Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Scenetta Perfetta


__ADS_3

“Apa maksudmu, Ricci? Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang kau katakan,” Mia tampak mengernyitkan keningnya.


 


“Sudahlah, Cara mia. Nanti kujelaskan semuanya padamu,” sela Matteo seraya mendorong Coco ke arah pintu. “Kembalilah ke kamarmu atau lakukan apapun yang kau suka, tapi jangan masuk ke kamarku tanpa izin apalagi bercerita tentang bikini,” usir Matteo dengan kesal. Namun, Coco justru malah tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu.


 


“Kita impas! Aku juga memegang rahasiamu bersama Imelda,” seringai Coco.


 


“Terserah!” Matteo menutup pintu kamar seraya mengempaskan napas lega. Ia lalu membalikan badannya dan mendapati Mia yang tengah menatapnya dengan wajah curiga. Matteo segera membetulkan posisi berdirinya dan tersenyum kalem. Ia lalu menghampiri Mia dan berlutut di hadapan wanita itu. “Sampai di mana perbincangan kita tadi?” tanya Matteo mencoba mengalihkan topik yang pasti akan dibahas oleh Mia.


 


“Bikini,” jawab Mia singkat.


 


“Oh, bukan itu maksudku. Perbincangan kau dan aku,” ralat Matteo. Ia menggenggam jemari Mia dan menciumnya. “Kau tahu, Cara mia? Dulu banyak sekali wanita yang ingin berada di posisimu. Mereka berharap bisa membuatku terkesan dan menyimpan keindahan mereka di dalam hatiku. Namun, sayangnya aku tak pernah bisa melakukan hal itu. Semuanya datang dan pergi dengan tanpa meninggalkan kesan indah sedikitpun. Sangat berbeda ketika aku bertemu denganmu,” tutur Matteo dengan nada bicaranya yang terdengar sangat berbeda.


 


“Perayu memang bermulut manis,” cibir Mia membuat Matteo tertawa pelan.


 


“Kau sangat cemburu padaku,” ucap pria bermata abu-abu itu bangga. “Dengarkan aku, Sayang. Dulu, kau terlihat begitu manis dan juga sangat pemalu. Aku tidak pernah bertemu wanita dengan karakter sepertimu, karena itu kau membuatku sangat penasaran,” Matteo membela dirinya.


 

__ADS_1


“Ya, dan kau sengaja mencium Daniella di depanku,” ujar Mia dengan agak cemberut, saat mengenang kejadian beberapa tahun silam. Namun, lagi-lagi hal itu membuat Matteo tertawa pelan.


 


“Aku pikir itu bisa membuatku menjauh darimu. Akan tetapi, ternyata aku salah besar,” Matteo kembali beralasan.


 


“Ya, dan kau mencuri ciuman pertamaku juga ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ia tahu jika Matteo pasti paham ke mana arah pembicaraan itu.


 


“Kau masih mengingat malam itu, Cara mia?” tatapan Matteo terlihat begitu dalam, sedalam suara beratnya yang selalu membuat Mia merinding saat mendengarnya. Mia mengangguk pelan.


“Aku juga. Entah mengapa hal itu membuatku merasa semakin terikat denganmu. Aku bahagia karena Tuhan menyatukan kita saat ini, sehingga aku bisa memeluk dan menciummu kapanpun aku mau,” Matteo mengangkat tubuhnya hingga ia berada tepat di hadapan Mia. Tanpa banyak bicara, ia segera menangkup wajah cantik sang istri dan menciumnya dengan mesra. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat lamanya, hingga Matteo menghentikan sendiri apa yang ia mulai.


“Aku ingin ke kamar mandi dulu,” pamitnya.


Matteo menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia  kemudian tersenyum kalem. “Kau ingin melihat yang kulakukan di dalam kamar mandi? Baiklah,” tantang Matteo  kembali menghampiri Mia.


“Ah, tidak usah,” tolak Mia dengan segera. “Aku akan menunggumu di sini,” ucap Mia dengan senyumnya, “untuk mendengarkan ceritamu tentang Imelda dan bikininya,” lanjut wanita itu membuat senyum di wajah Matteo seketika memudar.


“Kalau begitu, aku tidak akan keluar dari kamar mandi,” sahut Matteo seraya berlalu dari hadapan Mia.


......................


Matteo memarkirkan mobil jeepnya di depan kantor Detektif Ranieri. Ia bergegas keluar dan segera diikuti oleh Coco serta Marco. Ketiga pria bertubuh tegap tersebut berjalan masuk ke sana. Sementara di dalam kantor itu, sang detektif telah siap menunggu kedatangan mereka. Sebelumnya, Matteo telah membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu.


Detektif Ranieri menyambut kedatangan ketiga pria itu dengan ramah. Wajahnya jauh lebih berseri jika dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, ketika ia datang ke Casa de Luca. Detektif Ranieri begitu senang, karena pada akhirnya ia dapat membuktikan keberadaan Antonio di Amerika meskipun mereka belum melakukan sambungan video call. “Terima kasih, Tuan de Luca. Kenapa Anda tidak melakukan ini sejak kemarin-kemarin?” Detektif Ranieri membuka percakapan setelah ia mempersilakan ketiga pria itu untuk duduk.


