Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Passionate Night


__ADS_3

Mereka berempat telah memasuki istana megah itu dengan wajah yang dipenuhi kekaguman. Bagian dalam bangunan itu ternyata jauh lebih mewah dari yang diperkirakan. Saat memasuki ruangan di sana, mereka seakan tengah berada di sebuah istana kerajaan dengan berbagai ornamennya dan ukiran-ukiran indah khas Eropa kuno.


Beberapa orang pelayan menghampiri mereka. "Tunjukkan kamar yang sudah kita siapkan untuk para tamu istimewa ini," suruh Alessio. Ia adalah seseorang yang ditunjuk untuk menjadi kepala pelayan, dan bertanggung jawab atas perawatan istana megah peninggalan kakek Matteo tersebut.


Pelayan-pelayan itu mengangguk. Matteo memberi isyarat kepada Coco, Francesca, dan Daniella untuk mengikuti mereka. Sedangkan ia menuntun Mia ke kamar pribadinya. Sebuah ruangan yang cukup luas dan sangat mewah, dengan dinding berukir dalam balutan dominasi warna terakota, yang menjadikan kamar tersebut begitu teduh.


Kamar tersebut memiliki jendela kaca yang cukup lebar dengan hiasan tirai berwarna hijau emerald. Warna yang senada dengan kain pelapis dari tempat tidur berwarna gold. Mia kemudian melihat ke atas, pada plafon kamar yang terlihat sangat unik. Di sana terdapat ukiran indah dan berhiaskan sesuatu yang mengkilap seperti kaca. Bagitu bening sehingga ia dapat melihat bayangan barang-barang yang ada di bawahnya.


Sebuah lampu gantung hias pun ikut menambah kesan mewah di dalam kamar tersebut, membuat rasa takjub dalam diri Mia seakan tak ada habisnya.


Mia kemudian melangkah ke dekat jendela tadi. Ia menyibakan tirai putih yang melapisinya. Dari sana, Mia dapat melihat hamparan air laut berwarna biru kehijauan yang sangat indah. "Kau menyukainya?" bisik Matteo yang tiba-tiba memeluk Mia dari belakang.


"Bohong jika aku mengatakan tidak," sahut Mia seraya melirik wajah sang suami yang saat itu berada di atas pundak sebelah kanannya.


"Aku ingin selalu membuatmu tersenyum, Mia. Maaf, karena aku bukan pria yang romantis. Aku tidak seperti Coco yang pandai merayu, tapi aku pastikan padamu jika aku akan selalu membuatmu bahagia dengan caraku sendiri," bisik Matteo lagi seraya menciumi leher Mia, membuat wanita itu tertawa pelan karena geli.


"Janggutmu membuatku geli," ujar Mia masih dengan tawanya. Sedangkan Matteo justru semakin menggodanya. Ia baru menghentikan ulah nakal tersebut ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar.


"Masuk!" seru Matteo dengan cukup nyaring.


Tak berselang lama, dua orang pelayan masuk dengan membawakan barang-barang milik mereka. "Apakah Anda ingin kami membereskan barang-barang bawaan Anda?" tawar salah seorang dari mereka.


"Tidak usah. Aku yang akan merapikannya nanti," tolak Mia dengan halus. Kedua pelayan itu pun mengangguk dan segera pamit untuk keluar dari sana.

__ADS_1


......................


Malam itu, Mia baru selesai mandi. Ia keluar dari ruangan bersekat kaca, dengan handuk putih yang masih melilit di tubuhnya. Mia kemudian mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk yang lain. Setelah itu, ia berdiri di depan cermin besar yang terpajang di dekat meja wastafel berlapis kayu dengan warna coklat tua.


Sesaat kemudian, Matteo masuk ke kamar mandi itu dengan hanya mengenakan celana tidur. Ia dengan percaya diri mengekspos semua tato yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Matteo kemudian berdiri tepat di belakang Mia.


