
Lucia mengalihkan tatapannya kepada Coco. Gadis itu menunjukan raut kecewa yang teramat besar. Ia tak pernah menyangka jika Coco akan bersikap seperti itu kepada dirinya. “Baiklah. Kesalahan besar karena aku telah datang kemari,” ucap Lucia seraya berdiri. “Aku merasa seperti menjadi seorang terdakwa di sini,” ucap gadis itu lagi. Ia bermaksud untuk pergi dari sana.
“Hey, Luce!” panggil Coco. “Mau ke mana kau?” tanya pria itu membuat Lucia seketika menoleh. Gadis bermata hijau tersebut tampak malas meladeni pertanyaan dari Coco.
“Aku akan mencari tempat dan orang yang bersedia untuk kurepotkan,” jawab Lucia penuh dengan sindiran. Gadis itu berkata sambil memutar bola matanya yang indah. Terlihat dengan jelas jika dirinya merasa begitu kesal.
“Gadis itu mungkin tersinggung dengan ucapanmu, Theo,” bisik Mia merasa tak enak.
“Itu bukan urusanku. Masih banyak hal yang jauh lebih penting untuk segera kutangani,” balas Matteo. Ia tak mau ambil pusing dengan sesuatu yang bukan merupakan urusannya. “Jika kau ingin pergi, maka silakan. Lagi pula aku masih punya banyak urusan yang harus segera diselesaikan,” ujar Matteo dengan nada bicaranya yang dingin tapi penuh wibawa. Ia lalu beranjak dari duduknya. “Coco segera selesaikan urusan kecilmu, setelah ini kutunggu kau dan Marco di ruang kerja,” ucap Matteo lagi. Ia kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu tersebut.
Sementara Francesca terlihat kurang nyaman dengan kehadiran Lucia di sana. Gadis bermata hazel itu berkali-kali melirik Coco dan seakan meminta pria itu untuk segera bertindak. Coco kemudian berdiri dan menghampiri Lucia yang saat itu sudah berada di dekat pintu keluar. Lucia tampak kurang menyukai sikap Coco pada dirinya.
“Kau sangat keterlaluan!” ucap Lucia ketus. Gadis itu berkali-kali mendengus kesal.
“Kau yang keterlaluan! Kau tidak bisa menjaga sikapmu di depan Matteo,” balas Coco tegas. “Aku sudah mengizinkanmu untuk tinggal di bengkel, kenapa kau malah datang kemari? Kau harus tahu jika Casa de Luca bukanlah tempat umum yang bisa didatangi dengan seenaknya.”
“Aku tidak tahu harus ke mana lagi,” bantah Lucia dengan agak berbisik. Ia tak ingin jika semua yang ada di ruangan itu mendengar apa yang mereka perbincangan.
“Kenapa kau tidak meminta bantuan kepada kakakmu, bukannya malah mengemis belas kasih kepada Matteo!” sergah Coco tak mengerti.
Mendengar ucapan Coco, Lucia tak segera menjawab. Mata hijau gadis itu tampak mulai berkaca-kaca. Ia lalu tertunduk. “Mereka menangkap kakakku. Sekarang aku tidak tahu posisinya ada di mana. Sementara keadaanku pun sedang terancam. Ah, sudahlah! Kau tak akan peduli dengan hal itu,” Lucia membalikan badannya dan berlalu dari hadapan Coco. Ia pergi meninggalkan rasa penasaran di hati pria itu. Coco masih terpaku menatap Lucia yang kini telah tiba di gerbang kedua, hingga akhirnya gadis itu pun menghilang di balik pintu gerbang yang tinggi dan berdiri kokoh bagaikan sebuah benteng pertahanan.
“Hey, Ricci! Ayo! Theo sudah menunggu kita di ruang kerjanya,” ajak Marco yang seketika membuat Coco tersadar. Pria bermata cokelat itu menoleh. Setelah melayangkan senyuman menawannya kepada Francesca, ia pun berlalu bersama Marco menuju ruang kerja Matteo. Sementara Mia dan kedua saudarinya melanjutkan perbincangan mereka.
Di dalam ruang kerja itu, Matteo baru selesai menghubungi seseorang. Ia menutup sambungan teleponnya ketika Marco dan Coco masuk. Matteo pun berpindah tempat duduk dan bergabung bersama kedua pria tersebut. “Seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya, aku akan mengadakan upacara penghormatan terakhir untuk Antonio,” Matteo membuka pembicaraan saat itu. Ia lalu mengalihkan pandangan kepada Marco. “Apa kau sudah menyiapkan segala sesuatunya, Marc?”
“Ya, sudah,” jawab Marco seraya menggaruk pelipisnya. “Aku sudah mengumpulkan beberapa benda berharga milik ayahku. Peti jenazah juga akan dikirimkan hari ini,” tuturnya.
__ADS_1
“Bagus. Zucca dan anak buahnya akan segera tiba di Brescia. Setelah itu kita akan langsung memulai prosesinya. Aku ingin agar ini segera selesai,” harap Matteo.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Coco.
“Kau bantulah Marco untuk menyiapkan semuanya. Kepalaku pusing. D’Angelo kembali menghubungiku. Ia menawarkan bantuannya lagi, tapi aku langsung menolak.”
“Pria itu benar-benar baik,” sahut Marco dengan helaan napas pelan.