“Maafkan aku, Tuan Detektif. Aku harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari tim dokter yang menangani pamanku di Amerika. Anda pasti dapat memahami hal itu. Aku juga sengaja menjadwalkan pertemuan pada jam seperti ini, karena kita harus menyesuaikan dengan waktu di sana,” jelas Matteo datar.

__ADS_1


“Ya, lagi pula ayahku keadaannya baru berangsur pulih, meskipun ia belum bisa berkomunikasi dengan normal. Semuanya ia lakukan hanya dengan isyarat. Jadi, jangan berharap terlalu banyak ayahku akan memberikan informasi yang Anda butuhkan,” timpal Marco, mempertegas penjelasan Matteo.


Detektif Ranieri manggut-manggut tanda mengerti. “Tak apa, Tuan-tuan. Aku hanya ingin membuktikan keberadaan Tuan Antonio de Luca di Amerika,” ucap pria itu.


“Ah, satu lagi. Pamanku juga berencana akan dibawa ke Italia. Ia akan melanjutkan sisa pengobatannya di sini,” ucap Matteo lagi terlihat meyakinkan.


“Aku sangat lelah harus bolak-balik Amerika-Italia hanya untuk mengunjungi dan melihat keadaan ayahku,” timpal Marco. Aktingnya sungguh luar biasa.


“Ya. Aku rasa akan jauh lebih baik jika Tuan Antonio dirawat di sini. Dengan berada di dekat keluarga sendiri, maka proses penyembuhannya pasti akan jauh lebih cepat. Dukungan dari keluarga adalah sebuah obat paling mujarab untuk penyakit apapun,” ucap Detektif Ranieri dengan tulus. Ia tak menyadari jika dirinya tengah ditipu mentah-mentah oleh Matteo dan juga Marco.


Sesaat kemudian, seorang wanita masuk dan menyuguhkan minuman untuk mereka. Setelah wanita itu keluar, mereka kembali melanjutkan perbincangan hingga ponsel milik Coco bergetar. Pria itu segera memeriksanya. Sebuah pesan masuk dari Imelda. Wanita itu mengabarkan jika mereka telah siap untuk melakukan video call.


Coco kemudian memberikan isyarat kepada Matteo. Pria bermata abu-abu itu mengerti. Ia segera menerima ponsel dari Coco dan mulai menghubungi nomor Imelda yang saat itu dipegang oleh seorang perawat. “Good morning, Mr. De Luca,” terdengar sapaan seorang wanita yang merupakan perawat di sana. Matteo membalasnya dengan sebuah anggukan pelan. Tanpa diminta, perawat itu segera menunjukan gambar yang memperlihatkan seorang pria. Pria itu terbaring dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


Dengan segera, Matteo menunjukan suasana di dalam kamar rawat itu kepada Detektif Ranieri. Sang detektif pun memperhatikan semua yang ia lihat dalam sambungan video call tersebut, termasuk ketika pria yang tengah terbaring itu menggerakkan tangannya dengan perlahan. Ia seakan ingin menyapa siapa pun yang tengah melihat keadaannya lewat panggilan tersebut.


“Hanya itulah yang dapat ayahku lakukan, Tuan Detektif,” ucap Marco membuat Detektif Ranieri sedikit lengah dari pengamatan yang tengah ia lakukan. Pria itu menoleh sesaat kepada Marco dan menganggukan kepalanya.


“Kami juga tidak bisa terlalu lama melakukan panggilan ini. Itu merupakan pesan dari dokter yang menangani pamanku,” timpal Matteo.


“Lalu, bagaimana caranya berkomunikasi?” tanya Detektif Ranieri tampak kebingungan.


“Hanya dengan lambaian tangan, atau kadang anggukan kepala,” jawab Marco, diiringi anggukan kepala oleh Matteo dan Coco.


Detektif Ranieri terlihat berpikir keras sembari mengusap dagunya. “Sebenarnya, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, jika melihat kondisinya yang seperti itu, rasanya memang tidak memungkinkan,” keluh pria itu.


“Bagaimana jika kita menunggu sampai keadaan ayahku membaik? Apalagi, setelah ini ia akan dirawat di Italia. Anda bisa lebih leluasa memantaunya,” balas Marco.


“Baiklah. Sepertinya sudah tidak ada yang bisa dibahas lagi, tapi ....” Detektif Ranieri menghentikan kalimatnya begitu saja, membuat Marco dan Matteo diliputi ketegangan. “Satu hal yang mengganjal di hatiku adalah ketika Ernesto Homar bersikeras bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas kematian Tuan Roberto dan Nyonya Gabriella de Luca. Aku merasa seakan ada sesuatu yang besar dan tengah ia sembunyikan,” ujarnya datar dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Matteo tidak menjawab. Ia hanya menatap Marco dan Coco secara bergantian.


🍒 Hai, reader. Ada yang rindu Edgar dan Arumi? Putri mereka, Autumn sudah dewasa lho. Bagi yang mau mengikuti kisahnya, boleh mampir di novel terbaru ceuceu dan simak kebucinannya bersama Benjamin.

__ADS_1



__ADS_2