
Damiano tak segera menanggapi jawaban Matteo. Pria paruh baya itu mengela napas panjang. Damiano sepertinya tak habis pikir, apa yang menjadi alasan Matteo memilih Marco untuk menggantikan posisi putra asuhnya tersebut. Selama ini, ia begitu mengenal karakter dari sosok Marco yang sebenarnya.
“Apa kau tak salah bicara, Nak?” tanya Damiano meyakinkan Matteo.
“Tidak, Damiano. Aku sepenuhnya serius dengan hal itu,” jawab Matteo datar. “Aku tahu kau pasti bertanya-tanya mengapa aku memilih Marco. Iya, kan?” Matteo melirik sang pengasuh yang saat itu tengah menatapnya dengan lekat dan penuh tanda tanya. Pria bermata abu-abu itu pun tersenyum simpul. Ia tak menyalahkan keraguan yang muncul dalam pikiran Damiano.
“Tentu saja kau pasti memiliki penilaian sendiri terhadapnya. Akan tetapi, kita tidak tahu dengan pendapat dari para tetua. Sejujurnya aku tak yakin apakah Marco layak atau tidak untuk diamanati tugas seberat itu, secara kita tahu seperti apa karakternya,” jawab Damiano ragu.
“Karena itulah kita berikan ia kesempatan dan biarkan Marco membuktikan dirinya. Antonio adalah orang yang sangat cakap. Aku yakin jika ia pasti pernah mengajarkan sesuatu terhadap putranya, berhubung ia ingin sekali menjadikan Marco sebagai ketua organisasi. Aku rasa, Marco sebenarnya tidaklah sebodoh seperti yang selalu ia tunjukan selama ini terhadap kita semua. Bisa saja ia hanya berpura-pura karena memang tak berminat berkecimpung dalam organisasi,” jelas Matteo dengan tatapan menerawang pada pohon anggur yang mulai berbuah.
“Itulah yang aku takutkan, Nak. Kenapa kita harus memberikan tugas dan beban berat pada seseorang yang tak berminat sama sekali dengan organisasi. Apa mungkin Marco bersedia untuk mengemban tugas itu?” Damiano masih tetap ragu.
“Jika Marco tak bersedia, maka aku akan menghajarnya habis-habisan sampai ia bersedia. Mudah, bukan?” ujar Matteo dengan entengnya. Ia menyunggingkan senyuman kecil, kemudian menghirup udara pagi dalam-dalam. “Aku benar-benar merindukan suasana seperti ini, Damiano. Ketenangan dan tanpa beban yang terlalu besar. Aku akan banyak-banyak menghirup udara segar agar tubuhku semakin bersih,” ucap Matteo seraya kembali menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.
Sementara itu, Damiano menatapnya dengan lekat. Mata tua pria tersebut menyiratkan sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Damiano kemudian menyentuh pundak Matteo dan menepuknya beberapa kali. “Kau akan selalu menjadi putraku yang terhebat, Theo. Menjadi seorang pemimpin atau tidak, Matteo akan tetap menjadi seekor singa yang perkasa,” ucapan Damiano telah membuat Matteo membuka matanya dan menoleh. Pria itu kemudian tersenyum.
“Begitukah?” tanyanya.
Damiano tak menjawab. Ia hanya menanggapinya dengan sebuah tawa pelan. “Aku harus memeriksa para pekerja dulu. Lain kali kita lanjutkan lagi perbincangan ini. Kau selalu sibuk, Theo. Kita masih tinggal serumah tapi sudah jarang mengobrol seperti ini,” keluh Damiano seraya berdecak tak mengerti.
“Aku hanya ingin memanfaatkan waktuku dengan sebaik-baiknya, Damiano. Setelah semua ini selesai, aku akan menjadi Matteo yang baru. Aku harap kau masih bisa melihat semua perubahan dalam hidupku. Aku akan menantikan saat-saat itu tiba,” Matteo mengempaskan napas pelan. “Aku harus kembali ke rumah. Mia pasti sudah bangun. Ia tak akan suka jika saat terbangun dan aku tak ada di dekatnya,” Matteo tersenyum getir. “Istriku sangat manja, tapi aku menyukainya. Baiklah. Sampai nanti, Damiano,” Matteo mengakhiri perbincangan pagi itu bersama Damiano. Ia menepuk lengan ayah asuhnya tersebut dan berbalik, kemudian melangkah pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Damiano masih berdiri di tempatnya. Ia menatap nanar kepergian Matteo yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Pria itu masih terpaku di sana dan termenung. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, hingga semilir angin pagi menyadarkannya kembali. “Theo, putraku,” gumamnya pelan. Setelah itu, Damiano pun membalikan badannya dan berlalu menuju tempat para pekerja perkebunan.
__ADS_1
Matteo membuka pintu kamar dengan hati-hati. Dilihatnya, Mia tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Ia menatap Matteo dengan manja dan tersenyum lembut saat pria itu berjalan menghampirinya. “Kau meninggalkan aku sendiri, Theo,” rengek Mia manja.
