
Tak hanya Mia yang yang saat itu merasa terkejut dengan lamaran dari Valentino, tetapi Coco pun demikian. Ia tidak menyangka jika Valentino akan melamar Mia dalam waktu secepat itu. Coco semakin menajamkan pendengarannya. Ia penasaran dengan jawaban yang akan Mia berikan kepada pemuda itu. Jika sampai Mia menerima lamaran dari Valentino, maka itu tidak akan sesuai dengan rencana yang telah disusunnya bersama Matteo.
Sesuatu yang sungguh di luar dugaan, Mia ternyata menerima lamaran dari Valentino tanpa banyak berpikir. Gadis itu mengangguk begitu saja, dan menjawab “iya”. Tentu saja, hal itu membuat Coco menjadi sangat terkejut. Ini merupakan sebuah berita besar. Coco harus segera mengabarkan hal itu kepada Matteo.
“Sungguh, Mia? Sungguh kau bersedia menerimaku?” Valentino beranjak dari duduknya. Ia kemudian berlutut di depan Mia yang masih duduk di kursinya. Valentino menggenggam jemari lentik Mia dan menciumnya dalam-dalam. Rasa bahagia membuatnya tak mampu berkata apa-apa selain tersenyum lebar.
“Vale, apa-apaan kau? Ayo berdiri!” sergah Mia. Ia merasa risih dengan sikap yang ditunjukan pemuda itu. Namun, Valentino menolak. Ia masih terus berlutut di hadapan gadis pujaannya.
“Katakan, Mia! Katakan jika kau bersedia menikah denganku! Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu,” pinta Valentino dengan sangat antusias.
Mia mencoba untuk tersenyum wajar. Ia mengangguk dengan yakin. “Ya, Vale. Aku bersedia menikah denganmu. Kita akan menyiapkan segalanya sambil merampungkan kuliah. Aku rasa kita bisa melakukannya tanpa harus merepotkan orang tua kita,” jelas Mia. Ia mencoba menunjukkan sikap yang antusias seperti Valentino. Mia berusaha untuk menepiskan rasa perih dalam hatinya karena harus membohongi Valentino dan juga dirinya sendiri. Akan tetapi, ia sadar jika dirinya tidak dapat mengharapkan Matteo lagi. Pria itu harus ia singkirkan jauh-jauh dari pikirannya.
Mia harus terus melanjutkan hidup. Matteo bukan akhir dari segalanya. Ia tidak ingin berharap pada seorang pria seperti itu. Dunia akan menyalahkannya jika ia masih terus menunggu Matteo dan mengabaikan pemuda baik yang jauh lebih mencintainya, yaitu Valentino Diori. Ya, Mia harus memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan besar ini. Semoga pernikahan dengan Valentino dapat membuatnya lupa pada sosok rupawan itu untuk selamanya. Matteo hanyalah sekelebat bayangan yang kebetulan menghampirinya. Pria itu ibarat musim dingin dengan es-nya yang akan tetap mencair ketika musim panas telah tiba.
“Tentu, Mia! Kita akan menyiapkan segala sesuatunya bersama-sama. Aku tidak sabar untuk menantikan saat-saat itu tiba dalam hidupku. Aku benar-benar tidak percaya. Pada akhirnya Mia ....” Valentino kembali mencium tangan Mia dengan hangat. Sedangkan Mia lagi-lagi hanya tersenyum simpul.
"Maafkan aku, Vale. Aku sangat menghargai perasaanmu selama ini. Aku akan berusaha semampuku untuk dapat membalas semua rasa yang kau berikan padaku," ucap Mia dalam hatinya.
Hingga menjelang malam, kedua sejoli itu baru memutuskan untuk pulang. Coco tidak melihat pria misterius itu mengikuti mereka lagi. Pria tersebut menghilang begitu saja dalam keramaian. Namun, Coco akan tetap menyelidiki siapa pria itu dan mencari tahu alasannya menguntit Mia.
