
“Tuan D’Angelo? Apa yang Anda lakukan di sini?” Mia segera mengambil brokoli yang lain dan meraih pegangan troli. Ia lalu berbalik untuk menghindari pria itu, sementara Adriano bergegas mengikuti dari belakang. Ia tak peduli meskipun Mia mengabaikan dirinya dan menganggap seakan pria itu tak ada. “Kenapa Anda mengikutiku terus? Bukankah seharusnya Anda sudah pulang?” protes Mia tanpa menoleh. Pandangannya masih tertuju pada barang-barang yang ia butuhkan. Tangan dengan jemari lentik itu begitu cekatan mengambil semua sayur dan buah, lalu ia masukkan ke dalam keranjang.
Mia kemudian bermaksud mengambil salah satu makanan kaleng pada rak paling atas. Wanita itu berjinjit dan mencoba meraihnya. Namun, tangan Adriano lagi-lagi lebih dulu mendapatkan makanan kaleng itu dan mengambilkan untuk Mia. Ia kemudian meyodorkan barang itu kepadanya.
Dengan terpaksa Mia menerima makanan kaleng tersebut. Namun, ia bergegas menghindari Adriano yang saat itu menatapnya dengan sorot penuh cinta. Pria itu benar-benar membuat Mia merasa tidak nyaman. Adriano memang tak banyak bicara, tetapi dari bahasa tubuhnya menunjukkan seberapa besar perasaan yang ia persembahkan untuk Mia. Pria bermata biru itu kembali mengiringi dan sesekali mensejajari langkah Mia. “Apakah Anda tidak memiliki pekerjaan lain, Tuan D’Angelo? Acara belanjaku kali ini menjadi tak menyenangkan sama sekali,” protes Mia lagi. Kali ini ia memilih beberapa ekor udang.
“Kau menyukai seafood, Mia?” Adriano tak menggubris protes dari wanita cantik yang saat ini kembali menghindarinya. Mia juga tak menghiraukan pertanyaan pria itu. Ia berlalu begitu saja.
“Kau benar-benar tega. Padahal aku yang telah membawa kakakmu kembali. Seperti itukah cara berterima kasih kepada seorang pahlawan?” ujar Adriano pelan dengan sedikit guyonan. Kata-katanya memang berhasil membuat Mia menghentikan langkah, kemudian menoleh seraya mengempaskan napas pelan. Wanita bermata cokelat itu tersenyum. Sebuah senyuman yang teramat dipaksakan. Namun, tanpa berkata apa-apa, lagi-lagi Mia memilih untuk segera berlalu meninggalkan Adriano. Ia bergegas menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Mia mengeluarkan semua barang yang ia beli dari dalam keranjang. Seorang gadis muda yang bertugas sebagai kasir mulai menghitung totalan dari barang-barang tersebut hingga selesai. Ia pun menyebutkan jumlah uang yang harus Mia bayarkan. Namun, selagi Mia mengambil uang dari dalam dompet, Adriano telah terlebih dahulu menyodorkan kartu kredit miliknya. Dengan tenang ia melakukan hal itu. Sedangkan Mia hanya dapat memprotes apa yang pria itu lakukan melalui isyarat matanya. Akan tetapi, Adriano tak memedulikan hal tersebut, bahkan ketika mereka keluar dari swalayan itu dan berjalan menuju lift.
“Apakah Anda tidak berminat untuk membawakan kantong belanjaan sekaligus mengantarkanku kembali ke atas?” sindir Mia.
“Jika kau tak keberatan, Mia,” balas Adriano dengan senyumannya yang menawan. “Akan tetapi, aku yakin tuan de Luca pasti tak akan menyukai hal itu,” ujar Adriano lagi.
“Ya, tentu saja. Oleh karena itu, sebaiknya Anda segera pergi. Jangan sampai suamiku mengetahui jika kita bertemu di sini. Anda tahu sendiri seperti apa Matteo, dan aku tak ingin bermasalah dengannya. Lagi pula, aku yakin Anda tak akan bersedia menungguku untuk menghitung uang belanjaan yang tadi Anda bayarkan,” ucap Mia panjang lebar. Entah mengapa, karena saat itu ia terlihat begitu tenang di hadapan Adriano. Tentunya, sikap Mia yang demikian membuat Adriano merasa senang. Ia melangkah dan berdiri tepat di hadapan Mia.
“Apa kau sudah tak takut lagi padaku, Mia? Aku senang jika kau sudah tak merasa demikian, karena aku akan terus dihantui rasa bersalah saat melihat kau ketakutan pada diriku,” ucap Adriano dengan setengah berbisik. Suara pria itu terdengar begitu berat dan dalam. Terlihat jelas raut penuh penyesalan di wajah tampannya.
“Sudahlah, Tuan D’Angelo,” Mia mend•esah pelan. “Tolong jangan diungkit lagi kejadian itu. Setiap saat, aku berusaha keras untuk melupakannya. Aku harap Anda pun demikian,” ucapnya.
“Seandainya aku bisa, pasti aku akan segera melupakannya. Akan tetapi ....”
“Sadarlah, Tuan! Anda jatuh cinta pada wanita bersuami!” potong Mia dengan nada suara tinggi sebelum Adriano sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Jatuh cinta?” ulang Adriano sembari terkekeh. “Dulu, jatuh cinta adalah hal yang paling kuhindari. Rasa itu hanya membuatmu lemah. Namun, saat pertama kali aku melihatmu ....” Adriano terpaksa menjeda kata-katanya karena saat itu detak jantungnya menjadi tak beraturan, hingga membuat dada pria itu terasa sesak.
