
Matteo menghentikan laju mobilnya tepat di depan bengkel milik Coco. Mereka segera keluar dari mobil dan memasuki bengkel itu. Tanpa berlama-lama, Matteo bergegas menuju ke kamar di mana ia meletakan berbagai senjatanya. Ia memasukan senjata di dalam brankas ke dalam peti dan menyatukannya dengan senjata yang lain.
Sedangkan, senjata yang telah berhasil ia rebut kembali dari Silvio, ia selundupkan melalui ekspedisi kapal cargo yang melintasi Laut Mediterania. Senjata itu langsung dikirim ke Brescia, dan akan diambil oleh pria bernama Luigi yang merupakan anak buah kepercayaan Matteo. Luigi, sudah mengerti dengan tugasnya dan tidak perlu diberi arahan yang terlalu detail dari Matteo.
“Theo, apa kau sudah selesai?” seru Coco dari luar kamar itu.
“Iya, sebentar lagi!” balas Matteo. Ia tengah membereskan beberapa belati dan bayonet ke dalam peti yang sama. Setelah itu, Matteo segera keluar dan menghampiri Coco yang juga telah bersiap dengan semua barang-barangnya.
Sesuai dengan perbincangan mereka saat masih berada di rumah sakit, di Palermo. Matteo mengajak Coco untuk ikut bersamanya ke Casa de Luca. Ia mengkhawatirkan keselamatan dan juga kondisi sahabatnya yang belum pulih. Matteo merasa yakin jika tidak lama lagi anak buah Vincenzo Moriarty pasti akan segera menemukan mereka. Coco menyetujui usulan dari Matteo. Lagi pula ia hanya tinggal sendiri di bengkel itu.
“Kita harus bergegas,” ujar Matteo seraya beranjak keluar. Ia menaikkan semua barang-barang yang akan mereka bawa ke Casa de Luca. Sementara Coco segera masuk ke mobil. Ia disarankan untuk lebih banyak istirahat setelah menjalani operasi.
“Apa semua barang berhargamu sudah kau bawa?” tanya Matteo dari luar jendela kaca mobil sebelah Coco. Pria bermata coklat itu menoleh.
“Aku selalu membawa barang berhargaku ke manapun,” celotehnya dengan senyum nakal. Sementara Matteo hanya mengempaskan napas pendek. Selalu ada waktu bagi seorang Coco untuk bercanda. Matteo sudah tidak merasa heran dengan hal itu. Ia tidak bertanya lagi. Segera, pria itupun masuk dan duduk di belakang kemudi.
“Apa yang akan kau katakan kepada orang tuamu jika nanti mereka bertanya?” Coco melirik Matteo yang baru selesai memasang sabuk pengamannya.
“Ada seribu satu alasan yang dapat kupakai. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Pikirkan saja bekas luka operasimu. Apa yang akan kau katakan jika para gadis bertanya padamu?” balas Matteo dengan tak acuh. Ia pun menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan bengkel yang sudah tertutup rapat.
Coco tergelak mendengar ucapan Matteo. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke samping. Untuk sesaat, bayangan wajah Lenatta muncul. Namun, dengan segera Coco menepisnya. Ia tidak harus merasa bersalah ataupun kehilangan atas kematian wanita itu. Lenatta telah berkhianat. Kematian memang pantas untuk ia dapatkan.
Sementara, ingatan Matteo kembali tertuju kepada Mia. Ia merasa senang dapat melihat wajah gadis itu lagi, meskipun hanya dari kejauhan.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, untuk dapat sampai ke Casa de Luca. Mobil yang Matteo kendarai kini telah memasuki kawasan dengan pemandangan perkebunan anggur yang luasnya mencapai ribuan hektar.
Dua orang penjaga pintu gerbang, segera membukakan pintu masuk ke area perkebunan itu. Mereka memberi hormat kepada Matteo.
Mobil yang dikendarai Matteo, kini telah melewati jalur khusus dari arah samping bangunan megah yang berdiri kokoh dengan gaya arsitektur yang sangat khas. Sebelum sampai ke halaman bangunan itu, Matteo harus kembali melewati sebuah pintu gerbang dengan dua orang penjaga yang segera membukakan pintu untuk dirinya. Barulah setelah itu ia dapat memarkirkan mobilnya di halaman bangunan megah yang diberi nama Casa de Luca.
Seorang pria segera menghampiri ke arah Matteo, ketika ia baru turun dari mobilnya. Matteo melemparkan kunci mobil yang ia pegang kepada pria itu. “Parkirkan mobilku dengan hati-hati!” petintahnya. Pria itu mengangguk dengan hormat. Matteo kemudian mengajak Coco untuk masuk.