Diambilnya sisir yang tengah Mia pegang saat itu. Matteo kemudian merapikan rambut panjang sang istri dengan sisir tersebut. Sementara Mia hanya terpaku melihat apa yang Matteo lakukan dari pantulan cermin di hadapannya. Beberapa saat kemudian, Matteo meletakan sisir itu di sebelah wastafel. Tangannya kini berpindah pada kedua lengan mulus Mia yang masih terasa lembab dengan aroma sabun yang menyegarkan. Matteo mengecup pundak sang istri dengan lembut dan menjalarkan ciumannya hingga ke leher jenjang wanita muda tersebut.


Mia memiringkan kepalanya ke sebelah kiri. Geli bercampur nikmat membuatnya tak mampu menolak, ketika bulu-bulu halus yang menghiasi sebagian wajah Matteo mulai ia rasakan menyentuh permukaan kulitnya. Mia hanya dapat memejamkan matanya seraya mende•sah pelan. Ingatannya kembali melayang pada kenangan beberapa tahun silam, ketika untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan dari seorang pria yang tiada lain adalah Matteo sendiri. Pada akhirnya.


Entah sudah berapa kali setelah pertemuannya lagi dengan Matteo, Mia dapat kembali merasakan debaran itu, terlebih ketika Matteo membalikan tubuhnya dan membuat Mia menghadap langsung kepada pria itu. Mia menatap setiap gambar aneh yang terlukis di dada dan pinggang sang suami.


“Ini yang paling aku sukai, Mia,” bisik Matteo dengan napas yang menghangat di telinga dan pipi Mia. Sedangkan Mia tidak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas pendek, ketika Matteo melepas lipatan handuk yang ia kenakan dan mengangkat tubuhnya. Matteo kemudian mendudukan Mia di atas meja wastafel berlapis kayu itu. Tanpa permisi, ia mencium bibir Mia, melu•matnya dengan mesra, dan memainkan bibir bagian atas wanita muda itu dengan ujung lidah. Matteo juga mengisapnya dengan perlahan.


Matteo tersenyum datar. Tak ingin berhenti bersenang-senang, ia kembali menghujani Mia dengan sentuhan-sentuhan lembut pada setiap lekukan indah tubuh kuning langsat yang telah dalam keadaan polos itu. Matteo kemudian menurunkan tubuh Mia dari atas meja, hingga wanita itu kembali berdiri. Pria itu juga menurunkan tubuhnya di depan Mia dan mulai menikmati aroma bunga yang segar, merasakannya untuk beberapa saat, sehingga membuat Mia kembali mengeluarkan ******* pelan. 


“Theo ....” Mia menyebut nama sang suami seraya menarik rambut Matteo dengan perlahan. Ia tidak tahan dengan sapuan ujung lidah Matteo yang terasa begitu nakal. Hal Itu membuat Matteo menghentikan permainan kecilnya untuk sejenak.


“Diamlah, Mia!” protes Matteo dengan pelan. Ia kemudian mengangkat kaki kanan Mia dan meletakannya di atas pundak. Matteo kembali melanjutkan permainannya, menyapu setiap bagian dari surga dunia yang selalu membuatnya merasa tak karuan. Tak ada satu bagian pun yang luput dari sapuan ujung lidahnya, yang saat itu telah benar-benar dikuasai gairah yang sudah tak terbendung. Matteo tak dapat menahan dirinya lagi. Pria itupun kemudian berdiri.


Ditatapnya wajah Mia yang sudah terlihat sayu dan sedikit memerah. Matteo tahu jika Mia pun sepertinya telah merasakan hal yang sama dengan dirinya. Ia dapat merasakan gejolak panas yang terlukis lewat tatapan penuh tantangan dari wanita muda itu. “Katakan jika kau menginginkannya, Mia! Aku akan memberikannya untukmu saat ini juga,” bisik Matteo dengan dalam. Sungguh merupakan sesuatu yang aneh, karena hanya dengan mendengar ucapan seperti itu saja, tubuh Mia sudah bergetar dengan begitu hebat. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Akan tetapi, Matteo seakan sudah mengetahui jawaban yang ada di dalam hati Mia.


