Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Sekotak Cerutu


__ADS_3

Mia tersentak dan menatap tajam kepada Coco. Ia tak yakin apakah pria bermata cokelat tersebut mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Adriano. Sesaat kemudian, tatapan tajam Mia kian melemah, dan akhirnya wanita itu memilih untuk mengalihkan pandangan pada hamparan luas kebun anggur. Mia mengela dan mengempaskan napas yang terdengar berat dan penuh sesal.


 


“Tidak ada apapun antara aku dan tuan D’Angelo. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu, Ricci? Aku selalu berusaha untuk setia terhadap Matteo,” Mia berkata tanpa menoleh kepada Coco. Ia seakan tengah menyembunyikan semua rasa penyesalan yang terus menghantuinya seperti sebuah mimpi buruk.


 


“Aku tidak berkata jika kau telah berselingkuh dari sahabatku. Aku hanya ingin agar kau mengatakan, apa yang telah D’Angelo lakukan padamu saat di Monaco? Kau terlihat ketakutan ketika berada di dekatnya. Begitu pula dengan gangguan kecemasanmu yang kambuh. Aku yakin jika itu bukan karena mimpi tentang srigala, kan?” ucap Coco dengan setengah membujuk agar Mia mau berterus terang.


 


“Sudah kukatakan bahwa tidak ada apa-apa antara aku dan tuan D’Angelo. Itu saja, Ricci,” bantah Mia resah.


 


“Apa kau yakin, Mia? Aku rasa cepat atau lambat, Matteo pasti akan mengetahui apapun yang kau sembunyikan darinya. Ingatlah seperti apa suamimu. Namun, jika kau bersedia untuk mengatakannya padaku, setidaknya aku bisa sedikit membantumu dari masalah yang akan timbul nantinya,” bujuk Coco lagi.


 


“Justru itu akan mendatangkan masalah besar, Ricci!” sanggah Mia tegas. Ia pun lalu terdiam. Secara tidak langsung, Mia sudah membenarkan anggapan Coco tadi. Wanita itu kemudian mengulum bibirnya. “Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk,” ucap Mia lagi dengan pelan.


 


“Katakan saja, Mia,” desak Coco.


 


“Jangan memaksaku! Lagi pula ini bukan urusanmu!” sergah Mia cukup tegas.


 


“Akan menjadi urusanku jika hal itu berkaitan dengan Matteo! Sebaiknya jujur saja padaku,” Coco tak kalah tegas. “Ayo, Mia! Katakan!” desak Coco.


 


“Adriano menciumku dengan paksa ....” terlontar sudah apa yang Mia simpan dan berusaha ia tutupi selama ini. Helaan napas penuh sesal kembali terdengar meluncur dari bibir red cherry, yang kini tampak sedikit bergetar.


 


“Sudah kuduga,” gumam Coco menahan emosinya. Pria itu mengepalkan tangan dan memukul pahanya sendiri.


 


“Aku tahu saat itu Adriano tengah berada di bawah pengaruh minuman keras, dan aku pun tak menyangka jika ia akan melakukan hal seperti itu padaku,” Mia terdiam sejenak, sebelum memutuskan untuk bicara terus-terang kepada Coco. Ia lalu menuturkan apa yang terjadi pada malam itu di dalam mansion megah Adriano.


 


“Aku sangat takut, Ricci. Aku tak ingin Matteo sampai mengetahui semua ini, karena kau juga pasti paham dengan karakter dari suamiku. Aku tidak mau jika Matteo terus mengotori tangannya dengan darah. Itu terlalu mengerikan, meskipun aku merasa sangat terhina karena ulah pria itu. Namun, akan jauh lebih baik jika aku menutup mimpi buruk tersebut dan biarlah Matteo tak perlu tahu,” jelas Mia lirih. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tak jatuh. Mia tak ingin terlihat lemah, meskipun ia belum mampu untuk menjadi sekuat apa yang diinginkannya. Hati Mia terlalu lembut. Ia mudah sekali tersentuh serta terbawa perasaan yang membuatnya terkadang sulit mengendalikan tangis.


 


“Kau yakin jika Matteo tak akan mengetahui hal ini?” tanya Coco ragu.


 


“Tidak jika kau tak mengatakan apapun kepadanya. Aku mohon jangan ....”


