
Matteo mengangkat tubuh Mia dan mendudukannya di atas meja. Rasa bahagia itu tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Pria bermata abu-abu tersebut berkali-kali mengecup lembut kening sang istri. Setelah itu, ia kembali duduk di bangku kayu tadi dan menghadap kepada Mia.
Direngkuhnya tubuh ramping wanita cantik di hadapannya. Matteo kemudian menciumi perut Mia yang masih rata seperti biasa.
"Jadi, sekarang ada seseorang di dalam sini?" Matteo berbicara kepada perut istrinya dengan senyuman yang terus terkembang. Betapa indahnya hidup yang ia jalani setelah bertemu dengan Mia. Segalanya terasa begitu sempurna baginya.
"Perjalanan masih panjang, Theo," ucap Mia lembut menanggapi sikap sang suami. Dielusnya dengan penuh perasaan rambut hitam yang tersisir rapi ke belakang itu. "Jika calon bayi kita nanti adalah laki-laki, maka aku ingin kelak ia setampan dan sekuat dirimu," harapan Mia yang terdengar begitu indah di telinga Matteo. Pria itu tersenyum lebar saat menanggapinya, kemudian mencium lembut jemari lentik Mia.
"Jika bayi kita perempuan, maka ia pasti akan menjadi secantik dan selembut dirimu, Cara mia. Akan tetapi, seperti apapun anak kita kelak, ia pasti terlahir dengan perpaduan dari kita berdua," timpal Matteo. Pria bermata abu-abu itu kembali membenamkan wajahnya di perut Mia. Sementara Mia pun membelai rambut sang suami dengan lembut.
"Apakah setelah ini kau akan benar-benar berhenti dari dunia hitam, Theo?" pertanyaan Mia yang terdengar begitu dalam dan mampu menyentuh perasaan Matteo. Ada sebuah harapan yang teramat besar dalam nada dan sorot mata wanita yang telah sekian lama menjadi teman hidupnya itu.
Matteo mengangkat wajah dan tersenyum. Sedikit mendongak, ia menatap paras cantik yang akan selalu menjadi pujaan hatinya. "Tentu, Cara mia. Aku berjanji ini akan menjadi yang terakhir untukku. Setelah semuanya selesai, maka kita akan memulai hidup baru. Aku akan fokus untuk mengurus perkebunan dan meningkatkan produksi Du Fontaine. Untuk urusan organisasi, akan kupikirkan nanti. Butuh perencanaan yang matang dan tak main-main, Sayangku. Aku akan berdiskusi terlebih dahulu bersama Damiano. Ia pasti tahu apa yang harus kulakukan," jelas Matteo meyakinkan Mia.
Wanita bermata cokelat itu tersenyum lembut. Tanpa menghentikan belaiannya pada rambut Matteo, ia berkata, "Aku akan menantikan saat-saat itu tiba. Aku harap setelah semuanya benar-benar terlaksana, maka kita bisa melanjutkan hidup dalam situasi yang normal seperti orang-orang pada umumnya."
__ADS_1
"Kau tahu, Theo? Setiap saat aku merasa khawatir. Aku memikirkanmu. Setiap kali kau pergi dan menghilang dari pandanganku, maka akan timbul perasaan yang begitu tak menentu. Tentu saja aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, itu pasti. Namun, tak dapat kupungkiri jika rasa was-was itu selalu ada meskipun aku tahu kau pasti bisa untuk menghadapi setiap masalah seberat apapun. Aku tak pernah meragukan kehebatanmu, Sayang. Kau seperti Achilles yang tangguh dan tak terkalahkan. Nama besarmu akan selalu dikenang di antara para pemimpin organisasi lain. Matteo de Luca, sang pemimpin dari organisasi de Luca yang luar biasa, seorang pembuat senjata yang andal. Aku sangat bangga padamu, Theo. Akan tetapi, aku jauh lebih menyukai jika kau hanya menjadi Matteo de Luca saja, suami dari Florecita Mia," tanpa terasa, tetes-tetes air mata jatuh di sudut bibir Mia karena rasa haru yang tak mampu untuk ia bendung.
"Hey, Sayangku. Kenapa kau harus menangis? Kau tak perlu bersikap terlalu berlebihan. Aku pasti akan selalu menemanimu. Kau lihat lenganku ini?" Matteo menunjukan lengannya yang berotot kepada Mia. "Aku sanggup untuk menggendongmu dan anak kita kelak secara bersamaan," ujarnya diiringi tawa renyah. Ia berusaha untuk menghibur Mia hingga wanita itu kembali tersenyum.
"Ini bukan air mata kesedihan, Theo. Aku hanya ... kau harus menemaniku periksa ke dokter kandungan dengan rutin. Aku ingin kehamilan kali ini benar-benar lancar."
