Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Pengantar Makanan


__ADS_3

Dengan ragu, Lenatta mengetuk pintu sebuah ruangan khusus yang biasa Silvio gunakan untuk bersantai. Saat Lenatta masuk, tampak pria itu tengah berdiri di dekat perapian dengan segelas minuman di tangan kanannya. Silvio sedang memandangi foto seorang pria yang usianya terlihat lebih tua darinya. Pria berwajah tegas dan tampak sangat kejam.


“Tuan memanggilku?” tanya Lenatta seraya berjalan menghampiri pria tampan yang baru saja mempertontonkan kengerian kepada dirinya. Lenatta mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya merasa takut.


“Ya,” jawab Silvio dingin. “Temani aku berbincang-bincang,” pintanya dengan datar. Sepertinya sisa-sisa kemarahan masih menyelimuti dirinya, karena saat itu ia terlihat berbeda dari Silvio kemarin malam.


“Tentu. Dengan senang hati,” jawab Lenatta. Ia semakin mendekat kepada pria itu. Lenatta mencoba untuk menyingkirkan rasa takut dan was-wasnya. Tanpa diminta, ia memeluk tubuh tegap Silvio dari belakang. Sementara telapak tangan sebelah kanannya mengusap-usap dada Silvio yang saat itu masih memakai kemeja putihnya.


Silvio melihat tangan Lenatta yang berada di dadanya. Namun, ia bersikap biasa saja. Ia kembali memandangi foto pria yang terpajang di atas tungku perapian. Sesaat kemudian, Silvio lalu menghabiskan sisa minumannya.


“Foto siapa itu?” tanya Lenatta. Ia mencoba untuk berbasa-basi.


“Kakak-ku, Vincenzo. Kami sudah lama tidak bertemu,” jawab Silvio datar. Ia bahkan tidak merespon ketika Lenatta mulai menciumi leher bagian belakangnya. “Jangan menggodaku! Aku sedang tidak ingin bercinta,” tolak Silvio dengan tegas.


Lenatta tertawa pelan. Ia kemudian membenamkan wajahnya pada pundak pria itu. “Saat marah kau terlihat sangat menakutkan. Apa kau akan melakukan hal yang sama padaku, seandainya aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan peraturanmu?”


Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Silvio. Ia kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Lenatta dan memilih untuk duduk di atas sofa. “Kau pikir kau istimewa bagiku? Jangan terlalu percaya diri, Nona Mendez,” bantah Silvio. Ia menatap Lenatta dengan tatapannya yang terlihat aneh. “Kemarilah!”  titahnya dengan dingin.

__ADS_1


Lenatta segera menghampirinya. Ia kemudian duduk di atas paha sebelah kanan Silvio. Disentuhnya wajah tampan pria itu. Lenatta pun menciumnya dengan mesra untuk beberapa saat lamanya. “Kau yakin tidak akan menjadikanku sebagai wanita yang istimewa bagimu?”


Silvio tersenyum simpul. Ia mengelus lembut rambut panjang Lenatta, menggenggamnya, dan tiba-tiba menariknya perlahan hingga wajah Lenatta sedikit mendongak. “Kau ingin menjadi wanita yang spesial untuk Silvio Moriarty? Itu bukan hal yang mudah. Akan tetapi, kau telah berhasil, Valecia,” ucap Silvio dengan seringai jahatnya.


“Selama ini aku tidak pernah mengingat nama gadis-gadis yang sering menghiburku. Mereka hanya berada di atas tempat tidurku untuk satu malam saja. Berbeda denganmu, aku mengingat namamu. Namun, meskipun begitu bukan berarti aku tidak akan memberimu hukuman jika kau melakukan kesalahan, Sayang!” lanjutnya dengan setengah mengancam. Silvio pun melepaskan genggamannya dari rambut panjang Lenatta.


Lenatta tersenyum kecut. Sebenarnya ia tidak menyukai cara Silvio memerlakukannya, tapi entah kenapa karena ia seperti mengesampingkan hal itu.


“Dengarkan aku, Valecia! Vincenzo adalah orang yang sangat tegas. Ia mengajariku bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin, meskipun aku belum sehebat dirinya. Namun, ia berkali-kali menekankan padaku bahwa peraturan dibuat untuk semua yang berada di bawah kekuasaanku. Aku tidak boleh pandang bulu dalam memberikan hukuman pada siapa pun yang telah melakukan kesalahan, termasuk orang-orang terdekatku. Jadi, jika kau merasa takut, maka jangan lakukan hal-hal yang akan membuatku menghukummu!” jelas Silvio dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegas.


