Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Red Lingerie


__ADS_3

Mia menjinjitkan kakinya demi meraih wajah Matteo. Ditangkupnya rahang kokoh pria itu dengan lembut. Ia lalu menyentuh bibir sang suami begitu mesra. Rasanya benar-benar hangat ketika Matteo menyambut sentuhan bibir itu seraya merangkul mesra pinggang Mia. Matteo memang seorang pencium yang luar biasa, meskipun gayanya tak terlalu berlebihan.


"Apa kau habis merokok, Theo?" tanya Mia pelan setelah ia berhasil melepaskan diri dari pria itu. Sedangkan Matteo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Mia. Pria itu bahkan dengan percaya diri kembali melu•mat bibir merah sang istri. Sementara Mia memindahkan kakinya ke atas kaki Matteo, yang kini membawa dirinya berjalan menuju ke dekat tempat tidur.


"Aku ingin kau memakai lingerie setiap malam," bisik Matteo membuat Mia tersipu. Matteo begitu mengagumi penampilan Mia malam itu yang terlihat sangat berbeda. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi," suara berat Matteo terdengar semakin menggoda di telinga Mia.


"Aku harus membiasakan diri dengan pakaian menerawang seperti ini," balas Mia geli ketika ia merasakan wajah berjanggut sang suami yang mulai menelusuri leher dan pundaknya.


"Aku menyukainya," bisik Matteo lagi seraya memainkan tali kecil yang ada di atas pundak Mia. Jemarinya bergerak turun mengikuti tali itu, kemudian berpindah pada sepasang cup berlapis renda, di mana tersembunyi sesuatu yang sudah lama tak tersentuh oleh tangan nakalnya. Matteo mengelus lembut sebuah belahan sempurna dengan bagian atas yang menonjol keluar, karena tak tertutup seluruhnya akibat bagian depan lingerie itu yang terlalu rendah dan kecil untuk ukuran dada Mia. Ia kembali mencium wanita bermata cokelat itu dengan mesra. Sementara tangannya menelusup masuk dan mencari pegangan yang membuat dirinya merasa nyaman.


Mia menggerakan tubuhnya perlahan sebagai respon dari apa yang dilakukan Matteo padanya. Rasa geli bercampur nikmat mulai menjalar seperti tumbuhan merambat, yang membelit setiap inci dari lekukan indahnya. "Geli, Theo," de•sah Mia pelan ketika ia merasakan jemari Matteo memainkan dan memilin puncak keindahan yang ia miliki. Sudah cukup lama, Mia tak merasakan kenakalan seperti itu.

__ADS_1


Sementara Matteo tak mau tahu. Ia terus saja melakukan apa yang disukainya. Tangannya bergerak dan bermain dengan lincah di dalam cup berlapis renda tadi. Ia justru tersenyum puas ketika melihat Mia mulai memperlihatkan ekspresi memohon padanya. Matteo baru berhenti ketika Mia menaikan ujung T Shirt yang ia kenakan, dan membantunya melepaskan kaos polos berwarna hitam itu.


Senyuman manis penuh rayuan terlukis indah di wajah cantik Mia. Wanita bermata cokelat tersebut mulai menjalarkan sentuhan bibirnya pada sekitar leher, yang kemudian terus menjalar ke dada dan perut Matteo. Helaan napas berat pria itu mulai terdengar mengisi setiap sudut ruangan kamar dengan cahaya temaram, yang membuat suasana terasa semakin romantis. Mia kemudian mendorong mundur tubuh Matteo dengan perlahan, hingga ia terduduk di tepian tempat tidur.


Matteo tersenyum kalem. Ia tahu apa yang akan Mia lakukan. Disentuhnya wajah cantik sang istri dengan lembut, ketika tangan Mia yang sudah mulai cekatan membuka pengait celana jeansnya seraya menurunkan resleting hingga terbuka lebar. "Apa kau sudah kuat, Cara mia?" tanya Matteo pelan dan datar. Namun, Mia tidak berkata apapun. Ia menjawab pertanyaan Matteo dengan sebuah permainan yang membuat pria itu seketika menahan napasnya dengan kedua mata terpejam.


