
Semua mata tertuju kepada Adriano yang saat itu masih tetap memperlihatkan sikap tenang. Pria bermata biru tersebut, menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. Ia tahu jika ketiga pria yang tengah menatapnya itu, menunggu penjelasan dengan segera.
“Rencana apa yang Anda punya, Tuan D’Angelo?” tanya Matteo dengan sorot mata yang terlihat begitu serius. Begitu juga dengan Coco dan Marco.
“Aku harap, rencana dari Tuan D’Angelo tidak jauh lebih gila dari rencana Matteo. Sejujurnya, aku merasa sedih jika harus membongkar makam ayahku, apalagi membuatnya seakan menjadi korban ledakan pesawat,” ujar Marco dengan sedikit mengeluh.
“Entah ini akan terdengar lebih gila atau tidak, tapi aku rasa akan jauh lebih aman,” ujar Adriano.
“Bisa Anda jelaskan, Tuan D’Angelo?” pinta Matteo dengan raut wajah yang tampak semakin serius.
Adriano membetulkan posisi duduknya. Wibawanya terlihat dengan begitu jelas saat itu. Pembawaannya yang kalem, membuat siapa pun yang berada di dekatnya jadi merasa segan. “Aku memiliki dua buah jet pribadi, dan salah satunya jarang kugunakan. Karena itu aku akan memberikannya kepada Anda sebagai hadiah dari awal kerja sama kita,” ucap Adriano datar.
“Lalu?” tanya Matteo lagi. Ia semakin penasaran. Begitu juga dengan Coco dan Marco.
“Aku memiliki seorang pilot yang sudah sangat ahli. Dulu ia berprofesi sebagai prajurit angkatan udara dan merupakan seorang penerjun payung yang luar biasa,” terang Adriano lagi. Ia meneguk minumannya untuk sesaat.
“Aku akan menugaskannya untuk terbang melintasi Samudera Atlantik, dan meledakan pesawat yang ia kemudikan tepat di tengah-tengah samudera itu. Aku rasa, tim SAR akan kesulitan untuk melakukan pencarian di sana, terlebih jika kita mengingat karakteristik dari Samudera Atlantik itu sendiri. Pada awalnya mungkin akan dilakukan pencarian, tapi itu hanya akan berlangsung selama beberapa hari saja,” jelas Adriano dengan yakin.
“Masuk akal,” sambut Matteo. Ia melirik Coco dan Marco yang tampak manggut-manggut.
“Bukankah kau berencana untuk membuat kamuflase, Theo?” lirik Marco.
“Ya. Itu sebagai penguat bukti bahwa Antonio memang berada dalam pesawat yang meledak tersebut. Kita harus membuat ini sesempurna mungkin. Jika ada celah sedikit saja, maka nasib dari Organisasi de Luca akan dipertaruhkan,” ada setitik rasa khawatir dalam nada bicara Matteo, meskipun berusaha untuk ia tutupi.
“Aku tidak ingin hal itu sampai terjadi, Tuan de Luca. Bagaimanapun juga, aku merasa senang bisa berbisnis dengan Anda. Karena itulah, aku akan membantu Anda dengan segenap kemampuanku,” ucap Adriano. Kata-katanya terdengar sangat meyakinkan, membuat Matteo sedikit tersentuh. Perasaan tak suka yang selama ini bertahan dalam pikirannya, mulai terkikis sedikit demi sedikit, lewat sikap yang ditunjukan Adriano padanya. Akan tetapi, Matteo tetaplah Matteo. Insting dan penglihatannya masih sangat tajam dan masih dapat bekerja meski dalam gelap sekalipun.
“Aku harap Anda tidak meminta timbal balik apapun atas kebaikan yang Anda berikan ini. Aku bisa saja memakai salah satu helikopter milikku untuk ....”
“Tenang saja, Tuan de Luca. Aku bukan tipikal orang yang suka mengambil kesempatan. Niatku membantu Anda terlepas dari masalah ini benar-benar tulus. Makin cepat Anda menyelesaikan masalah dengan detektif itu, maka semakin cepat pula Anda berkonsentrasi dengan kerja sama kita. Ingat, Tuan de Luca. Pemesan senjata hasil rakitan Anda bukanlah orang sembarangan. Sangat sulit untuk menjalin kerja sama dengannya, karena ia begitu selektif dalam memilih partner bisnis,” tutur Adriano dengan lugas. Gaya bicaranya terkesan begitu serius dan penuh wibawa, membuat Matteo cukup terkesan.
“Satu hal lagi, ia bersedia seandainya Anda ingin bertemu secara langsung dengannya,” imbuh Adriano lagi. “Aku bisa memfasilitasi Anda selama berada di Monaco.”
“Oh, kau terlalu baik, Tuan D’Angelo. Aku rasa itu sangat berlebihan,” tolak Matteo dengan halus dan diiringi senyum simpul.
__ADS_1
“Tidak, maksudku bukan seperti itu. Aku pikir, tak ada salahnya jika memberikan sedikit jamuan untuk rekan bisnisku. Iya, kan?” Adriano meyakinkan Matteo. Sementara pria bermata abu-abu itu hanya terdiam dan menatap lekat pria bermata biru yang juga tengah menatapnya. Suasana pun hening untuk sesaat.
“Ah, ya! Aku rasa itu bukan sesuatu yang terlalu berlebihan, Amico,” Coco yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua pria itu, kini ikut buka suara. Ia tahu arti tatapan yang dilayangkan Matteo untuk Adriano, karenanya Coco segera kembali mencairkan suasana.
