku berharap kebahagiaan ini bisa berlangsung selamanya. Jangan ada lagi pertengkaran, karena hari ini aku akan kembali ke Roma bersama Daniella. Jika kalian bertengkar, hatiku menjadi tidak tenang di sana,” tutur Francesca.

__ADS_1


“Jadi, kalian akan kembali ke Roma?” tanya Marco dengan agak terkejut.


“Rencananya pagi ini. Sudah terlalu lama Francy meninggalkan kuliahya dan aku harus kembali mengurus restoran,” jawab Daniella. Gadis itu sudah terlihat biasa saja. Tak terlihat ada tanda-tanda trauma atas apa yang telah menimpanya. Daniella memang sosok yang terbilang unik. Ia mungkin sangat menyebalkan. Akan tetapi, Daniella adalah gadis yang kuat, dan pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan.


Matteo hanya mendengar percakapan mereka tanpa berniat menimpali, sebab matanya masih terfokus pada sosok cantik yang sudah menawan hatinya. Ia tak bosan memperhatikan gerak-gerik Mia sejak tadi. Tak berapa lama, Matteo merasakan ponselnya bergetar sesaat, pertanda bahwa ada pesan masuk. Tanpa suara, pria bermata abu-abu itu membuka pesan yang ternyata datang dari Camilla. Wanita itu memberitahukan kepadanya bahwa seorang investor yang sempat ia ceritakan kemarin, telah menyetujui kerja sama mereka dan ingin menemui Matteo secepatnya.


Pria rupawan itu mengela napas pelan. Adalah hal yang sulit jika ia membiarkan Camilla datang kembali ke Casa de Luca. Matteo tak ingin lagi memantik perselisihan dengan Mia atas kedatangan gadis itu di kediamannya. Ia merasa tak sanggup harus menghadapi kecemburuan istrinya.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Matteo membalas pesan Camilla. Ia membuat janji pertemuan dengan gadis itu, yang juga akan dihadiri oleh seorang investor di sebuah restoran langganan kedua orang tuanya. Saking seriusnya ia menunduk saat mengetik pesan, sampai-sampai Matteo tak sadar jika Mia sudah memanggilnya berkali-kali. Daniella bahkan harus mencolek lengannya. Matteo segera mendongak, menatap Daniella dengan penuh tanda tanya. “Ada apa?” tanyanya.


Namun, belum sempat Daniella menjawab, Mia sudah lebih dulu menyela, “Pesan dari siapa, Theo? Serius sekali.” selidik wanita berambut cokelat itu.


Mia tak segera berpaling dari Matteo. Diamatinya wajah itu. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang Matteo sembunyikan dari dirinya. Akan tetapi, ia menutupi kecurigaan itu dengan senyuman lebar. “Baiklah, kalau begitu. Kita mulai saja sarapannya. Semuanya sudah siap,” ajak Mia hangat.


Sarapan pada pagi itu terasa damai dan menyenangkan. Ditambah dengan kedatangan Coco yang makin menghangatkan suasana. Ia berencana akan mengantarkan Francesca dan Daniella pulang ke Roma. Hingga tak terasa, detik demi detik berlalu. Tibalah saatnya bagi Francesca dan Daniella untuk berpamitan kepada Mia.


Meskipun dengan berat hati dan sedikit khawatir, Mia tetap memasang senyuman terbaik untuk kedua saudari tirinya. “Jangan lupa untuk segera menghubungiku jika sudah sampai,” pesan Mia yang disambut dengan anggukan cepat dari Francesca dan Daniella.


Suasana pun kembali sepi, ketika salah satu mobil milik Matteo yang ditumpangi oleh mereka telah meninggalkan area Casa de Luca. Tak berapa lama, Matteo juga menghampiri Mia dan mencium keningnya. “Aku juga akan keluar sebentar. Ada janji pertemuan bisnis dengan seorang investor,” Matteo tersenyum hangat sambil merapikan kerah kemeja yang ia kenakan.

__ADS_1


"Masalah pekerjaan? Kenapa mereka tidak langsung datang kemari? Biasanya kau selalu membahas semua yang berhubungan dengan pekerjaan di sini. Kau memiliki ruang kerja yang sangat nyaman, Theo," tanya Mia antara heran dan curiga. Ia lalu bersedekap dan mengamati suaminya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Rapi sekali, Theo,” komentarnya lagi. Mia juga mengendus tubuh sang suami. "Apakah investor yang akan kau temui memahami fashion juga? Kau sangat wangi," wajah dan nada bicara Mia terlihat berbeda dari yang ia tunjukkan tadi saat di meja makan.


“Ayolah, Mia. Aku harus terlihat rapi, karena aku akan bertemu dengan investor penting. Kesan pertama menentukan segalanya, Sayang,” dalih Matteo dengan tenangnya.


"Memangnya kau akan menemui mereka di mana?" tanya Mia lagi. Tak biasanya ia begitu detail seperti itu terhadap kegiatan Matteo.


"Di restoran langganan orang tuaku, yang dulu pernah kuceritakan. Kapan-kapan aku akan mengajakmu makan malam di sana," jawab Matteo seraya mengecup hangat kening Mia. Sambil berlalu, ia melambaikan tangan dan segera menuju halaman. Matteo mengendarai mobil jeep kesayangannya. Sedangkan Mia terus memperhatikan Matteo sampai sosoknya tak terlihat lagi.


Rasa gelisah makin menjadi dalam hati Mia. Perasaan curiga mulai menggelitik rasa penasarannya. Mia memperhatikan beberapa pelayan yang berlalu-lalang di sana sembari tersenyum dan memberi hormat. Tiba-tiba terbersit sebuah ide gila di kepalanya. Mia pun bergegas ke kamar dan mengambil sling bag kesayangannya, yang merupakan hadiah pernikahan mereka dari Matteo. Setelah itu, Mia lalu memanggil Nico dan menyuruhnya untuk menyiapkan mobil. Dengan harap-harap cemas, ia memerintahkan sang sopir untuk mengantarkannya ke tempat yang akan Matteo tuju.


Nico sudah sangat hapal maksud restoran yang dimaksud oleh Mia, karena dulu ia sering sekali mengantarkan orang tua Matteo ke sana, sehingga tak membutuhkan waktu yang terlalu llama bagi Nico, untuk tiba di restoran tersebut.


Dengan lihai, Nico memarkirkan kendaraan milik sang majikan di tempat parkir yang telah disediakan. Sementara Mia terburu-buru menuruni mobil dengan dada berdebar. Ia terus berharap bahwa apa yang dilakukan Matteo di sana, tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.


Namun, lagi-lagi Mia harus kecewa. Setelah dirinya memasuki restoran, Mia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu, hingga tatapannya terpaku pada sosok wanita yang benar-benar tidak disukai olehnya. Wanita itu duduk di salah satu meja berukuran sedang, yang bisa ditempati oleh empat hingga enam orang. Wanita yang tak lain adalah Camilla, sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang Mia yakini dengan pasti bahwa itu adalah Matteo, meskipun saat itu pria tersebut duduk dengan posisi membelakanginya.


Camilla tampak tertawa dengan gayanya yang khas dan begitu menggoda. Sesekali ia menyentuh punggung tangan Matteo.


Bagaikan ditusuk ribuan belati, Mia mere•mas dadanya kuat-kuat, demi mengurangi rasa perihnya. Tak ada hal lain yang ingin dilakukannya saat itu, selain menghindar dari sang suami sejauh mungkin.

__ADS_1


__ADS_2