Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Hot Arguments


__ADS_3

Dengan wajah lusuh, Mia memasuki halaman Casa de Luca pagi itu. Perasaannya semakin kacau ketika teringat akan sikap Adriano padanya. Pria itu telah membuat dirinya merasa tidak nyaman.


"Mia!" terdengar suara Damiano yang cukup nyaring dari teras rumah. Mia yang sejak tadi berjalan sambil menundukkan wajahnya, segera menoleh. Damiano berjalan ke arah wanita muda itu berdiri. "Mia, dari mana saja kau? Matteo sangat mencemaskanmu. Ia bahkan mencarimu semalaman dan baru kembali pagi ini," ujar pria itu.


Mia tak langsung menjawab. Ia menatap Damiano dengan raut aneh. "Theo ada di rumah sekarang?" tanyanya lesu. Damiano mengangguk dengan yakin. Tanpa banyak bicara, Mia melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju rumah. Ia meninggalkan pria itu begitu saja di halaman Casa de Luca, dengan ekspresi keheranan.


Sesampainya di dalam, Mia segera menuju kamarnya. Ia tahu jika Matteo pasti ada di sana. Namun, perkiraannya ternyata salah. Di dalam kamar itu tak ada siapa pun. Mia mengeluh pelan. Ia melemparkan tasnya begitu saja ke sofa. Setelah itu, Mia pun mengempaskan tubuhnya di atas kasur. Bayangan Matteo yang tengah berduaan dengan Camilla hadir lagi dalam ingatannya. Mia merasa begitu kesal dan ingin sekali berteriak untuk melampiaskan segala unek-unek di dalam hati.


Sesaat kemudian, wanita berambut cokelat itu bangkit dan memilih untuk berdiri di dekat jendela. Seperti biasanya, ia menatap hamparan luas perkebunan anggur milik keluarga de Luca. Mia pun mulai terhanyut dalam lamunannya, sehingga tak menyadari kehadiran Matteo di sana.


"Mia ...." Matteo langsung saja memeluk sang istri dari belakang. Ia tak peduli meskipun sikapnya telah membuat Mia terkejut setengah mati. "Dari mana saja kau?" tanya Matteo pelan. Ia semakin mempererat pelukannya, karena saat itu Mia berusaha untuk menghindar. "Diamlah! Biarkan aku memelukmu," ucap Matteo membuat Mia tak mampu menghindarinya. Ia pun terdiam dan membiarkan Matteo.


"Kenapa kau tidak pulang semalaman? Apa kau tak tahu jika aku sangat mencemaskanmu? Aku benar-benar ...." Matteo tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena saat terdengar bunyi ketukan di pintu kamar. Matteo mengeluh pelan. Ia lalu melepaskan pelukannya dari Mia dan berjalan menuju pintu.


Seorang pelayan berdiri dengan sikapnya yang terlihat begitu hormat. Ia menundukkan kepalanya dan berkata, "Maaf mengganggu, Tuan. Namun, ada tamu untuk Anda. Saya sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu," lapor pelayan tersebut.


"Iya," jawab Matteo datar. "Kau boleh pergi," lanjutnya. Ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Mia yang masih berdiri di dekat jendela. Matteo menghampiri sang istri dan mengecup rambut panjang Mia yang sedikit acak-acakan dari belakang. "Kita lanjutkan nanti. Sekarang beristirahatlah dulu," ucapnya seraya kembali mengecup rambut Mia, meskipun wanita itu tak meresponnya sama sekali. Matteo segera keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Sedangkan Mia masih melayangkan pandangannya pada halaman luas Casa de Luca.


Sesaat kemudian, Matteo telah berada di ruang tamu. Ia melihat seorang pria berdiri dengan posisi membelakanginya. Dari postur dan gaya pria itu, Matteo sudah dapat menebak jika pria tersebut adalah Adriano D'Angelo. Matteo pun berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Derap langkah Matteo begitu senyap, sehingga pria yang memang adalah Adriano tak menyadari kehadirannya di sana. Ia masih asyik memandangi sebuah foto berukuran besar, yang menampilkan wajah cantik Mia dalam balutan gaun pengantin indah dan elegant.


"Aku yakin kau tidak sedang menatap wajahku, Tuan D'Angelo," ucap Matteo dingin dan seketika mengejytkan Adriano. Pria rupawan itu segera menoleh, kemudian tersenyum.


"Tuan De Luca? Apa kabar?" sapa pria bermata biru tersebut. Ia mengulurkan tangannya dan mengajak Matteo untuk bersalaman, sementara Matteo hanya menatapnya dengan ekspresi tak bersahabat. Sesaat kemudian, barulah Matteo membalas jabat tangan Adriano. "Baik," jawabnya pelan.


"Anda dan Nyonya de Luca terlihat sangat serasi dalam foto itu," sanjung Adriano mencoba untuk berbasa-basi.


Sedangkan Matteo hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecut. "Karena itulah Mia dan aku menjadi suami istri," sahutnya dengan sinis. "Anda sudah menerima email balasan dari kami?" tanya Matteo.