“Apa akan ada yang membawakan barang-barangku?” tanya Coco sambil terus mengikuti langkah Matteo dari sebelah kanan pria itu.
“Ya. Nanti kusuruh orang untuk membawakannya langsung ke kamarmu,” jawab Matteo datar. Kedua pria bertubuh tegap itu, kini telah memasuki ruang tamu yang luas dan tanpa sekat.
Di sana terpasang berberapa sofa dengan nuansa warna putih dan kuning gading. Gaya interior yang digunakan sangat luar biasa dan begitu khas ala sebuah rumah perkebunan.
“Tuan Muda,” sapanya seraya membungkuk hormat.
“Siapkan kamar tamu!” perintah Matteo tanpa banyak berbasa-basi. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Coco yang masih duduk dengan tenang di sofa. “Kau ingin minum sesuatu?” tawarnya.
Coco mengangguk seraya menjawab, “Boleh.”
Tanpa harus diminta, pelayan itu sudah paham dengan tugasnya. Setelah kembali membungkuk hormat kepada Matteo, wanita itu segera beranjak dari sana. Sementara Matteo mengempaskan tubuhnya di atas sofa sebelah Coco.
“Di mana orang tuamu?” tanya Coco yang heran karena ia tidak melihat orang tua Matteo sejak dari awal kedatangan mereka di sana.
__ADS_1
“Entahlah. Aku rasa mereka mungkin sedang tidak di rumah,” jawab Matteo dengan malas. Pria itupun mengeluh pelan.
Ya, seperti itulah kehidupan Matteo. Kedua orang tuanya kerap pergi untuk menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan bisnis mereka.
Seperti yang telah diketahui, orang tua Matteo merupakan pemilik dari dari ribuan hektar perkebunan anggur. Mereka juga memproduksi sendiri minuman anggur hasil olahan langsung dengan kualitas super, yang tentu saja ditujukan khusus bagi kalangan atas.
Keluarga de Luca sudah menjalankan bisnis itu secara turun temurun. Semuanya dimulai dari kakek buyut Matteo. Produk minuman anggur yang mereka jual, sudah diakui kualitas dan keunggulanya. Karena itulah, Roberto tetap memertahankan ciri khas dari anggur yang mereka produksi.
Du Fontaine, merupakan merek dagang yang mereka pakai sejak dulu. Nama itu seperti membawa sebuah keberuntungan bagi keluarga de Luca, karena hingga saat ini minuman anggur yang mereka produksi masih berada di peringkat paling atas, jika dibandingkan dengan merek-merek lainnya.
“Jika aku menjadi dirimu, maka aku akan lebih memilih untuk segera menikahi wanita paling cantik di Italia, lalu hidup tenang di sini sambil memandangi kebun anggur yang luas,” ujar Coco seraya melirik sahabatnya. Matteo menoleh dan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
“Hanya sebatas itukah gairah hidupmu?” balas Matteo. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah ke dekat lawang berbentuk melengkung dengan ukuran yang cukup lebar.
Di ruang tamu itu, setidaknya terdapat sekitar tiga lawang berbentuk sama, dengan jarak yang sudah diatur sedemikian rupa. Matteo menyenderkan lengannya pada dinding lawang tersebut dan menatap ke luar, pada halaman samping yang cukup luas dengan kolam air mancur yang indah.
“Suatu hari nanti, aku pasti akan melakukan hal itu. Namun, tidak untuk saat ini. Aku masih ingin menikmati dan terus mengasah keahlianku dalam merakit senjata. Karena itu yang menjadi kepuasanku sekarang," ucap Matteo dengan pandangan yang menerawang pada hamparan perkebunan anggur yang berada di samping bangunan megah itu.
Di sana, seakan tidak ada hal lain yang dapat ia lihat selain pohon anggur yang menghijau. Itulah yang menjadi napas bagi keluarga de Luca. Namun, penyumbang terbesar dari kekayaan keluarga de Luca yang sebenarnya adalah, tentu saja hasil dari penjualan senjata ilegal.
Organisasi de Luca sendiri, kini memiliki anak buah sekitar seribu orang yang tersebar di seluruh Italia. Pusat dari organisasi itu, berada di Palermo. Namun, Roberto selaku ketua, lebih sering menghabiskan waktunya di Brescia. Sedangkan, untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan organisasi, telah ia mewakilkan kepada kakaknya, yang bernama Antonio de Luca.
__ADS_1