Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Cincin Pengikat


__ADS_3

Sepeninggal Valerie, Mia segera diajak menuju kamar Daniella oleh sang adik, Francesca. Entah ada apa, tapi gadis bermata hazel itu terlihat sangat serius. Sesampainya di kamar Daniella, Mia mendapati kakak tirinya tengah duduk termenung di ujung tempat tidur. Segera dihampiri gadis berambut pirang tersebut. Mia pun duduk di sebelahnya. “Apa kau baik-baik saja, Dani?” tanya Mia pelan.


Daniella yang saat itu tengah duduk termenung, segera menoleh. Keresahan terlihat jelas dalam sorot matanya yang indah. Gadis berumur dua puluh enam tahun tersebut mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. “Astaga, Mia! Aku tidak tahu jika rasanya seperti ini. Kau tahu bukan bahwa sebentar lagi aku akan mencoba gaun pengantin dan ....” Daniella menatap Mia serta Francesca dengan bergantian. “Oh, Tuhan. Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Ini lebih menegangkan daripada saat pertama kali aku bercinta dengan seorang pria. Aku tidak percaya bahwa ....” Daniella kembali terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.


“Apa kau gugup, Dani?” tanya Mia lembut. Ia tersenyum manis kepada kakak tirinya tersebut.


Sementara Francesca mengambil kursi kayu dari sudut kamar dan meletakkannya di hadapan Daniella. Ia pun duduk di kursi tersebut.


“Kau sudah pasti merasa sangat gugup. Jangankan dirimu, aku juga bahkan merasakan hal demikian,” Francesca menimpali.


“Ya, itu adalah hal yang wajar. Aku juga dulu sama sepertimu, apalagi kau tahu sendiri jika pesta pernikahanku dua-duanya tak berjalan dengan semestinya. Hal itu bahkan meninggalkan kenangan buruk bagiku,” ucap Mia dengan wajah sendu.


“Bagi kita semua, Mia. Ingat, bukan hanya kau yang merasa kehilangan,” bantah Francesca seraya menggenggam jemari lentik Mia yang berhiaskan cincin indah dari Matteo.


“Ya, kau benar, Francy. Kita semua merasa kehilangan,” sahut Mia lirih seraya menunduk.


“Sudahlah, beberapa hari lagi akan menjadi hari bahagia kita semua. Jangan bersedih, kita harus semangat!” seru Daniella. Rasa gugup, takut, dan kesedihannya menguap setelah melihat dukungan yang luar biasa dari saudari-saudarinya.


Selang beberapa menit, pintu kamar Daniella diketuk oleh seseorang. “Itu pasti penata gaunku!” gadis itu melompat dari tepian ranjang dan berlari membuka pintu.


Seorang wanita terlihat membawa tumpukan gaun putih yang dikemas dalam plastik di lengan kirinya. Ia tersenyum hangat kepada Daniella dan semua orang yang ada di dalam kamar. “Buongiorno. Tuan Marco de Luca mengatakan bahwa Anda membutuhkan bantuan saya untuk mempercantik gaun pengantin Anda,” sapanya ramah.

__ADS_1


“Ya, ya, Anda benar. Masuklah,” Daniella mempersilakan wanita itu dengan penuh semangat.


“Grazie,” balas wanita itu sopan. Dengan cekatan ia mengukur tubuh Daniella dan menempelkan beberapa gaun pengantin yang ia bawa ke bagian depan tubuh molek gadis itu.


“Mana yang akan Anda pilih, Nona?” tanya wanita itu.


Daniella tampak berpikir untuk beberapa saat, sebelum memutuskan gaun pilihannya.


Wajah bahagia Mia dan Francesca mengiringi gerak Daniella yang mencoba semua gaun pengantin. Perasaan haru begitu menyeruak saat Daniella terlihat sangat cantik dan anggun.


"Semua gaun yang kau coba sangat indah, Dani. Kau tahu mengapa?" Mia merengkuh pundak Daniella yang saat itu masih terpaku di depan cermin. Daniella melirik kepada Mia yang meletakkan dagu di atas pundaknya. "Kau terlihat sangat cantik. Kau tak memerlukan lagi gaun mahal dan mewah, karena tanpa semua itu, Daniella sudah tampak benar-benar luar biasa," sanjung Mia. Ia mencoba untuk memberi semangat kepada saudari tirinya tersebut, membuat Daniella tersenyum dan mengangguk.


Selama ini, Daniella bukanlah seorang gadis lemah yang penakut. Ia selalu berani menghadapi apapun, termasuk saat dua kali menjadi korban penyekapan.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, hari pernikahan yang dinanti pun akhirnya tiba. Halaman luas Casa de Luca kembali akan menjadi saksi bisu janji suci yang diucapkan oleh sepasang pengantin.


Marco berdiri gagah di hadapan pendeta. Sejujurnya bahwa ia tak mampu menyembunyikan perasaan gugup yang saat itu mendera dengan luar biasa. Berkali-kali ia menoleh kepada Matteo dan Coco yang berdiri sejajar di sisinya. Terlebih saat ia melihat Daniella berjalan menuju altar, ke arahnya berada.


