
Dua minggu telah berlalu. Pada akhirnya, Matteo diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya, dengan catatan dirinya harus terus melakukan pengecekan secara rutin. Namun, hal itu akan jauh lebih baik bagi Matteo, daripada ia harus terus berada di rumah sakit dan tidak melakukan apapun sama sekali.
Berdiri di dekat jendela kaca kamar rawat yang selama ini ia tempati, Matteo menatap nanar ke luar. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Namun, wajahnya terlihat sangat serius. Lamunan Matteo baru terhenti ketika Mia datang menghampirinya.
"Theo," panggil wanita itu dengan suaranya yang lembut. Matteo segera menoleh. Ia menyambut kehadiran sang istri di sana dengan sebuah tatapan penuh cinta. "Aku senang akhirnya kita akan pulang," ucap Mia seraya memakaikan mantel hitam sebatas lutut, yang hanya menyelimuti tubuh Matteo tanpa memasukannya. Setelah itu, Mia mengajak pria bermata abu-abu itu untuk duduk dan mengambil sisir dari dalam tasnya. Ia kemudian menyisir rapi rambut Matteo.
"Kau terlihat sangat tampan dan jauh lebih dewasa dengan rambut pendek seperti ini, Theo. Aku sangat menyukainya. Namun, terkadang aku juga merindukan Matteo dengan rambut gondrongnya," ucap Mia sambil terus merapikan rambut Matteo ke belakang.
Matteo membalas perlakuan manis Mia dengan sebuah senyuman lembut. Ia kemudian mendongakkan wajahnya. Mia yang saat itu berdiri di belakang Matteo, segera menunduk dan mengecup kening sang suami. Selain itu, ia juga mengecup kedua mata, hidung, dan tentu saja bibir yang dihiasi kumis dan janggut tipis yang membuat Matteo terlihat jauh lebih gagah.
Beberapa saat kemudian, Matteo berdiri setelah Mia melepaskan ciumannya. Ia menghadap ke arah Mia seraya menyentuh pipi halus wanita berambut panjang tersebut, dengan menggunakan tangan kirinya. Setelah menjalani operasi, Matteo hanya dapat menggunakan tangan kiri tersebut untuk segala aktivitasnya seperti minum, makan, dan lain-lain, karena untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan, tangan sebelah kananya harus menggunakan arm sling.
Penggunaan arm sling memang menjadi salah satu metode non bedah, untuk pengobatan bagi pasien yang mengalami patah tulang selangka. Pasien biasanya dianjurkan untuk menggunakan arm sling hingga rasa sakitnya menghilang. Mau tak mau, Matteo harus mengikuti anjuran tersebut meskipun ia sudah merasa tidak nyaman karenanya.
"Terima kasih, Mia. Kau sudah merawatku dengan sangat baik. Aku sangat beruntung bisa dipertemukan dengan seseorang sepertimu," ucap Matteo seraya kembali menyentuh bibir ranum sang istri tercinta untuk beberapa saat. Ia baru melepaskan bibir Mia ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar itu. Tampaklah Damiano dan Coco dengan wajah mereka yang terlihat ceria.
"Apa kau sudah siap untuk pulang, Anakku?" tanya Damiano seraya menghampiri sepasang suami istri tersebut. "Semua barang-barangmu dan juga Mia telah dikirimkan ke Brescia. Kita akan langsung ke sana," lanjutnya.
"Theo sangat merindukan bantal kesayangannya, Damiano," sela Coco diiringi tawa pelan. "Kasihan sekali kau, Amico. Sampai berapa lama kau harus menggendong tanganmu seperti itu? Sungguh menyedihkan," ledek Coco lagi.
"Tutup mulutmu! Sahabat macam apa kau ini!" sergah Matteo jengkel. Sementara Coco hanya tergelak. Pria bermata cokelat tersebut kini mengalihkan pandangannya kepada Mia. "Kau harus lebih bersabar, Mia. Aku tidak yakin jika Theo masih kuat untuk ...." Coco tidak melanjutkan kata-katanya, karena melihat Matteo yang mendelik tajam dengan raut yang sangat jengkel. Sedangkan Mia hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabat itu. Hubungan pertemanan yang terjalin di antara keduanya, terlihat begitu unik dengan karakter mereka yang bertolak belakang.
