
Menjelang siang, Mia sudah diizinkan pulang. Mereka kembali ke mansion Adriano untuk mengambil semua barang bawaan. Sementara yang lainnya telah siap menunggu di landasan helikopter.
“Bagaimana keadaanmu, Mia?” tanya Coco yang ternyata masih berada di dalam mansion. Ia terlihat cukup serius saat itu.
“Aku sudah jauh lebih baik, Ricci. Terima kasih,” jawab Mia lembut dengan senyuman lembutnya. “Apa kau mencari Theo? Ia sedang di kamar mandi,” ujar Mia lagi yang saat itu sudah menunggu di luar kamar.
“Tidak juga. Aku hanya ingin melihat keadaan calon kakak iparku. Syukurlah jika kau sudah merasa baik-baik saja,” sahut Coco dengan diiringi nada candaan dan membuat Mia tertawa pelan. Namun, tawa itu seketika memudar ketika Adriano datang menghampiri mereka. Wajah Mia seketika berubah pucat dan ia terlihat sedikit gelisah. Coco dapat melihat hal itu dengan jelas. Karenanya, ia pun terus mengawasi bahasa tubuh keduanya secara saksama.
“Nyonya de Luca, senang melihatmu sudah membaik,” sapa Adriano dengan senyuman ramahnya. Sedangkan Mia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
“Ini buku-buku yang mungkin Anda sukai. Bawa saja ke Casa de Luca, anggap sebagai hadiah atas kunjungan Anda dan Tuan de Luca kemari,” ucap Adriano lagi seraya menyodorkan tiga buah buku yang semalam Mia tinggalkan begitu saja di dalam ruang kerjanya. Dengan tangan bergetar, Mia menerima buku-buku tersebut. Sementara mata Coco masih tajam memperhatikan sikap dari kedua orang di hadapannya.
Tak berselang lama, Matteo muncul di sana. Mia segera mendekat kepada pria itu, dan berdiri sedikit di belakangnya. Ia terlihat sedang mencari sebuah perlindungan. “Theo, kenapa kau sangat lama?” Mia terdengar begitu resah.
“Aku hanya di kamar mandi selama sepuluh menit, Sayang,” ujar Matteo. Pandangannya kemudian tertuju pada tiga buah buku di tangan Mia. “Buku apa itu, Cara mia?” tanyanya.
“Aku dengar Nyonya de Luca senang membaca tentang sejarah mitologi romawi kuno. Kebetulan aku memiliki beberapa, jadi kuberikan itu sebagai hadiah dan kenang-kenangan atas kedatangan Anda berdua kemari. Aku harap, Tuan de Luca tidak cemburu karena hal itu,” sela Adriano panjang lebar. Ia terlihat cukup tenang dan sudah dapat menguasai dirinya.
“Oh, tentu saja tidak. Selama buku itu tidak berisikan kata-kata cinta atau rayuan gombal untuk istriku,” jawab Matteo dengan seenaknya dan membuat Adriano tertawa renyah.
“Aku masih hidup dan belum tercatat dalam sejarah, Tuan de Luca. Mungkin juga tak akan pernah, karena aku bukanlah siapa-siapa,” balas Adriano. Sesekali ia mengalihkan tatapannya kepada Mia yang tak ikut menimpali sedikitpun. Hal itu terus menjadi perhatian seorang Coco dan tentu saja membuatnya merasa aneh. Selama ini, Mia selalu bersikap ramah terhadap siapa pun.
__ADS_1
“Terima kasih atas kedatangannya kemari. Valerie sedang dalam perjalanan, dan ia akan segera ke Italia jika Anda sudah siap,” terang Adriano lagi.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi,” Matteo menyalami Adriano sekali lagi. Begitu pula dengan Coco.
Namun, tidak demikian halnya dengan Mia. Ia lebih memilih untuk mundur daripada harus bersalaman dengan Adriano.
“Ayo, Theo,” Mia menarik lengan Matteo dan mengajaknya berjalan terlebih dulu, menuju landasan helikopter yang berada di atap mansion.