__ADS_1
“Tentu jika aku dapat mengendalikan perasaan, aku tak akan mau jatuh cinta pada seseorang yang jelas tak akan bisa kugapai. Mencintai dan patah hati di saat yang sama itu menyakitkan,” ungkap Adriano lirih.
“Namun, panah Cupid sepertinya melesat seenaknya pada hati yang salah,” imbuhnya seraya tertawa. Tawa itu berhenti ketika Mia menatapnya tajam tanpa senyum.
“Semoga Anda segera menemukan cinta sejati, Tuan,” ujar Mia pada akhirnya, setelah beberapa saat terdiam. Ia pun meninggalkan Adriano yang terpaku begitu saja tanpa berpamitan. Tubuh ramping itu menghilang di balik orang-orang yang berlalu lalang.
Adriano mengembuskan napasnya pelan sambil memejamkan mata. Ia mencoba untuk menetralkan perasaannya dalam beberapa detik, sampai akhirnya ia memutuskan untuk meraih ponsel dan menelepon seseorang.
Beberapa saat kemudian, seseorang di seberang sana menjawab panggilan darinya. “Don,” sapa seseorang itu.
“Marino, sediakan untukku gadis VVIP-mu, aku akan meluncur ke tempatmu sekarang juga,” sahut Adriano datar.
Tanpa menunggu lama, Adriano segera berbalik meninggalkan Hypermart yang terletak di kompleks apartemen mewah itu. Ia melajukan mobil sport mewahnya menuju Ostia, salah satu kawasan wisata terkenal di Roma.
Adriano menghentikan mobilnya di halaman depan sebuah resort mewah. Di sana sudah menunggu seorang pria berambut hitam dan panjang. Pria itu merentangkan tangannya untuk menyambut Adriano. “Don, selamat datang. Sudah lama Anda tidak datang kemari,” sambutnya hangat.
“Tentu saja sudah, Don,” pria bernama Marino itu tertawa lebar. “Apa aku boleh mengantarkan Anda ke kamar?” tawarnya.
“Tidak usah. Berikan saja kunci kamar itu dan tunjukkan arahnya,” titah Adriano.
“Baiklah, Don,” Marino menyerahkan kunci berwarna perak. Bentuknya terbilang unik dan klasik di zaman canggih seperti sekarang.
“Kunci pintu manual?” Adriano mengangkat salah satu alisnya.
“Selamat datang di Ostia, Don,” kelakar Marino sambil terbahak. Sedangkan Adriano menanggapinya dengan sebuah gumaman pelan.
“Anda dapat berjalan lurus melewati gedung penginapan, restoran dan belok kiri setelahnya. Ada satu paviliun khusus yang sudah kusiapkan untuk Anda di sana,” terang Marino.
__ADS_1
Adriano mengingat-ingat petunjuk itu dengan saksama. Ia lalu berjalan sesuai dengan arahan Marino, hingga akhirnya Adriano tiba di depan sebuah bangunan paviliun yang terbilang cukup mewah. Seorang wanita yang sangat cantik memakai bikini dengan tubuh yang begitu indah, telah siap menyambutnya.
“Selamat datang, Don,” sapa wanita itu menggoda. Sementara Adriano hanya mengangguk tanpa senyum.
Wanita itu membuka pintu paviliun, dengan gemulai ia meraih tangan Adriano dan menuntunnya masuk. “Siapa namamu?” tanya Adriano seraya memperhatikan wanita tersebut untuk sesaat.
“Laura, Don,” jawab wanita itu genit. Ia kemudian mendudukkan Adriano di sofa, dan mulai melakukan sebuah tarian ero•tis di depan pria itu. Akan tetapi, reaksi Adriano tak sesuai dengan yang wanita itu harapkan. Sorot mata Adriano malah terkesan sendu dan menerawang. Jelas terlihat bahwa pria bermata biru itu sama sekali tak memedulikan godaan Laura. Pikirannya malah melayang entah ke mana.
“Don,” panggil wanita itu hati-hati. “Apakah aku kurang menarik bagi Anda?” nada bicara Laura terdengar kecewa.
Adriano yang sempat melamun, kembali tersadar dan memaksakan untuk tersenyum pada wanita jelita itu. “Maafkan aku, Laura. Sepertinya aku berubah pikiran. Aku ingin sendirian saja di sini, tapi aku tetap akan membayar tiga kali lipat dari tarifmu,” tegas Adriano.
Sepasang mata Laura segera berbinar cerah, menggantikan kekecewaan yang sempat menyergap dirinya. “Terima kasih, Don!” serunya.
“Sebutkan nomor rekeningmu, aku akan segera menransfernya,” Adriano bersiap dengan ponsel di tangan. Setelah Laura memberikan nomor rekening, Adriano segera melakukan apa yang sudah ia janjikan tadi. Sesaat kemudian, ia menyuruh wanita berbikini itu untuk keluar, sementara dirinya duduk sendiri di paviliun tersebut.
Adriano duduk dengan setengah membungkukan tubuh tegapnya. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Saat itu, paras cantik Mia kembali hadir, membuatnya mengeluh pelan seraya menyugar rambut ke belakang.
__ADS_1