Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Ocean Waves


__ADS_3

“Aku ... aku ....” Mia berkata dengan terbata-bata. Sama halnya dengan Matteo, ia pun tak percaya bahwa dirinya akan melakukan tindakan seberani itu. Gemetaran tangan Mia memegang pistol. Setelah tersadar, ia segera membuang senjata tersebut dengan begitu saja. Mia bahkan tak tahu itu pistol milik siapa. Ia memungutnya di atas landasan ketika melihat Matteo yang tengah berada dalam bahaya. Saat itu, Mia mengira bahwa Adriano hendak membunuh suaminya.


“Bagaimana ini, Theo? Apakah ia mati? Ya, Tuhan. Aku membunuh seseorang. Aku berdosa, Theo! Ta-tapi, ia akan menghabisimu jika aku tidak segera membunuhnya,” raung Mia. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Matteo yang masih tertegun, segera menggeser tubuh Adriano. Pria itu tak bergerak sama sekali. Matteo kemudian merebahkan pria bertubuh tegap itu dengan hati-hati di sampingnya. Setelah itu, ia bangkit dan segera menghampiri Mia. Matteo memeluknya dengan erat. “Tidak apa-apa, Cara mia. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Bernapaslah,” Matteo mengusap lembut puncak kepala Mia sambil mengecup kening istrinya berkali-kali.


Bersamaan dengan hal itu, datanglah Marco dan Damiano. “Ada apa ini, Nak? Coco meneleponku dan memberitahukan bahwa kau berkelahi dengan Adriano,” Damiano tergopoh-gopoh mendatangi Mia yang masih terisak.


“Astaga!” Marco memilih untuk menghampiri tubuh Adriano, lalu mencengkeram kepalanya sendiri. “Bagaimana ini bisa terjadi, Theo? Bagaimana jika anak buah Adriano datang dan menyerbu kita. Ya, Tuhan. Aku belum siap untuk berperang,” Marco mengacak-acak rambutnya dengan gelisah.


“Tenanglah, semuanya! Mia tak sengaja melakukan hal itu! Ia hanya berusaha melindungiku!” tegas Matteo.


"Tidak, Theo. Aku sudah membunuh seseorang ... aku pembunuh. Aku seorang pembunuh,” racau Mia tak menentu. Ia terlihat begitu kacau.


“Cara mia! Tatap mataku! Kau bukan pembunuh!” sentak Matteo seraya memegang erat kedua lengan Mia.


“Sebaiknya kau bawa dulu istrimu ke kamarnya, Theo. Setelah itu, kembalilah kemari. Kita akan memikirkan jalan keluar untuk masalah ini,” saran Marco. Sesekali matanya melirik pada darah yang mulai menggenang di sekitar kakinya.


“Itu ide yang bagus,” ujar Damiano sambil menepuk punggung Matteo untuk memberinya semangat.


Matteo akhirnya mengangguk dan membantu Mia berdiri. “Ayo, Sayang. Apakah kau kuat berjalan, atau kau ingin kubopong?” tawarnya lembut.


Mia menggeleng lemah, “Antarkan saja aku pada Miabella," jawabnya dengan air mata yang terus mengalir deras dan membasahi pipinya.


“Baiklah,” dengan telaten Matteo menuntun istrinya kembali ke kamar. Di sana sudah menunggu Francesca, Daniella serta Coco. Mereka semua memasang wajah gelisah.


“Mia!” Francesca segera menghambur ke arah kakak tirinya itu lalu memeluk Mia dengan erat.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Daniella saat melihat raut Mia yang tak seperti biasanya.


“Tolong jangan bertanya apapun pada istriku. Biarkan ia tenang dulu,” pinta Matteo pelan. “Aku minta kalian untuk menjaga Mia di sini. Jangan sampai ia sendirian sedetik pun. Coco kau ikut denganku,” perintah Matteo yang segera dituruti oleh pria berambut ikal tersebut.


Kedua sahabat itu berjalan cepat meninggalkan Daniella dan Francesca yang masih bertanya-tanya. Mereka kembali menuju landasan.


“Ada apa ini sebenarnya, Amico?” desak Coco sambil terus mengikuti langkah Matteo.


“Nanti juga kau akan tahu sendiri,” jawab Matteo singkat. Ia tak mengatakan apapun lagi hingga mereka tiba di area helipad. Matteo kemudian menunjukkan pada Coco, tubuh Adriano yang masih tergeletak di tempatnya.


Tampak pula Damiano yang tengah berbicara serius pada beberapa anak buahnya. Zucca pun berada di sana. Ia berdiri dengan mimik tegang di samping Marco.


“Astaga,” desah Coco lirih saat melihat Adriano yang bersimbah darah. “Apakah ia mati? Siapa yang melakukan ini? Apa kau yang membunuhnya, Amico?” cecar Coco sesaat setelah berdiri tepat di dekat tubuh Adriano.


Matteo menggeleng pelan. “Mia yang melakukannya. Namun, ia hanya berniat untuk melindungiku,” jawabnya sembari menunduk. “Aku yang membuat Mia-ku berada dalam situasi pelik seperti saat ini. Kenapa aku selalu ceroboh,” Matteo menangkupkan tangan ke wajah, lalu mengusapnya kasar.


“Itu ide yang sangat bagus. Lalu, bagaimana jika anggota klannya mencari Adriano kemari?” Coco menanggapi usulan dari Marco.


