Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Little Memories


__ADS_3

Menjelang sore hari, Adriano datang ke Casa de Luca. Pria itu terlihat sangat bersemangat ketika memasuki pintu masuk bangunan megah yang menjadi tempat tinggal Matteo. Sesuai dengan pesan dari sang pemilik rumah kepada seorang pelayan yang menerima kedatangan Adriano di sana, pelayan tersebut langsung mengantarkan pria itu menuju ruang kerja sang majikan.


"Selamat sore, Tuan de Luca," sapa Adriano hangat, seraya menyalami Matteo. Seperti biasanya, ia selalu terlihat ramah dan bersahabat.


"Selamat sore, Tuan D'Angelo. Silakan duduk," balas Matteo biasa saja. Bagi Matteo, Adriano sudah bukan merupakan tamu istimewa lagi. "Ada hal penting apa sehingga Anda harus merepotkan diri segala?" tanya Matteo datar.


Namun, Adriano tetap menanggapi tenang, sikap dingin Matteo terhadapnya. Pria bermata biru itu tersenyum kalem. "Aku membawa berita penting dari tuan Redomir. Sebenarnya, berita itu disampaikan melalui seorang anak buahnya padaku kemarin. Entah kenapa, tuan Redomir tak ingin berbicara langsung dengan Anda," jelas Adriano membuat Matteo menjadi tertarik dan penasaran.


"Tentang apa? Aku tidak punya urusan lain dengan Sergei Redomir selain masalah pesanan senjata," Matteo menanggapi dengan cukup serius.


"Ya, ini juga tentang hal itu," Adriano menegaskan. "Tuan Redomir memutuskan untuk membatalkan sisa pesanannya secara sepihak. Aku benar-benar minta maaf, Tuan de Luca. Akan tetapi, ini semua di luar kuasaku," sesal Adriano. Ia merasa tak enak hati dengan sikap dari Sergei Redomir yang benar-benar memalukan.


"Jujur saja, kemarin aku sangat marah ketika mendapat kabar itu dari orang suruhannya. Tuan Redomir sudah mencoreng nama baikku di depan Anda, berhubung akulah yang menjadi perantara kalian berdua," Adriano kembali berbicara dengan nada penuh penyesalan. Kembali terbayang dalam ingatannya, ketika ia menghabisi orang suruhan Sergei Redomir dengan berondongan peluru dari pistol kesayangannya, hingga pria itu langsung tewas di tempat.


"Kenapa ia bersikap seperti itu?" Matteo merasa tak terima. "Aku hanya memproduksi senjata sesuai pesanan, dan semua komponen sudah dibuat bahkan telah dibawa ke bengkel oleh anak buahku dari Palermo. Lagi pula, pesanannya hanya tinggal sekitar empat puluh persen lagi akan selesai," terang Matteo dengan sorot mata yang sangat tajam mengarah kepada Adriano saat itu.


"Karena itulah aku juga sangat menyayangkan keputusannya yang tidak jelas," balas Adriano menanggapi. Ia sudah dapat merasakan kemarahan dari raut wajah Matteo yang terlihat tegang saat itu. "Anda tenang saja, Tuan de Luca. Aku akan berbicara dengannya agar ia memberikan klarifikasi dengan segera kepada Anda," lanjut Adriano lagi mencoba untuk mendinginkan suasana hati Matteo.


"Tidak perlu!" tolak Matteo cukup tegas. "Katakan di mana Sergei Redomir saat ini, aku yang akan menemuinya secara langsung," lanjut pria bermata abu-abu itu.

__ADS_1


"Setahuku, saat ini ia sedang berada di Milan. Kemarin-kemarin dirinya mengatakan akan kembali ke Monaco, tapi pesona gadis-gadis Italia menahannya untuk buru-buru kembali ke sana," terang Adriano lagi dengan sebuah senyuman samar di wajah tampannya.


"Berikan alamat tempat tinggalnya padaku," pinta Matteo dengan penuh penekanan. Sementara Adriano merasa serba salah. "Tak masalah bagiku jika Redomir ingin membatalkan pesanannya. Dengan begitu aku memiliki banyak waktu di rumah. Namun, aku tak suka dengan sikap pengecutnya. Sergei Redomir tak ubahnya seperti seorang penipu, dan aku tidak menyukai tipikal orang seperti itu. Berpura-pura ramah, tapi menyembunyikan sebuah niat terselubung di balik kebaikannya."


Adriano terhenyak saat mendengar ucapan tajam Matteo. Ia tak tahu, apakah kata-kata pria itu memang ditujukan untuk Sergei Redomir, atau bahkan mengandung unsur lain di dalamnya. Namun, Adriano tak ingin terpancing. Pria bertubuh tegap itu masih menunjukan sikap tenang dan ramah, seperti biasanya. "Anda memang benar, Tuan de Luca. Tak ada siapa pun di dunia ini yang menyukai sebuah kebohongan. Itu sudah pasti. Akan tetapi, ada kalanya kita harus melakukan hal terlarang itu demi satu alasan tertentu," Adriano mengempaskan napas pelan. "Apakah hari ini Anda tidak pergi ke bengkel?" tanyanya kemudian. Ia mengalihkan topi pembicaraan agar suasana tidak terlalu tegang.


"Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan Mia," jawab Matteo datar.