Karena merasa tidak ada hal yang perlu ia lakukan lagi, maka Coco pun memutuskan untuk kembali. Namun, sebelum ia beranjak dari, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok manis yang tengah berdiri sendirian.
Coco bermaksud untuk menghampiri gadis itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pemuda menghampiri gadis yang tiada lain adalah Francesca. Pemuda berambut pirang yang sama, seperti yang Coco lihat kemarin. Pemuda itu sepertinya bukan warga asli Italia.
Untuk sejenak, Coco memerhatikan mereka. Pria itupun bermaksud melanjutkan niatnya untuk pulang. Akan tetapi, ia lalu melihat seorang gadis lain datang menghampiri Francesca dan pemuda berambut pirang itu. Tidak berselang lama, pemuda itu pergi dengan gadis yang baru datang tadi dan meninggalkan Francesca sendiri dengan wajah kecewa. Gadis itu kemudian menundukan kepalanya dengan lesu.
“Kau tidak ikut mereka?” tanya Coco.
Francesca segera mengangkat wajahnya. Ia terkejut melihat Coco telah berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang sama seperti yang kemarin Francesca lihat.
“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Francesca dengan nada yang sedikit ketus. Mimik kurang bersahabat pun terlihat jelas di wajah manisnya.
Melihat sikap kurang ramah dari Francesca terhadap dirinya, Coco hanya tersenyum kalem. Ia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang terlalu berarti. Coco justru memilih untuk berpindah ke sebelah Francesca. Ia berdiri seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit yang dikenakannya saat itu. “Ini tempat umum, Nona Manis. Semua orang berhak datang kemari, termasuk diriku,” ucap Coco seraya melirik Francesca yang menunjukkan sikap tak peduli dengan ucapannya. Gadis itu bahkan lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya pada sekeliling tempat tersebut. Coco sepertinya dapat memahami arti dari sikap Francesca saat itu, terlebih karena gadis itu tampak sedikit gelisah.
“Sayang sekali karena aku datang kemari hanya sendirian. Kau juga, bukan?” Coco memiringkan sedikit tubuhnya ke dekat Francesca, sehingga membuat gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Coco.
“Kata siapa aku sendirian? Aku datang kemari dengan teman-temanku,” sanggah Francesca dengan wajah sedikit ragu.
Mendengar jawaban dari gadis itu, seketika Coco tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sedikit mengejek. Coco pun mengempaskan sebuah keluhan panjang. “Kau datang kemari dengan teman-temanmu. Akan tetapi, sayangnya mereka berdua sibuk berkencan dan meninggalkanmu sendirian di sini,” ujarnya. “Lihatlah ke sana!” tunjuk Coco pada sudut lain tempat itu.
Francesca menurut. Ia mengikuti arah telunjuk Coco. Pandangannya kini tertuju pada sepasang remaja yang tengah asyik memadu kasih. Ia melihat pemuda berambut pirang itu tengah mengelus lembut wajah gadis yang berdiri di hadapannya. Seketika Francesca mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kau sangat menyebalkan!” umpat Francesca. Ia bermaksud untuk meninggalkan Cocco. Namun, dengan segera Coco memegangi tangannya sehingga Francesca tidak sempat bergerak. Francesca melotot tajam kepada Coco yang saat itu hanya tersenyum nakal.
”Lepaskan tanganku atau aku akan berteriak dengan sangat kencang. Meskipun kemarin kau berhasil melawan lima orang pemuda sekaligus, tapi aku rasa kau tidak akan bisa melawan orang dengan jumlah yang jauh lebih banyak!” sergah Francesca dengan kesal. Sementara Coco masih tetap setia dengan senyumannya.
“Silakan berteriak. Aku bisa mengatakan pada semua orang jika kau adalah adik kecil yang nakal, yang tidak menurut kepada kakak-nya,” tantang Coco dengan begitu tenang. Sedangkan Francesca semakin membelalakan matanya mendengar jawaban pria bermata coklat itu.
“Ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kuantar kau pulang. Ayo!” ajak Coco seraya menuntun Francesca.
