Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Minacciato


__ADS_3

Coco terus mencoba untuk tetap fokus dalam mengemudi, meskipun kini konsentrasinya sudah mulai buyar. Ia kembali terdiam dan menahan dirinya untuk tidak terpengaruh oleh perbincangan itu. Sementara Matteo dan Mia juga terlihat tidur nyenyak hampir sepanjang perjalanan.


 


Lain halnya dengan Francesca. Setelah mendapat telepon dari Fillipo, ia kembali tercenung. Tatapannya tak teralihkan dari sosok yang berada di belakang kemudi. Sesekali, Coco meliriknya dari pantulan spion dalam. Namun, pria itu tampaknya sudah tak ingin berkomentar apapun lagi.


 


Perjalanan panjang itu, terasa begitu lama bagi kedua insan yang tengah diombang-ambing dalam perasaan yang kacau. Hal yang seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah, tapi kini menjadi terasa begitu susah.


 


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah memasuki perbatasan kota Brescia. Coco terus memacu kendaraan itu dengan kencang. Ia ingin segera tiba di Casa de Luca.


 


“Apa kau akan tidur terus, Amico?” Coco menepuk paha Matteo untuk membangunkannya. Matteo segera terjaga. Dilihatnya mereka telah memasuki kawasan Casa de Luca. Matteo pun menoleh ke jok belakang, melihat Mia yang masih tertidur lelap.


 


“Mia, bangunlah. Aku belum bisa menggendongmu ke kamar seandainya kau tidur terus,” ujar Matteo. Namun, Mia masih terlelap, hingga Francesca yang membangunkannya. Sesaat kemudian, Mia membuka matanya. Mereka kini telah tiba di Casa de Luca. Tanpa banyak bicara, Coco segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Ia melemparkan kunci mobil itu kepada Nico yang telah siap untuk memarkikan mobil tersebut di garasi, bersama deretan mobil lainnya.


 


“Tugasku sudah selesai, Nic,” ujar Coco dengan senyuman khasnya. Ia tak ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa kini hatinya tengah dilanda kekalutan yang luar biasa. Nico tersenyum. Sigap ia menangkap kunci yang Coco lemparkan padanya. Setelah itu, ia membungkuk hormat kepada Matteo dan Mia yang baru keluar, tak lama pandangannya kemudian tertuju pada Francesca yang masih tampak murung.


 


“Nico, tolong bawakan koper adikku ke kamar tamu nomor dua. Kopernya yang berwarna merah hati,” pinta Mia dengan senyum ramahnya.


 


“Baik, Nyonya,” sahut Nico sopan. Ia lalu mengeluarkan dua buah koper dari dalam bagasi dan segera membawanya masuk.


 


“Aku ingin tidur dulu,” ucap Coco setelah mereka sama-sama berada di dalam rumah. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia berlalu menuju kamarnya. Matteo dan Mia dapat memahami hal itu, karenanya mereka tak banyak bicara.


 


“Ada apa dengan bujang itu?” tanya Damiano yang menyambut kedatangan mereka saat itu. Ia terlihat mengernyitkan keningnya karena merasa heran.


 


“Tak apa, Damiano. Ia hanya merasa lelah,” sahut Matteo. Ia lalu mendekat kepada pria bermata hijau tersebut. “Apakah ada kabar terbaru selama aku pergi?” tanyanya.


 


“Sebaiknya kau ganti pakaian dan istirahat dulu, Theo,” sela Mia. Isyarat matanya seakan mewakili apa yang harus ia katakan kepada Matteo. Pria bermata abu-abu itu melirik Damiano untuk sesaat seraya mengangkat kedua bahunya.


 


“Kita bicara lagi nanti. Bosku sudah memberikan perintahnyanya,” ucap Matteo pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Mia. Wanita berambut cokelat itu hanya tersenyum seraya mencubit pipi Matteo dengan gemas. Setelah itu, Mia lalu mengajak Francesca pergi ke kamarnya.


......................


