Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Mr de Luca's Hot Bed


__ADS_3

Kedatangan detektif Ranieri petang tadi, telah mengusik ketenangan pikiran Matteo. Bagaimanapun juga, itu artinya keadaan organisasi yang ia pimpin belum sepenuhnya berada dalam posisi aman. Matteo tak habis pikir, karena detektif itu bersikeras untuk tetap membuka kasus kematian orang tuanya. Hal tersebut membuat Matteo berpikir keras. Ia yakin jika sang detektif pasti telah mencium aroma sesuatu yang mencurigakan dari keluarga de Luca. Ini akan menjadi tugasnya lagi, untuk tetap mempertahankan organisasi yang bersih dan tak terjamah hukum.


 


Termenung sendiri di dekat kolam air mancur, Matteo menggenggam erat kaleng bir dengan tangan kanannya. Tatapan pria itu lurus tertuju pada hamparan luas yang diselimuti gelapnya malam dan suasana sepi. Ya, tentu saja. Saat itu sudah hampir jam dua belas, tapi Matteo masih terjaga dan berpikir dalam-dalam. Keluhan demi keluhan pelan pun kerap muncul dari bibirmya.


 


“Theo, kenapa kau belum tidur?” suara dan sentuhan lembut Mia membuyarkan semua lamunan pria itu. Segera ia menoleh dan membalikan badannya kepada sang istri seraya tersenyum.


 


“Cara mia, kau di sini?” Matteo menyambut Mia dengan hangat. Ia meraih pinggang ramping wanita itu ke dalam pelukannya. Seperti biasa, naluri nakal Matteo selalu muncul setiap kali dirinya berdekatan dengan Mia. Ia bermaksud untuk mencium wanita dengan kimono satin berwarna merah itu. Namun, Mia segera memalingkan wajahnya.


 


“Theo, jangan nakal! Ayo masuk dan sebaiknya kau segera tidur,” ajak Mia membuat Matteo tertawa pelan. “Lagi pula, apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian? Jangan katakan ini semua karena kedatangan detektif Ranieri tadi siang,” Mia membelai lembut wajah Matteo.


 


“Tak apa, Sayang. Aku hanya ingin mencari angin. Aku sudah biasa melakukan hal seperti ini, bahkan jauh sebelum bertemu denganmu,” terang Matteo. “Kau pastinya tak tahu bahwa aku selalu memikirkanmu di sini, hampir setiap malam,” ungkap Matteo dengan setengah merayu.


 


“Oh, baiklah. Kalau begitu, mari kita masuk dan aku akan mengganti tiga tahun yang kau lewatkan untuk memikirkanku,” balas Mia dengan senyum mesranya. Tentu saja, Matteo tak akan mampu untuk menolak tawaran manis itu. Tanpa banyak bicara, ia membiarkan Mia menuntunnya masuk dan kembali ke kamar.


 


Matteo pasrah saat Mia mendorong perlahan, hingga tubuh atletisnya rebah di atas ranjang. Ia menerima semua perlakuan menggoda yang Mia berikan dengan mata terpejam. Semuanya ia resapi dengan dalam, ketika Mia merangkak pelan ke atas tubuhnya dan menciumi leher hingga ke tulang selangka. Tak hanya itu, jemari lentik Mia pun meraba kancing kemeja dan membukanya satu per satu.


 


Mia menyibakkan kemeja hitam itu, warna kesayangan Matteo. Tampaklah dada bidang dan otot perut yang tercetak sempurna. Wanita itu membelainya lembut dan penuh perasaan, membuat Matteo terus memejamkan mata menikmati sensasi yang disuguhkan oleh sang istri.


“Kenapa kau sangat tampan, Theo?” bisik Mia di antara ciumannya yang kini sudah menjalar hingga ke perut suaminya.


“Aku milikmu seutuhnya, Cara mia,” desah Matteo. Ia melenguh pelan tatkala Mia berhasil membuka pengait celana dan meloloskan lembaran kain terakhir yang tersisa. Kini, giliran Mia yang melepaskan kimononya. Sementara lingerie merah berukuran minim masih melekat di tubuh indahnya yang bak seorang bidadari. Mia kembali naik ke atas tubuh Matteo dan duduk di sana. Sementara Matteo yang kini telah membuka matanya, tersenyum kalem. Tangannya bergerak lincah menelusuri paha mulus yang mengapit pinggangnya.


