
“Kenapa kau tampak tidak suka melihatku datang kemari, Mia?” tanya Daniella dengan sinisnya.
“Tidak apa-apa. Tidak biasanya kau datang kemari. Biasanya pada jam seperti ini kau sedang asyik tidur siang,” sindir Mia.
Daniella mendengus kesal. “Aku hanya ingin menengok kekasihku," balas Daniella dengan entengnya.
Seketika Mia menghentikan kegiatannya dan menatap Daniella tajam. “Oh, ya. Aku lupa itu. Apa kau sudah memberi makan siang untuk kekasihmu?” tanya Mia dengan nada bicara penuh penekanan.
Daniella tertawa pelan dengan penuh cibiran. “Kau tahu, Mia. Aku baru saja dari salon dan melakukan perawatan kuku. Jadi, tugas memberi makan siang akan kuserahkan padamu,” jawab Daniella seenaknya.
“Tidak!” tegas Mia. “Lakukan sendiri!” tolaknya.
Daniella terbelalak mendengar jawaban Mia. “Ada apa denganmu? Tadi pagi kau berlutut dan memohon padaku! Sekarang dengan tegas kau menolak perintahku?”
“Satu-satunya alasanku berlutut di hadapanmu adalah supaya Theo tidak mendapatkan masalah! Kau tahu sendiri bagaimana karakter ayah! Aku tak mau Ayah memukuli Theo yang tengah terluka!” kilah Mia.
Matteo yang selalu bersikap waspada meskipun di dalam gudang, dapat mendengar dengan jelas ucapan Mia. Hatinya berdesir dan terasa tidak nyaman. Debar-debar aneh menyeruak dari dalam dirinya. Ini adalah kali pertama Matteo mengalami perasaan semacam itu. Kembali Matteo menajamkan indera pendengarannya.
“Apa kau ingin aku juga berlutut padamu? Jangan mimpi!” tolak Daniella ketus.
“Kalau kau tak mau membantuku menyiapkan makan siang, maka aku sendiri yang akan mengajaknya makan siang bersamaku,” tandas Daniella. Ia berjalan dengan langkah gemulai menuju pintu gudang dan membukanya.
“Dani! Apa yang kau lakukan?” seru Mia. Ia segera menghadang langkah Daniella.
__ADS_1
“Aku hanya kasihan padanya. Pria setampan itu harus bersembunyi di gudang yang sempit. Betapa tidak sopannya dirimu, Mia!” gerutu Daniella. Ia menyingkirkan tubuh Mia dan memaksa masuk ke gudang.
Mia begitu panik, ia tak ingin ayahnya mengetahui bahwa dirinya menyembunyikan laki-laki asing di dalam gudang.
Mr. Gio adalah seorang pria berwatak tegas di balik sifatnya yang penyabar dan lembut terhadap keluarga. Ia tak akan segan-segan untuk berhadapan dengan siapapun yang dirasa mencurigakan dan dapat membahayakan putri kesayangannya. Sebagai putri kandung dari pria itu, tentu saja Mia sangat mengenal sosok sang ayah.
Akhirnya, demi melindungi Matteo, Mia berpura-pura mengganggu ayahnya. Ia mencoba untuk mengalihkan perhatian Mr. Gio dengan membuat pria itu sibuk, agar ia tidak melihat Daniella yang mengendap-endap keluar dari gudang sembari menggandeng Matteo.
Demikian pula dengan Valentino yang tengah asyik membantu merapikan buku menu. Pemuda itu sama sekali tidak menyadari Daniella yang kini telah berdiri di depannya.
“Ayah, hari ini alasanku datang kemari selain karena ingin melihat-lihat kedai, tapi karena aku juga ingin memperkenalkan pacar baruku,” Daniella menarik paksa Matteo yang tampak kikuk di sebelahnya. Pria bertato itu memaksakan dirinya untuk tersenyum kepada Mr. Gio. Senyuman manis yang tidak pernah Matteo perlihatkan, selain kepada kedua orang tuanya dan juga kepada Mia tentunya.
“Astaga!” seru Mr. Gio. “Darimana pria jangkung ini datang? Bagaimana aku bisa tak melihatnya masuk?” Mr. Gio seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Valentino juga ikut menoleh ke arah Matteo dan memandangnya dengan penuh curiga. Pemuda itu seperti tengah meneliti setiap hal yang ada pada diri Matteo, termasuk tato yang ada di beberapa bagian tubuh Matteo, yang tidak tertutupi oleh pakaian yang dikenakannya.