“Seharusnya aku sudah kembali sejak setengah jam yang lalu, tapi kebetulan aku bertemu dengan Damiano. Jadi, kami berbincang-bincang sebentar,” Matteo duduk di tepian ranjang dan menghadap kepada Mia. Ia lalu menyentuh wajah Mia yang masih terlihat cantik meskipun baru bangun tidur. “Kau selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun, Sayangku,” sanjungnya pelan dan dalam.
“Pagi-pagi begini kau sudah merayuku, Theo,” balas Mia. Ia menanggapi rayuan gombal sang suami.
“Itu bukan rayuan, Cara mia. Kau memang sangat cantik, dan aku tak menemukan kecantikan seperti ini dalam diri wanita manapun,” sanjung Matteo lagi dengan senyuman nakal. Sedangkan Mia hanya menatap lekat kepadanya. “Ada apa, Cara mia?” tanya pria itu.
“Kau sangat tampan, Theo. Hari ini kau harus mengantarku ke dokter,” ucap Mia manja.
“Oh, iya tentu. Aku akan mandi dulu. Apa kau tak ingin mandi, Sayang?” tanya Matteo seraya beranjak dari duduknya. Ia menatap Mia yang saat itu kembali merebahkan serta menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia melihat Mia begitu aneh pagi itu, karena tak biasanya sang istri bersikap begitu.
“Apa kau baik-baik saja, Cara mia?” Matteo kembali duduk dan mengelus lembut kepala Mia yang menyembul sedikit dari balik selimut.
“Aku baik-baik saja, Theo,” jawab Mia sambil terus bersembunyi. Ia kembali menutupi dirinya ketika Matteo menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya.
“Pergilah mandi, Theo! Aku tidak suka baumu!” usir Mia membuat Matteo segera berdiri. Pria itu mengendus tubuhnya sendiri.
“Baiklah, Sayang. Apa kau tak ingin mandi juga?” tawar Matteo dengan sedikit merayu.
“Tidak! Aku hanya ingin tidur!” jawab Mia kesal, membuat Matteo mengernyitkan keningnya.
“Baiklah, jangan marah. Aku hanya bertanya. Aku akan mandi dulu, setelah ini kita lanjut sarapan,” ucap Matteo lagi sebelum akhirnya beranjak ke dalam kamar mandi. Sementara Mia masih bersembunyi di bawah selimut tebalnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Matteo menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia masih penasaran atas sikap Mia. Berbalut handuk putih, pria itu keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk lain. “Cara mia?” Matteo makin terheran-heran saat melihat Mia masih meringkuk di dalam selimut.
“Bukankah sebentar lagi kita akan memeriksakan kandunganmu?” tanyanya hati-hati.
Selimut tebal itu hanya terbuka sedikit, menampakkan wajah Mia hingga dagu. “Theo, aku merasa kurang enak badan. Bagaimana kalau kau yang mewakilkan diriku untuk periksa?” jawab Mia sekenanya.
“Astaga, Cara mia. Tidak ada apa-apa di perutku. Apa yang akan dokter kandungan periksa?” Matteo menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ah, Theo. Jangan memaksaku, karena aku akan mual,” rengek Mia sembari menegakkan punggungnya dan bersandar di kepala ranjang.
“Kau mual? Perutmu sakit?” Matteo segera duduk di tepi ranjang dan menghadap kepada Mia dengan raut was-was.
“Uhm,” aroma wangi sabun dan shampoo menguar dari tubuh atletis Matteo yang masih lembab. Harumnya menusuk hidung Mia, sehingga wanita itu bersin berkali-kali. “Aku tidak suka bau sabun yang kau pakai!" protesnya.
“Kau kenapa,Cara mia? Sudah sejak lama kau dan aku memakai sabun mandi ini,” Matteo menggeleng tak mengerti.
“Itu artinya kita harus berbelanja sabun. Aku juga ingin membeli aromaterapi yang baru,” Mia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.
“Kita berbelanja setelah kau memeriksakan kandunganmu,” ujar Matteo pelan, tetapi terdengar amat tegas.
“Huh, baiklah!" dengus Mia. Iseng, tangannya menarik handuk Matteo sampai handuk putih itu terlepas dari badan pria tampan tersebut.
“Mia!” seru Matteo dengan muka memerah, karena ulah nakal sang istri. Sejak pertama kali mengenal Mia, wanita itu tak pernah sekalipun berbuat usil padanya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Theo. Itu bukan keinginanku,” kilah Mia sambil buru-buru memasuki kamar mandi. “Itu kemauan anak kita!” serunya sambil terbahak.
Sementara Matteo masih terpaku di depan pintu kamar mandi yang telah tertutup. Sejenak kemudian, ia memungut handuk yang tergeletak di atas lantai. “Sepertinya kehamilan ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan,” gumam Matteo dengan senyum samar yang tersungging dari bibirnya. Ia segera berlalu ke ruang ganti untuk berpakaian. Namun, baru saja Matteo selesai mengenakan celana panjangnya, tiba-tiba terdengar suara ribut dari dalam kamar mandi. Segera, pria bermata abu-abu itu keluar dari kamar ganti dan menuju kamar mandi. "Cara mia! Apa kau baik-baik saja?" seru Matteo cemas, dari balik pintu.