“Baiklah. Kita akan mengaturnya nanti,” ucap Matteo. “Akan tetapi, sebelum merekayasa ledakan pesawat, maka kita harus meyakinkan detektif bahwa sosok Antonio itu masih ada.”
“Bagaimana caranya?” tanya Coco tak mengerti.
Matteo segera menoleh kepada sahabatnya itu.
“Kita cari seseorang dengan postur mirip Antonio. Setidaknya, yang seusia dengannya. Kita pakaikan alat bantu pernapasan, lalu kita buat panggilan video,” jelasnya.
“Kita benar-benar harus membuat panggilan telepon dari Amerika,” gumam Adriano. “Sayangnya koneksiku terbatas di sana,” keluh pria itu.
“Sepertinya aku punya seorang kenalan,” Coco mengusap dagunya seraya mendehem pelan.
“Siapa?” tanya yang lainnya secara bersamaan.
“Jangan katakan jika itu adalah salah satu dari mantan gadismu,” tebak Matteo.
“Tepat sekali!” Coco tergelak seraya menepuk punggung Matteo sedemikian kerasnya.
“Sebenarnya ada berapa banyak mantanmu, Coco?” tanya Marco curiga. “Tak terhitung? Tunggu sampai Francy tahu akan hal ini!” ancam Matteo yang segera dibalas oleh pelototan tajam dari Coco.
“Bukankah kita sama, Amico!” balasnya.
Dua orang sahabat kental itu bersitegang sampai Adriano menyela perseteruan mereka, “Jadi, Tuan de Luca dulunya adalah seorang penakluk wanita? Apakah Nyonya de Luca mengetahuinya?”
“Mia tahu segalanya tentangku. Lagi pula, itu terjadi jauh sebelum aku bertemu dengannya,” Matteo berkelit.
“Baiklah! Cukup dengan intermezzonya. Sekarang saatnya kita kembali ke permasalahan awal,” lerai Marco.
“Itu mudah. Aku akan menghubungi kenalanku. Ia yang akan mengatur semuanya di sana. Setelah selesai, kita akan membuat janji bertemu dengan detektif polisi dan kita lakukan panggilan video bersama. Bagaimana?” Coco mengangkat alisnya bangga. Jarang-jarang ia memiliki ide sebrilian ini.
__ADS_1
“Aku sungguh penasaran dengan kenalan Anda,” Adriano yang selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya, sedikit menaruh curiga kepada Coco.
“Aku dan Theo dulu pernah kuliah di Amerika. Tuan Roberto yang membiayai kami berdua, tapi hanya Theo yang serius menuntut ilmu ....”
“Sementara Coco sibuk dengan kegiatan balap motornya,” potong Matteo. “Ia sempat masuk ke arena profesional. Prestasinya juga cemerlang. Namun, pada akhirnya ia memilih untuk pulang ke Italia bersamaku setelah aku lulus. Ia rela meninggalkan ketenarannya hanya untuk mengikutiku. Bodoh sekali, bukan?” ledek Matteo.
“Itu karena hanya aku yang bisa meredam emosimu. Kau akan kesusahan jika tak ada aku,” kilah Coco.
Adriano tertawa pelan. Baru kali ini ia menyadari sedalam apa persahabatan kedua pria itu. “Kalian berdua sungguh luar biasa,” pujinya sembari bertepuk tangan.
“Jadi, kapan kita bisa menghubungi kenalanmu itu?” tanya Marco tak sabar.
“Secepatnya. Jika kalian mau, aku bisa menghubunginya sekarang juga,” jawab Coco sambil meraih ponsel. Jemarinya kemudian mulai menggulirkan deretan nama kontak yang tampak di layar ponsel berkali-kali, hingga ia menemukan nomor yang dimaksud. Dengan segera, Coco memencet kontak tersebut dan menunggu sampai panggilannya diangkat. Tak berselang lama, terdengar suara merdu wanita dari seberang sana, menyapa Coco mesra. "Hai, tampan. Sudah lama sekali kau tak menghubungiku."
Coco terlihat kikuk. Ia hanya senyum-senyum sambil sesekali menggaruk keningnya. "Aku sangat sibuk," jawab Coco. "Aku harap, aku tidak mengganggumu," ucapnya dengan senyuman khas. Senyuman yang biasa ia gunakan untuk memikat semua gadis incarannya.
"Kau akan sangat mengganggu pikiranku setelah ini, tampan," sahut wanita itu nakal.
"Baiklah. Aku ingin melakukan video call denganmu. Bagaimana?"
"Ah, sayang. Aku sedang malas melakukan permainan sekecil apapun, tapi tak apa. Lagi pula aku sangat merindukan wajah tampanmu," sahut wanita itu.
Coco kemudian mengubah panggilan tersebut pada mode video, sehingga yang lainnya dapat melihat sosok wanita itu. Seketika Matteo terbelalak melihat sosok wanita yang dimaksud oleh Coco. Tak disangka sahabatnya itu pernah memiliki hubungan dengan seseorang yang tak biasa. “Kenapa kau tak pernah bercerita padaku jika kau sempat dekat dengannya?” protes Matteo dengan suara yang teramat lirih.
“Kau tak pernah bertanya,” jawab Coco santai.
“Kalian bicara apa? Aku sama sekali tak mengerti,” sela Marco.
Dengan tenang, Coco memutar ponsel dan mengarahkan layarnya kepada setiap orang. “Semuanya, perkenalkan ia adalah Imelda
Jones."
“Rasanya nama itu tidak asing lagi bagiku,” gumam Adriano seraya berpikir. Sedangkan Marco hanya bisa terperangah. “Ia adalah model majalah dewasa," ujarnya.
__ADS_1