Keringat dingin mulai membanjiri kening gadis itu. Mia hanya berharap agar ayahnya tak curiga. Perasaan was-was yang menguasai dirinya, membuat Mia tidak dapat berkonsentrasi sepenuhnya pada pekerjaannya. Alhasil, tanpa sengaja ia menjatuhkan kursi yang akan ia pindahkan ke bagian luar kedai. Kursi itu jatuh tepat di atas kakinya.
"Aw!" Mia memekik cukup nyaring, antara rasa terkejut dan juga sakit yang bercampur menjadi satu. Gadis itu meringis kecil.
“Ya Tuhan, Mia!” seru Mr. Gio. Ia menghentikan pekerjaannya dan segera menghampiri anak gadisnya. Matteo yang mendengar teriakan Mia, segera menoleh dan berniat ikut melihat keadaan gadis itu.
Namun, Valentino bergerak lebih cepat. Pemuda dengan penampilannya yang rapi itu melewati Matteo dan berlari menghampiri Mia. Ia bahkan berlomba dengan Mr. Gio untuk meraih kaki Mia dan memeriksanya.
__ADS_1
“Mana yang sakit, Nak?” tanya Mr. Gio dengan cemas. Ia segera memegangi kaki Mia dan membuat Valentino sedikit bergeser.
“Tidak, Ayah! Aku baik-baik saja!” jawab Mia meskipun ia merasakan jika kakinya terasa begitu sakit.
“Jelas-jelas tadi kau memekik kesakitan!" bantah Mr. Gio dengan cemas. Ia tahu jika putrinya sedang berpura-pura baik-baik saja.
"Diamlah, biar Ayah periksa! Ayah tidak mau jika sampai kau kenapa-kenapa!” Mr. Gio terlihat begitu perhatian dan sangat menyayangi Mia. Sikapnya yang begitu mencemaskan Mia, membuat Matteo kembali teringat kepada kedua orang tuanya.
Matteo juga sangat merindukan kedua orang tuanya. Sudah hampir dua minggu dari semenjak Silvio menghubunginya, Matteo pergi meninggalkan Brescia.
Akan tetapi, kini ia harus segera kembali ke Brescia. Ia harus menemui orang tuanya. Setelah itu, dirinya akan menantang Silvio secara jantan untuk menuntaskan balas dendamnya.
Matteo menatap wajah cantik Mia. Gadis berkuncir kuda itu terlihat kesakitan ketika Mr.Gio memeriksa kakinya yang tadi tertimpa kursi. Pria berambut gondrong itu tersenyum kecil.
Mia terlihat begitu manis. Ia bahkan jauh lebih menyegarkan dari setangkai anggur yang baru dipetik dari pohonnya. Matteo belum pernah mengagumi seorang wanita lain, selain Gabriela ibunya. Namun, kali ini hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ya, Mia memang terlihat berbeda.
Senyuman kecil Matteo makin lama terlihat semakin merekah. Tanpa ia sadari, Daniella memerhatikannya sejak tadi. Gadis berambut coklat kemerahan itu sudah menyadari jika ada sesuatu yang lebih antara Matteo dan Mia. Namun, Daniella tidak peduli. Baginya selama ia bisa menunjukan jika dirinya lebih hebat jika dibandingkan dengan Mia, itu sudah jauh lebih dari cukup.
Gadis itu tidak berpikir tentang cinta, atau hal indah lainnya yang selalu menjadi impian para gadis kebanyakan. Daniella selalu mengikuti segala sesuatu yang menurutnya benar.
Sementara itu, tatapan lembut Matteo masih tertuju pada Mia yang tengah meringis kesakitan. Anehnya, meski Matteo melihat Mia terus meringis kesakitan, pria itu justru malah menyunggingkan senyumannya dengan semakin lebar. Ia sangat menyukai wajah Mia yang terlihat manja, dalam ekspresi rasa sakitnya.
Akan tetapi, senyuman Matteo terpaksa harus terhenti dengan seketika. Matteo melihat Valentino memijit telapak kaki Mia dengan penuh perasaan. Ia juga membantu Mia berdiri dengan hati-hati.
__ADS_1
Sedangkan Mia hanya tersenyum. Ia tidak menolaknya sama sekali. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Valentino, ketika pemuda itu bermaksud untuk menggendongnya.
Valentino memindahkan Mia ke tempat yang jauh lebih nyaman. Matteo hanya terdiam ketika ia melihat Valentino membopong tubuh ramping Mia, dan mendudukannya pada sebuah kursi yang diambilkan oleh Mr. Gio.