
“Mia, apa yang kau lakukan?” suara keras Daniella telah membuyarkan lamunan Mia, dan kembali membawa gadis itu ke alam nyata. Mia tersentak. Ia baru sadar jika dirinya saat itu tengah menyetrika pakaian milik Daniella.
“Gadis bodoh!” hardik Daniella. Ia terlihat benar-benar marah. “Apa yang kau pikirkan sampai-sampai membuat mini derss-ku menjadi berlubang seperti itu? Dasar tidak bisa diandalkan!” umpat Daniella lagi. Gadis itu menggerutu kesal. Bagaimana tidak, Mia telah merusak mini dress yang akan ia gunakan untuk menghadiri undangan pesta dari salah seorang temannya.
“Kenapa kau tidak menyetrikanya sendiri?” sahut Mia dengan jengkel. Ia segera mencabut colokan setrikaan itu dan menggulung mini dress milik Daniella. Mia kemudian melemparkan baju itu ke hadapan kakak tirinya.
“Hey, Mia! Mau ke mana kau?” teriak Daniella dengan penuh emosi. “Kau harus bertanggung jawab karena telah merusak mini dress-ku!” teriak gadis dengan pakaian minim itu lagi.
Namun, jangankan menjawab, Mia bahkan tidak menoleh sama sekali kepada kakak tirinya. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar itu dengan cukup kencang.
Melihat sikap Mia yang mulai berani membangkang terhadapnya, Daniella merasa semakin marah. Ia berjalan ke arah kamar Mia, kemudian menggedor pintu kamar gadis itu dengan kencang. “Mia! Buka pintunya!” teriak Daniella dengan keras. Ia masih terus membawa mini dress-nya yang telah berlubang. Suaranya pun saling bersahutan dengan suara gedorannya di pintu kamar itu yang semakin keras.
“Mia! Kau tidak mendengarku? Jangan berpura-pura tidur! Aku harap kau juga tidak menangis, karena kau pasti akan langsung mengadukanku kepada ayah! Dasar gadis lemah!” umpat Daniella lagi. Ia terus menggedor pintu kamar Mia dengan keras. “Mia, ayo keluar kau! Kau harus mengganti bajuku yang telah kau rusak! Mia!” Daniella terus berteriak. Ia tidak dapat menahan emosinya terhadap Mia, yang saat itu memilih untuk tidak menanggapi semua amarahnya.
Mia yang saat itu berada di dalam kamar, tidak menggubris semua ucapan saudari tirinya. Ia sudah terlalu sering mendapat perlakuan seperti itu dari Daniella. Gadis dengan riasan yang cukup mencolok itu, memang seringkali bersikap seperti bos di rumah mereka. Ia kerap kali memerintah Mia atau Francesca, bahkan untuk melakukan hal yang sangat sederhana sekalipun.
Sebenarnya, Mia bisa saja melawan kakak tirinya. Namun, Mia tipikal orang yang lebih memilih untuk menghindari perselisihan dari pada harus terlibat dalam sebuah keributan yang tidak berguna.
Setidaknya, itulah yang selalu Mr. Gio ajarkan kepada dirinya. Ia tidak harus terlalu menanggapi sesuatu yang tidak penting, karena itu Mia membiarkan Daniella dengan segala umpatannya. Gadis itu lebih memilih untuk membaca buku yang belum sempat ia selesaikan. Lagi pula, saat itu hatinya sedang benar-benar galau. Ya, tentu saja. Kedatangan Matteo pada malam itu, telah membuat hidupnya menjadi benar-benar terasa berbeda. Mia merasa jika dirinya bukan lagi Mia yang dulu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Mia meletakan buku yang baru ia baca di atas tempat tidur. Ia pun termenung seraya memerhatikan tempat tidurnya. Tempat di mana Matteo sempat menemani dirinya, meskipun pada akhirnya pria itu pergi tanpa pamit ketika ia telah terlelap.
Mia mengela napas dalam-dalam. Ia kemudian turun dari tempat tidur tersebut dan berdiri di depan cermin. Ditatapnya tubuh ramping dalam balutan kaos putih press body itu dengan saksama. Mia merasa jika tidak ada yang berubah sedikitpun dari tubuhnya. Ia masih terlihat sama, hanya rambutnya saja yang tidak lagi diikat seperti biasanya.
Semenjak malam itu, Mia lebih sering menggerai rambutnya. Entah mengapa, tapi ia masih mengingat dengan jelas ketika Matteo melepas ikatan rambutnya.
