
Mia terdiam dalam dekapan hangat pria bertubuh tegap itu. Ditatapnya wajah rupawan Matteo dari jarak yang teramat dekat. Ia berusaha untuk mencerna ucapan Matteo. Mia sama sekali tidak memahaminya.
“Apa maksudmu, Theo? Apakah selama ini kau telah berbohong kepadaku?” tatap mata Mia mulai diliputi rasa curiga terhadap pria itu.
Matteo tidak segera menjawab. Saat itu, ia hanya ingin menatap wajah cantik nan lugu Mia yang tidak akan ia lihat entah untuk berapa lama. Matteo memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah itu dengan lembut. Ia seakan tidak ingin membuat Mia tersakiti. Kelembutan gadis itu, telah berhasil meluluhkan kerasnya hati dan sikap seorang Matteo.
Matteo kemudian mengalihkan sentuhan tangannya pada kening Mia. Ia lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang terjatuh di sana. Sesaat kemudian, pria itu menangkup wajah Mia dengan penuh perasaan. Ini adalah pertama kalinya bagi Matteo bersikap semanis itu terhadap seorang gadis. Baginya, Mia ibarat sebuat hiasan dari kaca yang harus ia perlakukan dengan sangat hati-hati, agar terhindar dari retak dan pecah.
Sedangkan Mia, kini ia mulai berani untuk melawan mata berwarna abu-abu yang tajam itu. Makin dalam, ia semakin dapat merasakan dan seakan telah mampu menyelami isi hati Matteo yang tidak terungkap lewat sebuah kata. Mia bahkan lupa dengan rasa marah dan cemburunya terhadap pria itu, terlebih ketika Matteo kembali melu•mat bibirnya dengan mesra untuk beberapa saat.
“Haruskah kau pergi malam ini?” tanya Mia. Gadis itu tampak resah.
“Iya. Aku harus segera pergi,” jawab Matteo. Meski tak rela, tapi pria itu tidak menunjukkan sikap yang terlalu berlebihan di hadapan Mia.
“Apa kau akan menemuiku lagi?” Mia kembali bertanya dengan penuh harap.
Matteo terdiam untuk sejenak. Ia sepertinya tengah berpikir. Ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Namun, pada akhirnya Matteo mengangguk. “Aku pasti akan menemuimu lagi, selama kau masih berniat untuk menungguku,” jawabnya.
Sebuah senyuman manis terlukis dengan indah di wajah cantik Mia. Gadis itu terlihat lega mendengar jawaban dari Matteo. “Aku pasti akan menunggumu,” jawab Mia dengan yakin.
Matteo tersenyum simpul. Ia kemudian mengecup kening Mia untuk sesaat. “Masuklah, Mia! Aku tidak akan pergi sebelum memastikan jika kau telah aman di rumahmu. Mr. Gio telah berpesan kepadaku untuk mengembalikanmu tanpa kurang satu apapun,” ujar Matteo dengan sedikit senyuman di wajahnya.
Mia tersenyum haru. Perlahan ia melepaskan dirinya dari dekapan pria bertubuh jangkung itu. Tanpa mengalihkan tatapannya, Mia berjalan mundur ke arah pintu masuk rumahnya. Sebelum benar-benar masuk, gadis itu sempat tersenyum manis seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Sementara Matteo membalasnya dengan sebuah senyuman simpul. Senyuman yang terus memudar, ketika Mia menghilang di balik pintu rumahnya.
Matteo kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi. Jaraknya semakin menjauh. Gamang ia menentukan tujuan. Entah bagaimana caranya agar ia bisa sampai di Brescia, sementara harta terakhirnya yang berupa berlian, sudah ia serahkan kepada Mr. Gio.
Matteo akhirnya memutuskan untuk mencari tumpangan. Dia kembali melewati gang sempit itu demi mempercepat rutenya menuju jalan raya. Beberapa saat kemudian, ia merasakan ada seseorang di belakangnya dengan langkah yang semakin mendekat.
Matteo berbalik tepat pada saat pria asing itu hendak menghunuskan pisau lipat ke arahnya. Secepat kilat Matteo menepis tangan itu hingga pisau lipatnya terpental dan jatuh. Mereka berdua berebut mengambilnya. Gerakan Matteo jauh lebih gesit, sehingga ia bisa merebut pisau itu dan mulai menyerang si pria asing.