“Hey! Lepaskan tanganku!” Francesca memukul tangan Coco yang berada di pergelangannya dan membuat Coco menoleh. Akan tetapi, pria itu tidak marah. Ia justru kembali tersenyum kalem kepada Francesca.
“Lebih baik aku pulang sendiri, dari pada harus pulang dengan pria asing berwajah mesum sepertimu!” tolak Francesca. Namun, ia terus mengikuti Coco karena pria itu tak juga melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
“Lebih baik kau bersamaku dari pada harus patah hati sendirian,” balas Coco. Mereka kini telah sampai di dekat motor milik Coco. Barulah pria itu melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Francesca. Coco segera memasang helm-nya. Ia pun telah bersiap di atas motor dan menunggu Francesca untuk naik. Namun, gadis itu tak kunjung naik. Ia justru hanya menatap Coco dengan ragu.
Coco menoleh dan memberi isyarat kepada Francesca agar gadis itu segera naik. Hingga sebanyak dua kali ia harus memberi isyarat kepadanya, barulah gadis berambut panjang itu akhirnya menurut.
“Sudah siap?” tanya Coco seraya menoleh ke samping kanannya.
“Ya,” jawab Francesca singkat.
“Berpeganganlah!” suruh Coco.
“Sudah,” jawab Francesca.
Coco tak segera menjalankan motornya. Lagi-lagi, ia harus mengempaskan keluhan panjang karena saat itu Francesca lebih memilih untuk berpegangan pada bagian belakang motor. Ia juga memberi jarak yang cukup jauh antara dirinya dan Coco. “Kau yakin, Nona?” tanya Coco dengan menahan rasa jengkel di hatinya karena sikap keras kepala gadis itu.
Coco mulai menyalakan motor dan melajukannya dengan tiba-tiba, sehingga menimbulkan hentakan yang cukup kencang dan membuat Francesca tersentak. Tubuhnya maju dan menempel pada punggung Coco yang saat itu sudah menjalankan motornya dengan cukup kencang.
Francesca saat itu tidak mengenakan helm. Rambut panjangnya meriap-riap terkena angin. Tak ada pilihannya baginya selain melingkarkan tangan pada perut pria yang memboncengnya. Lagi pula, Francesca harus sedikit berlindung dari angin kencang yang menerpa dirinya, dan membuatnya merasa kedinginan karena berkendara dengan motor tanpa memakai jaket.
Sementara Coco tak juga memelankan laju motornya. Ia tahu jika gadis yang diboncengnya kedinginan. Akan tetapi, Coco sepertinya sengaja mengerjai gadis itu. Coco mengambil jalan memutar sehingga jalur yang ia lalui menuju rumah Francesca menjadi lebih jauh.
“Kenapa kita melewati jalan ini?” Francesca sudah terlihat cemas. Ia takut jika Coco ternyata seorang penjahat yang biasa menculik gadis-gadis. Dipukul-pukulnya pundak pria itu dengan kencang. Namun, Coco hanya tertawa pelan saat memanggapinya. Pukulan dari seorang gadis seperti Francesca tidak akan terasa apa-apa bagi dirinya.
“Hey, Bung! Turunkan aku!” seru Francesca. Ia harus berkata dengan agak nyaring, karena suara motor sport yang Coco kendarai sangat keras dan menyamarkan suaranya. Sedangkan Coco lagi-lagi tidak memedulikannya. Ia terus saja menjalankan motornya tanpa ada rasa terganggu sedikitpun.
“Dugaanku tidak salah! Kau memang penjahat mesum!” umpat Francesca lagi. “Jika kau tidak menghentikan motor-mu, maka aku akan nekat melompat!” ancam gadis berambut panjang itu sehingga membuat Coco segera menghentikan laju motornya dengan tiba-tiba. Hal itu membuat Francesca kembali menubruk penggung Coco. Coco tertawa geli. Ia masih terlihat sangat tenang.
“Melompatlah!” tantang pria itu seraya menurunkan kedua kaki untuk menjaga keseimbangan motornya. Francesca cemberut sembari menyilangkan tangannya di dada. Ia tak berniat melompat ataupun turun dari motor.