"Karena itulah aku kemari. Sudah kukatakan jika aku akan menyempatkan mampir ke Brescia," jawab Adriano.


Matteo tak menanggapi ucapan pria itu. Setelah terdiam sejenak, ia kembali berkata, "Mari kita lanjutkan perbincangan di ruang kerja," ajaknya. Ia melangkah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Adriano mengikutinya. Ia terus mengekor sang ketua klan hingga tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna cokelat. Matteo membuka pintu itu dan masuk. "Silakan duduk, Tuan D'Angelo," ucap Matteo. Ia lalu mengambil dua buah gelas kristal dan mengisinya.

__ADS_1


"Terima kasih," Adriano duduk dengan gayanya yang terlihat begitu kalem dan penuh wibawa. Ia lalu menerima minuman yang Matteo sodorkan padanya. Adriano pun meneguk minuman itu.


Sementara Matteo duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempat Adriano berada. "Bagaimana Tuan D'Angelo? Anda sudah mempelajari email yang kami kirimkan?" Matteo menatap lekat pria di hadapannya.


"Ya. Sudah," jawab Adriano. Pria itu mengangguk pelan. "Aku rasa tidak ada masalah selama rencana kerja sama kita berjalan dengan baik. Bisa kupastikan jika ini pasti akan sangat menguntungkan bagi kita berdua," ujar Adriano dengan yakin dan penuh semangat. Ia kembali meneguk minumannya.


“Pengiriman barang akan kami lakukan pada akhir bulan ini,” ujar Matteo. “Kami juga tengah membuat desain baru, khusus untuk club-club Anda yang baru dibuka di Italia,” jelasnya.


“Aku merasa sangat terhormat atas perlakuan khusus ini,” tutur Adriano seraya menyentuh dada.


“Biasa saja, Tuan D’Angelo. Dalam bisnis, kita harus terus melakukan pembaruan, sekalipun itu hanya sampul produk,” ucap Matteo dengan nadanya yang dingin dan datar.


“Ah, ya,” Adriano mengangkat telunjuk. Ingin ia mengungkapkan sesuatu pada Matteo, tetapi harus ia tahan karena ponselnya yang berdering. Adriano merogoh ponsel itu dari saku celana dan memperhatikan layarnya sesaat. “Maaf, Tuan. Aku harus menjawab panggilan ini,” ucapnya.


“Silakan,” Matteo menggerakkan tangannya lurus ke arah pintu sembari mengangguk.


Adriano bergegas keluar dari ruang kerja dengan menempelkan ponsel itu di telinganya. Ia tampak serius ketika sedang berbincang-bincang dengan seseorang lewat sambungan telepon tersebut. Cukup lama Adriano berdiri dan berbicara di lorong depan ruang kerja Matteo, hingga ekor matanya menangkap sesosok wanita yang telah mengganggu mimpi-mimpinya selama beberapa malam terakhir. Wanita yang tak lain adalah Mia juga tampak begitu terkejut atas kehadiran Adriano di sana. Mia yang awalnya hendak mencari Matteo di ruang kerja, segera mengurungkan niatnya dan membalikkan badan.


“Tunggu, Nyonya!” cegah Adriano. Ia berjalan mendekati Mia yang tertegun saat itu. Wanita cantik tersebut kemudian berbalik dan memandang Adriano penuh curiga.


“Aku sedang mengadakan pertemuan bisnis dengan suami Anda. Dengar, aku belum sempat meminta maaf. Aku mohon maafkan kelancanganku, Nyonya. Tolong jangan menghindariku,” pinta Adriano.


“Lupakan saja hal itu. Anggap tak pernah terjadi!” ujar Mia dengan suara tertahan. Ia sudah berniat untuk menghindari pria itu, tetapi Adriano tak menyerah. Ia segera menggenggam pergelangan tangan kiri Mia dengan erat.


“Aku tak akan berhenti sampai kau bersedia memaafkanku,” desak Adriano. Bertepatan dengan itu, Matteo keluar dari ruang kerjanya. Mata abu-abu Matteo melihat dengan jelas saat Adriano tengah memegang pergelangan tangan istrinya.


“Kumohon pergilah, Tuan D’Angelo,” Mia diliputi kegugupan. Ia paham benar betapa besar kecemburuan Matteo yang selalu ditujukan terhadap Adriano. Apalagi saat itu Adriano lancang mencengkeram pergelangannya.


Adriano terdiam untuk sesaat. Ia memandang Mia dan Matteo secara bergantian, lalu mengangguk pelan seraya melepaskan tangan Mia. “Baiklah, kalau begitu. Perbincangan tadi bisa kita lanjutkan via telepon saja, Tuan de Luca,” ucapnya seraya berlalu dari sana. Akan tetapi, Matteo tak menjawab. Sorot matanya tajam menghujam kepada Mia. Tak sedetikpun ia melepaskan tatapannya dari sang istri.