“Ya. D’Angelo sangat tampan, ramah, dan dermawan. Ia benar-benar luar biasa, tapi juga sedikit misterius,” celoteh Coco dengan diiringi tawa pelan.
“Kau tertarik padanya dan ingin berpaling dari Francesca?” tanya Marco bernada meledek, yang seketika membuat Coco mendelik padanya. “Kasihan sekali gadis malang itu,” lanjut Marco.
“Sudahlah, mari kita bekerja. Zucca akan datang sebentar lagi. Kita harus pergi ke kompleks pemakaman de Luca dan mempersiapkan tempatnya,” lerai Matteo.
Ketiga pria itu sudah akan beranjak dari ruangan tersebut, ketika pintu ruang kerja Matteo tiba-tiba terbuka. Damiano menampakkan wajah cerianya pada setiap orang di sana. “Apa kabar kalian semua?” tanyanya dengan hangat.
“Ada banyak yang harus kuurus di kampung halaman,” tutur Damiano seraya menghampiri Matteo. Rasa sayangnya pada pria itu sungguh teramat besar. Terlihat dari bahasa tubuh Damiano yang memeluk Matteo erat dan hangat. “Aku bermimpi tentang ayahmu tadi malam,” bisiknya.
“Oh, ya? Apakah ayahku mengatakan sesuatu di dalam mimpimu?” tanya Matteo. Ia menanggapinya dengan serius.
“Ayahmu tidak mengatakan apa-apa, tapi raut bangga terlihat dengan begitu jelas dari wajahnya,” jawab Damiano. Matteo tersenyum samar menanggapinya. Entah apakah ayahnya akan tetap merasa bangga kepada dirinya, jika nanti ia memutuskan untuk keluar dari dunia mafia.
“Apa yang kau pikirkan, Nak?” tanya Damiano kemudian saat melihat Matteo yang hanya termangu.
“Ah, tidak ada. Coco dan Marco sudah menungguku untuk bersama-sama pergi ke pemakaman,” jawab Matteo pelan. Ia berusaha untuk menyembunyikan keresahan dalam dirinya.
“Kita bisa pergi bersama-sama, Damiano,” ajak Marco yang saat itu beranjak menghampiri kedua pria itu. Tanpa berpikir lebih lama, Damiano segera mengangguk dan mengikuti langkah mereka. Rombongan pria itu melewati Mia yang masih asyik mengobrol bersama Francesca dan Daniella.
__ADS_1
Melihat para pria itu, Mia segera menghentikan percakapannya saat Matteo menghampiri.
“Aku pergi sebentar, Cara mia. Acara pemakaman Antonio akan dimulai sebentar lagi. Kau boleh ikut jika kau mau, tapi semua terserah padamu. Aku tidak akan memaksa,” Matteo sangat mengerti posisi istrinya. Mengingat dulu Antonio berusaha untuk membunuh Mia. Adalah hal yang wajar jika istri cantiknya itu belum dapat memaafkan perbuatan Antonio.
“Tentu saja aku akan ikut denganmu,” sahut Mia antusias, membuat Matteo amat terkejut dan tak menyangka.
“Kau sungguh mau ikut?” ulangnya lagi. “Kau tidak membencinya?” Matteo masih memasang raut tak percaya.
“Sejahat-jahatnya paman Antonio, ia tetap saudaramu, Sayangku. Lagi pula, semuanya sudah berlalu. Aku baik-baik saja, dan kau juga sudah pulih. Tak ada alasan bagiku untuk tetap menyimpan dendam kepada orang yang telah tiada,” jawab Mia sambil mengalungkan tangannya di leher Matteo seraya mengecup bibir suaminya dengan lembut.
Satu hal lagi yang membuat Matteo jatuh cinta lebih dalam kepada Mia. “Aku bisa gila jika kau meninggalkanku,” gumamnya lirih sembari membalas kecupan Mia.
“Jadi, bagaimana ini? Apakah kami harus menunggu kalian berpacaran dulu?” celetuk Coco yang disambut gelak tawa oleh semua orang.
“Jika mereka sudah berdua, maka mereka akan menganggap kita tak ada,” timpal Daniella.
“Aku ingin kisah cinta yang indah seperti Mia,” ujar Francesca pelan seraya melirik kepada Coco.
“Itu mudah sekali, Francy sayang. Ricci bisa mengatur semuanya untukmu,” balas Coco sambil menggandeng tangan Francesca.
Damiano memperhatikan itu semua dengan perasaan haru bercampur bangga. Saat ini terasa begitu sempurna baginya. Keluarga yang damai dan akrab, persahabatan yang erat dan kokoh, serta Marco yang sedikit demi sedikit berubah ke arah yang lebih baik. Damiano meninggalkan kediaman Casa de Luca dengan hati bahagia. Ia merasa siap untuk mengunjungi makam Roberto sesaat lagi.
Iring-iringan kendaraan berjalan keluar dari gerbang utama. Mobil-mobil itu melaju kencang dan gagah menuju area pemakaman khusus keluarga klan de Luca. Sementara Zucca dan anak buah lainnya sudah siap menunggu Matteo di sebuah lahan yang sangat luas pada kaki bukit yang memang diperuntukkan khusus sebagai tempat pemakaman keluarga. Tanpa Matteo sadari, di seberang gerbang utama seorang pria asing tengah mengamati kepergian mereka. Ia terlihat mengambil rekaman gambar iring-iringan kendaraan tersebut, kemudian pergi dengan begitu saja.
__ADS_1