Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Il Conquistatore


__ADS_3

Matteo menghentikan mobilnya di depan bengkel tempat biasa ia merakit senjata. Dengan langkah tegap dan sorot mata yang begitu dingin, pria berambut gondrong itu masuk ke ruang bawah tanah bangunan sederhana tersebut. Di dalam sana, tampak Luigi dengan seorang rekannya yang tengah asyik berbincang. Melihat kedatangan Matteo yang tiba-tiba, Luigi segera turun dari meja yang sedang ia duduki.


"Tuan," sapa pria muda itu. Ia memberi hormat kepada Matteo, terlebih karena ia mengetahui jika Matteo kini telah diangkat menjadi ketua klan menggantikan sang ayah. "Sudah lama sekali Anda tidak datang kemari," ucapnya lagi.


"Siapkan senjata-ku sekarang juga!" perintah Matteo tanpa berbasa-basi, membuat Luigi mengernyitkan keningnya. Ia lalu melirik rekannya yang sejak tadi hanya terdiam.


"Apa Anda akan bertransaksi lagi, Tuan?" tanya Luigi. Ia dan seorang rekannya yang tadi, segera mengeluarkan senjata milik Matteo dari tempat penyimpanannya. Mereka kemudian mengemas senjata itu ke dalam tempat khusus.


"Tidak," jawab Matteo dingin. "Apa kau akan ikut denganku?" tawar Matteo sambil memeriksa senjatanya yang lain.


"Ke mana, Tuan?" tanya Luigi lagi. Ia tampak bersemangat.


Matteo mengeluarkan belati dari dalam sarungnya. Pisau itu tampak begitu tajam dan mengkilap terkena sorotan lampu. "Menyerang Roccia Nerra di tenggara Italia," jawab Matteo dengan seringai jahatnya.


"Jika Anda ingin saya turut serta, maka saya pasti ikut, Tuan. Merupakan suatu kebanggaan jika saya bisa mendampingi Anda. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya," ucap Luigi lagi.


Matteo menganguk. "Persiapkan dirimu!" titahnya. Matteo kemudian melirik rekan Luigi yang sejak tadi tidak berkata apa-apa. "Kau, berjagalah di sini! Jangan sampai lengah!" pesannya seraya meraih senjata dari atas meja. Matteo kemudian bergegas naik menuju mobilnya dan memasukan semua senjata yang akan ia bawa ke dalam mobil. Sementara Luigi mengikutinya dari belakang.


"Apa kita akan ke Casa de Luca terlebih dahulu, Tuan?" tanya pemuda itu seraya ikut masuk ke mobil.


"Iya. Kita akan berangkat dari sana," jawab Matteo datar. Ia sudah selesai memasang sabuk pengaman. Sesaat kemudian, ia pun menjalankan mobilnya untuk kembali ke Casa de Luca.


Di Casa de Luca, anak buah terpilih yang hendak ikut berangkat bersama Matteo telah bersiap. Mereka masih menunggu sang tuan yang sedang bersiap-siap. Siang itu, kebetulan Damiano tengah berada di pabrik penyulingan, sehingga pria tersebut tidak mengetahui rencana keberangkatan Matteo yang memang sangat mendadak.


Menjelang tengah hari, Matteo membawa beberapa anak buah pilihannya untuk berangkat menuju ke daerah yang menjadi tujuannya, yaitu bagian tenggara Italia. Ia tidak mengindahkan semua nasihat dari Damiano yang beberapa hari terakhir ini getol mencegah rencananya untuk membuat keonaran. Pria muda itu sudah dikuasai kemarahan yang sudah tak terbendung. Kehilangan yang bertubi-tubi, telah membuat dirinya terbakar kobaran api amarah yang sangat besar. Niatnya kini, hanya ingin membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya dan menundukan Klan Moriarty.


Matteo menuruti saran dari Antonio, yang menurutnya jauh lebih menantang karena dapat membuat semua amarah dalam dirinya menjadi tersalurkan. Ia sudah tidak sabar untuk melibas siapa pun yang ia pikir pantas untuk disingkirkan.


Selang beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil jeep yang ditumpangi Matteo dan ketiga anak buah pilihannya, telah tiba di tempat tujuan. Matteo segera melompat dari kendaraannya dan melangkah masuk menuju halaman rumput yang luas dan dikelilingi oleh pagar berduri. Ada plang bertuliskan peringatan bahwa pagar itu dialiri listrik bertegangan tinggi.


Matteo sudah mengantisipasi itu semua dengan menembakkan peluru karet berkali-kali ke arah engsel pagar hingga gerbang utamanya roboh.

__ADS_1


Dari dalam bangunan gedung berlantai tiga itu terlihat pergerakan. Beberapa orang tampak jelas dari jendela gedung. Mereka sedang menuruni tangga sambil menenteng senjata. Dengan segera, Matteo mengganti senapan berpeluru karet itu dengan pistol semi otomatis yang sudah terselip di pinggangnya sejak ia berangkat tadi.


Matteo melemparkan senapan itu ke atas rerumputan. Ia lalu menyambut mereka yang berhamburan ke luar gedung dengan tembakan bertubi-tubi, dan secara membabi buta.


Beberapa orang dari mereka roboh seketika, sementara beberapa orang lainnya memilih masuk kembali ke dalam gedung. Tanpa gentar, Matteo menerjang masuk, diiringi oleh ketiga anak buahnya yang hanya bisa mengikuti gerak Matteo dari belakang.


