Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Dolce Legame


__ADS_3

Daniella sudah terbangun ketika Marco masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan. Satu mangkuk sup krim keju, ia letakan di atas meja sebelah tempat tidur. Marco kemudian duduk tepat di dekat gadis yang sedari tadi memperhatikannya. Tanpa rasa canggung, pria itu merengkuh pundak Daniella, hingga gadis tersebut beringsut semakin mendekat dan bergelayut di dalam dekapannya.


Marco kemudian mengecup lembut kening Daniella. Sementara gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh pria berwajah kelimis tersebut. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Marco sambil mengusap-usap lengan Daniella.


“Seperti yang kau lihat. Aku tidak apa-apa. Rasanya membosankan selalu menjadi korban penyekapan,” jawab Daniella pelan. Ia memainkan kancing kemeja Marco seperti seorang anak kecil.


Marco kemudian menyentuh dagu gadis itu hingga Daniella sedikit mendongak. Sebuah ciuman hangat ia berikan kepada gadis berambut pirang tersebut. Sedangkan Daniella terlihat begitu menyukainya. Namun, tak berselang lama ia meringis pelan. Di sudut bibir gadis itu terdapat luka memar yang sangat jelas akibat tamparan keras Sergei padanya.


“Apakah benar-benar Alex yang melakukan ini padamu?” tanya Marco sedikit ragu. "Sejujurnya, aku memikirkan hal lain. Entah kenapa aku merasa jika kau tengah menyembunyikan sesuatu dari kami semua, tapi aku juga tak yakin apa itu," ujar Marco lagi.


Daniella tak langsung menjawab. Ia tahu jika Marco pasti tengah mencurigai sesuatu. Namun, Daniella pun tak dapat berbicara dengan jujur karena ia sudah berjanji kepada Adriano yang telah membawanya pergi dari sekapan Sergei. Pada akhirnya, Daniella memaksakan diri untuk mengangguk. “Alex memang sudah terbiasa berbuat kasar terhadapku sejak dulu, karena itulah aku memutuskan untuk pergi dan menjauh. Kesabaranku juga ada batasnya,” terang gadis itu pelan. Sorot matanya terlihat memancarkan sebuah keraguan bercampur rasa sesal.


“Mulai sekarang ia tak akan berani melakukan hal seperti itu lagi padamu. Aku bersumpah!" ucap Marco yakin seraya kembali mengecup lembut kening Daniella.


“Kenapa bukan kau saja yang menemukan dan membawaku pulang?” sesal Daniella.


“Aku terus berkeliling Roma dari semenjak tiba di sini dan berharap dapat menemukan sesuatu, tapi nyatanya tidak sama sekali. Aku senang karena saat ini kau sudah kembali,” Marco kemudian menyentuh luka lebam di sudut bibir Daniella. “Kau gadis yang kuat dan pemberani. Luka kecil seperti ini tidak ada artinya untukmu. Iya, kan?” hiburnya membuat Daniella tersenyum lembut.


“Dengar, kapan-kapan aku ingin mengajakmu lagi ke arena balap. Itu juga jika kau mau,” ujar pria itu lagi.


“Ya, tentu saja aku mau. Itu sangat menyenangkan,” balas Daniella terlihat jauh lebih bersemangat.


“Baiklah, sekarang sebaiknya kau makan dulu. Mia sudah memasak untukmu. Apa perlu kusuapi?” tawar Marco membuat Daniella tersipu. Tanpa banyak bicara, pria itu segera meraih mangkuk berisi krim sup tadi yang kebetulan masih hangat. Ia lalu mengelap sendoknya dengan tisu dan mulai menyuapi Daniella.


“Kau tahu, Dani? Ini adalah pertama kalinya bagiku melakukan hal seperti ini pada seorang gadis,” ucap Marco seraya menatap Daniella untuk sesaat. Setelah itu, ia kembali menyuapi gadis yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata yang terlihat berbeda.


“Apakah aku istimewa bagimu, Marc?” tanya Daniella.

__ADS_1


“Aku rasa ... memang begitu,” sahut Marco diiringi tawa pelan. “Theo memintaku untuk tetap di sini selama beberapa hari. Mia ingin agar aku dapat menjagamu dan Francy, sementara mereka akan kembali sore ini,” tutur Marco. “Aku harap kau dan Francy tidak keberatan dengan hal itu,” lanjutnya.


Bukannya protes, Daniella justru terlihat sangat bahagia atas keputusan tersebut. Senyum lebar terlukis di wajahnya dengan begitu sempurna. Tentu saja ia menyukai jika Marco ada di sana. “Aku sangat senang mendengarnya, Marc. Dengan begitu, aku bisa melihatmu setiap hari,” ucap Daniella tanpa malu-malu.


Marco menghentikan suapannya. “Benarkah itu, Dani? Memangnya kenapa jika kau bisa melihatku setiap hari?” godanya seraya tertawa.


“Karena aku tidak perlu merindukanmu jika ada di sini,” jawab Daniella sambil menunduk.