Sementara Coco tidak segera mengikuti pasangan suami istri itu. Ia malah berdiri tegak di samping Adriano yang menatap nanar punggung Mia.
“Apa Anda tidak ingin mengantarkan mereka sampai ke helipad, Tuan D’Angelo?” tanya Coco datar. Ia melirik pria bertubuh tegap di sebelahnya.
“Ah, ya. Tentu saja!” setengah tersentak, Adriano bergegas mengikuti Matteo yang sudah memasuki lift menuju lantai teratas.
Sebelum Adriano sempat melangkah maju, Coco terlebih dulu mencengkeram lengan pria rupawan itu dan menariknya. “Jangan dikira aku bodoh, Tuan D’Angelo! Apa yang Anda lakukan pada Mia!” geramnya seraya melotot tajam.
Adriano terperanjat sampai-sampai ia harus menahan napasnya. Pria itu tak menyangka bahwa sahabat baik Matteo adalah seseorang yang amat jeli dan cerdas, di balik penampilannya yang santai. “Aku tidak tahu apa maksud Anda, Tuan Ricci,” dalih Adriano.
“Aku juga melihat sikap Mia yang selalu ketakutan ketika Anda mendekat! Sebisa mungkin ia selalu berusaha menghindar darimu, dan aku yakin jika itu bukan merupakan suatu kebetulan!” tegasnya dengan nada bicara yang sama.
Adriano tak segera menjawab. Mata birunya tampak menyala, menatap tak berkedip kepada Coco. Dengan gerakan pelan tapi bertenaga, Adriano melepaskan cengkeraman tangan Coco. Ia lalu menepuk dada pria berambut ikal itu. Adriano juga membetulkan letak kerahnya sebelum berbicara, “Aku menghargai Anda sebagai sahabat dekat Tuan de Luca, tapi tidak semua yang kulakukan harus kukatakan padamu. Lagi pula, ini adalah mansionku. Ada baiknya Anda sebagai tamu tetap menjaga sikap," ujar Adriano berusaha untuk tetap bersikap tenang.
“Apa yang kau lakukan itu ada hubungannya dengan Mia, brengsek!” umpat Coco sembari melayangkan tinjunya pada Adriano.
Akan tetapi, Adriano jauh lebih sigap dengan menangkap kepalan tangan Coco serta langsung menahannya. Tatapan kedua pria itu saling beradu saat itu.
“Apa yang kalian lakukan?” suara seorang gadis membuat dua pria yang tengah bersitegang itu seketika mundur dan saling menjauh untuk beberapa langkah.
“Ricci, semua orang sudah menunggumu. Kenapa kau masih di sini?” omel Francesca sembari menarik tangan kekasihnya. Setelah itu ia mengangguk kepada Adriano.
“Aku akan mengantarkan kalian ke landasan,” Adriano melirik ke arah Coco untuk sesaat, kemudian mengikuti langkah Francesca.
Sementara rahang Coco telah mengeras. Emosinya makin memuncak tatkala Adriano menyeringai padanya.
Sosok di samping Coco itu ternyata tak bisa dianggap remeh. Meskipun Adriano terlihat begitu tenang, tetapi kekuatan yang begitu besar sudah dapat ia rasakan ketika Adriano mencengkeram kepalan tangannya, bahkan sampai sekarang telapak tangan Coco masih terasa nyeri akibat ulah Adriano.
“Astaga, apa kau tersesat, Ricci?” ledek Marco yang sudah siap dengan headset aviasinya dan duduk gagah di kursi belakang helikopter, sesaat setelah Coco sampai di landasan.
__ADS_1
“Tiba-tiba saja aku tadi tak tahan ingin ke toilet,” Coco menyeringai lucu, menyembunyikan amarahnya terhadap Adriano.
“Naiklah!” titah Matteo yang sudah bersiap mengemudikan helikopternya. Ia kemudian mengangguk pada Adriano untuk berpamitan.
Adriano mundur hingga jarak aman sebelum baling-baling helikopter berputar cepat. Sepasang matanya tetap awas memandang helikopter berwarna hitam itu hingga terbang tak terlihat di ketinggian. Senyum yang sedari tadi ia pamerkan kepada Matteo, perlahan memudar, berganti menjadi raut dingin tanpa emosi.
