Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Un Bicchiere Di Latte


__ADS_3

Matteo membuka matanya karena suara dering ponsel yang sejak tadi berbunyi dan membuatnya terjaga. Ia tak sempat mematikan ponsel itu sebelum tidur, karena harus terlebih dahulu melayani sikap genit Mia semalam. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya dan meraba laci sebelah tempat tidur untuk mencari ponsel. Sesaat kemudian, ia akhirnya dapat menemukan benda yang ia cari. Dengan tatapan yang belum jelas sepenuhnya, Matteo memeriksa layar ponsel tersebut. Samar ia melihat nama D'Angelo di sana. Sebuah keluhan pun meluncur dari bibirnya. "Ada apa dengan orang itu?" gumamnya agak jengkel. Namun, pada akhirnya ia menjawab panggilan tersebut.


"Tuan de Luca? Maafkan aku karena mengganggu istirahat anda, tetapi aku punya berita penting yang harus kusampaikan dengan segera," nada bicara Adriano terdengar serius, membuat Matteo seketika bangkit dan duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya.


"Ada apa, Tuan D'Angelo?" tanya Matteo penasaran.


"Ini tentang proses pencarian puing-puing pesawat yang meledak. Aku pastikan jika mereka telah menghentikannya. Mereka menemukan beberapa serpihan, tapi tak menemukan satu pun korban kecelakaan itu," lapor Adriano puas.


"Sampai kapanpun mereka tak akan menemukannya," timpal Matteo dengan senyum sinis. Sesaat ia melirik Mia yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Matteo tersenyum lembut melihat wajah polos sang istri yang kini sudah kembali normal, meskipun harus memakai rambut palsu. "Lalu, bagaimana?" tanya Matteo.


"Anda sudah bisa melakukan acara penghormatan terakhir untuk Tuan Antonio de Luca. Apakah Marco tidak memberitahu anda tentang berita ini?"


"Marco sedang pergi ke Roma. Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan di sana," jelas Matteo datar.


"Baiklah. Itu artinya anda bisa segera memenuhi undangan Tuan Sergei Redomir untuk bertandang ke Monaco," Adriano terdengar begitu bersemangat. Ia kembali membahas masalah kerja sama dalam bidang senjata. "Lagi pula, bukankah kondisi Nyonya de Luca juga sudah membaik?"


Matteo mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. Inilah yang membuatnya tak mau merasa berhutang budi kepada siapa pun, karena ia akan merasa terikat. Namun, harus diakuinya jika bukan karena bantuan Adriano, maka belum tentu ia dapat melepaskan diri dari kejaran Detektif Fabrizio Ranieri. "Baiklah. Aku akan membicarakan ini dengan Damiano terlebih dahulu, jika ia sudah kembali. Kebetulan, Damiano sedang pergi mengunjungi sanak saudaranya yang meninggal di Turin. Ia baru akan pulang besok atau lusa," terang Matteo.

__ADS_1


"Ya, itu terdengar jauh lebih baik. Tuan Baresi sangat bijaksana. Ia pasti akan memberikan pertimbangan yang baik pula untuk anda, meskipun sebenarnya aku rasa anda bisa saja mengambil keputusan saat ini juga."


Matteo menggumam pelan. Apa yang diucapkan Adriano memang tidaklah salah. Namun, Matteo merasakan ada sedikit keraguan dalam dirinya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang masih begitu samar dan belum dapat ia telaah dengan jelas, karena itu ia berusaha untuk mengulur-ulur waktu agar dapat memikirkannya sejenak. "Nanti kuhubungi lagi, Tuan D'Angelo. Terima kasih atas informasinya," Matteo kemudian mengakhiri pembicaraannya dengan Adriano.


Sebelum meletakan kembali ponselnya, Matteo menyempatkan untuk mengirimkan pesan kepada Zucca. Pria itu memang sedang menunggu perintah untuk berangkat ke Pulau Elba. Setelah itu, Matteo lalu menghubungi Marco yang kini tengah berada di kota Roma untuk mengurus kerja sama dengan seorang pemilik club malam.