“Kenapa kau merindukanku?” kejar Marco lagi. Tangannya menyentuh dagu Daniella dan mengangkatnya, sehingga tatapan mereka saling beradu.


“Kau tebak saja sendiri, Marco,” Daniella mulai kehabisan kesabaran dan merebut mangkok sup dari tangan pria klimis itu. “Aku kelaparan dan kau malah menggodaku,” sungutnya sembari memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya.


Tak disangka, Marco malah terbahak melihat ekspresi Daniella. “Ya, sudah. Makan saja sendiri. Aku tidak perlu repot-repot menyuapimu,” candanya.


“Kau sungguh menyebalkan!" gerutu Daniella membuat Marco makin terbahak, tetapi tangannya masih sempat merebut mangkuk dari pegangan gadis berambut pirang itu. Ia kembali menyuapi Daniella dengan telaten.


“Aku yakin bahwa sekarang diriku sedang jatuh cinta,” ujarnya santai sambil tetap menyuapi Daniella.


“Tentu saja padamu, Bodoh!” seru Marco pelan dengan keheranan. Tak disangkanya jika Daniella sama sekali tak peka.


“Selama ini kau tak pernah mengatakannya padaku. Sikapmu juga selalu penuh tanda tanya,” bantah Daniella.


“Penuh tanda tanya? Setiap hari aku meneleponmu saat kita jauh. Kita juga sering bercinta saat bertemu. Kau pikir kenapa aku mau melakukan itu jika aku tidak jatuh cinta padamu?” ungkap Marco dengan nada kesal.


“Bukannya pria sepertimu sudah terbiasa kencan satu malam?” Daniella masih saja tak mau kalah.


“Astaga, Dani! Buruk sekali penilaianmu padaku," ucap Marco sendu. Akan tetapi, hanya sepersekian detik, mimik mukanya berubah dari sendu menjadi kembali ceria.

__ADS_1


“Akan tetapi, yang kau katakan itu ada benarnya. Awal ketika aku mengajakmu balapan itu, aku belum merasakan sesuatu yang aneh, sampai kau menciumku,” tutur Marco.


“Itu bukanlah ciuman pertamaku, tapi entah kenapa rasanya seperti kaulah satu-satunya yang pernah melakukan itu,” imbuhnya.


“Astaga, berlebihan sekali kau, Marc. Kau seperti remaja putri yang baru merasakan jatuh cinta,” ledek Daniella. Ia berkali-kali mendorong pundak kokoh Marco yang duduk di hadapannya.


“Kau boleh menganggapku bercanda, Dani. Akan tetapi, inilah perasaanku yang sejujurnya,” Marco meletakkan mangkuk supnya, lalu beralih pada jemari lentik Daniella. Ia menggenggam tangan gadis cantik itu erat-erat.


“Aku sangat berharap kau mau menungguku. Akan kupantaskan diriku untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik. Lalu, ketika saat itu tiba ....” Marco tak melanjutkan kalimatnya. Ia berhenti begitu saja, kemudian merogoh sesuatu dari saku kemejanya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Marco mengeluarkan benda berbentuk kotak persegi yang dilapisi beludru berwarna merah marun.


“Apakah itu seperti yang kupikirkan?” lirih tanya Daniella.


Marco tak segera menjawab. Ia hanya tersenyum lebar dan turun dari tepian ranjang, kemudian berlutut di depan Daniella.


“Apa yang kau lakukan, Marco?” Daniella susah payah mengangkat tubuh pria itu, tetapi Marco tetap bergeming di tempatnya.


Ia malah membuka kotak beludrunya dan memperlihatkan sebuah cincin berlian. “Ini untukmu, Dani. Anggap saja sebagai pengikat agar kau tak lari,” ujarnya sambil menyematkan cincin itu di jari manis Daniella.


Sementara gadis itu hanya sanggup terpana dan mengagumi cincin pemberian Marco kemudian beralih pada wajah tampan nan klimis tersebut. “Kau tidak sedang bercanda, kan?” tanya Daniella meyakinkan apa yang Marco lakukan padanya.


“Aku berkata yang sebenarnya, Dani! Menikahlah denganku dan akan kuajak kau balapan tiap malam,” gurau Marco yang disambut tawa renyah Daniella.


“Apa kau yakin? Ingin menikah denganku?” kejar gadis itu, seakan tak percaya atas sikap Marco.


“Ya! Aku akan mempersiapkan diri dan mentalku untuk hari istimewa kita. Kuharap kau sabar menunggu,” pinta Marco penuh harap.

__ADS_1


“Entahlah. Aku terbiasa hidup bebas, tanpa aturan dan ikatan. Namun, saat kau mengucapkan kalimat sakti tadi, aku benar-benar tersentuh,” ucap Daniella penuh haru.


“Apakah itu artinya kau bersedia?” napas Marco mulai tak beraturan karena menahan gejolak dan debaran yang menggila di dadanya. Ia bangkit dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Dipeluknya dengan erat tubuh sintal Daniella. Kebahagiaan itu terpancar dengan jelas dari wajah keduanya.


__ADS_2