 


Tanpa terasa, siang yang melelahkan telah berlalu. Suasana gelap kini menyelimuti Casa de Luca dengan suasananya yang sunyi. Seusai makan malam, Matteo mengajak Coco dan Damiano untuk berbincang-bincang di ruang kerjanya. Damiano yang sudah menahan rasa penasarannya sejak tadi siang karena melihat wajah Coco yang dihiasi luka lebam, segera menanyakan hal itu kepadanya. Coco pun mulai menceritakan rentetan kejadian pada malam di halaman apartemen Francesca.


“Aku tidak tahu mereka dari kelompok mana, Amico. Kulihat mereka memiliki tato yang sama,” tutur Coco setelah menceritakan kejadian malam itu kepada Matteo dan Damiano.

__ADS_1


 


“Tato seperti apa?” tanya Matteo dengan wajah yang terlihat serius.


 


Coco terdiam sejenak. Jangankan hanya gambar tato di tubuh dua pria yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya, ia bahkan masih mengingat wajah mereka dengan sangat jelas. “Kedua pria itu memiliki tato bergambar kepala macam berwarna hitam di lengan sebelah kanan mereka. Aku rasa itu merupakan simbol dari suatu kelompok tertentu, karena gambarnya sama persis,” terang Coco lagi, membuat Matteo dan Damiano terdiam. Kedua pria itu tampak berpikir. Sorot mata abu-abu milik Matteo, bahkan menatap tajam minuman yang tengah ia genggam dalam gelas kristal.


 


“Apakah ada semacam tulisan atau hal lainnya pada tato itu?” tanya Damiano untuk lebih meyakinkan perkiraannya.


 


Coco menggeleng pelan. “Tak ada apapun di sana. Aku hanya melihat gambar kepala harimau hitam,” jelas Coco dengan yakin, membuat Damiano mengela napas berat. Hal itu telah menggelitik rasa penasaran dalam hati Matteo.


 


“Kau mengetahui sesuatu, Damiano?” selidiknya. Ia menatap lekat sang pengasuh setia yang saat itu tampak sedikit tidak nyaman. Namun, tak berselang lama, Damiano pun mengangguk.


“Sepertinya, itu merupakan simbol milik geng Tigre Nero,” jawab Damiano lirih, kemudian menatap Matteo dan Coco secara bergantian.


 


“Milik Adriano D'Angelo?” selidik Matteo seraya mengernyitkan dahinya.


 


“Adriano? Pria di pulau Elba itu?” timpal Coco seraya mencondongkan badannya. “Apa anak buahnya tak memiliki pekerjaan lain, sehingga harus menjadi tukang pukulnya Filippo, atau jangan-jangan Filippo juga termasuk anggota Tigre Nero?” pikir Coco.


 


“Menurutku, pria cantik itu bukan anggota geng manapun. Ia hanya anak orang kaya yang manja, yang menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli narkoba,” tutur Matteo. “Sepertinya, ia sudah menjadi pelanggan tetap narkoba yang diproduksi oleh geng Adriano,” lanjut Matteo.


 


 


“Apapun itu, yang jelas anak buahnya sudah menyerang sahabatku! Orang-orang bodoh itu jugalah yang mencegat kendaraanku di jalan tol beberapa hari yang lalu. Aku tak akan tinggal diam untuk ini!” tegas Matteo. Tangannya terkepal erat saat emosi mulai menguasai dirinya.


 


Suasana tegang begitu terasa menyelimuti ruang kerja Matteo. Sampai beberapa menit kemudian, terdengar ketukan kencang di pintu. Damiano yang berdiri paling dekat dengan pintu, segera membukanya. Ia tampak berpikir sesaat, ketika melihat raut wajah yang ada di hadapannya. “Ada apa, Nona Francesca?” tanyanya. Mendengar nama Francesca disebut, Coco segera berdiri dan menatap gadis yang terlihat gelisah itu.


“Apakah Matteo ada di sini?” Francesca menjuruskan pandangannya ke dalam ruangan dan mencari sosok Matteo.


“Ada apa, Francy?” Matteo pun turut berdiri dan menghampirinya.


 


“Theo, kau harus segera ke kamar sekarang juga, karena Mia ....” Francesca tak melanjutkan kata-katanya.


 


“Ada apa dengan Miaku?” potong Matteo cepat.


