Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Deepest Pain


__ADS_3

Matteo yang saat itu tengah asyik memandangi bayi kecilnya, harus tergangu dengan suara ketukan pada pintu kamar rawat Mia. Ia mengalihkan tatapan untuk sejenak kepada sang istri yang saat itu tersenyum lembut. "Sepertinya itu Francy dan Ricci. Mereka mengatakan padaku akan datang kemari," ucap Mia.


"Baiklah, akan segera kubuka," sebelum beranjak ke pintu, Matteo terlebih dahulu mencium kening wanita yang telah membuatnya menjadi seorang ayah. Akan tetapi, ketika pria bermata abu-abu itu membuka pintu, maka ia seketika mengempaskan napas pelan. Seseorang yang berdiri di luar kamar bukanlah Francesca dan Coco, melainkan Adriano. Pria berwajah rupawan itu datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar dan sangat indah. "Tuan D'Angelo? Bagaimana Anda bisa ada di sini?" tanya Matteo heran.


"Bolehkah aku masuk, Tuan de Luca?" Adriano tak memedulikan pertanyaan dari Matteo. Ia tak sabar ingin segera melihat keadaan Mia.


"Oh, ya. Tentu, silakan," Matteo membuka pintu cukup lebar. Adriano pun mengikutinya masuk dan membuat Mia terlihat keheranan.


"Tuan D'Angelo? Anda masih di Brescia?" tanya Mia dengan kening berkerut.


"Sebenarnya aku akan kembali ke Monaco kemarin, tapi aku mengurungkannya setelah mendengar berita bahagia ini," jelas pria bermata biru itu dengan raut wajah yang terlihat tulus.


"Siapa yang memberitahu Anda bahwa Mia sudah melahirkan?" tanya Matteo seraya duduk di sebelah sang istri. Ia meraih jemari wanita itu dan menciumnya sesekali, membuat rona wajah Adriano sedikit berubah. Akan tetapi, pria bertubuh tegap tersebut berusaha untuk tetap menguasai dirinya. Ia bersikap wajar dan tak menunjukkan rasa tidak nyamannya secara berlebihan.


"Kebetulan aku menghubungi tuan Baresi semalam. Ia mengatakan bahwa nyonya de Luca sudah melahirkan dan masih berada di rumah sakit ini. Jadi, aku harap Anda tidak terganggu karena aku langsung kemari," jelas Adriano dengan senyuman khasnya yang menawan. "Oh, iya. Aku bawakan bunga ini untukmu, Nyonya. Semoga Anda menyukainya," ia berjalan ke sisi lain tempat tidur Mia dan memberikan buket bunga yang sengaja dibawakannya untuk wanita yang telah membuat dirinya mabuk kepayang.


"Oh, terima kasih banyak, Tuan D'Angelo. Bagaimana Anda bisa mengetahui jika aku menyukai mawar putih?" Mia tersenyum sambil menautkan alisnya. Ia menerima bunga pemberian Adriano.


"Aku hanya menebak," jawab Adriano dengan santai. Gaya bicaranya terdengar begitu tenang dan seperti sangat nyaman. Tak ada rasa canggung sama sekali. "Apa jenis kelamin bayi Anda, Nyonya?" tanya Adriano lagi.


"Perempuan," jawab Matteo dengan segera. Ia tak ingin Mia terlalu banyak bicara dengan pria itu. Adriano segera mengalihkan pandangannya kepada pria yang tampaknya tidak terlalu suka dengan kehadiran dirinya di sana.


Adriano kembali menanggapi sikap kurang bersahabat Matteo lewat senyuman. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Perhatiannya kini beralih pada box bayi yang teretak tak jauh dari tempat tidur Mia. "Bolehkah aku melihat bayi Anda, Tuan de Luca?" tanyanya sopan.

__ADS_1


Matteo mengempaskan napas pelan sebelum menjawab. Namun, tak ada alasan baginya untuk melarang Adriano. Matteo pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah box bayi yang ditutupi kelambu. Adriano pun segera menghampirinya. Ia tersenyum lebar saat Matteo menyibakan sedikit dari kelambu itu. "Cantik sekali. Wajahnya mirip dengan nyonya de Luca," gumam Adriano tanpa sadar, membuat Matteo berdehem pelan.


Adriano segera menyadari ucapannya. Ia tertawa pelan seraya menoleh kepada Matteo. "Tak mungkin aku mengatakan bayinya cantik seperti Anda, Tuan de Luca," ujarnya yang seketika membuat Mia terkikik geli.


"Aku yang melahirkannya, tapi Theo yang begitu posesif terhadap bayi itu," celoteh Mia.


"Cara mia ...." Matteo melirik Mia dengan tatapan gemas. Sementara Mia terus saja terkikik geli. "Baiklah, Tuan D'Angelo. Ini bayi kami berdua. Kami sudah memberinya nama. Miabella Conchetta de Luca. Aku menyukai wanita cantik bernama Mia," Matteo kembali mengalihkan tatapannya kepada sang istri yang saat itu juga tengah menatapnya dengan penuh arti.


"Ya. Itu nama yang sangat indah," sahut Adriano. Perasaan sakit itu sebisa mungkin ia singkirkan dari dalam hatinya, saat melihat tatapan penuh cinta yang Mia tujukan kepada Matteo. Adriano sudah menyadari bahwa tak akan pernah ada kesempatan bagi dirinya untuk dapat merebut perhatian wanita yang selama ini selalu menghiasai angan-angan dan mimpi indahnya. Betapa ia merasa lemah saat dihadapkan pada cinta yang begitu besar terhadap Mia. Namun, kekuatan dalam dirinya terus melindungi pria itu agar tak terpuruk, karena rasa sakit akibat kasih yang tak berbalas. "Siapa yang akan menjadi ayah baptis dari putri Anda, Tuan?" tanya Adriano lagi.


