
Keesokan harinya, Mia sudah mulai berkemas. Ia dan yang lainnya akan segera meninggalkan Kastil Coradeo pada hari itu. Apa yang terjadi semalam, telah membuat ibu satu anak tersebut tak dapat tidur dengan nyenyak. Rasa takut dan gelisah terus mengusik nuraninya. Ia juga tak habis pikir karena dapat melakukan hal seberani itu.
Mia terus membereskan semua barang-barangnya dengan pikiran yang tak fokus. Angannya terbang ke sana-kemari tak tentu arah, hingga ia pun seperti tidak sedang berada di dalam kamar saat itu. Setelah selesai dengan segala macam isi koper, Mia mulai merapikan dirinya. Namun, ketika tengah bersiap-siap pun, Mia tampak begitu gelisah. Raut wajahnya masih terlihat tak berseri sama sekali.
Tak ingin gangguan kecemasan sang istri kambuh lagi, Matteo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Mia, segera menghampiri wanita yang sangat ia cintai itu. Matteo meraih tubuh ramping sang istri dan memeluknya dengan erat. “Tenangkan dirimu, Sayang. Semua akan berlalu dengan cepat. Segalanya akan baik-baik saja,” ucap Matteo pelan. Ia bermaksud untuk menenangkan keresahan Mia.
“Aku takut, Theo. Entah bagaimana tanganku sanggup melakukan hal sekeji itu?” Mia yang sejak tadi mencoba untuk kuat, kini mulai terisak dalam pelukan Matteo yang segera membelai lembut rambutnya. Keresahan yang kian menyeruak tak dapat Mia sembunyikan. Ia tidak bisa menjadi setenang Matteo dalam menghadapi situasi seperti itu.
“Tenanglah, Cara mia. Sudah kukatakan tak akan terjadi apapun padamu,” bujuk Matteo. Ia terus berusaha menenangkan Mia. "Kita sudahi urusan yang berkaitan dengan Adriano D'Angelo cukup sampai di sini. Jangan membawa keresahanmu ke Casa de Luca," bujuk Matteo lagi.
“Aku bisa terhindar dari hukuman penjara, Theo. Namun, Tuhan menyaksikan dosa besar yang telah kuperbuat, dan hal itu sesuatu yang tak mungkin dapat aku hindari,” Mia tetap terlihat resah. Ia begitu menyesal atas apa yang telah dilakukannya terhadap Adriano, terlebih ketika dirinya teringat pada perhiasan emas putih yang menghiasi sebelah kaki Miabella. Bayangan wajah Adriano kembali hadir. Tampak dengan jelas ketika pria itu tengah meringis karena menahan rasa sakit akibat timah panas yang Mia lesatkan dari pistol milik pria itu sendiri.
“Oh, Sayang. Lihatlah, aku. Entah berapa banyak nyawa yang telah hilang oleh kedua tanganku ini. Namun, selama kita berusaha untuk menjadi lebih baik dan menebus segala dosa, aku rasa Tuhan akan dapat mengampuni sebesar apapun kesalahan yang telah kita perbuat,” jelas Matteo dengan lembut.
“Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu, Theo?” Mia terdengar keheranan di sela segala rasa gelisahnya.
“Kau lupa bahwa saat ini aku sudah menjadi seseorang yang cukup religius? Kau yang mengajariku untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan aku melakukannya dengan senang hati. Kujalani semuanya agar bisa menjadi seseorang yang jauh lebih baik, Cara mia,” Matteo mengendorkan pelukannya. Ia lalu mengecup kening Mia dengan penuh perasaan.
__ADS_1
“Sekarang, tenangkan dirimu dan bersikaplah yang wajar. Jangan sampai orang-orang yang tak perlu tahu, menjadi curiga dan justru menjadi tahu dengan apa yang telah kau lakukan, Sayangku,” saran Matteo lagi yang kembali berbalas sebuah anggukan setuju dari Mia.
“Omong-omong, kapan kedua saudarimu akan mengembalikan putri kita?” tanya Matteo yang dari tadi tak melihat keberadaan Miabella di kamar, berhubung balita itu tengah diajak main oleh Daniella dan juga Francesca.
“Sampai aku selesai bersiap-siap, Theo,” jawab Mia dengan seutas senyuman di wajahnya.
“Sebaiknya segera kujemput. Rasanya aku benar-benar tidak tahan jika tak melihat Miabella meski sebentar saja,” ujar Matteo. Sebelum keluar dari kamar, ia menyempatkan diri untuk memberikan ciuman mesranya kepada Mia. “Aku harap D’Angelo merupakan pria terakhir yang pernah merasakan manisnya bibirmu selain diriku,” ucap Matteo sesaat setelah ia merasa puas menikmati ciumannya bersama Mia. Sedangkan Mia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman sambil mengusap bibir Matteo dengan ibu jarinya.
