Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Kembali ke Brescia


__ADS_3


Dengan segera, Matteo menghampiri tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Ia lalu meraba setiap saku dari pakaian dan celana yang dikenakan pria itu. Matteo menemukan sebuah dompet berisi kartu identitas dengan nama Mariano Moretti dan puluhan lembar euro. Itu sudah cukup baginya, untuk ia gunakan sebagai ongkos pulang ke Brescia.


Sementara itu, mobil polisi sudah melaju dari kedua sisi jalan. Tak ada pilihan lain bagi Matteo, selain terjun ke kanal besar yang berada di bawah jembatan.


Ia segera memasukkan dompet itu ke bagian dalam saku jaket kulitnya. Matteo pun nekat melompat ke dalam kanal itu. Ia tak ingin tertangkap oleh polisi sebelum dendamnya terbalaskan.


Matteo akhinya dapat bersembunyi hingga para polisi itu pergi. Cukup lama ia menahan napasnya di dalam air. Namun, kini ia sudah terbebas. Ia mengendap-endap naik ke daratan. Jaket kulit dan celananya yang berwarna hitam menjadi keuntungan baginya. Polisi-polisi itu tidak dapat menangkap bayangannya.


Matteo beristirahat sejenak di tepian kanal seraya melepas jaketnya. Tak lupa ia mengeluarkan dompet dari dalam saku jaket itu. Matteo kemudian mencari batu di sekitarnya yang dapat ia gunakan sebagai pemberat. Ia pun membungkus batu itu dan mengikatnya menggunakan lengan jaket kulit miliknya. Setelah itu, ia lalu melemparkannya ke dasar sungai.


Kini hanya tersisa kaus dan celana yang melekat di tubuhnya. Pistol yang ia gunakan sebagai senjata pun sudah lebih dulu ia jatuhkan ke dasar sungai saat menyelam tadi.


Berbekal puluhan euro di tangan, Matteo berjalan menuju halte kota. Berbeda dengan jalanan distrik yang sepi, halte itu cenderung lebih ramai.


Beberapa pasang mata mengamati penampilannya yang basah kuyup. Matteo tak peduli sama sekali. Setelah membeli tiket, ia segera masuk ke dalam bus dengan tujuan menuju Brescia.


Matteo mengambil tempat duduk tepat di belakang sopir. Sementara itu, seorang wanita tua yang duduk di sebelahnya, memilih untuk menghindar dan pindah ke kursi di belakangnya.


Hampir tiga jam sudah, Matteo menempuh perjalanan. Saat itu, ia tidak langsung pulang ke kediaman de Luca. Matteo terlebih dahulu pergi ke tempat sahabatnya yang biasa ia panggil dengan nama Coco.


Giovanni Francesco Ricci, ia adalah pemilik sebuah bengkel reparasi mobil yang cukup besar di daerah itu. Namun, tidak ada yang tahu di bagian dalam bengkelnya. Adalah sebuah ruangan tersembunyi yang hanya diketahui oleh Coco dan Matteo.

__ADS_1


“Ke mana saja kau? Aku berusaha menghubungimu dalam beberapa hari ini,” sambutan yang terkesan biasa saja dari Coco, pria dengan rambut cepak dan berkumis tipis. Wajah tampan khas pria Italia, terlihat begitu kental dengan sorot matanya yang jauh lebih ramah jika dibandingkan dengan Matteo.


“Jangan katakan jika Camilla berhasil menahanmu di dalam apartemennya,” canda pria dengan senyumannya yang menawan.


“Camilla yang mana? Aku lupa!” jawab Matteo dengan tak acuh. Ia mengempaskan tubuhnya di atas sofa bed berwarna hitam yang ada di ruangan itu. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah insiden penyerangan tiba-tiba yang dilakukan oleh anak buah Silvio, yang menimbulkan beberapa luka memar di sudut bibir dan dekat mata sebelah kirinya.


Coco menyodorkan sekaleng soft drink kepada sahabat dekatnya. Setelah itu, ia duduk di sebelah Matteo dan meneguk minumannya. “Apa yang terjadi selama kau di Palermo?” tanya Coco seraya menyulut rokoknya.


Matteo meraih kotak rokok itu dan mengambil sebatang dari dalamnya. Asap tipis mulai mengepul dan menemani kedua sahabat itu. Sesekali, Matteo meneguk minumannya.


“Kacau!” jawab Matteo dengan wajah yang datar.


“Maksudmu?” Coco kembali bertanya.