Beberapa saat yang terasa begitu lama bagi Mia. Baru kali ini dari semenjak ia pertama kali bertemu dengan Matteo, pria itu memandangnya tanpa ada kelembutan sama sekali. Hal itu telah membuat Mia merasa sangat tidak nyaman. Apalagi saat itu Matteo melangkah pelan ke arahnya dengan aura penuh intimidasi.


“Kenapa D'Angelo memegang tanganmu, Mia? Kenapa ia meminta maaf? Apa kalian sempat bertemu saat kau menghilang semalam?” cecar Matteo. Gilirannya kini yang mencengkeram pergelangan tangan istrinya erat-erat.

__ADS_1


“Sakit, Theo. Lepaskan,” ringis Mia.


“Apa yang kau lakukan semalam, Sayang?” ulang Matteo. Suaranya terdengar berat dan dingin. “Apa kau mencari sebuah pelarian dengan berbuat gila bersamanya? Kau tahu bukan jika aku sangat membenci pengkhianat?” geramnya.


Mia merasa sangat tersudut. Tuduhan Matteo benar-benar menyakiti hatinya. Spontan saja wanita itu menampar pipi Matteo dengan kencang, membuat pria itu tersentak dan terbelalak. Matteo mengusap pipinya perlahan sambil tetap melotot tajam pada Mia. “Aku bukan perempuan murahan seperti kekasihmu yang sengaja bertemu denganmu diam-diam, meskipun ia tahu kau telah beristri!” sentak Mia. “Bisa-bisanya kau menuduhku berkhianat, sementara kau lebih dulu mengkhianatiku! Kau juga menuduhku bermain gila dengan Adriano? Kau sungguh menjijikkan! Jangan-jangan kaulah yang bermain gila dengan wanita itu dan pura-pura menyalahkanku?”


“Asal kau tahu, Theo! Aku bertemu dengan Adriano saat ia melihatku berjalan tak tentu arah, setelah aku melihatmu tertawa mesra bersama Camilla di restoran itu! Kau tidak tahu, saat itu rasanya duniaku hancur seketika! Aku merasa bingung dan tak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya! Aku juga tak ingin pulang dan bertemu denganmu saat itu, sehingga aku menolak ketika ia hendak mengantarkanku ke Casa de Luca," tutur Mia.


"Adriano menawarkan tempat menginap. Namun, kau jangan salah paham karena ia sama sekali tidak menyentuhku. Ia bahkan menyuruhku untuk mengunci kamar dari dalam,” tutur Mia. Nada bicaranya mulai melunak.


Matteo hanya tertawa pelan menanggapi perkataan Mia. “Oh, luar biasa sekali. Aku baru tahu jika ternyata Adriano D'Angelo adalah seorang pria berhati malaikat. Itu artinya aku harus banyak belajar darinya," Matteo menanggapi penjelasan Mia dengan sebuah ucapan bernada sindiran. Sedangkan Mia juga bukanlah wanita yang bodoh. Ia paham betul dengan maksud dari nada dan cara bicara Matteo. Ia menatap pria itu dengan sorot penuh kekecewaan.


"Kau keterlaluan, Theo! Kau sudah menyakitiku!" nada bicara Mia kembali meninggi membuat Matteo semakin menajamkan tatapannya.


"Kau yang telah menyakitiku, Mia!" balas Matteo sama tegasnya meski nada bicaranya tak setinggi, seperti Mia tadi. "Kau tahu jika aku tidak pernah menyukai pria itu, dan kau malah menghabiskan malam dengannya!"


"Aku bukan dirimu, Matteo de Luca! Aku tidak akan melakukan hal serendah itu meskipun hanya dalam mimpi sekalipun!" sanggah Mia tegas.


"Persetan dengan semua pembelaanmu! Kenyataannya, aku melihat pria itu berani menyentuhmu di sini, di rumah ini, di depan mataku!"


"Kau dan Camilla pun sering bercinta di rumah ini!" Mia mulai terisak saat teringat pada ucapan Camilla beberapa hari yang lalu. "Ia sendiri yang mengatakannya padaku," lirihnya. "Aku berusaha untuk tidak peduli, tapi tetap saja aku tak bisa menghindar dari rasa sakit dan cemburu. Terlebih, kau masih bertemu dengannya secara diam-diam," Mia menatap lekat Matteo dengan kedua matanya yang sudah basah. "Kau bisa mengatakannya padaku saat kau akan pergi siang itu, tapi kau tidak melakukannya. Kau berbohong dan membiarkan aku mencari tahu sendiri ...."


"Karena kau pasti akan cemburu dan marah padaku jika kukatakan yang sebenarnya. Aku hanya ingin menghindari masalah denganmu. Lagi pula aku bertemu dengannya untuk urusan bisnis, bukan yang lain," kilah Matteo dengan nada bicara yang mulai melunak, terlebih saat ia melihat Mia menangis.


"Persetan dengan semua pembelaanmu!" kesal, Mia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Matteo sendirian.


🍒


🍒


🍒


Tinggalkan dulu yang sedang bertengkar, tengokin dulu novel keren ini👇👇👇

__ADS_1



__ADS_2