Sementara itu, tak sampai satu jam helikopter yang dikemudikan oleh Matteo telah tiba di landasan Casa de Luca. Rombongannya tiba lebih dulu daripada Zucca dan anak buah lainnya yang memilih untuk melakukan perjalanan darat. Mia yang sedari tadi berwajah tegang, kini terlihat mulai dapat bernapas lega. Tujuan utamanya adalah kamar tidur. Terlalu banyak beban pikiran, membuat wanita itu merasa begitu lelah. Tanpa menunggu Matteo yang masih menetralkan tuas kemudi, Mia membuka pintu helikopter di sampingnya begitu saja, lalu melompat turun.
Semua orang yang berada di sana, seketika terperanjat dan memekik kaget. Akan tetapi, Mia tak peduli. Ia berjalan cepat dengan setengah menunduk karena posisi baling-baling yang masih bergerak.
Mia juga tak menghiraukan Damiano yang telah menyambutnya di ujung landasan. Mia hanya melemparkan senyum seadanya pada pria baik hati itu, kemudian melanjutkan langkah menuju kamar utama.
“Mia!” seru Matteo dari kejauhan yang tampak kebingungan atas sikap aneh istrinya.
“Kejar, Amico!” suruh Coco.
Matteo mengangguk dan bergegas turun. Francesca dan Daniella yang duduk di samping Coco, berniat mengikuti Matteo. Akan tetapi, pria bermata cokelat itu mencegahnya. “Biarkan Theo yang mengatasinya,” tutur Coco lembut pada kedua kakak beradik itu.
Sementara itu, Mia telah sampai di kamarnya dengan napas terengah. Setelah melepas flat shoes yang ia kenakan dengan asal-asalan, Mia lalu mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi telentang. Sedikit lagi mata indahnya akan terpejam. Namun, segera Mia urungkan. Ia menangkap satu keanehan di kamar itu. Jendela kamar yang seharusnya tertutup, kini terbuka separuh dan membuat angin sore berembus masuk serta menggerakkan tirai berwarna tosca yang mengiasinya. Mia memutuskan untuk duduk dan bersikap waspada.
Instingnya mulai berkerja. Mia merasa ada orang lain di sini selain dirinya di dalam kamar itu. Perlahan, Mia beringsut turun dari ranjang, kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. Bertepatan saat ia memutar handlenya, dari luar Matteo juga mendorong pintu kamar itu.
“Mia!” panggil Matteo dengan tatap mata sendu. “Ada apa lagi, Sayangku? Kenapa kau bertingkah a ....” Matteo tak melanjutkan kata-katanya. Sekelebat bayangan seorang pria bergerak cepat dan menyergap tubuh Mia. Satu yang menjadi perhatian Matteo adalah, sosok pria itu membawa sebilah belati yang tergenggam erat di tangannya. Terlihat jelas pria misterius tersebut hendak mengarahkan belatinya ke tubuh Mia.
Secepat kilat, Matteo menarik Mia ke samping, lalu menghentikan laju tangan pria itu. Sekuat tenaga Matteo mencengkeram pergelangan tangan pria tersebut dan memelintirnya keras.
Pria itu memekik kesakitan kala terdengar bunyi tulang lengan kanannya bergeser. Belati berukuran sedang yang ia genggam terjatuh di dekat kaki Matteo.
Tak putus asa, pria itu berusaha memukul Matteo dengan menggunakan tangan kiri. Namun, usahanya itu lagi-lagi gagal, karena Matteo jauh lebih sigap dari dirinya. Tangan kanan pria itu kini berada di bawah genggaman tangan kiri Matteo. Ia tampak kacau dan ketakutan, terlebih saat Matteo menyeringai padanya dan menubruk hidungnya menggunakan dahi. Darah mengucur deras dari lubang hidung, membuat pria itu limbung. Matteo segera melepaskan tangannya dan membiarkan pria tersebut jatuh tak berdaya di lantai kamarnya.
__ADS_1