
Taksi yang ditumpangi Matteo telah tiba di rumah sakit pusat kota Roma. Di sana, ada beberapa petugas medis yang berjaga. Mereka segera membantu memindahkan tubuh Mia ke atas brankar dan bergegas membawanya ke ruang tindakan.
Matteo terlihat begitu kalut. Bayangan darah di wajah dan kepala Mia yang terus mengalir, membuatnya sangat ketakutan dan putus asa. Tak pernah dalam seumur hidupnya, Matteo merasakan takut seperti yang tengah ia rasakan kini. Seluruh tubuhnya bergetar, napasnya terengah-engah. Peluh pun semakin memenuhi keningnya. Namun, meski dalam kondisi cemas seperti itu, Matteo masih ingat untuk menghubungi Damiano.
Pria yang selama ini menjadi ayah pengganti, selalu sigap menjawab telepon darinya. Dengan suara Damiano yang begitu khas, ia menjawab panggilan Matteo. “Ada apa, Nak? Bagaimana Mia? Apakah kalian akan pulang hari ini?” tanyanya beruntun. Bukannya menjawab, Matteo malah membisu. Entah kenapa, kata-kata yang sudah terangkai di kepalanya tak kunjung terlontar.
“Theo? Adakah sesuatu yang terjadi?” insting Damiano mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Seseorang menabrak Mia. Istriku ... kondisinya parah sekali, Damiano. Da-darahnya ....” Matteo terbata. Matanya terpejam erat, berusaha untuk menghilangkan kilasan kejadian mengerikan yang ia saksikan beberapa saat yang lalu. “Aku akan menghubungi Coco,” lanjut Matteo kemudian mengakhiri panggilannya dengan Damiano.
Kepada Coco, ia kembali mengabarkan semua yang terjadi. Kali ini, ia menjabarkan dengan detail dan jauh lebih tenang. Bagaimanapun juga, ia membutuhkan seseorang untuk berbagi. Setelah selesai berbicara di telepon, Matteo kemudian memilih untuk duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang tindakan.
Tak berselang lama, dokter yang menangani Mia keluar dari dalam ruangan dan memanggil Matteo. “Kami harus secepatnya melakukan tindakan operasi. Istri Anda mengalami patah tulang kaki. Selain itu, ia juga mengalami trauma di kepala yang cukup parah. Itu semua diakibatkan karena benturan yang terlalu keras,” terang sang dokter.
“Lakukan apapun selama itu bisa menyelamatkan nyawa istriku,” balas Matteo dengan cemas dan bercampur emosi. Penekanan suaranya menunjukkan jika saat itu ia tengah berada dalam sebuah situasi yang teramat berat.
“Kami akan mengusahakan yang terbaik, tapi ….” dokter itu seakan ragu melanjutkan kalimatnya. “Dari pemeriksaan fisik, tampaknya istri Anda tengah mengandung dan kemungkinan besar janinnya tidak bisa bertahan. Namun, kami akan tetap melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar dokter itu membuat Matteo seketika terkejut. Sepasang mata abu-abunya menatap tajam kepada dokter tersebut.
“Mengandung?” ulang Matteo. Ia sama sekali tak tahu jika Mia sedang berbadan dua.
“Kami akan mencari cara yang terbaik untuk menyelamatkan istri Anda. Kami juga berharap Anda bisa menerima, jika kami lebih mengutamakan nyawa sang ibu daripada janin yang masih berusia dini,” tutur dokter itu sembari menepuk lengan Matteo. Ia lalu kembali masuk ke ruang tindakan.
Matteo tak mampu berkata apa-apa. Ia merasa bingung. Kekalutan itu kian menyerangnya. Ia tahu jika Mia sangat mengharapkan seorang anak, meskipun Matteo sendiri pernah mengatakan untuk menundanya terlebih dahulu. Pria itu kembali duduk dan termenung setelah mendengarkan penjelasan dari dokter tadi.
Sementara di tempat lain, Adriano sudah bersiap dengan kemeja hitamnya. Ia bermaksud untuk pergi ke Casa de Luca dan menemui Matteo. Sebelum berangkat, pria rupawan itu menghubungi Matteo terlebih dahulu. Akan tetapi, sudah berkali-kali ia melakukan panggilan, tetap saja ia tak bisa tersambung ke nomor yang dituju. Akhirnya, Adriano memutuskan untuk menghubungi Damiano.