Lenatta tersenyum kelu. Ia kini merasa bimbang. Lenatta yang pada awalnya penuh dengan rasa percaya diri, kini mulai merasa sedikit galau. Wanita berkulit eksotis itupun hanya terdiam, setelah itu barulah ia mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan dari Silvio.


“Ke mana?” tanya Lenatta. Wajahnya kembali terlihat antusias.


“Aku biasa pergi ke sauna untuk mandi uap setiap hari Minggu, pada minggu kedua dan minggu terakhir setiap bulannya. Aku akan memberikanmu bonus untuk keluar karena aku menyukaimu,” ucap Silvio. “Sekarang kembalilah ke kamarmu!” perintahnya seraya menyingkirkan tubuh Lenatta dari atas pangkuannya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Lenatta segera keluar dari ruangan itu. Namun, belum sempat ia kembali ke kamar, seorang pengawal Silvio memangilnya. Lenatta menoleh dengan eskpresi yang sedikit tidak nyaman. Terbayang dalam ingatannya akan nasib gadis bernama Lucette Lombardi yang Silvio serahkan kepada para pengawalnya. Rasa ngeri itu kembali muncul.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Lenatta yang segera menjaga jarak dari pria bertubuh tinggi besar itu.


“Ada kurir makanan yang mengirimkan pesanan atas namamu. Cepat temui ia dan segera kembali ke kamarmu!” suruh pria itu. Ia berbicara dengan nada yang seenaknya terhadap Lenatta, sehingga membuat wanita itu merasa kesal.


Lenatta mendekat dan berdiri di hadapan pria tinggi besar itu. Tatapan mata serta raut yang tidak bersahabat ia layangkan untuk pengawal yang dirasa telah bersikap tidak hormat kepadanya. “Berani sekali kau memerintahku seperti itu! Aku ingat wajahmu! Kau akan menjadi orang pertama yang kuludahi saat nanti aku menjadi nyonya besar di mansion ini!” tunjuk Lenatta seraya berlalu dari hadapan pria itu. Ia beranjak ke bagian depan mansion karena merasa penasaran dengan kiriman untuknya.


Sejenak Lenatta tertegun menatap seorang pria dengan kaos kerah berwarna kuning polet biru, warna yang sangat mencolok. Ia memakai topi dengan tulisan nama sebuah kedai. Lenatta mengenal betul saat memerhatikan perawakan pria itu, terlebih saat pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum. Lenatta hampir tidak dapat bernapas karenanya. Ya, ia tidak menyangka karena Coco berhasil masuk ke dalam Mansion Moriarty.


Lenatta membelalakan matanya. Ia memberi isyarat kepada pria itu. Namun, Coco masih terlihat tenang. Pria itu mengedipkan sebelah matanya. Seperti biasa, ia tidak bisa lepas dari sikapnya yang selalu menggoda.


“Nona Valecia Mendez? Pesanan Anda,” Coco menyodorkan satu box pizza kepada Lenatta.


“Tolong tanda tangan dan tulis nama jelas juga!” lanjutnya.


Dengan ragu Lenatta menerima secarik kertas nota dari Coco. Ia mengerti apa yang harus ia tuliskan di sana. Setelah itu, Lenatta mengembalikan kertas beserta alat tulisnya kepada Coco.


“Terima kasih, Tuan Kurir,” ucap Lenatta. Ia bergegas menuju kamarnya. Sedangkan Coco segera pergi dari sana. Sebisa mungkin mereka tidak menunjukkan gelagat yang dapat membuat para pengawal Silvio menjadi curiga. Coco bahkan mengangguk sopan kepada setiap pengawal Silvio yang ia temui di sana, sampai akhirnya ia menaiki skuter matic yang diparkirnya dan segera pergi meninggalkan halaman luas mansion mewah itu.

__ADS_1


Sementara Lenatta di dalam kamarnya, ia segera membuka box pizza yang diberikan Coco. Ia menyingkirkan semua pizza yang ada di dalamnya dan membuang kertas pelapis. Di dalam box itu Lenatta menemukan secarik kertas yang mengatakan bahwa dirinya harus mencari tahu tentang ruangan rahasia yang berada di dalam kamar Silvio.


Lenatta sendiri belum mengetahui tentang hal itu, tapi tugas akan menjadi misi yang menantang bagi dirinya. Lenatta sudah terlanjur menerima pekerjaan ini. Dirinya juga tergiur dengan bayaran yang nantinya akan ia dapatkan dari Matteo. Itu artinya, ia harus segera mencari cara agar dirinya bisa lebih sering masuk ke kamar Silvio.


__ADS_2