
Sambil menggendong Mia, Matteo berjalan masuk ke ruang tamu, diiringi oleh Valerie dan Adriano yang berada beberapa langkah di belakang mereka. Seorang pelayan tampak membawa kursi roda Mia dan meletakkannya di samping sofa.
Matteo mengamati wajah tamu-tamunya satu persatu. Terlihat ada aura tegang dan tak bersahabat yang mereka tunjukan. Tak ada lagi senyum ramah dari detektif Fabrizio seperti yang selama ini selalu ia perlihatkan di hadapan Matteo.
“Bisakah Anda jelaskan, apa alasan Anda datang kemari?” tanya Matteo penuh selidik.
Detektif itu tak segera menjawab. Ia malah memasang mimik penuh amarah. “Apakah Anda sedang mempermainkan kami, Tuan de Luca?” geramnya.
“Saya tidak merasa sedang mempermainkan siapapun, Detektif? Ada masalah apa ini sebenarnya?” sahut Matteo dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Kali ini, ia tidak boleh terpancing sama sekali.
“Anda dan Tuan Marco de Luca telah menjanjikan pada kami untuk memeriksa Tuan Antonio. Namun apa kenyataannya? Sampai sekarang, kami tak bisa menghubunginya sama sekali. Jika keadaan ini terus berlanjut sampai seminggu ke depan, maka kami akan bekerja sama dengan interpol dan menerbitkan red notice!” ancam Detektif Fabrizio.
“Tenang dulu, Detektif!” terdengar suara seorang pria menggelegar dari arah pintu masuk. Adalah Marco yang menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru. “Bukankah sudah kukatakan bahwa ayahku sedang sakit? Ia sedang dalam kondisi koma sehingga tak dapat diajak bicara,” kilahnya dengan napas terengah.
“Oh, ya? Semua orang bisa saja berdalih. Akan tetapi, bukti otentiklah yang dapat membuktikan semuanya. Apakah Anda memiliki bukti?” pancing Fabrizio.
“Bukankah sudah saya menyerahkan berkas-berkasnya kepada Anda? Surat keterangan bepergian ayah saya ke luar negeri yang diterbitkan oleh petugas imigrasi, juga surat keterangan perawatan atas nama Antonio de Luca dari rumah sakit pusat di Boston. Apakah kurang lengkap? ” beber Marco tampak sangat meyakinkan.
“Saya tidak bodoh, Tuan-tuan! Apa yang kalian berikan kepada kami, hanyalah sebuah bukti berupa kertas. Tak ada foto asli kondisi Tuan Antonio di sana. Hal itu sama sekali tak dapat dijadikan sebagai pegangan. Saya bisa menangkap Anda atas kasus penghinaan terhadap lembaga kepolisian!” gertak Fabrizio.
“Tunggu dulu! Anda tidak bisa seenaknya menuduh kami melakukan penghinaan!” Matteo yang sejak tadi berusaha untuk tenang, kini mulai tersulut emosi. Pria itu segera berdiri sambil mengepalkan tangan.
“Kalau begitu silakan tunjukkan bukti lainnya selain kertas-kertas yang mudah dipalsukan!” tantang Fabrizio tegas, membuat Matteo dan Marco seketika terdiam tak berkutik. Entah bagaimana caranya mereka membungkam kecurigaan sang detektif.
“Mohon maaf, Tuan-tuan. Izinkan saya bersaksi,” tiba-tiba Adriano berdiri dari duduknya.
“Anda siapa?” tanya Detektif Fabrizio penuh curiga terhadap pria rupawan bermata biru itu.
“Saya adalah sahabat dekat Tuan de Luca. Namun, selama ini saya tinggal di Monaco. Kami sudah berteman semenjak kecil,” ungkap Adriano sembari sesekali melirik ke arah Matteo. Sebuah lirikan yang penuh dengan isyarat. “Saya hanya ingin menegaskan bahwa kondisi Tuan Antonio sungguh tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan, karena ia sedang dalam keadaan koma,” tutur Adriano hati-hati.
“Apakah Anda mempunyai bukti kuat untuk itu?” kejar Fabrizio.
__ADS_1
“Aku akan menelepon perawat yang menjaga pamanku!” sela Matteo. Kalimat yang membuat Marco bergidik ngeri. Peluh mulai membasahi dahinya yang licin. Sorot matanya seakan menunjukkan protes pada Matteo. Bagaimana mungkin menghubungi perawat yang jelas-jelas tak pernah ada? “Akan tetapi, berhubung sekarang masih terlalu pagi di Amerika, ada baiknya kita menunggu sampai beberapa jam ke depan,” lanjut Matteo lagi.
“Permainan apa lagi ini, Tuan de Luca?” geram detektif Fabrizio. “Saya tidak mau tahu. Jika sampai seminggu ke depan Tuan Antonio tidak dapat dihubungi, maka dengan terpaksa kami akan menerbitkan red notice dan memburu Tuan Antonio hingga ke Amerika!” tegasnya.
Tanpa banyak bicara, detektif itu beserta anak buahnya, buru-buru meninggalkan kediaman keluarga de Luca. Sepeninggal mereka, suasana ruang tamu mendadak hening. Semua orang larut dalam pikirannya masing-masing. Tak terkecuali Damiano yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Apa kau gila, Theo? Bagaimana caranya melakukan panggilan video dengan sosok fiktif?” kecam Marco. Dirinya kini tak sanggup berpikir secara jernih. Mengingat dulunya, ia juga seorang yang santai. Waktunya ia habiskan hanya untuk bersenang-senang. Sementara sekarang, akalnya sedang diuji.