__ADS_1
“Selamat siang, Tuan Baresi. Aku ingin bertemu dengan Tuan de Luca. Apa ia ada di tempat? Aku akan pulang ke Monaco besok pagi, tapi ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya,” tutur kata Adriano terdengar begitu sopan terhadap Damiano saat itu.
“Sayang sekali, karena Theo sedang tidak berada di Casa de Luca. Saat ini ia sedang di Roma. Tadi ia menghubungiku dan mengabarkan bahwa Mia mengalami kecelakaan, dan sudah dibawa ke rumah sakit pusat,” tutur Damiano membuat Adriano terkejut.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Tuan Baresi,” tanpa berlama-lama, Adriano segera menghubungi pilot yang biasa mengemudikan helikopter pribadinya agar segera bersiap. Tak ingin membuang waktu, Adriano bergegas menuju landasan helikopternya yang berada di puncak gedung apartemen mewah yang ia tempati. Ia pun memerintahkan sang pilot untuk mengantarkannya ke kota Roma.
Adriano seakan tak peduli apa tanggapan Matteo nantinya. Mendengar berita buruk yang menimpa Mia, perasaannya seketika menjadi begitu cemas dan tak karuan. Ia ingin segera tiba di sana, meskipun dirinya tahu bahwa Matteo tak akan pernah membiarkannya untuk mendekati wanita yang telah begitu memikat hatinya.
Selang beberapa saat di perjalanan, akhirnya helikopter itu mendarat di atas landasan rumah sakit yang dituju. Adriano bergegas turun dan melangkah dengan terburu-buru menuju meja resepsionis. Dari sana, ia mendapat informasi bahwa saat itu Mia tengah menjalani tindakan operasi di ruang gawat darurat.
Adriano segera menuju ke sana. Di ruang tunggu, ia melihat Matteo yang tengah duduk sendirian dan termenung. Pria itu tampak sangat kacau. Adriano bermaksud untuk menghampirinya, tetapi langkah pria dengan kemeja hitam tersebut seketika terhenti, karena ia melihat seorang pria tinggi besar yang terlebih dahulu menghampiri Matteo. Ia pun mencoba untuk mendekat.
Sayup-sayup, Adriano mendengar apa yang dilaporkan pria yang tiada lain adalah Zucca kepada Matteo. “Saya benar-benar minta maaf, Bos. Saya kehilangan jejak si penabrak itu. Saya yakin, jika ia bukanlah pengendara sembarangan. Namun, saya sudah mencatat ciri-ciri kendaraan yang dipakainya,” lapor Zucca. Sedangkan Matteo tak menjawab. Ia masih tercenung dengan menopang dagu. Tatapan matanya kosong, mengarah ke lantai.
Sesaat kemudian, Zucca kembali berbicara. Ia tak peduli meskipun Matteo sama sekali tak menghiraukannya. Zucca memiliki pendirian bahwa ia harus tetap menyampaikan hasil penyelidikannya. “Pengendara itu menggunakan mobil SUV berwarna hitam. Ada semacam stiker di kaca belakang mobil yang bergambar bulan sabit,” Zucca membeberkan semua hal yang dilihatnya dalam pengejaran itu, termasuk nomor plat mobil yang dipakai si pelaku.
Adriano melangkah gagah melintasi lobby, bersamaan dengan Francesca dan Daniella yang baru saja memasuki gedung rumah sakit. Francesca sempat melihat ke arah pria itu, tetap perhatiannya kemudian teralihkan pada Daniella yang menarik tangannya agar berjalan lebih cepat.
Sesampainya di halaman parkir, mobil jemputan Adriano sudah siap. Seorang sopir berwajah sangar dengan tato yang menghiasi seluruh lengan hingga lehernya, langsung membukakan pintu untuk Adriano. “Bawa aku ke markas rahasia Alex, Benigno!” perintahnya pada pria bertato itu.
“Terakhir saya mengetahui Alex telah menyewa sebuah rumah sederhana di daerah Fiumicino, Tuan,” sahut pria bernama Benigno itu dengan penuh hormat.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi! Segera bawa aku ke sana!” titah Adriano seraya mengetatkan rahang.