“Kau ingin terus bersamaku di sini? Baiklah, dengan senang hati,” Coco menyeringai nakal. Sikapnya membuat Francesca semakin sebal hingga harus memukul punggungnya.
“Aku tak mau ikut denganmu lagi!” tubuh ramping Francesca segera turun dari motor sport itu dan mulai berjalan di atas trotoar. Bukannya meninggalkan Francesca sendirian, Coco malah memelankan motornya dan mengikuti gadis itu dari belakang.
“Sudah kubilang jangan ikuti aku!” teriakan Francesca menggema di jalanan yang sepi. Tak berapa lama perutnya ikut meraung. Coco tertawa sekencang-kencangnya. “Katakan saja jika kau lapar,” ejeknya.
Francesca yang menahan malu, tak menghiraukan Coco dan terus berjalan hingga dirinya tiba di depan di sebuah restoran fast food 24 jam. Tiba-tiba, Coco menyalipnya dan berbelok ke sebelah bangunan restoran itu. Gadis itu mendengus kesal. Terbersit sedikit rasa kecewa karena Coco berlalu meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Tak disangka, seseorang menarik pinggangnya dari belakang, lalu menyeretnya ke arah restoran.
“Hei!” pekik Francesca yang sudah bersiap menendang orang itu, tapi ia urungkan karena ternyata Coco-lah pelakunya.
“Aku akan membawamu pulang dalam keadaan kenyang. Sekarang pesanlah apapun yang kau mau,” ujar Coco.
“Burger dan kentang!” sahutnya tanpa berpikir. “Dua porsi!” tambahnya.
Sambil menahan tawa, Coco menuliskan pesanan dan memberikannya pada seorang pelayan.
Tak berselang lama, pesanan mereka datang dan Francesca langsung melahapnya tanpa sungkan. Sedikit mayonaise mengotori sudut bibir gadis itu. Segera Coco mengusapnya dengan ibu jari, kemudian menjilatnya. Pipi Francesca seketika merona. Perlakuan seorang pria dewasa ternyata sangat jauh jika dibandingkan dengan pemuda sebayanya. Baginya, Coco begitu menawan sekaligus mendebarkan.
“Ceritakan tentang dirimu,” pinta Coco. Sorot mata coklatnya sama sekali tak mau lepas dari wajah manis Francesca.
“Tidak ada yang istimewa dariku,” jawab gadis itu dengan mulut penuh.
“Keluargamu?”
“Aku anak bungsu dari dua bersaudara dan tidak pernah mengenal ayah kandungku sejak lahir. Pria yang tinggal serumah bersama kami adalah ayah tiriku, tapi ia begitu baik dan penyayang. Aku selalu menganggapnya sebagai pengganti ayahku yang sebenarnya,” tutur Francesca sambil terus mengunyah.
“Lanjutkan!” titah Coco.
“Aku tidak akrab dengan Daniella, kakak kandungku. Aku jauh lebih merasa nyaman bersama Mia,” sambung Francesca.
“Jadi, Mia adalah ....”
“Mia kakak tiriku, tapi jauh lebih menyayangiku daripada Daniella. Mia adalah gadis paling baik dan paling sempurna menurutku. Di balik sifatnya yang lemah lembut, ia adalah sosok yang sangat kuat dan tangguh. Mia lah yang merawat kami semua karena ibu kami sakit-sakitan. Ia yang menyiapkan segala perlengkapan ayah, ibu dan aku. Kadang-kadang ia juga membantu semua yang seharusnya menjadi tugas Daniella. Belum lagi kegiatan kuliah dan menjaga kedai yang pasti menguras tenaga,” tutur Francesca panjang lebar. Ada nada kebanggaan di sana ketika ia menceritakan tentang Mia.
Tanpa Francesca sadari, Coco sudah merekam pembicaraan mereka dan mengirimkannya untuk Matteo. Paling tidak, cerita tentang Mia bisa mengobati kegalauan sahabatnya itu.
__ADS_1