"Tak akan ada pria lain lagi, Theo. Aku tak sanggup menghadapi kecemburuanmu. Kau sangat menakutkan ketika sedang marah," ujar Mia membuat Matteo kembali merangkulnya dengan mesra.
"Seandainya mr. Gio masih ada, aku juga pasti akan cemburu padanya. Karena kutahu bahwa kau sangat mencintai ayahmu, bahkan mungkin jauh lebih besar dari rasa cintamu padaku," celoteh Matteo diiringi tawa bernada candaan. Sikap yang seketika membuat Mia membalasnya dengan sebuah cubitan pada pinggang pria itu.
“Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kau sudah merasa lebih tenang?” Damiano berhenti sesaat di samping helikopter yang akan ditumpangi Mia.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak, Paman,” Mia tersenyum samar seraya mengusap kepala Miabella.
“Syukurlah. Semua akan baik-baik saja, Nak. Jangan khawatirkan apapun, karena aku dan anak buahku sudah mengatur dan membereskan semuanya. Seperti inilah kehidupan dalam dunia kami. Darah dan peluru bukan lagi sesuatu yang aneh. Kau seharusnya sudah memahami hal itu,” tutur Damiano lembut. Seperti biasa, pria itu selalu hadir dengan sikap bijaksananya. Damiano kemudian mengalihkan pandangannya kepada Matteo yang tengah bersiap dengan kemudi helikopter.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ia segera berlalu menuju helikopter yang akan ditumpanginya.
Siang itu mereka kembali ke Casa de Luca, kecuali Daniella dan Marco yang memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke Pulau Sardinia.
Tak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk tiba di kota Brescia. Helikopter yang Matteo kemudikan telah mendarat dengan selamat di landasan Casa de Luca. Semua penumpang segera turun. Miabella pun rupanya terbangun. Balita cantik itu terlihat senang saat melihat baling-baling dari helikopter yang mulai berhenti berputar.
Tanpa banyak bicara, Mia segera membawa putri kecilnya masuk dan menuju ke kamar. Ia ingin merebahkan dan menenangkan dirinya di sana.
Sedangkan Matteo dan Coco juga tak banyak bicara, meski sikap mereka terlihat jauh lebih tenang daripada Mia. Bagi kedua pria itu, hal seperti semalam sudah bukan merupakan sesuatu yang baru lagi.
“Jangan khawatir, Cara mia. Semuanya akan baik-baik saja,” selalu kata -kata seperti itu yang Matteo tekankan kepada sang istri, bahkan hingga waktu terus berlalu.
Bulan demi bulan mereka jalani tanpa terasa. Tak ada kabar yang terdengar dari tragedi kelam pada malam itu di Kastil Coradeo. Sebuah kejadian memilukan yang telah menimpa Adriano D’Angelo. Hal itu dapat membuat Mia sedikit bernapas lega, meskipun tak sepenuhnya menenangkan hati dan pikiran wanita dua puluh enam tahun itu. Mia pun menyibukan dirinya dengan Miabella yang sudah semakin aktif.
“Persiapkan dirimu, Sayangku. Kita akan memulai rencana perjalanan pertama dengan tujuan kota Venice. Marco dan Coco pun akan bergabung, jadi kita akan beramai-ramai ke sana. Bagaimana menurutmu?” Matteo yang baru keluar dari kamar mandi, segera naik ke tempat tidur. Ia memandangi wajah cantik Miabella yang sudah tertidur lelap. “Putri kita semakin cantik. Semoga aku bisa melihat wajahnya hingga ia dewasa nanti,” harap Matteo tanpa melepaskan tatapannya dari balita berambut cokelat itu.
“Memangnya kau hendak ke mana, Theo?” tanya Mia yang saat itu baru selesai membersihkan riasannya. Ia lalu melangkah ke dekat tempat tidur dan duduk di sisi kiri Miabella. Balita itu tak ingin tidur sendiri di dalam boks. Ia selalu terlelap jika tidur di atas ranjang orang tuanya, menjadi penyekat antara Mia dan juga Matteo.
__ADS_1
"Aku tak akan ke manapun. Sebisa mungkin diriku selamanya ingin tetap bersama kalian berdua, atau barangkali kau ingin memberikan Miabella seorang adik, Sayang?" tawar Matteo dengan tawa geli, karena saat itu Mia tampak melotot tajam kepadanya. Bukan tak ingin menambah momongan, tetapi Mia masih terbayang pada saat dirinya memasuki masa ngidam yang terasa cukup menyiksa.