 


“Apa yang tak boleh kuketahui? Aku harap kalian tidak sedang merencanakan sesuatu untuk menjebakku,” suara berat Matteo terdengar di sana dan menyela ucapan Mia, hingga wanita itu terdiam membeku. Keresahan yang begitu besar kembali menyelimuti wajah cantiknya. Namun, dengan segera Mia mengendalikan diri dan berusaha untuk tetap terlihat tenang.


 

__ADS_1


Sedangkan Coco segera menyunggingkan sebuah senyuman. Ia berdiri dan menyambut Matteo dengan hangat. “Hai, Amico. Kau sudah pulang rupanya,” ujar pria berambut ikal itu. “Sayang sekali, padahal Mia sedang berencana akan membuat pesta kejutan untukmu. Namun, jika kau sudah mengetahuinya ... bukan kejutan lagi,” sesal pria itu dengan senyum lebarnya yang terlihat konyol.


 


“Kau yang baru saja memberitahuku, Bodoh!” sergah Matteo gemas dengan sikap konyol sahabatnya itu. Sedangkan Coco hanya garuk-garuk kepala. Tatapannya tiba-tiba tertuju pada sesosok gadis asing yang baru datang menghampiri mereka.


 


“Nyonya, apa Adriano dan Sergei sudah pergi?” tanya Valerie yang langsung bertanya tanya basa-basi terlebih dahulu. Mia menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan yang diiringi senyum lembut. Sementara Coco masih memperhatikan Valerie dengan lekat. Gadis itu terlihat begitu unik di matanya.


 


Merasa ada yang menatapnya dengan aneh, Valerie segera mengalihkn tatapan kepada Coco. “Hey, Bung! Ada masalah?” tanyanya.


 


“Tidak,” jawab Coco seraya mengangkat kedua bahunya. “Hanya saja, aku baru melihatmu di sini,” ucapnya lagi.


 


“Aku juga baru melihatmu, Bung,” balas Valerie dengan gaya bicaranya yang terlihat seperti biasa, seakan tanpa aturan sama sekali.


 


“Kalau begitu, kalian berkenalanlah. Ingat Val, pria ini adalah calon adik iparku. Jadi, jangan sampai kau memiliki keinginan untuk merebutnya juga,” canda Mia diiringi tawa geli.


 


Sontak Valerie tergelak. Gadis dengan tubuh penuh tato itu tak merasa tersinggung sama sekali, karena ia tahu jika Mia hanya sekadar bercanda dengannya. “Tenang saja, Nyonya. Aku hanya akan membidik suami Anda, meski itu pun belum berhasil hingga saat ini,” balasnya diiringi tawa.


 


“Jangan mimpi!” sergah Matteo jengkel karena dijadikan bahan guyonan oleh kedua wanita itu, sedangkan Coco hanya tertawa. Setidaknya Mia tak terlihat murung lagi. Wanita cantik itu sudah tertawa dengan lepas. Sesaat kemudian, Matteo lalu mengalihkan pandangannya kepada Coco. “Kebetulan kau kemari. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting denganmu,” ucapnya tampak serius.


 


 


“Aku akan ke ruang kerja dulu, Sayang,” Matteo  berpamitan seraya mengecup lembut bibir Mia, yang menyambut dirinya dengan hangat.


 


“Setelah itu, segeralah mandi. Akan kubuatkan kau arancini sebagai camilan,” ucap Mia mesra. Disentuhnya dengan penuh perasaan rahang kokoh Matteo yang dipenuhi janggut rapi dan pendek.


 


“Kau yang terbaik, Sayangku,” sanjung Matteo dengan nada bicara dan ekspresi wajah yang terlihat merayu.


 


“Kau yang terhebat, Theo,” balas Mia. Mereka berdua mengabaikan Coco yang saat itu tampak salah tingkah. Pria tersebut sudah memainkan bola matanya, menggaruk-garuk kepala, dan berdehem beberapa kali. Sedangkan Valerie hanya terpaku melihat adegan dan sikap Matteo yang begitu berbeda dengan saat ia berada di bengkel tadi.


