Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Unification


__ADS_3

Sejenak, Matteo terdiam dan menatap tajam kepada wanita yang telah bercinta dengannya beberapa saat lalu. Kini, wanita itu telah bersiap untuk menghabisi nyawanya. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Matteo. Pria itu masih tampak begitu tenang, meskipun nyawanya sedang terancam.


Matteo pernah ditodong puluhan senjata saat berhadapan dengan Vincenzo Moriarty. Satu pistol yang diarahkan oleh wanita seperti Mia, tentu saja tak akan membuatnya merasa takut. Ia yakin jika Mia tak akan berani untuk menarik pelatuk dari pistol tersebut. “Lakukan, Mia! Tembaklah aku jika memang itu bisa menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu!” tantang Matteo pelan. Ia tidak bergerak sama sekali. Sementara Mia, masih menodongkan pistol itu meskipun tangannya sedikit gemetar. Mia tidak biasa memegang senjata.


“Bunuh aku sekarang juga, jika itu bisa menghilangkan rasa sakitmu. Namun, sebelum kau melakukannya ... ada baiknya kau belajar terlebih dahulu bagaimana caranya menggunakan senjata agar tidak meleset dari sasaran ....” secepat kilat Matteo berusaha merebut pistol itu dari tangan Mia. Ia membalikkan posisi mereka, sehingga kini Mia-lah yang berada di bawah tubuhnya.


Matteo menahan pergelangan tangan Mia yang ia letakkan di sisi kiri dan kanan wanita muda itu. Tatap matanya begitu tajam dan beradu dengan tatapan sayu Mia yang kini terengah-engah, di bawah kungkungan lengan kekar milik pria yang masih dalam keadaan telanjang bulat itu. Dengan begitu mudahnya, pistol tersebut lepas dari tangan Mia.


Matteo kemudian melemparkan pistol itu ke atas karpet di dekat tempat tidur dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegangi pergelangan tangan Mia. Pria itu tampak sangat beringas. Ia lalu menarik gulungan handuk yang menutupi sebagian tubuh Mia sehingga menjadi terlepas. Tubuh kuning langsat itupun kembali terekspos dengan sempurna, membuat naluri liar seorang Matteo kembali hadir dan melumpuhkan kesadarannya. “Kau telah salah memilih lawan, Nona!” ucap Matteo dengan suaranya yang terdengar begitu dalam dan sedikit menakutkan. Untuk kedua kalinya dalam hari itu, ia kembali membuat Mia takluk di dalam kegagahannya.


Beberapa saat telah berlalu. Matteo duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Sesekali ia melirik Mia yang berbaring sambil membelakanginya. “Kau tidak tahu seberapa sakitnya harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani kita, Mia,” Matteo memecah kebisuan di antara mereka berdua.


“Ketika kau datang mencariku ke Casa de Luca, saat itu aku sedang dalam suasana berkabung. Jenazah kedua orang tuaku bahkan masih berada di tangan tim forensik dan belum sempat dimakamkan,” terang Matteo pelan dan datar.


Seketika Mia membalikkan badannya. Ia menatap Matteo dengan penuh rasa penasaran. “Apa maksudmu?” tanyanya.


Matteo menoleh. Wajah yang tadi terlihat beringas itu kini berubah sendu. Tampak di sana ada kepedihan yang tidak ia ungkapkan. “Ada seseorang yang memasang bom di mobilku, Mia. Aku tahu, bahwa dirikulah yang menjadi incaran mereka. Namun, sialnya mobil itu justru dipakai oleh kedua orang tuaku,” tutur Matteo masih dengan nada bicaranya yang datar.


“Kau pikir aku akan berani menyeretmu dalam kehidupanku yang keras? Aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu juga. Biarlah hatiku sakit dengan melihatmu menjadi milik pria lain, tapi setidaknya aku masih bisa melihatmu dari kejauhan. Namun, semuanya berbeda jika terjadi sesuatu yang buruk padamu. Karena itu aku menyuruh Coco untuk mengawasimu, meskipun kami berdua tetap kecolongan,” jelas Matteo.


Inilah saat yang tepat untuk mengatakan segalanya kepada Mia, agar wanita itu dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya. Matteo menceritakan semua rentetan peristiwa yang ia temukan di kota Venice. Ia memberitahu Mia tentang pria-pria misterius yang juga memakai tato Klan de Luca, hingga penyelidikannya ke Pulau Sicilia. “Jika kau masih belum mempercayai semua yang kujelaskan padamu, maka aku bisa membawamu menemui mereka. Setelah itu, aku tidak akan memaksamu untuk percaya lagi padaku. Lagi pula, aku rasa kau pasti merindukan kota itu bukan?”


Mia tidak menjawab. Ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal, dan yang terdengar saat itu hanyalah isakan pilu dari bibirnya.

__ADS_1


Melihat Mia kembali menangis, tentu saja Matteo menjadi tidak tega. Disentuhnya lengan kuning langsat wanita muda itu dengan lembut. “Ayolah, Mia! Jangan menangis! Kau tahu? Di satu sisi, kau adalah kekuatan baru untukku. Namun, di sisi lain kau juga merupakan kelemahan terbesarku. Bagi sebagian orang, mungkin aku ini ibarat sebuah mesin pembunuh. Akan tetapi, pada dasarnya aku tetap manusia biasa. Aku sama sepertimu, seperti ayahmu, seperti kedua orang tuaku. Ada sisi lemah yang membuatku merasa begitu rapuh, dan aku baru menyadari hal itu."


