
Matteo menoleh kepada sahabat dekatnya itu untuk sesaat, sebelum ia membawa gelas berisi susu tadi keluar dari dapur. Hal tersebut membuat Coco kembali mengernyitkan kening sambil terus menggigit buah apelnya. “Susu itu bukan untukmu?” tanyanya dengan polos.
“Ini untuk istriku yang sedang kelelahan,” sahut Matteo dengan senyuman puas, dan seketika membuat Coco hampir tersedak. “Tetaplah di sini karena aku ingin bicara denganmu nanti. Aku harus mandi dulu untuk menghilangkan sisa keringat semalam,” ujar Matteo lagi seakan ingin memanas-manasi sahabatnya tersebut. Benar saja, karena hal itu telah membuat Coco menjadi salah tingkah.
“Kau memang telah banyak berubah semenjak mengenal Mia. Itu sangat luar biasa, meskipun dirimu masih sering bersikap menyebalkan dan layak untuk kuhajar dengan keras,” ujar Coco sambil terus mengunyah.
“Coba saja jika kau berani!” tantang Matteo. “Setelah ini kita akan sarapan. Aku akan menunggu Mia bangun terlebih dahulu,” lanjut pria itu lagi seraya beranjak kembali ke kamar. Sementara Coco memutuskan untuk berkirim pesan kepada Francesca, yang tak ditemuinya selama beberapa hari terakhir. Gadis bermata hazel itu sedang sibuk dengan urusan kuliah dan juga pemotretan.
Setibanya di dalam kamar, Matteo mendapati Mia masih terlelap. Dihampirinya sang istri, ia pun duduk di tepian tempat tidur setelah meletakkan gelas berisi susu yang ia bawa tadi. Matteo kembali tersenyum lembut menatap wajah polos Mia. Sesaat ia berpikir, mungkin rasanya seperti itu jika dirinya dan Mia dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang normal seperti orang lain pada umumnya. Tak ada senjata atau pun tetesan darah lagi. Semuanya terasa begitu damai dan menenangkan.
Makin lama, pemikiran seperti itu semakin menguasai diri seorang Matteo de Luca. Terkadang ia berpikir, apakah semua itu karena pengaruh selama berada di rumah sakit dulu? Ya, selama Mia menjalani proses operasi yang memakan waktu hingga berminggu-minggu, Matteo selalu mengunjungi gereja terdekat dan berdoa dengan setulus hati. Ia memohon kepada Tuhan agar mengembalikan dan membuat Mia tetap berada di dekatnya. Matteo tak ingin yang lain, selain keselamatan dan juga kesembuhan sang istri. Hal itu yang belum Mia ketahui hingga saat ini, karena Matteo tak pernah membahas hal itu dengannya.
Pikiran Matteo juga mulai tertuju pada sesuatu yang selama ini sedikit terlupakan, yaitu anak. Ia berusaha untuk membuat Mia lupa pada peristiwa yang membuat sang istri mengalami kecelakaan hingga harus merelakan kandungannya. Sementara Mia begitu mengharapkan untuk segera hamil.
Perlahan Matteo menyentuh wajah cantik nan polos Mia. Lembut dan penuh perasaan, pria itu seperti bukan dirinya lagi. Sisi manusiawinya selalu muncul ketika ia berdekatan dengan sosok Mia. “Cara mia, apa kau akan tidur sepanjang hari?” tanya Matteo pelan. Entah Mia mendengarnya atau tidak, tetapi wanita itu memberikan respon pada sentuhan halus Matteo di wajahnya. Mia menggeliat pelan seraya membuka matanya sedikit demi sedikit. Wanita itu pun tersenyum.
“Selamat pagi, Theo,” sapanya dengan suara parau. “Jam berapa sekarang?” Mia kembali menggeliatkan tubuhnya perlahan, membuat wanita itu terlihat begitu sensual bagi Matteo.
“Ini belum terlalu siang. Pengagum setiamu membangunkanku pagi-pagi sekali. Pria itu benar-benar seorang pengganggu,” keluh Matteo pelan.
“Siapa?” Mia mengernyitkan keningnya.
“Memangnya kau punya berapa banyak penggemar, Cara mia? Sudahlah, tidak penting membahas hal itu di pagi hari. Lihat, aku membawakanmu segelas susu,” tunjuk Matteo dengan isyarat matanya pada laci di sebelah tempat tidur. Mia segera mengikuti arah tatapan Matteo. Seketika wanita itu tersenyum lebar seraya kembali mengarahkan tatapannya kepada pria rupawan di dekatnya.
__ADS_1
“Kau sungguh manis, Theo,” ucap Mia. Ia segera menghambur ke dalam pelukan Matteo dan tak peduli meskipun selimut yang menutupi tubuhnya melorot. “Aku mencintaimu,” bisik Mia tanpa melepaskan pelukannya.
“Aku lebih mencintaimu,” balas Matteo seraya membalas pelukan Mia. Gejolaknya kembali membara tatkala dada bidangnya bersentuhan dengan dada indah Mia. “Mandilah,” Matteo segera mengurai pelukannya dan mendorong Mia sedikit menjauh. Akal sehatnya kembali berbicara dan mengingatkan Matteo bahwa stamina istrinya belum pulih benar. Mia mengerti maksud dari Matteo, meskipun pria itu tak mengucapkan apapun. Mia segera meneguk susu yang disediakan untuknya sampai habis. Ia lalu beranjak ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Mia dan Matteo telah sama-sama membersihkan dirinya dan terlihat jauh lebih segar. Mereka berdua menuju ke ruang makan di mana Coco sudah duduk dengan tenangnya. “Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah kelaparan,” ujar pria bermata cokelat itu. “Aw, Mia! Kau terlihat sangat cantik dengan rambut pendek seperti itu. Kau tampak jauh lebih muda, dan itu membuat Matteo terlihat semakin tua jika berada didekatmu,” Coco tergelak dengan ucapannya sendiri.