Dengan segera, pria bermata abu-abu itu menarik tubuh Mia hingga menempel sempurna di atas tubuhnya. Nakal, telapak tangan Matteo menyentuh kedua belahan pinggul indah Mia yang padat berisi. Dire•masnya perlahan gumpalan daging kencang itu. Lu•matan demi lu•matan pun mengiringi pemanasan sebelum memulai permainan inti. Sementara, tangan Mia nakal menelusup ke bawah dan meraih sesuatu yang sudah terbangun sejak tadi. Ia memegangi dan memainkannya dengan lembut untuk sesaat.

__ADS_1


“Tidak,” pekik Matteo pelan, saat naluri kelelakian dan gairahnya memuncak tak terbendung. Sedangkan Mia tersenyum puas. Ia menegakkan tubuhnya dan menuntun sang kumbang untuk memasuki taman bunga yang sudah siap untuk dijadikan tempat bermain. Lembut, gerakan tubuh Mia di atas sang suami. Ia kini yang berkuasa dan memegang kendali.


Matteo yang gagah dan tak terkalahkan dalam pertarungan, kini harus mengakui kehebatan sang istri yang makin pintar dalam memuaskannya. Napasnya terengah-engah kala merasakan setiap hentakan lembut yang Mia berikan. Pria itu terbuai dan merasa terbang dengan begitu tinggi. Sementara tangannya terus menjalari setiap bagian tubuh mulus Mia.


Merasa gerakannya tak bisa leluasa, Mia kemudian melepaskan lingerie yang masih ia kenakan tanpa berhenti melakukan tarian indah di atas tubuh sang suami. Pemandangan bagai surga dunia pun tersaji di depan Matteo. Segera, ia menyambut sesuatu yang menjadi simbol keseksian bagi setiap wanita. Lihai, tangan Matteo memainkan keduanya, membuat Mia berkali-kali menggelinjang.


Merasa jika dirinya tak kuat dalam posisi seperti itu, Matteo menghentikan gerakan Mia. Ia mengangkat tubuh polos sang istri dan menempatkannya ke samping. Ia kemudian bergerak ke atas tubuh Mia dan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dengan cukup kuat. “Kau semakin lihai sekarang, Sayangku,” Matteo menyeringai lebar sebelum akhirnya kembali menikmati tubuh Mia yang terasa bagaikan candu baginya. Kini giliran Matteo yang berkuasa atas raga indah Mia.


Bagaikan meminum air lautan. Makin Matteo mereguk sarinya, maka semakin bertambah pula gairahnya. Sampai tak ia sadari bahwa waktu sudah merangkak ke dini hari. Segera disudahinya permainan panas itu ketika Mia sudah terlihat lelah dan mulai lemah. Matteo melenguh pelan sambil memejamkan mata rapat-rapat saat puncak hasratnya  terlampiaskan secara sempurna. Sementara Mia memejamkan mata tatkala merasakan sesuatu yang hangat mengalir ke dalam dirinya.


"Kau yang terhebat, Theo," bisik Mia mendekap erat tubuh tegap Matteo yang bersimbah keringat.


“Tidurlah, Cara mia. Terima kasih banyak,” ucapnya sesaat setelah deru napasnya kembali berangsur normal. Ia mengecup lembut kening dan seluruh bagian wajah Mia dengan gemas.


Mia menanggapi perlakuan sang suami dengan senyuman manis dan kecupan hangat di bibir Matteo. Sesaat kemudian, setelah Matteo turun dan membantunya membersihkan sisa-sisa permainan tersebut, Mia tak jua bangkit dari tempat tidur. Ia masih merebahkan tubuhnya, hingga tak membutuhkan waktu lama bagi wanita cantik itu untuk terlelap. Matteo pun menyelimutinya dan kembali mengecup kening sang istri.


Meskipun merasa lelah, tetapi rasa kantuk tak jua datang menghampiri. Matteo pun memilih memakai celananya dan berdiri di dekat jendela. Perlahan, ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok. Diambilnya sebatang, lalu ia nyalakan sambil menghadapkan tubuh ke depan jendela yang terbuka itu. Matteo tersenyum samar. Seringkali ia dan Mia bercinta dengan membiarkan jendela terbuka lebar. Hal itu adalah salah satu dari sekian fantasi liar yang selalu ingin ia lakukan hanya bersama wanita pujaan hatinya.