"Tentu saja Damiano. Ia pria terbaik yang pernah kukenal, bukankah begitu?" Matteo melirik Adriano dengan sedikit senyuman di sudut bibirnya yang dihiasi kumis tipis.


"Itu merupakan pilihan yang sangat tepat, Tuan de Luca. Tuan Baresi adalah pria yang sangat bijaksana dan juga ... aku pun beruntung karena dapat mengenalnya," ujar Adriano setuju dengan Matteo. "Baiklah, aku harus segera kembali ke Monaco siang ini. Ada pesan dari Valerie, ia menitip salam untuk nyonya de Luca. Adikku sudah berada di Monaco, jadi ia belum dapat menjenguk kemari," ucap pria bermata biru itu lagi sebelum dirinya benar-benar berpamitan.


"Tentu, Nyonya. Semoga Anda cepat pulih dan segera kembali ke Casa de Luca," balas Adriano kembali menatap Mia dengan sorot matanya yang sulit untuk diartikan. "Permisi," pria itu mengangguk pelan kepada Mia sebagai tanda salam perpisahan. Sedangkan Matteo mengantarnya menuju pintu.


"Aku dan Mia akan mengadakan pesta penyambutan setelah ini. Jika Anda memiliki waktu luang, aku harap bergabunglah bersama kami," ucap Matteo sebelum Adriano benar-benar pergi.


"Oh, tentu. Aku akan datang ke Casa de Luca kapanpun Anda mengundangku," sambut Adriano dengan antusias.


"Tidak. Kami akan mengadakan pesta di Pulau Elba. Sudah lama aku tidak berkunjung ke sana," terang Matteo.


"Elba? Oh, ya. Itu ide yang sangat bagus. Hubungi saja aku, maka aku pasti akan datang untuk menghadirinya. Baiklah, Tuan de Luca. Sampai bertemu lagi," Adriano menyalami Matteo sebelum memutuskan untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Adriano menutup dengan pelan dan hati-hati pintu ruang rawat inap VVIP yang ditempati oleh Mia dan bayinya. Langkah pria itu tetap terlihat begitu gagah, meskipun ada percikan api cemburu yang menyapa sudut hati terdalamnya. Namun, ia harus menerima semua itu dengan lapang dada. Adriano pun semakin menjauh dari euforia kebahagiaan keluarga kecil Matteo dan Mia.


Setitik air menetes begitu saja dari sudut mata biru Adriano. Pria itu segera mengusapnya dengan cepat sebelum ada yang melihat hal yang memalukan tersebut.


Dengan terburu-buru, Adriano memasuki mobil sport mewahnya. Ia sempat terdiam, berpikir sembari jarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Keputusan awalnya yang hendak bertolak ke Monaco, kini berubah.


Diputarnya kemudi keluar dari area rumah sakit dan melaju kencang menuju Lombardi, kawasan pegunungan di Italia yang berdekatan dengan wilayah Swiss. Jarak dari sana hanya sekitar satu jam perjalanan. Adriano tak memerlukan waktu yang terlalu lama, terlebih dengan laju mobilnya yang cepat untuk tiba di sebuah area pemakaman keluarga yang terletak di kaki perbukitan.


Pria bertubuh atletis itu turun dari mobil sambil memegang sebuah kunci gembok yang sedikit berkarat. Ia lalu mendekat ke gerbang pemakaman dari besi berwarna hitam yang tinggi menjulang dengan sedikit ukiran di bagian atasnya. Dibukanya gembok yang menggantung pada pintu gerbang itu dengan perlahan. Adriano kemudian mendorong gerbang tersebut sehingga terbuka separuhnya.


Tenang, pria dengan kemeja hitam itu berjalan menyusuri jalan setapak. Sesaat kemudian, ia berhenti di depan sebuah batu nisan berukuran besar yang terbuat dari marmer. Di atas nisan tersebut, terukir sebuah patung malaikat kecil bersayap. Adriano mengusap nama yang tertulis di batu nisan tersebut menggunakan jari telunjuknya. Di sana tertulis nama Alessandro Moriarty. “Aku datang, paman,” ucapnya pelan dengan sedikit bergetar.


Ia kemudian duduk bersimpuh dan menunduk dalam-dalam.


“Maafkan aku yang baru datang kemari. Aku tak pernah sanggup membaca namamu di sini,” ucap Adriano lirih. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali kata-katanya, “Satu-satunya orang yang menyayangiku dengan tulus adalah dirimu dan Vincenzo. Namun, kalian terlalu cepat meninggalkan aku sendirian di dunia yang kejam ini," ucapnya lagi.


Adriano kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, ia lalu mendongak. Ekor matanya berhenti pada batu nisan yang terletak sedikit di atas tempatnya berlutut.


“Come stai, fratello? (Apa kabar, kakakku?)” Adriano berdiri dan mendekat ke arah batu nisan yang bertuliskan nama Vincenzo Moriarty itu. “Maafkan aku yang telah bersikap lemah. Sepertinya aku telah gagal membalaskan dendammu,” pria gagah berparas rupawan yang selalu tampak tegar bagaikan batu karang itu, kini menangis tersedu.


Air mata yang selalu ia tahan setiap kali merenungi kisah hidupnya yang kelam, kini tumpah meskipun tanpa sebuah ratapan memilukan. Bagaimanapun juga, masih ada sisa kekuatan yang sangat besar dalam diri sang ketua organisasi dari Macan Hitam (Tigre Nero).


"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak kuasa untuk merenggut senyuman indah dari wajah cantik itu. Mi dispiace, fratello mio," Adriano terus menunduk.

__ADS_1


__ADS_2