
Siang yang tidak terlalu terik di kota Venice. Saat itu, Mia baru selesai melayani seorang pengunjung kedai. Hari ini pekerjaannya tidak terlalu berat. Mia pun dapat duduk sejenak seraya melepas lelah.
Pandangannya tertuju ke depan. Pada kanal yang berada di dekat kedai milik sang ayah. Mia memerhatikan para penarik gondola yang terus hilir mudik tanpa lelah.
Beberapa minggu telah berlalu semenjak kepergian Matteo. Pria itu berjanji akan menemuinya lagi, tapi hingga saat ini nyatanya Matteo tak juga datang. Mia sadar, mungkin angannya terlalu berlebihan. Ia terlalu berharap sehingga melupakan semua logikanya.
Siapa Matteo? Mia bahkan tidak mengetahui seluk-beluk tentang pria itu dengan pasti. Ya, Matteo hanya pria asing yang kebetulan singgah di kedainya dan juga di hatinya. Ah, tidak! Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta dengan begitu mudah terhadap pria yang baru ia temui? Sementara ia mengetahui jika ada pria lain yang telah lama menawarkan perasaan indah itu untuk dirinya.
Valentino Diori. Pria baik dan rupawan itu telah lama memendam cinta yang tulus untuk Mia. Ia begitu sabar menanti jawaban “iya” dari gadis manis itu. Namun, hingga saat ini Mia belum juga dapat membuka hatinya untuk pria yang memiliki hobi menulis artikel tersebut.
Mia duduk termangu seraya menopang dagunya. Rasanya sangat membosankan. Diliriknya sang ayah yang tertidur sambil duduk di belakang meja kasir. Mia tersenyum kecil. Mr. Gio adalah harta terbesarnya kini. Meskipun pria itu sangat tegas dan terkesan galak, tetapi Mr. Gio sesungguhnya adalah pribadi yang sangat menyenangkan.
Makin lama, rasa kantuk mulai menyerang gadis itu. Perlahan, Mia memejamkan matanya. Namun, baru saja ia akan terhanyut dalam rasa kantuknya, Mia tiba-tiba tersentak.
“Hey, Mia!” seru seorang gadis belia yang tiba- tiba telah berada di dekat Mia. Ia menepuk pundak Mia hingga gadis itu seketika menoleh kepadanya.
Francesca telah berdiri di sana dengan wajahnya yang memang selalu terlihat dingin. Ia mengangkat sebelah alisnya karena merasa heran dengan sikap berlebihan yang ditunjukan oleh Mia. “Kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan, Mia?” tanya gadis delapan belas tahun itu.
Mia tampak gelagapan. Ia tidak segera menjawab. Rasa terkejut telah membuatnya menjadi bingung. “Francy? Tidak biasanya kau kemari?” Mia balik bertanya.
Francesca mengeluh pelan. Ia memutar kedua bola matanya seraya duduk di hadapan Mia. Gadis berambut panjang itu kemudian meletakan tas gendongnya di atas meja. Sesaat kemudian, ia melirik ke arah Mr. Gio yang tidak terganggu sama sekali. Pria itu masih terlelap.
“Aku ingin menemui ayah, tapi ternyata ayah sedang tidur,” Francesca kembali mengeluh pelan.
“Memangnya ada apa? Apakah ada sesuatu yang sangat penting?” tanya Mia.
__ADS_1
Francesca melihat ke sekeliling ruangan kedai. Ia sedikit mengangkat tubuhnya dan mencondongkannya ke depan, sehingga menjadi lebih dekat kepada Mia. Francesca pun menjawab dengan setengah berbisik. “Kau tahu tetangga kita yang baru pindah satu bulan yang lalu? Mereka yang membeli rumah nyonya Sachi,” tanya Francesca. Pertanyaannya telah membuat Mia berpikir untuk sejenak. Ia tampak mengingat-ingat sesuatu.
Sesaat kemudian, gadis bermata coklat itu tersenyum. “Keluarga Harrington?” gumam Mia dengan agak ragu. Namun, Francesca segera membenarkan jawaban dari kakak tirinya itu.
“Aku tidak terlalu mengenal mereka. Sepertinya mereka jarang sekali bertegur sapa dengan tetangga yang lain,” ujar Mia. Nada bicaranya masih terdengar ragu.
“Aku tidak peduli dengan hal itu. Kau tahu, Mia? Mereka memiliki seorang putra bernama William yang ternyata satu sekolah bahkan satu kelas denganku,” terang Francesca seraya menyibakan rambut lurusnya yang panjang.