Tak berapa lama, kendaraan yang Adriano tumpangi telah tiba di tempat yang dituju. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang dari setengah jam. Fiumicino adalah satu distrik yang terletak di pinggiran kota Roma. Berbeda dengan pusat kota, wilayah ini dipenuhi oleh perumahan penduduk.
__ADS_1
Mobil Adriano berbelok ke kiri, pada deretan perumahan yang seakan tak berpenghuni. Adriano tak segera turun. Ia masih mengamati lingkungan sekitar yang terlihat tenang. Beberapa saat Adriano menunggu di dalam mobil. Akhirnya datanglah kendaraan dengan ciri-ciri seperti yang telah disebutkan oleh Zucca. Kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah yang paling ujung. Seorang pria berambut pirang, keluar dari mobil tu sembari menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu masuk ke rumah.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Benigno datar.
Adriano tak menjawab. Ia membuka pintu dan bermaksud menghampiri rumah persembunyian Alex. “Kau tetap d sini. Bersiaplah apabila sewaktu-waktu aku memberimu tanda!” titahnya. Adriano kemudian melangkah hati-hati ke rumah yang terlihat tak terawat itu.
Adriano berbelok dan berjalan ke belakang rumah, lalu menempelkan tubuh kekarnya di dinding samping pintu. Terdengar suara berisik dari dalam. Sepertinya Alex sedang mengemasi sesuatu. Tanpa menunggu terlalu lama, Adriano segera mendobrak pintu belakang dan bergegas masuk.
Alex yang tengah memasukkan barang-barang ke dalam tas hitam, terbelalak tak percaya tatkala melihat Adriano berdiri gagah di hadapannya. “Bos?” desisnya.
“Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku bukan bosmu lagi, dari semenjak kau melukai saudari Nyonya de Luca?” geram Adriano.
“Mereka harus diberi pelajaran, Bos! Gara-gara mereka, anggota kita tertangkap polisi. Rahasia organisasi hampir saja terbuka,” Alex membela diri. Sementara Adriano hanya menyunggingkan senyuman sinis.
“Astaga, kau masih saja sok berlagak seperti pahlawan. Padahal tanpa dirimu, aku sudah bisa mengatasi segala sesuatunya sendirian,” ujarnya meremehkan. “Aku sudah membunuh saudara-saudara kita yang berada di dalam sel kantor polisi. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan? Bukankah orang mati tak dapat berbicara? Lalu, kenapa kau juga berniat membunuh Nyonya de Luca?” cecar Adriano.
“Kau membunuh anggota kita seakan tanpa beban! Kau juga memecatku dari keanggotaan Tigre Nero, semua hanya gara-gara wanita itu dan kedua saudarinya!” teriak Alex tanpa rasa takut.
“Untuk apa aku mempertahankanmu? Kau berpotensi menimbulkan perang terbuka antara Klan Tigre Nero dengan Klan de Luca! Kau ini bodoh atau bagaimana, hah!” emosi Adriano semakin memuncak.
Alex tertawa kecil, lalu mendongak dan menatap tepat pada mantan bosnya itu. “Kenapa harus takut? Bukankah kita lebih kuat?” ujarnya penuh percaya diri.
“Lebih kuat katamu?” Adriano melangkah perlahan, mendekati Alex yang masih bersikap jumawa. Saat itu, tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja. “Organisasi de Luca telah menguasai hampir seluruh wilayah Italia setelah mereka meruntuhkan kekuasaan Moriarty. Sementara aku baru saja menancapkan layarku dan mengembangkannya di sini. Lalu, kau dengan seenaknya mengajak untuk menantang mereka? Inilah kenapa aku sangat tidak menyukai orang bodoh!” sentak Adriano.
Satu hal yang tak disadari oleh Alex, Adriano menyelipkan sebuah pistol otomatis dengan tambahan peredam. Ia menyimpan senjata itu di balik pinggangnya. Kini Adriano hendak menggunakannya.
__ADS_1
Dengan gerakan halus dan cekatan, Adriano mengambil senjata itu dan mengarahkannya kepada Alex. Beberapa kali tembakan ia sarangkan ke perut dan dada pria itu hingga roboh tak bernyawa. Alex ambruk tepat di depan kakinya. Adriano melihat hal itu dengan tatapan dingin. Ia lalu melangkah keluar rumah dan bersikap seakan tak terjadi apapun.