“Aku sedang bahagia. Jadi, aku tak akan menanggapi ocehan tidak pentingmu,” balas Matteo tenang seraya duduk di kursinya. Sementara Mia hanya tertawa geli menanggapi tingkah kedua sahabat itu. Ia lalu menyiapkan makanan untuk sang suami.
“Sejak kapan kau ada di sini, Ricci?” Mia menyempatkan untuk melirik Coco yang sudah mulai menyantap makanannya.
“Sejak tadi pagi, saat Nyonya de Luca masih tertidur karena kelelahan,” sahut Coco dengan entengnya. Mendengar jawaban dari Coco, Mia segera mendelik tajam kepada Matteo yang hanya mengangkat kedua bahunya. Namun, Mia tak mau ambil pusing.
“Coco biasa datang kemari dan menumpang sarapan di sini. Itu sudah tak aneh lagi,” ujar Matteo dengan tenang dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia mulai menyantap menu sarapannya pagi itu.
“Kau yang menyuruhku untuk tetap di sini, Amico. Jadi, sekalian saja aku ikut sarapan,” Coco kembali menyantap makanannya. “Katanya kau ingin bicara denganku. Apakah ada sesuatu yang penting?”
“Kenapa D’Angelo begitu ingin mempertemukanmu dengan orang itu? Apa menurutmu sikapnya selama ini tidak terlalu berlebihan? Ia bahkan memberikan salah satu jet pribadinya untuk diledakkan. Aku rasa itu sesuatu yang ....” Coco terdiam dan berpikir. Semua candaannya tadi hilang dan berganti dengan sebuah sikap yang sama seriusnya dengan Matteo. Sementara Mia sejak tadi hanya menyimak. Ia tak mengerti dengan obrolan kedua pria itu.
“Kau benar. Aku tak bisa mempercayainya dengan begitu saja. D’Angelo memang terlihat baik dan sangat sopan. Namun, semua orang memakai topeng mereka masing-masing, dan terkadang sulit untuk mengungkap wajah aslinya,” ucap Matteo. “Bagaimana, Cara mia? Apa kau setuju jika kita pergi ke Monaco?” Matteo mengalihkan perhatiannya kepada sang istri yang sudah selesai dengan sarapannya.
“Kita? Maksudmu kau akan mengajakku juga, Theo?” Mia balik bertanya.
“Astaga, Cara mia. Kenapa kau masih saja bertanya begitu? Tentu saja aku tak akan pergi jika tak bersamamu," jelas Matteo.
__ADS_1
“Aku rasa kau akan banyak urusan di sana dan aku tidak akan melakukan apapun,” pikir Mia.
“Kau akan menjadi penyemangat Matteo dan tentu saja menjadi penghiburnya yang setia, Mia,” sela Coco yang segera berbalas sebuah lemparan serbet dari Matteo.
“Bolehkah jika aku mengajak Francy dan Dani untuk ikut serta? Sudah lama aku tidak bepergian bersama mereka,” pinta Mia. Mata indahnya terlihat berbinar dan sedikit memohon.
“Kau boleh mengajak siapapun yang kau mau, Sayang,” Matteo meraih dagu Mia dan mencium bibirnya lembut.
Sementara, Coco melihat hal itu dengan tatapan merana. Ia teringat akan wajah cantik Francesca yang tak ditemuinya selama berhari-hari. “Jika Francy turut serta, maka aku juga harus ikut,” pintanya. Ia juga ikut memasang wajah memohon kepada Matteo.
“Tentu saja, Ricci. Kita akan bersenang-senang bersama. Sudah lama kita tidak pergi berlibur. Benar kan, Theo,” Mia mengerling manja kepada sang suami. Ia juga memeluk dan merebahkan kepalanya di bahu pria itu.
“Jika sudah begini, tentu saja aku tak akan pernah bisa menolak,” gumam Matteo pelan.
“Satu lagi, Amico! Kau harus membiarkan aku tinggal di sini beberapa hari,” paksa Coco lagi dengan tiba-tiba. Ia kembali membuat Matteo mengernyitkan keningnya.
“Apa yang sudah kau perbuat kali ini?” Matteo mendengus kesal sembari melotot tajam kepada Coco. Pria itu curiga jika sahabatnya tersebut telah melakukan sesuatu, yang membuatnya terbelit dalam masalah sehingga ia harus melarikan diri.
“Tidak! Bukan aku yang berbuat ulah, tapi Lucia,” bantah Coco.
“Siapa Lucia?” Mia mengernyitkan keningnya penuh curiga.
“Lucia adalah adik dari teman lamaku, Mia. Kebetulan kami akrab sejak ia menjadi langganan di bengkel. Namun, sepertinya Lucia telah berbuat ulah, entah dengan siapa. Sekarang ia mendesak agar aku mengizinkannya tinggal di bengkel. Alasannya, karena ia ingin bersembunyi dari seseorang,” papar Coco panjang lebar.
__ADS_1
“Kenapa tidak langsung kau tolak saja? Sejak kapan kau menjadi sangat bodoh?” potong Matteo dengan nada ketus. Ia merasa tak habis pikir.
“Aku berhutang budi pada kakaknya, Amico. Dulu kakak Lucia pernah menyelamatkan nyawaku. Jika tak ada dirinya, mungkin waktu itu aku sudah mati terlindas truk,” tutur Coco pelan.