
Mia segera kembali ke lantai atas. Dengan tergesa-gesa ia melangkah sambil mengangkat peignoir yang dikenakannya, agar tidak membuat kakinya tersandung. Saat itu, Mia langsung menuju kamar. Namun, betapa terkejutnya ia ketika dirinya mendapati Matteo tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. Pria itu menatap Mia dengan sorot mata yang aneh dan membuat dirinya menjadi salah tingkah. “Theo? Kenapa kau bangun?” Mia terlihat kebingungan. Ia berjalan ke arah tempat tidur, lalu kembali bersembunyi di bawah selimut.
“Kau dari mana?” tanya Matteo seraya melirik kepada Mia yang tidur dengan posisi menghadap padanya.
“Aku haus. Tadi pergi ke dapur sebentar untuk mengambil minum,” terang Mia. Ia berusaha untuk bersikap biasa di depan Matteo. Namun, Matteo memiliki insting yang sangat tajam. Ia tidak akan percaya begitu saja pada keterangan yang diberikan Mia.
“Kau yakin hanya ke dapur?” pancingnya. “Aku baru dari dapur, tapi aku tidak melihatmu ada di sana, Mia,” lanjut Matteo membuat Mia tercengang. Sedangkan Matteo masih memperlihatkan sikapnya yang sangat tenang. Tatapannya masih tertuju kepada sang istri yang kini terlihat sedikit cemas. “Katakan apa yang kau lihat?” tanya Matteo pelan seraya mengelus pipi wanita muda itu dengan lembut.
Sesaat kemudian, Mia bangkit dan duduk di dekat Matteo. Ia merasa ragu untuk bicara, tetapi Mia juga tak ingin menyembunyikan apapun dari sang suami. “Theo,” pelan dan agak ragu, Mia mulai membuka suaranya, “bisakah kau mengganti lampu-lampu di lorong menuju ke perkebunan dengan yang lebih terang?”
“Memangnya kenapa?” Matteo tak melepaskan pandangannya dari wajah cantik Mia yang masih terlihat resah.
“Tidak apa-apa, hanya agar suasananya jauh lebih terang saja,” jawab Mia pelan.
Matteo menggumam pelan. “Untuk apa kau ke sana malam-malam begini?” pancing Matteo lagi.
Mia terdiam sejenak. Ia masih terlihat ragu untuk bicara. Tak berselang lama, wanita berambut coklat tersebut memilih untuk masuk ke dalam dekapan hangat sang suami, membuat pria yang masih bertelanjang dada itu tersenyum simpul. Ia lalu mencium kening Mia dengan lembut.
“Tadi ... tadi aku melihat Sorella berbicara dengan seorang pria yang memakai topi fedora di lorong menuju perkebunan. Aku tidak tahu siapa pria bertopi itu, tapi ... entahlah Theo, aku merasa ada sesuatu yang janggal,” Mia terdiam untuk sesaat.
“Apanya yang janggal?” pancing Matteo lagi.
Mia mengangkat wajahnya dan menatap sang suami. Ia meletakan telapak tangannya di atas dada Matteo. “Mengapa mereka bertemu malam-malam begini di tempat itu? Apakah Sorella menyembunyikan sesuatu?” terka Mia.
__ADS_1
Matteo hanya tersenyum kecil. Ia tidak menanggapi ucapan sang istri. Matteo terdiam dan semakin mempererat dekapannya. Namun, beberapa saat kemudian Matteo kembali bicara. “Ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kau segera tidur, Sayang,” hangat ia mengecup pucuk kepala wanita bermata coklat itu. Mia tersenyum lembut. Ia mencoba untuk membuat dirinya merasa nyaman. Perlahan, wanita muda tersebut memejamkan kedua matanya.
Sementara Matteo masih duduk bersandar dengan tatapan yang semakin tajam menembus dinding. Ingatannya kembali pada beberapa saat sebelum Mia kembali ke kamar. Matteo terbangun dan tidak menemukan Mia di dekatnya. Ia lalu meraih celana tidurnya dan beranjak keluar kamar. Saat itulah, Matteo melihat Mia berjalan ke arah tangga menuju lantai dasar. Lama ia mengamati yang dilakukan sang istri di sana dari anak tangga sebelah atas, dan Mia tidak menyadari hal itu karena ia terlalu fokus memperhatikan Sorella yang tengah bicara dengan pria bertopi fedora tadi. Matteo bergegas kembali ke kamar, sebelum Mia menyadari kehadirannya di sana.
Matteo menghembuskan napas pelan, sengaja ia kosongkan pikiran saat itu dan ikut berbaring menghadap Mia. Setiap kali memandang wajah teduh itu, perasaannya selalu berubah tenang dan damai, hingga akhirnya ia kembali tertidur.
Tanpa terasa, hari berganti pagi. Semua penghuni Casa de Luca sudah kembali pada aktifitas masing-masing. Demikian pula Matteo yang sudah terlihat rapi dengan kemejanya.