Mia kemudian berbalik. Ia berdiri membelakangi cermin dengan setengah bersandar pada tepian meja kecil multifungsi itu. Meja tersebut, dulunya merupakan meja yang biasa ia gunakan untuk belajar. Namun, seiring berjalannya waktu, kini meja tersebut telah berubah menjadi sebuah meja rias, meskipun koleksi alat-alat kecantikannya tidak selengkap seperti milik Daniella.
Pandangan gadis itu tertuju pada jendela balkonnya yang terbuka lebar. Masih terbayang dalam ingatannya, pada malam ketika Matteo tiba-tiba muncul dan membuatnya menjadi berbeda.
Mia tidak dapat melupakan kejadian itu. Ia bahkan masih dapat merasakan napas Matteo yang menghangat di tubuhnya. Semuanya terasa begitu indah. Mia semakin mengerti akan semua yang pernah Daniella ucapkan kepadanya tentang pria di atas ranjang. Untuk kali ini, gadis itu sudah merasakannya secara langsung. Mia bahkan harus berkata jujur pada dirinya, jika ia merindukan saat-saat seperti itu lagi.
Apakah ia telah berubah menjadi Mia yang nakal?
Angin berembus pelan. Namun, ia masih mampu menyibakan tirai yang menutupi jendela balkon kamarnya. Mia kemudian melangkah ke sana dan berdiri di atas balkon itu. Ia menatap langit dan membayangkan satu wajah yang tidak pernah sirna dari ingatannya.
“Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Theo?” bisik Mia dalam hatinya. “Apa yang sudah kau perbuat padaku, sehingga aku menjadi seperti ini? Mengapa kau bersikap seenak hatimu? Kau datang dan pergi dengan sesukamu tanpa memedulikan perasaanku sama sekali. Kau pikir itu adil untukku, Theo?”
Mia tertunduk lesu. Ia terus terhanyut dalam lamunannya. Gadis itu tak habis pikir dengan dirinya. Ia tidak mengerti kenapa dirinya harus jatuh cinta kepada pria seperti Matteo. Sungguh lucu, ia bahkan tidak mengetahui siapa pria itu sebenarnya. Namun, dengan mudahnya Mia takluk dalam buaian pria yang kerap menunjukan sikap dingin dan tidak bersahabat itu.
__ADS_1
Apa yang Mia lihat dari diri seorang Matteo? Tampan? Ya tentu saja. Pria itu memang sangat tampan dan begitu gagah. Akan tetapi, Matteo bukanlah seseorang yang peka terhadap perasaan orang lain. Buktinya, ia seakan tidak dapat memahami semua perasaan Mia.
“Theo, non senti che mi manchi? (Theo, apakah kau tidak merasakan rinduku padamu?)” de•sah Mia lagi. Hatinya sungguh gelisah karena pria itu.
“Apakah debaran ini tidak sampai di hatimu? Ini sangat mengecewakan bagiku. Namun, aku tidak dapat berlari dari rasa rindu ini,” Mia masih terus berbicara di dalam hatinya.
Siapa yang dapat memahaminya kini? Ia bahkan tidak dapat mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan kepada siapa pun, termasuk kepada sang ayah.
Mia merasa begitu bimbang. Belum pernah ia merasa galau seperti saat ini. Seperti inikah rasa rindu terhadap seorang kekasih? Hey, Matteo bukanlah kekasihnya! Mia harus menyadarinya. Lalu, hubungan macam apa itu? Mia terus saja berpikir.
Tiba-tiba terbersit dalam benak Mia untuk mencari keberadaan Matteo. Mia ingin sekali lebih mengenal sosok misterius yang telah membuat kehidupannya terbalik dengan drastis.
Haruskah ia pergi ke Brescia dan menemui pria itu? Mia tersenyum kelu. Gadis itu menggeleng perlahan. “Memalukan,” gumamnya. Kebimbangan mulai menguasai dan bertahta di dalam hatinya. Mia kesulitan untuk dapat berpikir dengan jernih.
Sayup-sayup terdengar suara Mr. Gio dan istrinya Magdalena. Mereka berdua baru pulang dari dokter. Hari ini, Mr. Gio harus mengantar sang istri yang sakit-sakitan, untuk periksa. Ia pun tidak membuka kedainya.
Sementara Daniella sudah tidak terdengar marah-marah lagi. Entah akan pergi ke mana gadis itu, karena Mia sempat melihatnya keluar barusan, bersamaan dengan kedatangan Mr. Gio dan Magdalena. Akhirnya, Mia memutuskan untuk keluar dari kamar dan melihat kondisi ibu tirinya.
"Apa yang dikatakan dokter, Bu?" tanya Mia. Meskipun Magdalena hanya ibu tirinya, tetapi Mia sangat perhatian terhadap wanita itu.
__ADS_1
"Seperti biasa, aku harus istirahat," jawab Magdalena seraya berlalu.