“Lalu?” tanya Mia seraya mengernyitkan keningnya.
“Willie sangat tampan. Ia mirip dengan pemain sepak bola idolaku. Bola matanya berwarna abu-abu. Sangat indah,” terang Francesca lagi dengan antusias.
Mia memerhatikan sikap adiknya yang terlihat aneh. Gadis belia itu terlihat sangat riang. Matanya berbinar ketika menyebutkan nama William. Apakah seperti itu tanda-tanda seseorang yang tengah jatuh cinta?
“Apa kau menyukainya, Francy?” tanya Mia dengan polosnya.
Francesca kembali duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Gadis itu kembali memainkan bola matanya yang indah. Sesaat kemudian Francesca pun tersenyum kecil.
“Ia memintaku untuk mengenalkan kota Venice padanya. Bagaimana menurutmu? Apakah Willie melakukan hal itu karena ia menyukaiku atau karena kebetulan kami bertetangga?” Francesca meminta pendapatnya kepada Mia.
Mia terdiam dan berpikir. Ia sudah biasa membantu Francesca dalam mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Sesulit apapun itu, Mia dapat menjawabnya dengan tepat. Akan tetapi, untuk hal yang satu ini rasanya Mia tidak dapat memberikan jawaban dengan pasti.
“Entahlah, Francy. Aku rasa kau akan mengetahuinya saat nanti kau sudah semakin mengenalnya. Semoga saja ia tidak hanya memberikan harapan kosong padamu,” ucap Mia dengan raut wajah yang sedikit masam.
Francesca melipat kedua tangannya di dada. Wajah gadis itupun kembali datar seperti biasanya. Mungkin ia berharap, tapi kata-kata Mia telah sedikit menyentil harapannya yang belum pasti. Francesca kembali melirik Mr. Gio yang masih tertidur di belakang meja kasir. Niatnya untuk menemui sang ayah harus ia urungkan. Akhirnya gadis itupun bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Ya, sudah. Aku harus pulang. Jangan sampai ibu bertanya macam-macam karena aku pulang terlambat,” ucap Francesca seraya mencangklong tas gendongnya pada pundak sebelah kiri. Mia pun ikut berdiri. Setelah berpamitan, Francesca bergegas keluar dari dalam kedai. Namun, gadis itu kembali tertegun saat berada di luar kedai.
Francesca menatap pemuda yang saat itu tengah melangkah ke arahnya. Seorang pemuda tampan yang selalu terlihat rapi dan berwawasan. Siapa lagi jika bukan Valentino Diori.
“Hai, Vale. Apa kabar?” sapa Francesca dengan ekspresi yang biasa saja.
“Hai, Francy. Aku sangat baik,” balas Valentino. “Apa Mia ada di dalam?” tanyanya.
“Ya. Aku baru menemuinya. Di dalam juga ada ayahku. Meskipun ia sedang tidur, tapi itu bukan berarti ia tidak mengawasi kedainya. Insting ayahku sangat tajam, jadi berhati-hatilah!” pesan Francesca seraya berlalu begitu saja.
Valentino tidak mengerti dengan ucapan gadis itu. Ia hanya tersenyum kecil seraya mengernyitkan keningnya. Valentino pun tidak ingin terlalu ambil pusing. Ia akhirnya melanjutkan langkahnya dan masuk ke kedai.
Di dalam kedai, ia melihat Mia tengah membaca. Gadis itu tampak sangat fokus sehingga tidak menyadari kehadirannya di sana. Mia kembali terkejut setengah mati ketika Valentino menepuk pundaknya. Sedangkan Valentino hanya terkekeh melihat ekspresi terkejut yang ditunjukan Mia saat itu.
“Kenapa kau begitu serius, Mia?” tanya Valentino seraya duduk di hadapan gadis itu. Senyum menawan kembali terlihat di wajah tampannya.
Mia kemudian menunjukkan buku yang sedang dibacanya. Buku yang ia pinjam dari perpustakaan kampus.
“Kau mulai membaca sejarah Romawi? Luar biasa,” entah itu pujian atau justru sindiran untuk Mia. Selama ini, Mia memang suka membaca. Namun, ia tidak terlalu menyukai bacaan yang terlalu berat.
Mia menanggapi ucapan Valentino dengan sebuah senyuman manis. Baru saja ia membuka mulutnya, tiba-tiba Mr. Gio terbangun. Pria itu tampak mengucek matanya perlahan, seraya menghampiri sepasang muda-mudi itu.
__ADS_1