
Matteo kembali berpikir dalam-dalam. Sesekali pandangannya ia alihkan pada gadis manis di atas balkon. Namun, konsentrasinya kini mulai terbagi ke mana-mana. Ada beberapa misteri yang harus ia pecahkan, sementara dirinya harus mulai bertindak dengan penuh perhitungan dan perencanaan yang jauh lebih matang.
“Rencananya setelah pemakaman orang tua-ku nanti, akan diadakan acara pengangkatan diriku sebagai ketua baru di Organisasi de Luca,” ujar Matteo.
“Itu bagus, memang sudah seharusnya begitu. Prioritaskan dulu hal itu,” sahut Coco. Ia kemudian merebahkan tubuhnya. Coco meletakan kepalanya di atas kedua telapak tangan yang ia satukan. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar dengan plafon yang dihiasi sedikit sarang laba-laba. Tiba-tiba, ia teringat pada gadis belia yang diantarkannya pulang semalam.
“Semuanya menjadi prioritas utama bagiku, Sobat. Klan de Luca dan juga Mia,” Matteo mengeluh pelan. Lesu, ia membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh Coco. “Apa menurutmu aku terlihat seperti seorang pengecut?” tanyanya.
“Mungkin. Namun, kau punya alasan sendiri melakukan hal seperti itu. Terkadang wanita itu membutuhkan sebuah pernyataan, meskipun hanya beberapa kata. Aku rasa, bukannya mereka tidak mengerti. Namun, mungkin itu hanya sebagai tanda jika mereka menginginkan perhatian lebih. Ah, itulah wanita,” komentar Coco.
Matteo hanya termenung mendengar perkataan sahabatnya. Ingatannya kembali pada saat pertama kali bertemu dengan Mia. Awal pertemuan yang begitu membuatnya terkesan, hingga tanpa sadar Matteo telah jatuh cinta kepadanya.
Entah apa yang tengah memengaruhi Coco, sehingga ia tiba-tiba bersenandung lirih. Pria itu menyanyikan lagu kesayangannya. Lirik lagu yang terdengar menyentuh jauh ke dalam hati Matteo. Pria bermata abu-abu itu mendengarkan senandung sahabatnya dengan khidmat hingga akhirnya tanpa terasa mereka berdua tertidur lelap malam itu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Matteo terbangun. Ia tidak menyangka karena telah tidur seranjang dengan Coco, di atas ranjang yang kecil. Mereka berdua saling berdesakkan. "Tempat tidur macam apa ini?" keluh Matteo seraya bangkit dan melakukan sedikit peregangan. Tubuhnya terasa pegal dan tidak nyaman.
Sesaat kemudian, Matteo menuju wastafel yang berada di sudut kamar itu. Ia membasuh wajahnya di sana hingga dirinya merasa sedikit segar. Matteo kembali ke dekat jendela dan menatap ke arah kamar Mia. Tidak terlihat ada tanda-tanda gadis itu di sana. Mungkinkah Mia telah pergi? pikir Matteo dengan sedikit kecewa. Sementara itu, Coco masih tertidur nyenyak. Sedangkan Matteo berdiri beberapa saat di dekat jendela. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian malam itu. Matteo merasa tidak mengerti. Itu bukanlah pertama kalinya ia bercinta dengan seorang gadis.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponselnya berdering. Matteo segera mengambil benda itu dari dalam saku mantelnya. Nama Damiano tertera pada layar ponsel itu. Matteo segera menjawab panggilan tersebut. "Ada apa, Damiano?" tanyanya dengan datar.
"Kapan kau akan pulang, Nak?" terdengar suara Damiano di ujung telepon. Nada bicara pria itu selalu terdengar tenang dan penuh kasih.
"Entahlah, memangnya kenapa?" Matteo balik bertanya.
"Aku menerima kabar dari pihak kepolisian. Mereka mengatakan ingin bertemu denganmu untuk membahas tentang Tuan dan Nyonya de Luca. Aku rasa, mungkin berhubungan dengan autopsi yang telah dilakukan oleh tim forensik," jelas Damiano.
"Kau tangani saja dulu sementara aku belum kembali. Aku masih harus menyelesaikan sedikit urusan di Venice," jawab Matteo masih dengan nada bicaranya yang datar.