“Inilah saatnya, Marco. Kau menggadaikan kebebasanmu hari ini,” bisik Coco seraya terkekeh yang langsung dihadiahi sikutan oleh Matteo tepat di ulu hati sahabat kentalnya tersebut. Pria berambut ikal itu hanya meringis menahan nyeri. Sementara Marco sedang tak ingin menanggapi apapun ocehan yang masuk ke telinganya saat itu. Ia harus berkonsentrasi.


Gerak langkah Daniella semakin mendekat kepada Marco. Sesaat kemudian, tangan kanannya terulur dan segera digapai oleh pria berwajah klimis itu. Marco menyambut calon pengantinnya yang hari itu terlihat sangat berbeda dalam balutan gaun pengantin putih dan berhiaskan veil yang semakin mempercantik gadis tersebut.

__ADS_1


Dituntunnya Daniella dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut untuk berdiri sejajar dengannya, dan menghadap kepada pendeta yang telah siap melakukan pemberkatan.


Mereka dan semua tamu undangan yang hadir, khidmat mengikuti rangkaian acara hingga Marco dan Daniella sah menjadi pasangan suami istri.


Semua orang berbahagia di hari itu, termasuk Adriano dan juga Valerie yang turut menerima undangan. Mereka duduk di deretan bangku kedua, tepat di belakang tempat Mia duduk. Adriano tak henti-hentinya mengarahkan pandangan ke arah Mia yang saat itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pestanya. Wanita itu juga tempak begitu serius memperhatikan jalannya acara hingga selesai.


Kekaguman Adriano terhadap istri dari Matteo de Luca, tak pernah ada habisnya. perasaan itu tak juga sirna meskipun telah sekuat tenaga ia singkirkan dari dalam hatinya. Ada satu alasan yang tak orang lain ketahui, mengapa Adriano begitu tergila-gila kepada sosok seorang Florecita Mia. Namun, alasan itu tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun, termasuk Valerie yang saat itu mencuri-curi pandang kepada sang kakak angkat.


"Jaga pandanganmu, Moy brat!" tegur gadis bertato yang pada hari itu tampil jauh lebih rapi dari biasanya. Ia menyentuh lengan Adriano dengan sikunya, membuat pria bermata biru itu tersentak dan menoleh.


"Apa masalahmu?" bisik Adriano gemas karena Valerie telah mengusik kekhusyukannya dalam memikirkan Mia.


Valerie menahan tawa saat melihat ekspresi Adriano yang merasa terganggu karena ulahnya. "Aku melihatmu dari tadi. Pandangan mata penuh cinta untuk nyonya de Luca, oh ... astaga ...." Valerie terkikik geli saat menggoda kakak angkatnya. Sementara Adriano memilih untuk tidak menanggapi ocehan gadis itu. Ia membetulkan posisi duduk dan juga jas yang dikenakannya. Adriano kembali pada kharisma dan wibawa yang selama ini melekat dan menjadi ciri khas dari dirinya.


Setelah acara pemberkatan selesai, dilanjutkan dengan acara jamuan. Marco dan Daniella mendapat banyak hadiah ucapan selamat dari semua tamu yang hadir, hingga tiba saatnya ketika sang pengantin melemparkan bucket bunga yang dipegangnya.


Beberapa orang gadis yang menjadi pengiring pengantin, sudah siap menangkap bucket bunga tersebut. Dengan terpaksa, Francesca bergabung di antara para gadis itu. Namun, ketika bunga itu melayang ke belakang menuju para gadis, dengan sigap Coco menangkapnya. Postur tinggi besarnya tentu saja dapat dengan mudah menangkap bucket bunga tersebut, dan membuat para gadis tersenyum nakal padanya. Coco membalas lirikan dan senyuman nakal gadis-gadis itu dengan mengedipkan sebelah mata. Apa yang ia lakukan, tentu saja membuat Francesca segera memalingkan wajahnya.


Akan tetapi, dengan segera raut cemburu yang ditunjukkan Francesca seketika sirna, saat Coco mempersembahkan bucket bunga itu kepada dirinya. Francesca tersipu malu, terlebih ketika Coco juga menyodorkan sebuah cincin ke hadapannya. Sontak saja hal tersebut menjadi pusat perhatian semua tamu undangan. Francesca merasa malu dan salah tingkah. "Ricci, apa-apaan ini? Aku malu!" protes Francesca dengan setengah berbisik. Ia membantu Coco yang saat itu tengah berlutut di hadapannya, agar segera berdiri.


"Kenapa harus merasa malu? Ah, ya tentu saja aku akan malu jika kau menolakku di depan umum. Jadi, kumohon padamu Francesca Stellina Ranallo, agar kau bersedia untuk menerima cincin ini dan jadilah pendampingku selamanya. Karena setelah kau kuikat, maka dirimu tak akan pernah kulepaskan lagi. Itu janjiku," ucap Coco dengan pasti, membuat para wanita yang menyaksikan adegan manis tersebut seketika memegangi dada mereka karena merasa terkesan.

__ADS_1


Sebenarnya, Francesca belum merasa siap untuk sebuah ikatan seperti itu. Akan tetapi, senyum dan paras menawan Coco telah membuatnya begitu jatuh cinta. Ia pun tak kuasa untuk menolak cincin tanda pengikat yang Coco persembahkan kepadanya. Hari itu, ada dua kebahagiaan yang tercipta. Ada dua pasang hati yang akhirnya menemukan tempat untuk saling berlabuh dan berbagi cerita kehidupan di masa yang akan datang.


__ADS_2