Di depan pintu, Matteo berteriak nyaring hingga suaranya menggema, “Aku Matteo de Luca! Aku datang untuk menawarkan kerjasama!” suara pria bermata abu-abu itu terdengar sangat lantang dan


Akan tetapi, tawaran itu dibalas dengan tembakan, yang membuat Matteo dan anak buahnya harus berlindung seraya menyingkir ke bagian samping ruangan. Mereka kemudian berlari merunduk menuju ke bawah tangga yang terletak tepat di depan mereka.


“Kerjasama macam apa yang ditawarkan dengan cara memasuki ladang orang tanpa permisi? Bahkan mereka berani menembaki ladang beserta pemiliknya,” terdengar suara seorang pria yang berasal dari atas kepala Matteo. Pria itu berdiri dengan gagahnya. Sorot matanya tidak setajam Matteo, tapi ia terlihat begitu licik.


“Kami hanya mengantisipasi saja, sebelum mereka menembaki kami!” dalih Matteo lantang. Namun, tak ada jawaban dari atas. Suasana pun hening dan berlangsung hingga beberapa saat. Beberapa detik kemudian, terdengar pria di atas kembali bersuara, “Kerjasama apa yang hendak kau tawarkan, Tuan de Luca?” tanyanya dengan nyaring.


“Membantu kalian untuk lepas dari klan Moriarty!” tegas Matteo dengan penuh percaya diri.


“Lalu, imbalan apa yang harus kami berikan untukmu?” tanya pria itu lagi.


Seketika tawa pria itu meledak, menggema di seluruh ruangan. “Sama saja artinya kami keluar dari kandang harimau, kemudian dengan sukarela menyerahkan diri ke kandang singa,” cibirnya.


“Baiklah. Apakah itu artinya kau menolak? Jika jawabannya adalah iya, maka aku terpaksa harus memaksamu untuk tunduk kepada kami!” tandas Matteo.


“Coba saja!” tantang pria itu seraya menembakkan senjatanya bertubi-tubi ke arah bawah tangga.


Matteo dan anak buahnya masih tetap bertahan untuk beberapa lama, hingga saat Matteo menyadari bahwa ia sudah kehabisan peluru. Matteo kemudian melangkah keluar dan menembakkan senjatanya. Peluru itu telak mengenai kepala musuh. Pekikan membahana dari berbagai arah yang muncul seiring robohnya pria tersebut.


“Ketua!” teriak mereka, membuat Matteo menyeringai. “Jadi, aku membunuh ketua mereka. Tidak ada lagi yang perlu diwaspadai,” ujarnya.


Matteo berjalan dengan gagah menaiki tangga. Dalam pikirannya, ketika seorang ketua organisasi mati, maka organisasi itu akan kehilangan penggerak dan tujuannya. Hal itu akan mempermudah pekerjaannya untuk mengambil klan kecil itu.


“Kalian tahu? Tidak ada satupun daerah konflik di muka bumi ini yang tidak mendapatkan suplai senjata dari Klan de Luca,” ucap Matteo pongah.

__ADS_1


“Kalian bisa bayangkan, berapa keuntungan yang kami dapat setiap hari,” imbuhnya. “Aku tidak akan segan-segan untuk membaginya dengan kalian asalkan kalian bersedia untuk bergabung dengan kami,” tawar Matteo.


Kini dirinya sudah sampai di puncak tangga. Matteo tiba di lantai dua. Di sana sudah menunggu wajah-wajah cemas dan ragu, memandang bingung ke arahnya.


“Kalian sudah tidak memiliki pemimpin. Rumah kalian sudah hancur. Kalian tidak memiliki tujuan lagi,” lanjut Matteo dengan seringainya.


Mereka pun akhirnya menyerah tanpa perlawanan.


Kemenangan di hari itu membuat keyakinan diri Matteo semakin membaik, sehingga ia merasa ketagihan untuk menaklukkan organisasi-organisasi kecil lainnya.


Setelah wilayah tenggara Italia, Matteo bergerak ke pesisir Napoli, beberapa hari kemudian. Dalam sehari, dua klan kecil di bawah kekuasaan Moriarty, berhasil ia taklukan. Tentu saja hal ini itu langsung terdengar sampai ke telinga Vincenzo yang masih berada di Amerika.


Segera, setelah ia mendapat kabar dari orang kepercayaannya, Vincenzo bergegas menghubungi seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi pemberi informasi sekaligus penasihat kepercayaannya.


“Bagaimana mungkin anak ingusan itu melakukan ini semua? Apa saja yang kau lakukan sampai-sampai kita kecolongan seperti ini?” hardik Vincenzo pada seseorang di seberang sana.


“Tenang saja, Tuan Moriarty. Semua masih berada di bawah kendali,” ujar pria itu.


“Berada di bawah kendali katamu? Matteo sudah merebut hampir separuh wilayah kekuasaanku!” sentak Vincenzo penuh emosi


“Begini saja, Tuan. Jika anda merasa tidak tenang di sana, anda bisa pulang dan berusaha untuk bernegosiasi secara baik-baik dengan Tuan Muda de Luca,” saran pria di seberang sana.


Vincenzo tercenung mendengar hal itu. Tak dapat dipungkiri bahwa sepak terjang Matteo sudah sangat mengganggunya. Jelas apa yang dilakukan pria itu adalah sekadar cara Matteo untuk membalas dendam kepada Vincenzo atas kematian Roberto dan Gabriella.


Vincenzo menggebrak meja demikian keras. Jalan satu-satunya yang bisa ia pilih sekarang hanyalah bertemu dengan Matteo dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin. “Martin!” teriaknya kemudian kepada salah seorang tangan kanannya.


Seorang pria paruh baya tergopoh-gopoh memasuki ruangan Vincenzo. “Anda memanggil saya, Tuan?” tanyanya.


“Segera siapkan tiket untuk tujuan ke Italia!” titah Vincenzo dengan tegas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2