 


“Bagitulah mereka. Jika sudah saling menempel seperti itu, maka keduanya tak akan peduli dengan hal lain,” ujar Coco dengan agak jengkel.  “Aku tunggu di ruang kerjamu, Theo,” ucap Coco seraya berlalu terlebih dahulu ke ruang kerja.


 Mau tak mau, Valerie pun mengikuti ke mana Coco pergi, daripada ia harus terus melihat adegan mesra yang membuatnya miris. Akan tetapi, Coco segera menghentikan langkahnya. “Jangan mengikutiku, Nona bertato!” hardiknya keberatan.


 


“Lalu, aku harus ke mana?” protes Valerie seraya berkacak pinggang.


 

__ADS_1


“Terserah, ke mana saja. Makan mungkin, atau kau bisa berenang?” tawar Coco asal.


 


“Ck! Aku pergi ke kamarku saja!” sungut Valerie kemudian.


 


“Memangnya kau punya kamar di sini?” selidik Coco. Giliran ia yang sekarang berkacak pinggang.


 


“Tuan tampan Matteo de Luca telah menyediakan satu kamar tamu khusus untukku. Aku bisa menempatinya kapanpun aku mau,” jawab Valerie sedikit pongah. Ia pun berlalu begitu saja dari hadapan Coco yang mengernyit keheranan.


 


“Apa yang ingin kau bicarakan, Amico?” tanya Coco penasaran, setelah beberapa saat berlalu. Sementara Valerie telah pergi ke kamarnya ketika Matteo datang dengan senyum lebar di bibirnya.


 “Kenapa kau?” tanya Coco lagi dengan nada tak suka.


 


“Tidak apa-apa. Aku baru saja mendapat asupan kebahagiaan dari istriku,” sahut Matteo bangga dan sepertinya memang sengaja menjawab demikian.


 


Coco hanya mendengus kesal sembari mengajak Matteo agar mengikutinya ke ruang kerja. “Dengar, tadi siang Stefano menghubungiku,” ujar Coco sesaat setelah mereka berada di ruang kerja. Coco mengarahkan pandangan keluar, mengawasi kalau-kalau ada yang mencurigakan di luar ruangan. Setelah dieasa aman, ia kemudian menutup pintunya rapat-rapat.


 


“Lalu?” Matteo berjalan ke meja kerjanya dan membuka kotak kayu penuh ukiran yang berisi cerutu berkualitas premium. Ia memotong ujung cerutu dan membakarnya pelan menggunakan korek api otomatis dari jarak beberapa senti. “Mau?” Matteo menawarkan cerutunya pada Coco, tetapi pria bermata cokelat itu menolaknya.


 


“Stefano sudah melunasi seluruh utangnya ditambah bonus yang ia berikan pada geng kecil itu, agar dirinya bisa leluasa bergerak di organisasi. Ia juga telah bertemu Lucia dan menyuruh gadis itu bersembunyi di bengkelku,” ujar Coco panjang lebar sembari menarik panas panjang.


 


“Kalau kau keberatan, kau bisa mengusirnya,” saran Matteo datar.


 


“Tidak, biarkan saja. Setidaknya ada yang membuatkan aku sarapan,” canda Coco seraya tertawa renyah.


 


“Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Selain itu kau juga harus membicarakan hal tersebut dengan Francy. Kau tahu bukan, jika wanita selalu bersikap berlebihan,” ucap Matteo sambil mengisap cerutunya.


 


“Kau gila! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. Sudahlah, Amico! Jangan lanjutkan lagi! Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa Stefano sudah siap merangkak dari bawah menuju lingkaran elit Tigre Nero. Mungkin geraknya membutuhkan waktu yang lama, tapi tak ada yang tak bisa ditembus oleh Stefano. Aku tahu itu!” tegas Coco dengan yakin.


"Memangnya seberapa besar temanmu itu memahami geng Tigre Nero? Entahlah, tapi aku merasa jika Adriano bukanlah orang yang sembarangan," pikir Matteo seraya mengepulkan asap dari mulutnya.


Belum sempat Coco menanggapi ucapan Matteo, terdengar suara ketukan di pintu. Mia masuk dengan membawa sepiring arancini.


🍒🍒🍒


Hai, ini ceuceu rekomendasikan satu lagi novel keren dan seru 👇👇👇



 

__ADS_1


__ADS_2