Sosok wanita itu benar-benar mengalihkan dunia Matteo. Sejak pertama kali bertemu sampai ia memutuskan untuk mendekati Mia, dan membiarkan gadis cantik tersebut mengobati luka-lukanya. Getar-getar cinta sudah terasa ketika pertama kali Mia menyentuh luka Matteo dan menjahit kulitnya yang menganga.


Lamunan Matteo berakhir kala terdengar suara para pekerja perkebunan berduyun-duyun memasuki kompleks perkebunan. Ternyata hari sudah beranjak pagi. Akhirnya, ia memutuskan untuk berlalu ke kamar mandi, karena sudah terlambat baginya jika harus membaringkan diri terlebih dulu. Ia membasuh wajahnya, tanpa mandi karena ia tak tidur semalam suntuk.


Matteo tergelitik untuk sedikit menggoda dan menyentuhnya. Namun, wanita itu masih tetap terpejam. Tak peduli seaktif apapun tangan Matteo bergerak menelusuri lekukan tubuh Mia, ia tetap tertidur. “Gadis nakalku,” bisik Matteo tepat di telinga Mia. Ia memutuskan untuk mengakhiri keusilannya mengganggu Mia, lalu melangkah ke ruang ganti.


Bertepatan dengan Matteo yang selesai berganti pakaian, pintu kamar pun terketuk pelan. Salah seorang pelayan menundukkan kepala padanya sesaat setelah Matteo membuka pintu. “Ada apa?” tanyanya datar.


“Maaf, Tuan. Ada beberapa orang tamu yang ingin bertemu dengan Anda,” ucapnya sopan.


“Astaga! Siapa yang nekat datang sepagi ini?” sungut Matteo.


“Tuan Sergei Redomir, Nona Valerie Nikolaev dan Tuan Adriano D’Angelo, Tuan,” jawab pelayan itu.


Matteo mendengus kesal dan mengumpat pelan, meskipun mau tak mau ia beranjak juga ke luar kamar dan menemui mereka.


Langkahnya gagah menuju ruang tamu. Di sana, sudah menunggu tiga orang yang tadi sudah disebutkan oleh pelayannya. “Kelihatannya kalian bersemangat sekali, padahal waktu masih sepagi ini,” sindir Matteo sambil tersenyum kaku.


“Maafkan aku, Tuan de Luca. Ini adalah ide tuan Sergei Redomir. Ia memaksa untuk datang ke tempat Anda,” kilah Adriano.


 

__ADS_1


“Kenapa Anda tertarik datang kemari?” Matteo mengalihkan tatapannya kepada Sergei.


 


“Aku sangat ingin melihat secara langsung ketika Anda merakit senjata, Tuan. Aku ingin merekam dan mengabadikannya,” dalih Sergei dengan penuh semangat.


“Aku tidak akan merakit apapun sebelum sarapan,” tegas Matteo. “Jika Anda semua bersedia, makabaku ingin mengajak Anda semua untuk sarapan bersama,” tawarnya kemudian.


“Ide yang bagus!” seru Valerie berapi-api.


“Aku sudah mengisi perutku,” celetuk Adriano pada waktu yang hampir bersamaan.


Hanya Sergei yang menyambut ajakan Matteo. “Kebetulan perutku sedang kosong. Aku pasti akan menghabiskan semua yang Anda suguhkan,” ujarnya ramah.


Matteo tertawa mendengar lelucon Sergei. “Kalau begitu, tunggu apa lagi!” ia mengajak ketiga tamunya untuk menuju ke ruang makan. Masing-masing orang memilih tempatnya duduknya masing-masing.


“Di mana Nyonya de Luca?” Adriano memberanikan diri bertanya ketika tak dilihatnya sosok Mia di manapun.


 


“Mia masih tidur karena kelelahan,” jawab Matteo asal seraya menyunggingkan senyum.


 


“Senangnya menjadi istrimu, Tuan. Senantiasa kelelahan setiap malam,” kelakar Valerie percaya diri. Sontak, semua mata memandang ke arahnya, tak terkecuali Matteo.


🍒🍒🍒


Hai, tarik napas dulu dan lanjut baca novel keren ini 👇👇👇



 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2