"Kenapa? Apakah Mi ... um maksudku nyonya de Luca sakit?" Adriano mulai menunjukan rasa khawatirnya. Jika sudah mendengar nama wanita pujaannya itu, maka seluruh konsentrasinya serta merta buyar dan bergantikan dengan bayangan paras cantik Mia.


"Tidak juga," jawab Matteo mulai sedikit tenang. "Kami baru kembali dari dokter kandungan," lanjut pria itu diakhiri senyuman puas. Sebuah jawaban yang sederhana, tapi terasa begitu menyesakkan bagi Adriano. Pria bermata biru itu memaksakan dirinya untuk tersenyum dan bersikap wajar.


"Jadi, nyonya de Luca sedang mengandung?" tanya Adriano dengan berat.


"Oh, tentu. Setiap pasangan yang sudah menikah pasti berharap untuk segera memiliki momongan. Itulah yang menjadikan sebuah pernikahan yang penuh cinta menjadi lebih sempurna. Aku sangat bahagia mendengarnya, Tuan de Luca. Sampaikan salamku untuk istri Anda. Semoga ia selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalani kehamilannya," ujar Adriano tulus. Ya, tentu saja ia selalu memberikan ketulusan yang sangat besar, untuk segala hal yang berkaitan dengan Mia.


Adriano tak peduli meskipun istri dari Matteo de Luca itu tak pernah mengetahui, bahwa ia telah menghabisi Alex demi membalaskan apa yang sudah pria itu lakukan padanya. Bagi Adriano, dengan melihat Mia dapat kembali sembuh seperti sedia kala, sudah merupakan sebuah keajaiban yang sangat luar biasa. Perasaan cintanya yang begitu besar untuk wanita itu, memang tak mungkin terbalaskan. Adriano mengetahui dengan pasti seperti apa jalinan perasaan antara Mia dan juga Matteo.


Sadar, tentu pria itu memikirkan hal tersebut dengan jelas. Sakit, sudah pasti. Akan tetapi, Adriano belajar satu hal dari cintanya yang tak terbalas, yaitu kebahagiaan terbesar adalah ketika melihat orang yang ia cintai tersenyum lebar tanpa beban. Sebuah pengorbanan kecil baginya yang merupakan seorang penguasa.

__ADS_1


"Nyonya de Luca begitu bahagia hidup dengan Anda, dan aku merasa senang melihatnya. Aku hanya berharap, semoga Anda bisa selalu membuatnya tersenyum lepas, dan menghindarkan ia dari air mata kepedihan," harap Adriano. Nada bicaranya terdengar datar dan berbalut sendu yang coba ia tutupi sebisa mungkin.


"Rasanya lucu ketika pria-pria seperti kita berbicara masalah perasaan. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita adalah manusia. Aku bersyukur karena Tuhan menganugerahkan hati yang masih berfungsi dengan baik untukku, dengan begitu aku masih dapat memakai sisi kemanusiaanku," Adriano menutup kata-katanya dengan diiringi senyuman getir yang mewakili rasa sakit dalam hatinya.


......................


Keesokan harinya, Matteo sudah bersiap untuk pergi ke Milan. Ia akan menemui Sergei di apartemen yang pria itu sewa selama berada di sana. Berbekal alamat yang diberikan oleh Adriano, ketua dari Klan de Luca itu berniat untuk mengkonfirmasi masalah kerja sama dengan pria Rusia tersebut.


"Kau akan pergi berapa lama, Theo?" Mia terlihat merajuk sambil memeluk selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Wanita itu duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan penampilan yang sangat kacau. Namun, Mia sepertinya tak peduli akan hal tersebut.


Matteo yang baru selesai mengenakan jaketnya, segera menoleh kepada sang istri. Senyuman kalem pun ia lemparkan demi menghibur Mia yang sedang berjuang melawan rasa tidak nyamannya karena faktor ngidam. Segera dihampiri wanita muda itu. Matteo kemudian duduk di tepian ranjang sambil menghadap kepada Mia. "Aku harus pergi, tapi tidak akan lama," ucapnya lembut seraya merapikan rambut Mia yang acak-acakan.


"Kenapa tidak menyuruh Zucca saja untuk mewakilimu, Theo," rengek Mia sambil memegangi tangan Matteo. Ia tak ingin Matteo pergi meskipun hanya sebentar saja.


"Tidak bisa, Sayangku. Ini menyangkut pesanan senjata dari Sergei Redomir. Jadi, aku harus menanganinya secara langsung. Tenang saja, aku tidak akan lama. Aku akan menyuruh pelayan untuk menemanimu di sini. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa langsung memintanya," ucap Matteo lagi.


"Aku tidak butuh pelayan, Theo. Aku hanya butuh dirimu," ujar Mia semakin manja. Ia segera menghambur ke dalam pelukan Matteo dan mendekapnya dengan erat. Sementara Matteo hanya tertawa geli menanggapi sikap sang istri.


"Astaga, Cara mia. Haruskah aku menggendongmu ke manapun aku pergi?" gurau Matteo.

__ADS_1


"Jika kau mau," sahut Mia manja.


Mendengar jawaban dari Mia, Matteo hanya menggaruk keningnya. "Sayangnya ... aku tidak mau," balas pria itu, yang segera bersambut sebuah cubitan dari Mia. Matteo terkekeh. Mia pun sepertinya merasa terhibur dengan candaan sederhana itu. Kenangan kecil yang akan selalu mereka ingat sampai kapanpun.


__ADS_2