Pria asing itu menghindar saat Matteo mengayunkan pisau lipatnya, dan membuatnya terpojok. Badannya membentur tembok gang, sementara tangan kiri Matteo mencengkeram lehernya. Tangan kanannya menggenggam erat pisau lipat yang kini sudah menggores pipi pria itu. “Katakan, siapa yang menyuruhmu!” geram Matteo.
Pria itu malah terkekeh, ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Matteo. “Hidupmu akan berakhir malam ini!” seringainya.
Tepat pada saat Matteo hendak menyayat leher pria itu, seorang lelaki asing lain sudah menyergapnya dari belakang. Pria asing itu kini melingkarkan tangannya di leher Matteo dan mengapitnya dengan keras hingga Matteo kesulitan bernapas. Matteo sudah berniat untuk menusuk lengan pria itu menggunakan pisau yang ia genggam di tangan kanan. Namun, pria yang satu lagi, kini berhasil melepaskan diri dan mencegah Matteo untuk menyerang rekannya, ia bahkan juga ikut menyerang Matteo dan hendak memukul wajahnya.
Sebuah kesempatan emas bagi Matteo untuk melepaskan diri. Ia memukul ulu hati pria di belakangnya menggunakan siku, sehingga pria itu jatuh terjerembab. Ia juga menyerang pria yang berada di hadapannya dengan menusukkan pisau lipat itu sekuat tenaga di dada kirinya. Pria itu memekik kesakitan, sehingga Matteo harus membungkam mulutnya. Ia tak ingin keributan itu memicu perhatian sekitarnya.
Sementara itu, satu pria lainnya tak juga putus asa. Meskipun sambil meringis kesakitan, ia tetap berusaha berdiri. Diam-diam ia merogoh sesuatu dari balik kemejanya. Sebuah pistol otomatis yang ia arahkan kepada Matteo.
“Bunyi pistolmu akan membawa pasukan polisi kemari!” ucap Matteo datar dan pelan.
“Aku akan lebih dulu menghilang sebelum mereka tiba!” balas pria itu.
“Baiklah,” Matteo mengangkat kedua tangannya, sedangkan pria itu bersiap menembaknya. Akan tetapi, sebelum niat itu terlaksana, Matteo terlebih dahulu menendang sebuah batu berukuran sedang dan tepat mengenai pergelangan pria itu.
__ADS_1
Pria itu mengaduh, sementara pistolnya terlempar ke dekat kaki Matteo. Secepat kilat, Matteo meraih pistol itu dan menembakkannya tepat di dada kiri pria tersebut.
Sadar akan kegaduhan yang ia ciptakan, Matteo melarikan diri ke arah jalan raya. Namun, saat kakinya tepat berada di atas trotoar, sebuah mobil SUV bergerak ke arahnya dan menabraknya.
Matteo terlempar beberapa meter, dan terjatuh di aspal. Beruntung saat itu suasana begitu sepi. Tak ada seorang pun di sana selain dirinya dan pemburunya.
Menara jam sudah menunjukan lewat tengah malam. Matteo bangkit bersamaan dengan mobil yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Ia tak hilang akal. Roda mobil depan adalah sasaran tembaknya saat ini. Dua kali tembakan memuntahkan peluru dan melesat tepat ke roda mobil sebelah kanan. Mobil itu oleng dan kehilangan keseimbangannya, sehingga terguling berkali-kali.
Sedikit lagi, maka mobil itu akan terjun bebas ke kanal yang mengalir di sisi jalan raya. Pengemudinya keluar dengan terburu-buru dari dalam mobil ringsek itu. Ia melompat sambil membawa senjata. Kini mereka berdua sama-sama mengarahkan senjatanya ke depan.
“Menyerahlah, Amico!” tegas pria itu.
“Aku tidak gila. Kau yang harusnya menyerah!” balas Matteo.
Sayup-sayup terdengar suara sirene mobil polisi dari kejauhan. Pria itu terlihat gugup, lain halnya dengan Matteo. Ia tetap terlihat tenang sembari berkata, “Sepertinya sudah banyak saksi mata yang melihat kita.”
Tanpa pikir panjang, pria itu segera melepaskan tembakannya. Demikian halnya dengan Matteo, dia juga langsung menarik pelatuk pistol yang dipegangnya.
Tembakan pria itu meleset hingga mengenai tembok bangunan yang ada di belakang Matteo. Sementara tembakan Matteo tepat bersarang di leher pria itu.
Pria itu roboh seketika. Sementara suara sirene polisi semakin mendekat. Tidak ada yang lain di pikiran Matteo selain melarikan diri.
__ADS_1