"Aku sudah bosan berada di kamar ini selama hampir dua minggu. Aku sangat merindukan suasana Casa de Luca," ujar Mia. Seperti biasa, ia kembali menunjukkan sikap lembutnya kepada Matteo, meskipun pria itu terlihat sedikit aneh dari semenjak Adriano datang mengunjunginya beberapa hari yang lalu. Matteo seakan menyimpan sesuatu yang tidak ia ungkapkan kepada Mia.
__ADS_1
“Setelah tiba di sana, aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke sekitar perkebunan,” Matteo menekuk lengannya yang sehat, sebagai tanda agar Mia melingkarkan tangannya di sana. Mia menyambutnya dengan senyuman ceria.
“Akan kuingat janjimu, Sayang,” bisik Mia seraya melangkahkan kakinya mengikuti gerak Matteo. Keempat orang itu berjalan ke arah lift untuk menuju lantai teratas, di mana helikopter de Luca telah menunggu mereka. Tak berselang lama, helikopter itu pun segera lepas landas dan meninggalkan bagunan megah rumah sakit tersebut.
Dalam perjalanan yang berlangsung tidak kurang dari satu jam, mereka akhirnya tiba di area perkebunan anggur beserta kediamannya yang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi Mia. Tak pernah ia lupakan kenangannya bersama Valentino saat mencari tahu jati diri Matteo yang sebenarnya. Mia tersenyum samar saat helikopter mendarat di landasan.
Takdir memang selalu tak pernah bisa ditebak. Ketika ia membayangkan akan hidup menua bersama Valentino, beberapa saat setelah mereka mengucapkan janji suci itu, kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Matteo lah yang kini berada di dekatnya.
Matteo seakan tak rela jika ada orang lain yang membantu Mia turun dari pijakan helikopter. Dengan sigap, ia melakukan tugasnya walaupun dalam kondisi sakit. Matteo memaksakan dirinya untuk memberikan lengan sebagai tempat Mia berpegangan. "Silakan, Nyonya de Luca," ucapnya dengan tatapan penuh cinta kepada Mia.
“Theo,” balas Mia. Sepasang mata indah itu memandang suaminya dengan penuh haru. Mia begitu terkesan akan sikap manis Matteo terhadapnya, berhubung ia tahu jika Matteo tidak pernah bersikap manis kepada semua orang. Sementara Matteo hanya tersenyum samar. Tangan kiri pria itu merengkuh pundak Mia sambil berjalan menuruni tangga bersama-sama.
“Bisakah agar sikap kalian berdua tak terlalu berlebihan seperti itu? Sejak tadi saling pandang, seolah-olah kalian telah terpisah bertahun-tahun lamanya,” protes Coco yang berkali-kali mengela napas panjang karena berjalan terlalu lambat di belakang sepasang pengantin baru itu. Untuk menyalip pasangan yang tengah dimabuk cinta tersebut pun sangat tidak mungkin, karena tangga yang mereka lewati hanya selebar badan dua orang dewasa.
Coco hanya bisa mendengus kesal menanggapi ucapan Matteo, hingga tanpa disadari jika mereka kini sudah tiba di lantai tempat kamar Matteo berada. Dengan penuh semangat, Mia membuka pintu kamar lebar-lebar. Ruangan itu terlihat begitu rapi dan seperti baru saja dibersihkan.
“Aku sudah memerintahkan para pelayan untuk mempersiapkan kamar kalian,” ujar Damiano karena melihat ekspresi yang tunjukkan oleh Mia.