"Ada satu hal lagi, Anakku. Aku mendengar kabar dari Tuan Antonio, katanya pihak kepolisian sudah mengajukan berkas-berkas ke pengadilan untuk memproses hukuman yang akan dijatuhkan kepada ...." Damiano tidak melanjutkan kata-katanya, yang terdengar saat itu hanya suara helaan napas berat penuh sesal. Matteo pun tidak banyak bicara. Ia sama saja dengan Damiano, menyesalkan keputusan yang telah mereka ambil. Matteo semakin terpacu untuk dapat segera menemukan pelaku yang sebenarnya.
"Aku akan melakukan yang terbaik. Cari tahu tentang keluarganya dan berikan apapun yang mereka butuhkan, jangan sampai ada yang terlewat," titah Matteo.
"Baik, Nak. Aku akan menyuruh orang kepercayaan-ku untuk mencari informasi tentang pria itu, karena sebenarnya aku juga tidak terlalu mengenalnya," sahut Damiano. Setelah itu, mereka kemudian mengakhiri perbincangan tersebut.
Selang beberapa saat, Matteo segera merapikan dirinya. Ia memakai kembali mantel hitam itu. Berdiri sejenak di dekat jendela, Matteo menatap nanar ke arah kamar Mia. Sementara Coco baru membuka matanya.
__ADS_1
“Hendak kemana, Amico?” tanya Coco seraya mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Matteo yang berjalan menuju pintu. Pria itu tidak menjawab. Ia berjalan lurus keluar dari bangunan itu dan melangkah dengan agak tergesa-gesa menuju kedai Mia. Di sana terlihat gadis itu sedang sibuk melayani pelanggan bersama Francesca. Kedai terlihat ramai, tetapi Matteo tak peduli lagi. Hanya Mia tujuannya saat itu.
Jarak mereka kini semakin dekat.
Mia yang tengah menyuguhkan menu pada pelanggan dengan posisi membelakangi Matteo, sama sekali tak menyadari kehadiran pria rupawan itu di belakangnya, hingga lengan Mia ditarik begitu saja oleh Matteo dan memaksanya untuk membalikkan badan. Tanpa permisi, Matteo mencium bibir Mia begitu saja.
Gadis itu tak sempat mengelak, hangat bibir Matteo seakan menghipnotisnya untuk beberapa saat. Mia sempat membalasnya. Ia terbawa perasaan. Rasa rindu menguasai dirinya dan membuatnya seakan hilang kontrol. Tentu saja pemandangan itu menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kedai, termasuk juga Francesca yang hanya bisa ternganga.
Mia begitu terhanyut dengan sentuhan Matteo. Beberapa saat kemudian, logikanya kembali hadir. Didorongnya tubuh Matteo hingga pria jangkung itu mundur beberapa langkah. “Apa yang kau lakukan, Theo? Valentino sebentar lagi akan datang,” protes Mia tegas.
“Aku tak peduli lagi, Mia! Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu!” kalimat Matteo terdengar penuh penekanan.
Mia menggeleng pelan. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. “Sudah terlambat, Theo! Seharusnya kau mengucapkan itu ketika aku mendatangimu di Brescia! Sekarang, aku akan menikahi Vale. Terimalah kenyataan!” tolaknya.
“Sejak kecil, mendiang padre selalu mendidikku untuk tak pernah berhenti mengejar keinginanku. Kali ini pun aku juga tidak akan berhenti, Mia!” tegas Matteo.
“Begitukah, Theo? Betapa egoisnya dirimu! Kau yang menolak dan mempermalukanku! Kali ini, kau juga yang memintaku untuk menerima cintamu! Apakah kau tak peduli sedikit pun akan perasaanku?”
“Justru aku sangat peduli pada perasaanmu, Mia! Karena itulah aku melarangmu untuk menikahinya!” balas Matteo tegas. Suara mereka begitu nyaring, hingga siapa pun di kedai itu dapat mendengarnya dengan jelas.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Matteo. Ia hanya terdiam. Entah apa yang harus ia katakan kepada Mia. Sebuah janji lagi supaya Mia bersedia menunggunya sampai Matteo menuntaskan kasus pembunuhan kedua orang tuanya, atau membawa gadis itu dengan risiko bahaya yang mungkin akan menghampirinya?Cukup lama Mia menunggu Matteo berbicara, sampai Valentino datang memasuki kedai dan menghampiri mereka.