"Tidak bisakah kau menghubungi lebih siang sedikit? Aku baru tidur sekitar tiga jam," protes Marco. Ia membetulkan letak selimutnya. Seorang wanita berambut pirang kemudian muncul dari balik selimut tersebut dengan senyumnya yang menggoda. Sesaat kemudian, wanita itu kembali bersembunyi di dalam selimut tadi.


"Aku minta maaf. Kapan kau akan pulang ke Brescia? Bukankah urusanmu dengan pemilik club sudah selesai?"


Matteo mengeluh pelan saat panggilannya dimatikan tanpa permisi. Segera ia letakkan kembali ponselnya di atas laci dan berbalik kepada Mia yang masih tertidur pulas. “Kau pasti sangat lelah ya, Sayang?” bisiknya lirih.


“Apakah aku terlalu kasar?” kembali Matteo bersuara pelan sambil mengulum senyumannya, meskipun ia tahu bahwa Mia tak akan mendengarnya.


Disibakkannya wig yang sebagian menutupi wajah cantik sang istri. Dikecupnya lagi bibir ranum dan indah yang sudah ia nikmati semalam suntuk. “Grazie, moglie mia (istriku),” ucap Matteo.


Mia mengeluh dan mengeliat pelan. Posisi tubuh yang awalnya berbaring menyamping, kini berpindah posisi menjadi telentang. Tampaklah dada indah Mia yang selama ini selalu membuat Matteo mabuk kepayang. Pria itu sudah hampir kehilangan akalnya, saat ia tiba-tiba teringat pada Mia yang kelelahan karena semalam menghadapi serangannya yang sedikit brutal.

__ADS_1


Dengan tangan yang sedikit gemetar, Matteo menarik selimut hingga ke dagu Mia. Ia pun memutuskan untuk beranjak dan duduk di tepian ranjang. Matteo ingin mendinginkan kepalanya untuk sejenak. Setelah itu, ia memungut celana panjang yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Matteo pun segera memakai celana tersebut. Gerakannya ia buat sehalus mungkin agar Mia tak terganggu.


Selesai dengan hal itu Matteo kemudian segera bangkit dan keluar dari kamar. Suasana pagi itu sudah terasa cukup ramai. Beberapa orang pelayan tampak berlalu lalang ke sana kemari. Ketika ia berjalan menuju dapur, pandangannya terkunci pada Coco yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Itulah kebiasaan Coco. Ia selalu datang pagi-pagi ke Casa de Luca, bahkan sebelum Matteo menikah ia biasa langsung saja menerobos ke dalam kamar sahabatnya tersebut.


“Amico! Gawat!” ujar Coco beberapa saat setelah berdiri di hadapan Matteo. Ia menepuk pundak sahabatnya yang saat itu masih bertelanjang dada. Namun, Coco segera menarik telapak tangannya dari sana. Ia lalu menempelkan telapak tangannya di dekat hidung. “Apakah ini bekas keringat? Lengket sekali,” gumamnya sembari mengernyit. Untuk sesaat, Coco melupakan tujuan ia datang ke Casa de Luca.


“Cepat katakan apa yang gawat!” sentak Matteo yang seketika membuat Coco tersadar.


“Lucia, Amico! Lucia!” seru Coco panik.


“Lucia siapa?” Matteo mulai terlihat kesal.


“Lucia adalah salah satu temanku yang seperti biasa, tergila-gila padaku," celoteh Coco diselingi tawa pelan. "Ya, ya, aku tahu aku memang sangat memesona, tapi kau tahu sendiri bukan jika saat ini aku sudah bertobat dan hanya menatap pada Francy seorang,” lanjut Coco penuh semangat.


“Lalu, apa masalahnya?” tanya Matteo lagi. Ia merasa jengkel karena harus menanggapi ocehan tidak penting dari sahabatnya itu. Lagi pula, Matteo tak mengenal siapa itu Lucia. Pria itu memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur. Matteo kemudian menuangkan susu segar ke dalam gelas.


"Sejak kapan kau minum susu, Amico?" tanya Coco heran. Rupanya ia mengikuti sahabatnya itu. Coco kemudian berdiri dengan setengah bersandar seraya menggigit buah apel yang ia ambil dari keranjang di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2