Mia segera menoleh kepada pria itu. Ia hendak mengucapkan terima kasih. Mia sudah menyiapkan wajah cerianya untuk Damiano. Akan tetapi, pada akhirnya ia mengurungkan niatnya, karena saat itu terdengar langkah dari hak sepatu wanita yang bergema dan terdengar menaiki deretan anak tangga. Beberapa saat kemudian, langkah itu berhenti di puncak tangga yang berada hanya beberapa meter dari posisi Mia berdiri.
“Hai, semuanya,” sapa wanita itu dengan suara yang lembut dan juga menggoda. Camilla berada di Casa de Luca. Itu sangat mengejutkan semuanya, tak terkecuali Mia.
Semua mata memandang kepada gadis yang terlihat begitu segar bagaikan buah berry yang siap dipetik pada masa panen. Sementara Mia hanya mendengus pelan, seraya beranjak meninggalkan Matteo begitu saja. Ia segera bermaksud untuk memasuki kamar. Akan tetapi, sebelum ia benar-benar masuk, Mia kemudian berhenti di ambang pintu dan membalikkan badannya. Tatapannya ia tujukan kepada Matteo. “Apa kau hanya akan berdiri di sana menyambut kekasihmu, Theo?” sindir Mia dengan nada ketus.
__ADS_1
Tiga orang pria itu yang tadinya menatap Camilla, kini mengalihkan pandangannya kepada Mia. Belum sempat Matteo menanggapi sindiran pedas sang istri, Camilla sudah terlebih dulu menjawab pertanyaan itu, “Apa kau akan mengusirku lagi seperti kemarin-kemarin, Nyonya de Luca?” Camilla dengan percaya diri berjalan mendekat ke arah Matteo seraya memamerkan senyum indahnya. Ia berdiri di hadapan pria yang masih terlihat tampan meskipun tengah memakai arm sling.
“Aku sempat menjengukmu ke rumah sakit, Theo. Akan tetapi, Nyonya de Luca tak memperbolehkanku bertemu denganmu. Entah apa yang ia takutkan,” ucap Camilla dengan nada setengah mengejek. Ia lalu mengarahkan tatapannya kepada Mia yang menunjukkan rasa tak nyamannya atas kehadiran Camilla di sana.
Coco beringsut ke sisi Matteo dan membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya. “Jangan sampai kau salah perhitungan, Amico. Salah sedikit saja, maka bisa kupastikan jika kau akan kembali menjalani rawat inap di rumah sakit. Kau juga harus rela jika Damiano yang akan menyeka tubuhmu, karena aku tidak akan mau melakukannya," ucap Coco seraya mengulum senyumnya. Ia merasa geli dengan konflik yang tengah di hadapi Matteo. Sementara Matteo hanya mendelik tajam kepada sahabatnya itu.
Damiano terbahak mendengar celetukan Coco. Namun, ia segera menyeret pria berambut ikal tersebut untuk pergi dari sana. Sementara Matteo terlihat salah tingkah saat ia menyadari, bahwa dirinya kini tengah berdiri di antara Mia dan juga Camilla. Namun, Matteo harus tetap menunjukkan sikap jantannya. Dengan segera ia dapat menguasai keadaan.
"Kau ada di sini? Kebetulan sekali," sapa Matteo. Meskipun ia berusaha untuk terlihat tenang, tapi rasa canggung itu masih dapat ditangkap oleh Camilla yang kembali mengalihkan perhatiannya kepada pria tersebut.
"Kenapa kau terlihat sangat gugup, Theo?" pancing gadis itu dengan sikapnya yang cukup menggoda.
"Aku tidak gugup. Aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat," kilah Matteo datar.
“Apa kau yang memberitahukan kepada Nona Camilla bahwa kita akan pulang hari ini, Theo?” tukas Mia dengan nada bicaranya yang masih terdengar sangat ketus.
“Cara mia, kau bersamaku selama dua puluh empat jam penuh. Kau bahkan menemaniku hingga ke dalam kamar mandi. Seharusnya kau sudah tahu jawabannya,” sahut Matteo dengan tenang, tapi berhasil membuat Camilla segera memalingkan wajahnya dengan penuh kecewa.
__ADS_1