“Beri aku waktu untuk berpikir. Besok kita bicarakan kembali setelah sarapan,” sahut Matteo lemah.
“Jika kau membutuhkan apapun, jangan sungkan untuk menghubungiku, Tuan de Luca,” tanpa ragu, Adriano maju dan menawarkan bantuan.
Matteo menoleh dan mengamati mata biru pria itu. Tak ada kesan bercanda dan main-main di sana. Adriano sangat serius dengan apa yang diucapkannya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan menolaknya. Dalam beberapa waktu ke depan, aku akan membutuhkan bantuanmu, Tuan D’Angelo,” sahut Matteo dengan sedikit terpaksa.
“Aku akan sangat senang membantumu, karena kita adalah partner kerja sekarang. Jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, maka akan berimbas padaku dan usaha kita tentunya,” jelas Adriano.
“Jadi bagaimana, Moy brat? Apa kau jadi pulang ke Monaco hari ini?” Valerie yang sedari tadi memperhatikan orang-orang di sekitarnya berbicara, kini mulai membuka suara.
“Tentu saja. Lagi pula, prototipe senjata juga sudah siap,” jawab Adriano tegas.
“Baiklah, Tuan D’Angelo. Sampai bertemu lagi, kapanpun kau pulang ke Italia,” ucap Matteo dengan nada bicara yang lebih bersahabat dari biasanya.
“Sesampainya di sana, aku pasti akan segera menghubungi Anda,” Adriano mengulurkan tangannya dan menjabat setiap orang yang ada di sana. Tak terkecuali Mia. Khusus untuk wanita cantik itu, Adriano mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Lalu aku?” Valerie dengan wajah bertanya-tanya seraya menunjuk hidungnya sendiri sambil memainkan kepangnya.
“Bukankah kau sudah masuk masa percobaan? Itu artinya, kau sudah harus mulai bekerja di sini,” tegas Matteo.
“Baiklah, kalau begitu. Aku tinggal di sini untuk sementara,” Valerie mengedipkan sebelah matanya pada Adriano sambil melambaikan tangan. “Hati-hati di jalan, Moy brat!” ucapnya hangat. Adriano lalu mengangguk. Ia segera berpamitan sekali lagi pada semuanya sebelum sosoknya meninggalkan Casa de Luca.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Damiano ikut berdiri dan berpindah duduk di samping Matteo. “Nak, aku sama sekali tidak menyangka jika organisasi kita berada di ujung tanduk. Kasus pemboman itu benar-benar membuat rahasia kita hampir terbongkar oleh pihak berwenang,” ujarnya penuh dengan rasa khawatir dan ragu.
“Aku akan memikirkan jalan keluarnya, Damiano. Akulah yang bertanggung jawab atas kelangsungan klan ini,” sahut Matteo cepat dan terlihat begitu yakin, meskipun dalam hati ia pun merasa sedikit was-was. Namun, Matteo tak boleh sampai memperlihatkan hal itu di depan siapa pun. Ia harus tetap menjaga wibawanya, meski ia tahu jika Damiano mengenalnya dengan begitu baik.
“Jangan khawatir, Damiano,” Matteo menepuk bahu pria itu pelan. Perhatiannya kemudian tertuju kepada Mia yang sedari tadi hanya membisu. “Kau tidak apa-apa, Sayangku?” tanyanya cemas.
Mia menggeleng pelan, lalu memandang suaminya dengan tatapan memelas. “Aku takut mereka akan memenjarakanmu, Theo,” wanita itu terlihat sangat khawatir.
“Tenang saja, Cara mia. Suamimu ini sangat sulit ditundukkan,” gurau Matteo seraya tersenyum kalem. “Sudah, jangan berpikir yang macam-macam. Saatnya bagi Nyonya de Luca untuk istirahat.” Matteo segera mendorong kursi roda Mia dan mengarahkannya menuju ke kamar mereka. Ia meninggalkan Damiano dan Valerie yang saat itu menatap kepergian sepasang suami istri tersebut dengan wajah bengong. “Bagaimana dengan nasibku?” gumamnya lirih.
“Ada banyak kamar tamu yang kosong di rumah ini. Kau bisa memilih salah satunya, Nona Nikolaev,” jawab Damiano tenang. "Aku akan menyuruh pelayan agar menyiapkan kamar untukmu. Buatlah dirimu senyaman mungkin selama berada di sini," Damiano juga memilih untuk beranjak dari tempat itu.
Sementara itu di dalam kamar, Matteo memindahkan Mia dengan hati-hati ke atas ranjang. Matteo kemudian terduduk di tepian ranjang tersebut, di samping Mia. Ia terpekur menatap lantai sembari menopang kepala dengan kedua tangan.
“Theo,” Mia mengusap punggung sang suami pelan dan lembut. Ia tahu jika saat itu Matteo tengah berada dalam tekanan yang sangat berat. Secara tak langsung, Mia juga ikut merasakan beban itu. Terlebih, Matteo harus menghabisi nyawa Antonio demi menyelamatkan dirinya.
Mia menyesali semua sikap curiga yang ia tujukan kepada pria bermata abu-abu itu. Segera diraihnya jemari Matteo dan ia genggam dengan erat. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Theo. Aku berjanji," ucap Mia yakin.
__ADS_1