Pria bermata abu-abu tersebut tengah termenung di dekat jendela ruang kerja dengan ditemani segelas minuman. Beberapa malam yang lalu, ia sempat berpapasan dengan Sorella yang mengatakan baru kembali dari menengok putranya. Lalu, malam tadi Mia melihat pelayan itu bertemu dengan seorang pria misterius.
Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Matteo. Ini tidak akan menjadi terlalu sulit baginya. Matteo seperti telah menemukan celah kecil bercahaya dalam kegelapan sebuah gua yang tengah ia susuri.
“Masuk!” seru Matteo dengan tidak terlalu nyaring ketika ia mendengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Tidak berselang lama, Damiano yang saat itu masih dikawal oleh Zucca masuk ke sana dan berdiri tidak jauh dari tempat Matteo.
Matteo menoleh dan menatapnya sesaat. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kepada pria berpostur tinggi besar di belakang Damiano. “Kau boleh menunggu di luar, Zucca,” ucapnya datar dan dingin. Zucca segera mengangguk dengan penuh hormat. Pria itu kemudian beranjak keluar dan menutup pintu ruang kerja tersebut rapat-rapat.
Sepeninggal Zucca, Matteo kemudian menghampiri Damiano dan meletakan gelas minumannya di atas meja kerja. Tanpa ragu, ia segera memeluk pria berkharisma tersebut. “Maafkan aku, Damiano,” ucapnya.
Damiano membalas pelukan dari putra asuhnya seraya menepuk-nepuk punggung Matteo. “Sudahlah, Theo. Aku mengerti dengan situasimu saat ini,” ucapnya dengan bijak. Damiano kemudian merenggangkan pelukannya. “Kita lupakan dulu urusan itu, karena aku ingin memberitahukan sesuatu padamu,” lanjutnya.
“Tentang apa?”
Damiano tersenyum seraya menggelengkan kepala. “Kau benar-benar fokus pada masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sampai-sampai kau melupakan rencana yang pernah kita bicarakan dulu sebelum kau menikah," ujar Damiano. "Ini tentang rencana pesta penyambutan, sekaligus perkenalan istrimu kepada para ketua organisasi lain yang bekerja sama dengan kita,” jelas Damiano seraya mengajak Matteo untuk duduk.
__ADS_1
“Oh, iya. Aku sudah mengatakan hal itu kepada Mia,” sahut Matteo.
“Ya. Semua persiapan di Castil Corradeo sudah selesai. Kau bisa mengajak Mia ke sana besok. Helikopter yang akan mengantar kita juga sudah siap,” terang Damiano.
“Aku akan memberitahu Mia tentang hal ini,” ujar Matteo. Ia kemudian menggaruk keningnya. “Apa kau nyaman dengan pengawal barumu, Damiano?”
Damiano tergelak mendengar pertanyaan dari Matteo. “Setidaknya ada yang mengambilkan air minum saat aku merasa haus di tengah malam,” candanya. Sesaat kemudian, pria dengan bola mata berwarna hijau itu menghentikan tawanya. “Lupakan dulu semua masalahmu, Anakku. Jangan biarkan Mia melihatmu dalam keadaan kacau seperti saat ini. Kau pasti sudah mengenalnya dengan baik. Mia wanita yang berhati lembut. Perasaannya sangat sensitif. Jangan membuatnya cemas,” saran Damiano.
“Kau benar,” gumam Matteo. Sejenak rautnya tampak sedang serius memikirkan sesuatu. “Sejak kami menikah, Mia selalu dihadapkan pada masalah yang bertubi-tubi. Tak sekalipun aku memberinya kesempatan untuk menyegarkan dan menenangkan pikiran,” ujarnya.
“Mulai dari peristiwa resepsi pernikahan kami yang berjalan kacau. Lalu, hingga detik ini pun ia selalu melihat diriku yang penuh emosi. Aku tidak ingin Mia melihatku seperti ini,” keluh Matteo lagi.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Damiano.
“Mungkin aku akan mengajaknya berbulan madu,” mata abu-abu Matteo berbinar memandang pria paruh baya itu. Seutas senyuman kecil muncul di sudut bibirnya yang dihiasi kumis dan janggut tipis.
“Tidak perlu besok, kita akan pergi ke pulau Elba sekarang!” tegasnya. “Aku ingin mengajaknya berlibur ke sana dan menunjukkan tempat favoritku pada Mia,” Matteo beranjak dari duduknya seraya menepuk pundak Damiano. Pria itu kemudian meninggalkan sang pengasuh sendirian di ruang kerjanya.
Matteo melangkah dengan penuh semangat menuju kamarnya. Pria rupawan itu bermaksud menemui Mia dan mengabarkan padanya akan ide bulan madu tersebut.
__ADS_1