"Cara mia ...." helaan napas berat Matteo kembali terdengar. Ia terlihat gelisah. Sementara tangan kanannya kembali menelusup ke dalam cup berlapis renda. Ia seakan ingin membalas perlakuan Mia terhadapnya. Hal itu terus berlangsung selama beberapa saat, hingga akhirnya Mia menghentikan permainannya. Ia mendongak dan menyunggingkan senyum sensual penuh rayuan untuk Matteo yang segera berdiri. Diraihnya tubuh Mia yang masih bersimpuh di lantai hingga wanita itu ikut berdiri. Matteo kemudian mendorong tubuh berbalut kulit kuning lamgsat tersebut untuk mundur dan membuat si pemiliknya bersandar pada dinding kamar.


Tak berselang lama, Matteo mengeluarkan jemarinya. Ia tersenyum puas seraya menunjukan jari tengahnya yang basah kepada Mia. "Kau benar-benar menginginkannya, Sayang?" goda Matteo. Tanpa banyak bicara, ia membalikan tubuh ramping sang istri hingga membelakanginya. Matteo lalu menyibakan pakaian minim menerawang yang Mia kenakan.


Matteo menghujani tubuh mulus berlapis lingerie merah tersebut dengan sentuhan-sentuhannya yang membuat wanita itu semakin terangsang. Mia berkali-kali menggeliat merasakan setiap rabaan nakal tangan sang suami pada setiap lekuk indah tubuhnya. "Ah, Theo ...." Mia kian terlihat gelisah. Dadanya makin bergemuruh dan berpacu dengan de•sah napas penuh godaan, yang membuat hasrat seorang Matteo semakin memuncak. Pria itu tak kuasa lagi untuk menahan gairah yang sudah sangat menguasai dirinya. Ia kemudian menggeserkan tali kecil yang melintang di antara pinggul indah Mia. Matteo semakin merenggangkan kaki jenjang itu dengan menggunakan kakinya.

__ADS_1


Segera ia menarik pinggul Mia hingga mundur dan menempel pada dirinya. Dengan sikapnya yang terlihat begitu gagah, pria bermata abu-abu itu mengarahkan sesuatu yang membuat Mia mengerang pelan, ketika benda tersebut mulai menerobos masuk ke dalam dirinya dan menghujam dengan begitu kencang. Perlahan tubuh Mia terhentak dan berguncang, seiring dengan gerakan Matteo yang makin lama semakin cepat dan kuat.


De•sah napas memburu terdengar kian jelas di dalam kamar itu. Mia mulai tampak terengah. Perlahan tubuhnya kian merosot. "Cara mia," Matteo merangkul tubuh Mia dari belakang dan menahannya agar tak ambruk. "Kau tak apa-apa?" tanyanya khawatir. Mia yang terengah-engah menyandarkan kepalanya di pundak Matteo. Ia pun tersenyum seraya menoleh ke samping, pada wajah sang suami.


"Aku baik-baik saja, Theo. Akan tetapi, kau terasa sangat berbeda," jawab Mia di sela helaan napasnya yang kelelahan.


"Berbeda?" Matteo mengernyitkan keningnya. Tanpa banyak bicara, ia membopong tubuh Mia dan merebahkannya di atas kasur. Segera dilepasnya segitiga bertali kecil dari bagian bawah tubuh Mia, Matteo melanjutkan apa yang tadi sempat terjeda. "Apa aku harus melakukannya dengan perlahan?" bisik Matteo. Suaranya yang terdengar dalam dan berat, berbaur dengan de•sah napas dan erangan pelan Mia.


"Tak apa, Theo. Aku menyukainya," jawab Mia. Tangan halus dengan jemari lentiknya menelusuri wajah rupawan Matteo yang berhiaskan janggut sedikit tebal. Matteo merespon semua sentuhan Mia di wajahnya. Ia membalas hal itu dengan sebuah ciuman lembut pada tangan dengan jemari lentik tersebut. Sesaat kemudian, pria itu menurunkan tubuhnya hingga ia seakan menyatu dengan tubuh Mia, menempel sempurna dan tak menyisakan celah sedikitpun.


Tetesan keringat mulai membasahi tubuh tegap berhiaskan tato di beberapa tempat, yang membuatnya terlihat garang. Rasa lelah tak dirasa, demi menuntaskan hasratnya yang telah lama tak tersalurkan. Akan tetapi, Matteo belum menunjukan tanda-tanda akan mengakhiri permainan itu. Mia pun demikian. Ia seperti masih ingin menikmati kegagahan sang suami dalam menaklukan dirinya di atas ranjang. Satu jam telah berlalu. Matteo membenamkan dirinya dengan semakin dalam, lalu terkulai.

__ADS_1


__ADS_2