Segera pria bermata abu-abu itu menurunkan celana tidur yang ia kenakan, meskipun tidak sampai melepasnya. Lembut, tangan Matteo menyusuri pinggul Mia dan kemudian mengangkat paha sebelah kiri wanita muda yang kini hanya bisa pasrah dalam serangan gairah yang sudah tak tertahankan lagi. Mia tidak menolak ketika Matteo mulai merapatkan tubuhnya, menyatukan hasrat mereka berdua dalam sebuah keindahan berhiaskan de•sahan dan erangan-erangan penuh sensasi yang mendebarkan.

__ADS_1


Matteo sungguh luar biasa. Pria itu sangat memesona dengan segala hal yang dimilikinya. Matteo pria yang sangat tangguh dan pandai dalam memerlakukan lawan mainnya, terutama saat ia berhadapan dengan Mia. Ketika ia bercinta dengan wanita muda itu, ia selalu merasakan hal lain. Sebuah keindahan dan perasaan yang berbeda. Matteo terasa begitu menikmati hal itu dengan jauh lebih dalam.


“Kau sangat berbeda, Mia. Itulah yang membuatku tak ingin melepaskanmu,” bisik Matteo setelah membalikan tubuh Mia sehingga jadi membelakangi dirinya. Namun, Mia tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah rupawan sang suami dengan ekspresinya yang terlihat begitu seksi dan menawan ketika pria itu memulai kembali penyatuan mereka berdua. Mia pun mende•sah untuk kesekian kalinya.


Tangan kiri Mia mencengkeram erat tepian meja berlapis kayu itu, sementara tangan kananya menggenggam tangan kanan Matteo. Mia kembali memejamkan matanya. Wajahnya mendongak dengan kepala yang bersandar pada bahu kokoh Matteo, ketika pria itu memegang lembut rahang Mia seraya menjalarkan ciumannya di pundak dan leher wanita muda itu.


Matteo membuat Mia benar-benar tak berdaya. Untuk kesekian kalinya, Mia takluk dalam kegagahan Tuan Muda de Luca. Wanita bertubuh ramping itu tak mampu melawan. Ia hanya mencoba untuk terus mengimbangi semua hal yang Matteo lakukan kepada dirinya.


“Apa kau masih kuat, Mia?” bisik Matteo. Pertanyaan yang bernada seperti sebuah tantangan bagi Mia. Tentu saja, Mia juga tak ingin mengaku kalah dengan begitu mudahnya. “Kau ingin melakukannya berapa lama lagi, Theo?” tanya Mia di sela-sela desa•hannya.


“Aku tidak akan berhenti hingga kau berteriak dan mengaku kalah, Sayang,” jawab Matteo dengan seringainya yang terlihat begitu puas, ketika melihat Mia tampak kewalahan saat menghadapi dirinya. “Apa kau ingin mengaku kalah sekarang?” tantang Matteo tanpa menghentikan gerakannya. Ia membuat Mia benar-benar tak berdaya, lemas seperti tak bertulang.


Untuk sesaat, Matteo menghentikan gerakannya. Ia melepaskan dirinya dari dalam diri Mia. Matteo kemudian melepaskan celana tidurnya, sehingga kini pria itu benar-benar tampil polos.


Sesaat kemudian, Matteo membalikan tubuh Mia dan mengangkatnya. Ia memegangi kedua paha sang istri yang saat itu melingkarkan kedua tangan di lehernya. Mia juga tak segan mencium pria yang kini membawanya kembali ke dalam ruangan bersekat kaca di dalam kamar mandi itu. “Kita lanjutkan di sini,” ucap Matteo tanpa menurunkan tubuh Mia. Pria itu kemudian menyalakan shower yang seketika mengiringi kelanjutan dari permainan menggairahkan sepasang suami-istri tersebut.


🍒


🍒


🍒


Hai, khusyuk banget bacanya😁, jangan lupa untuk mampir ke novel pertama ceuceu othor, dan kenalan dengan Adrian yang super kalem.

__ADS_1



__ADS_2