"Aku begitu rapuh saat jauh dari orang-orang yang kusayangi. Aku lemah, saat kehilangan dirimu, Mia. Aku tidak dapat mengendalikan diri. Semua amarah dan rasa putus asa itu bercampur menjadi satu. Berkecamuk dengan kuat di dalam dadaku,” ungkap Matteo membuat Mia seketika menampakkan wajahnya. Ia segera bangkit dan beringsut ke dekat Matteo. Disentuhnya wajah rupawan itu. “Theo ....” de•sahnya pelan.


“Aku mencintaimu, Mia,” aku Matteo lagi dengan tatap matanya yang sangat berbeda. Tanpa banyak bicara, Mia segera memeluk tubuh tegap itu dengan erat. “Maaf, karena aku baru berani mengakuinya saat ini,” ucap Matteo lagi seraya membalas pelukan hangat Mia.


Rasanya Matteo ingin agar waktu berhenti di detik itu. Aroma tubuh dan kelembutan Mia bagaikan oase yang ia dapatkan setelah tersesat di tengah gurun dalam bertahun-tahun lamanya.


“Ikutlah denganku, Mia,” ajak Matteo tiba-tiba.


“Ke mana?” tanya Mia lirih.


“Ke Casa de Luca. Hiduplah bersamaku di sana. Temani aku selamanya,” pinta Matteo dengan degup jantung yang semakin kencang. Sementara Mia, hanya tersenyum simpul saat mendengar debaran di dalam dada seorang Matteo yang merupakan pria nomor satu, sang memimpin Klan dan Organisasi de Luca yang menguasai hampir seluruh daratan Italia.


"Ya, kau benar Mia," sahut Matteo datar. "Aku ingin menceritakan tentang seseorang padamu."


"Tentang siapa?" tanya Mia penasaran. Sementara Matteo tidak segera menjawab. Ia berpikir untuk sejenak. Dikecupnya kening Mia dengan lembut.


"Namanya Camilla Rosetti. Ia merupakan putri dari salah satu kolega ayahku. Aku mengenalnya jauh sebelum bertemu denganmu. Ia adalah gadis yang paling dekat denganku. Akan tetapi, tidak pernah ada ikatan yang istimewa di antara kami berdua. Semuanya terjadi begitu saja," tutur Matteo dengan tatapan lurus ke depan, pada dinding berhiaskan cermin yang cukup besar, sehingga ia dapat melihat bayangan dirinya dan Mia dalam cermin tersebut.


"Selama tiga tahun ini, ia kembali dalam hidupku. Ia kerap menemaniku dan ... kau tahu Mia? Aku tidak pernah menyangka jika kita akan bertemu lagi. Seandainya kita bertemu kembali, aku tidak yakin kau akan memaafkan apalagi sampai menerimaku. Kau menolakku dengan tegas dan aku merasa takut untuk mendekat, tapi aku tetap berusaha untuk menemukanmu. Aku hanya ingin agar kau mengetahui yang sebenarnya. Aku ingin membersihkan namaku di matamu."


"Namun, tak bisa kupungkiri jika aku mengharapkan yang lebih, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dalam tiga tahun terhadapmu. Aku tidak tahu apakah kau sudah memiliki kekasih atau mungkin seorang suami. Terlalu sulit untuk menemukan seorang Mia," Matteo mengempaskan napas penuh sesal.

__ADS_1


"Namaku Florecita Mia Subagio. Semenjak pindah ke Roma, aku memang sengaja memakai nama itu," ujar Mia pelan. Sementara Matteo justru tertawa getir.


"Lucu sekali. Aku tidak tahu namamu, dan tidak sempat bertanya tentang hal itu, karena aku tidak pernah berpikir akan seperti ini ceritanya. Kukira, dengan menjauhimu maka semuanya akan baik-baik saja," Matteo kembali mengempaskan napas penuh sesal.


Mia kemudian menegakkan tubuhnya. Ditatapnya wajah pria tampan tersebut. Ia mencoba untuk memahami semua pergolakan batin yang dialami oleh Matteo. Mia sadar jika mereka berdua telah sama-sama kehilangan orang tua dengan cara yang sangat mengenaskan.


Disentuhnya wajah rupawan dengan janggut yang telah cukup lebat itu. Mia kemudian mencium pipi Matteo dengan lembut. "Apa yang kau inginkan sekarang?" tanyanya pelan.


Matteo menatapnya dengan lekat. Sepasang mata abu-abu itu tidak setajam biasanya. "Aku ingin maaf darimu, dan melanjutkan semua yang terjeda. Aku sudah menyingkirkan semua rintangan yang akan menjadi ancaman bagi kita. Sekarang kita sudah aman, Mia."


"Apa maksudmu?"


"Kau sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, seperti apa kehidupan yang kujalani. Aku rasa kau pasti dapat memahami maksudku," ucap Matteo membuat Mia sedikit berpikir, tapi tak lama kemudian wanita muda itu tersenyum manis kepadanya.


Sebuah sinyal yang tak mungkin disia-siakan oleh Matteo, sehingga mereka kembali mengulangi hal indah itu lagi dan lagi. Mereka berdua sudah tak memedulikan keadaan kamar yang begitu berantakan, di mana baju-baju keduanya berserakan. Mereka berdua pun sepertinya tak peduli, ketika ponsel masing-masing seakan berlomba untuk berdering. Puluhan panggilan tampak menghiasi layar ponsel Matteo dan Mia. Salah satunya merupakan panggilan dari Coco dan Francesca.


🍒


🍒


🍒


hai, satu lagi rekomendasi novel keren untuk para pembaca setia Matteo. Yuk, intip 🤗

__ADS_1



__ADS_2