 


“Gangguan kecemasan Mia kambuh lagi, karena ....” Francesca belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi Matteo langsung melesat keluar. Ia berlari secepat kilat menuju kamarnya. Diikuti oleh Damiano dan juga Coco. Di sana, Matteo melihat istrinya terduduk di lantai dan tengah meremas dadanya sendiri. Pipi mulusnya sudah basah oleh air mata, sementara satu tangannya mencengkeram erat ponsel yang Matteo tahu jelas bahwa itu bukan ponsel milik Mia.


 

__ADS_1


“Cara mia,” Matteo bergegas menghampiri Mia dan menuntunnya menggunakan tangan kiri. Perlahan, ia arahkan Mia untuk duduk di tepian ranjang. “Bernapaslah, Sayang. Lihat wajahku,” titahnya. Ia tetap berusaha untuk terlihat tenang.


 


“Akan kuambilkan minum untuknya,” ujar Damiano. Ia bergegas keluar dari kamar.


 


Sementara Mia menuruti perkataan Matteo. Ia menatap lekat wajah tampan itu meskipun dengan napas yang masih tersengal. Sedangkan bibirnya bergetar. Mia seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tak mampu untuk ia lakukan.


 


“Katakan ada apa ini, Francy? Kenapa Mia bisa sampai seperti ini?” sentak Matteo pada Francesca yang bergeming ketakutan di ambang pintu. Rasa khawatir yang dirasakannya, membuat Matteo hilang kontrol.


 


“Ta-tadi Mia mengajakku ke kamar, lalu kami mengobrol sebentar. Setelah itu, aku merasa harus ke kamar mandi dan kutitipkan ponselku padanya. Beberapa saat kemudian, Mia memanggilku karena ponselku berbunyi. Ia mengatakan nomor itu adalah nomor tak dikenal, jadi aku meminta tolong padanya untuk menjawab panggilan tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, karena tiba-tiba saja Mia sudah begini saat aku keluar dari kamar mandi,” papar Francesca dengan gugup. Terlihat jelas jika ia merasa begitu ketakutan melihat raut wajah Matteo saat itu. “Aku hendak memberikannya obat penenang, tapi aku tidak tahu di mana letaknya,” sambung gadis itu lagi.


 


Tanpa banyak bicara, Matteo membuka laci meja di samping ranjang. Ia lalu mengeluarkan botol kaca mungil, bertepatan dengan Damiano yang sudah berdiri di sampingnya dengan segelas air.


Sedangkan Coco mengamati itu semua sambil berdiri tepat di samping Francesca. Ia mengamati Matteo dengan sikapnya yang lemah lembut membuka mulut Mia menggunakan tangan kirinya. Dengan telaten, ia memasukkan obat dan meminumkan air untuk sang istri.


 


Tak berselang lama, keadaan Mia berangsur normal. Napasnya mulai teratur dan ia tampak jauh lebih rileks dari sebelumnya. Akan tetapi, tangannya tetap mencengkeram dada. “Katakan ada apa, Mia? Telepon dari siapa yang membuatmu sampai begini?” tanya Matteo dengan nada bicara yang terdengar halus, sembari merengkuh tubuh ramping itu.


 


"Theo, Dani ... Dani ....” Mia berkata dengan terbata, air matanya kembali jatuh.


 


“Tenanglah, Sayangku. Tarik napasmu perlahan dan ceritakan semuanya dengan pelan-pelan,” saran Matteo lembut. Ia mengelus rambut Mia dengan penuh kasih sayang.


 


“Seseorang tak dikenal menelepon Francy. Bicaranya pun sangat kasar. Pria itu mengatakan jika ia ingin bertemu dengan Francy, tapi aku langsung menolaknya. Lalu, ia mengumpat dan mengatakan jika Francy tidak segera datang, maka ia akan melukai Dani. Ia bahkan mengirimkan fotonya,” tangan Mia bergetar hebat saat dirinya berusaha membuka layar ponsel Francesca. Jari telunjuknya bergerak membuka galeri dan menunjukkan sebuah foto.


 


Matteo segera mengambil ponsel itu dari tangan Mia dan mengamati potret Daniella yang tengah berada dalam keadaan terikat, dengan moncong pistol yang menempel di pelipisnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2