Berawal dari pengkhianatan Silvio hingga pelariannya ke kota Venice. Ingatannya pun kembali tertuju kepada Mia, gadis yang ia tinggalkan dengan sebuah harapan.


“Aku harus segera membuat perhitungan dengan Silvio! Aku sudah berjanji pada diriku, jika aku tidak akan pulang ke Casa de Luca sebelum dapat menghabisi nyawa bajingan itu!” tegas Matteo seraya mematikan rokoknya di dalam asbak. Ia lalu menghabiskan minumannya.


“Kau masih menyimpan senjata milikku, kan?” tanya Matteo. Ia menoleh kepada sahabatnya yang masih duduk dengan tenang sambil menikmati minumannya.


“Untunglah aku belum menjualnya. Padahal, beberapa hari yang lalu ada seorang rekanku yang datang kemari. Ia membutuhkan pasokan senjata yang cukup banyak dan canggih. Tadinya aku akan menjual senjata titipanmu sebagai contoh, tapi rasanya aku tidak tega untuk melakukan hal itu,” tutur Coco. Ia mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa.


Matteo berdiri seraya mengembuskan napas pendek. “Jika bukan sahabatku, kau pasti sudah kuhabisi sejak dulu!” ujar pria bermata abu-abu itu seraya berlalu ke dalam sebuah kamar yang terdapat di ruangan itu. Ia meninggalkan Coco yang kembali tergelak saat mendengar ucapan kasar dari sahabatnya.

__ADS_1


Adalah sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Ukurannya hampir sama dengan gudang yang Matteo tempati di kedai milik Mr. Gio. Matteo kemudian menyalakan lampu. Cahaya kuning menerangi ruangan sempit itu. Meskipun temaram, tetapi cahaya kuning itu telah memerlihatkan dengan jelas pemandangan di dalam kamar itu.


Pada dinding sebelah kanannya, tertempel sebuah rak susun dengan berbagai jenis senjata yang berbeda, yang sesuai dengan kegunaannya.


Di sana juga terdapat sebuah brankas yang terbuat dari besi khusus untuk menyimpan senjata.


Matteo kemudian membuka kunci brankas besi itu. Di dalam sana terdapat dua buah senjata laras panjang dan dua buah pistol. Di bagian pintu brankas itu, terdapat kain dengan banyak saku, yang semuanya diisi oleh pisau belati dan sejenisnya. Matteo kemudian mengambil senjata miliknya. Senjata yang sama, seperti yang telah dicuri oleh Silvio. Ia pun memeriksa senjata itu dengan teliti.


“Aku belum membuka brankas dari semenjak senjata itu masuk ke sana,” ucap Coco yang telah berdiri di pintu kamar itu. Ia memerhatikan Matteo yang tengah memeriksa setiap bagian dari senjata miliknya. Matteo terlalu fokus kepada benda hasil rakitannya dan tidak memedulikan ucapan Coco. Pria bermata coklat itu kemudian masuk dan berdiri tepat di sebelah Matteo.


“Kau yakin akan menghabisi nyawa Silvio Moriarty?” wajah Coco terlihat begitu serius. Nada bicaranya pun terdengar sedikit ragu dan cemas. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding di sebelah brankas dan menatap Matteo yang masih memeriksa senjatanya. Matteo menoleh kepadanya untuk sesaat, sebelum ia kembali mengalihkan perhatiannya pada senjata andalannya.


“Memangnya kenapa? Kau tidak yakin dengan kemampuanku?”


“Bukan begitu, Sobat! Tentu saja aku sangat mengetahui seperti apa kemampuanmu, dan aku tidak meragukannya sama sekali. Namun, kau harus tahu siapa Silvio Moriarty,” tegas Coco.


Matteo tersenyum simpul. Ia kemudian meletakan kembali senjatanya. “Aku sangat mengenal Silvio. Kami berteman sejak kecil. Aku bahkan tahu dengan siapa ia melepas perjakanya,” ujar Matteo dengan entengnya.


Coco tertawa pelan mendengar ucapan sahabatnya. “Lalu, bagaimana dengan Vincenzo Moriarty? Apa kau mengenalnya dengan baik?”


Matteo terdiam. Ia memang tidak terlalu mengenal Vincenzo Moriarty. Namun, hal itu tidak akan menjadi penghalang bagi Matteo untuk tetap melanjutkan rencana balas dendamnya.


“Aku tidak punya urusan dengan Vincenzo!” jawab Matteo dengan yakin.

__ADS_1


“Vincenzo Moriarty terkenal sangat brutal. Kau pikir dia akan membiarkanmu hidup setelah kau membunuh adiknya?”


__ADS_2