“Kita katakan saja bahwa Adriano sudah bertolak dari sini dengan diam-diam. Setelah ia keluar dari kastil, itu bukan merupakan urusan kita lagi," sahut Matteo. “Aku setuju denganmu, Marco. Kita akan membuang mayatnya sekarang. Sementara yang lain, segeralah bersihkan darah dan semua bukti-bukti yang mengarah kepada Mia. Aku tak mau apapun terjadi pada istriku!” tegasnya.


“Aku bisa mengangkatnya, Bos,” ujar Zucca menawarkan diri. Pria bertubuh tinggi besar itu maju.


“Kalau begitu, kita lakukan sekarang!” Matteo lalu berjongkok di sisi Adriano yang sudah tak bergerak. Dipandanginya wajah tampan yang telah memucat itu. “Maafkan aku, Adriano. Mia adalah segalanya bagiku,” bisiknya teramat lirih, sehingga hanya dirinya dan angin yang dapat mendengar suaranya.


Zucca kemudian mensejajari Matteo. Secara serempak, mereka mengangkat tubuh atletis Adriano dan melemparkannya sekuat tenaga dari atas tepi landasan. Tubuh pria bermata biru itu melayang dan mendarat di antara deburan ombak Laut Tirenia. Matteo tergegun untuk sejenak. Puluhan bahkan ratusan kali ia membunuh musuh-musuhnya, tapi tak pernah meninggalkan perasaan aneh dalam hati pria bermata abu-abu itu. Lain halnya dengan saat ini. Bagaimanapun juga, ia telah cukup mengenal sosok Adriano, sama halnya dengan Silvio Moriarty.


“Setelah ini bagaimana?” tanya Coco. Meskipun dirinya tak menyukai Adriano, tetapi tampak sorot bersalah dari matanya.

__ADS_1


“Kita rahasiakan kejadian ini,” jawab Matteo. Dia yang awalnya memandang dengan tatapan kosong ke arah lautan, segera membalikkan badan dan mengamati satu per satu orang-orang yang berdiri di sana. “Siapa pun yang ada di sini, rahasiakanlah semuanya! Tutup mulut kalian sampai maut menjemput! Jangan ada satu orang pun yang menyebut nama istriku terlibat dalam kejadian ini. Jika kalian menolak, terpaksa aku akan membunuh kalian!” tegas Matteo dengan setengah mengancam. Wajahnya tiba-tiba berubah garang dan mengerikan.


Semua anak buah Matteo dan Damiano mengangguk serta menunduk penuh hormat. Meskipun Matteo tak lagi menjadi ketua organisasi, tetapi aura kepemimpinannya masih menghipnotis semua orang. Mereka masih tetap menganggap Matteo sebagai rajanya.


“Tentang Tigre Nero, biar aku yang mengaturnya, Nak. Kita kesankan bahwa semua yang ada di kastil ini tak tahu-menahu dengan perginya Adriano,” jelas Damiano.


“Terima kasih, Damiano. Tolong aturlah semuanya untukku. Aku akan melihat keadaan Mia dulu,” balas Matteo dengan nada lesu. Ia tersenyum sesaat kepada Damiano, lalu berjalan meninggalkan landasan dengan perasaan tak menentu.


Pikirannya kini dipenuhi oleh Mia. Setitik sesal muncul dari sudut hatinya. Jika saja ia tak terpengaruh emosi, tentu istrinya tak akan mengalami hal semacam ini.


Sesampainya di depan kamar, Matteo langsung membuka pintunya. Francesca terlihat menggendong Miabella yang menangis. Bayi itu seakan dapat merasakan kegundahan sang ibu. Sementara Mia berbaring dengan posisi meringkuk. Ia juga menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Mia sudah menceritakan semuanya. Ia masih shock, Theo” ucap Daniella dengan raut dan nada bicara yang penuh sesal.


“Tidak apa-apa, Dani. Biar aku yang menanganinya dari sini. Kalian beristirahatlah,” Matteo tersenyum kepada Daniella dan Francesca, kemudian meraih Miabella dari gendongan adik iparnya. Matteo memeluk bayi cantik itu sambil mengusap punggungnya. Gerakan lembut Matteo, menenangkan Miabella. Bayi itu berhenti menangis.


“Baiklah, kau juga beristirahatlah, Theo,” ucap Francesca. Ia kemudian berlalu keluar bersama Daniella.


“Cara mia,” panggil Matteo. Ia pun memutuskan untuk duduk di tepian ranjang sambil tetap menggendong Miabella.


“Aku sudah mengurus semuanya. Anggap saja tidak terjadi apapun sebelum ini. Lupakan kejadian tadi, Sayangku. Mulai detik ini, kita tinggalkan masa lalu yang buruk dan melangkah menuju masa depan. Demi anak kita,” hibur Matteo.


“Aku jahat, Theo,” balas Mia lirih.


“Kau tidak jahat, Cara mia. Kau hanya seorang istri yang sangat mencintai suaminya, hingga rela melakukan apapun,” hibur Matteo lagi.


“Terima kasih untuk semuanya, Mia. Terima kasih karena terus menjaga dan merawatku serta melahirkan anak kita. Aku sangat mencintaimu. Kita akan melewati semua ini bersama-sama. Aku tak akan pernah meninggalkanmu,” ucapnya tulus.

__ADS_1


Bersamaan dengan selesainya kalimat Matteo, terdengar Miabella berceloteh beberapa patah kata dan mengucapkan kata ‘mama’. Dengan segera Mia menyibakan selimut dan menatap putri kecilnya serta Matteo dengan mata berbinar. Sebuah hiburan kecil yang sangat berharga.


__ADS_2