"Ya, selama kau tidak melarikan diri lagi dari rumah," kelakar Matteo yang berbalas sebuah cubitan gemas di kedua pipinya. Sementara Matteo sendiri hanya tertawa geli.
"Kau menyebalkan. Kau yang sudah memaksaku untuk nekat melakukan hal itu," ujar Mia cemberut.
Matteo terkekeh seraya berdiri. Ia meletakkan tangan di sisi kiri dan kanan Mia. Tatap mata abu-abu miliknya terlihat begitu dalam dan penuh arti. "Harus selalu ada kesalahan, agar kita bisa belajar menjadi lebih baik. Itulah yang membuat hidup terasa sempurna. Bukan hanya uang dan kemewahan, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa kedua hal tersebut yang menjadi patokan dari kesempurnaan hidup bagi kebanyakan orang. Namun, aku sudah merasa bosan dan lelah, Cara mia. Aku benar-benar ingin beristirahat dan mencari kedamaian dalam hati," Matteo terlihat begitu berbeda saat itu. Tutur katanya penuh dengan makna dan begitu menyentuh perasaan Mia.
"Apa itu, Sayangku?" Matteo balik bertanya.
"Doa," jawab Mia. "Seperti yang selalu kau lakukan dulu saat aku tengah berada di ambang kematian. Bukankah saat itu kau selalu datang ke gereja dan berdoa? Mulai saat ini, dekatkanlah dirimu pada Yang Maha Kuasa dan memohonlah untuk segala kebaikan dalam hidup kita. Aku yakin, ketenangan dalam hatimu pasti akan selalu tercipta karena hal itu," terang Mia pelan.
__ADS_1
"Kau benar sekali, Cara mia. Aku ingin bertransformasi menjadi seseorang yang lebih baik. Aku rasa itu harapan setiap orang, tapi aku memiliki keinginan yang jauh lebih itu. Aku akan menjadi suami, ayah, dan pemimpin yang baik untuk keluarga kecil kita nanti. Aku berharap bisa menemani dan selalu ada untuk menjagamu sampai aku merasa tak mampu lagi. Akan tetapi, aku tak ingin itu terjadi. Aku harus selalu memaksakan diriku untuk bisa," entah apa maksud dari ucapan Matteo saat itu, karena Mia pun tak dapat segera memahaminya.
"Apa maksudmu, Theo? Kita akan selalu bersama. Kau ada, maka aku pun ada, kau tiada, maka aku juga ...." Mia tak sempat melanjutkan kata-katanya.
"Tidak, Cara mia. Tidak seperti itu. Ah, sudahlah. Aku tak ingin membahas masalah yang terlalu mendalam seperti ini," ucap Matteo seraya tersenyum kalem. "Omong-omong, apakah hari ini aku sudah menciummu atau belum, ya? Kenapa tiba-tiba aku menjadi pelupa," tatap nakal Matteo mulai terlihat dan begitu menggoda, membuat Mia tersipu. Tanpa banyak bicara lagi, pria itu segera melakukan apa yang ia katakan. Sebuah ciuman lembut dan mesra mengiringi kebersamaan mereka sore itu.
"Apa kau masih ingat dengan sesuatu yang pernah kita lakukan di atas meja ini, Sayang?" goda Matteo lagi yang segera berbalas sebuah cubitan di pinggangnya. Mia melotot saat menanggapi pertanyaan nakal sang suami, sedangkan Matteo kembali terkekeh geli.
"Kita harus berkonsultasi dulu ke dokter kandungan. Lagi pula, Zucca menunggu di luar. Aku tidak ingin ia berpikir yang macam-macam," tolak Mia.
"Ah, biarkan saja," balas Matteo seraya kembali mencium mesra sang istri.
Hingga menjelang senja, sepasang suami istri itu baru kembali ke Casa de Luca. Sementara Zucca, Matteo perintahkan untuk tetap berada di bengkel dan menunggu kedua anak buahnya dari Palermo.
Setibanya di Casa de Luca, Matteo tak segera menuju kamar. Niatnya untuk membersihkan diri, ia urungkan sejenak dan malah memilih untuk mengikuti Mia ke dapur. Wanita itu bermaksud akan menyiapkan makan malam. "Jangan terlalu lelah, Sayang. Biarkan pelayan saja yang menyiapkan makan malam kali ini," cegah Matteo yang mulai mengkhawatirkan keadaan Mia.
__ADS_1
"Tak perlu terlalu berlebihan, Theo. Memasak tak akan membuatku merasa lelah. Kau mandi saja dulu, dan segeralah berganti pakaian. Aku tidak suka baumu," Mia membalikan badannya dan mulai menghadapi beberapa bahan yang telah tersedia di meja.
"Hey, kau harus tahu jika ini adalah bau dari pria sejati," celoteh Matteo seraya memeluk Mia dari belakang dan kembali menggodanya.