“Apakah ada masalah, Mia? Kenapa pria ini ada di sini? Apakah ia menyakitimu lagi?” Valentino berdiri di depan Mia dan menghadap kepada Matteo.
“Tidak apa-apa, Vale. Dia ada keperluan di sekitar sini. Aku sekalian mengabarkan tentang pernikahan kita,” jawab Mia menenangkan Valentino.
Rahang Matteo terlihat mengeras. Ingin rasanya ia memukuli seseorang atau sesuatu, tapi ia tahan. Matteo hanya mengepalkan tangannya.
“Ah, kebetulan. Kedatangan Matteo memberikanku sebuah ide. Bagaimana jika kita undang ia ke pernikahan kita?” cetus Mia.
“Pernikahan kita masih lama, Mia. Sekitar dua bulan lagi, setelah kita wisuda,” ujar Valentino.
“Aku berpikir untuk memajukakn tanggal pernikahan kita. Aku ingin kita sudah resmi menjadi suami istri minggu depan,” sahut Mia dengan entengnya.
“Benarkah, Mia?” tanya Valentino yang terperanjat sekaligus bahagia. Binar-binar bahagia terpancar jelas di matanya.
__ADS_1
Sementara Matteo juga tak kalah terkejutnya. Ia sama sekali tak menyangka jika Mia akan mengambil keputusan seperti itu. Rasanya seperti ada sebongkah batu besar yang jatuh dan menimpa dirinya, menghimpit dadanya hingga ia tak mampu bernapas. “Katakan sekali lagi, Mia!” desis Matteo.
“Aku ingin mengajukan tanggal pernikahan kami,” tegas Mia.
Sudut bibir Matteo membentuk senyuman. Senyum sinis yang terlihat getir. “Jadi, ini keputusanmu?” tanyanya sekali lagi.
“Ya!”jawab Mia singkat. Wajahnya mendongak menatap mata abu-abu Matteo.
“Baiklah, jika memang itu yang kau mau,” kalimat terakhir dilontarkan Matteo sebelum ia membalikkan badan dan meninggalkan semua yang memandang ke arahnya. Langkahnya masih terlihat tegap dan gagah, khas seorang Matteo. Kehilangan yang bertubi-tubi tak jua membuatnya lemah. Tak ada pilihan lain bagi Matteo selain melangkah maju.
Sedangkan Mia, ia memandang punggung itu hingga menghilang dari pandangannya. Rasanya begitu menyesakkan. Seharusnya ia berbahagia atas rencana pernikahannya, bukannya menahan duka seperti itu.
“Kau baik-baik saja, Mia?” Valentino menyentuh bahu tunangannya dengan lembut. Namun, tak disangka Mia mengelak dari sentuhan tangan Valentino. Gadis itu memundurkan badan sambil bersedekap. “Maaf, Vale. Aku ingin sendiri sekarang,” gadis itu berlalu dari hadapan Valentino tanpa menunggu jawaban pemuda itu. Mia berniat menenangkan dirinya di gudang kedai, tempat dulu ia menyembunyikan Matteo. Tak dapat dipungkiri, perasaan Valentino terasa sakit mendapat perlakuan seperti itu dari Mia.
“Berilah kakak-ku waktu, Vale. Mia perlu menjernihkan pikirannya,” ujar Francesca yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Valentino.
Mia sudah hendak memasuki gudang ketika ponselnya berdering. Dilihatnya nama sang ayah tertera di layar. Mia segera menjawab panggilan itu. “Ada apa, ayah?” tanyanya.
“Kemarilah, Mia. Datanglah ke rumah sakit. Ajak Dani dan Francy juga,” nada bicara ayahnya terdengar aneh, seperti seseorang yang baru saja menangis.
“Ayah? Apa ada sesuatu yang terjadi?” perasaan cemas dan was-was semakin menyerang Mia.
“Datang saja. Ibu menunggumu,” tutup Mr. Gio.
__ADS_1