
“Hutang budi itu memang sangat menyebalkan. Aku selalu berusaha untuk menghindarinya, meskipun tak jarang terjebak dalam hal itu,” keluh Matteo.
“Bukankah kau sudah terbiasa berada lama di sini, Ricci? Kenapa kau harus meminta izin?” ujar Mia dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.
“Ia hanya berbasa-basi, Cara mia,” ujar Matteo membuat Coco terlihat hendak protes padanya. Namun, pria berambut ikal tersebut segera mengurungkan niatnya. “Kebetulan, jika kau ada di sini maka kau bisa membantuku menyiapkan prosesi pemakaman Antonio,” ucap Matteo.
“Jadi, kau benar-benar akan memindahkan makamnya?” Coco setengah melotot kepada Matteo.
“Sudah dilakukan oleh Zucca. Kemungkinan nanti malam mereka akan datang,” jelas Matteo.
“Lalu, Marco?” tanya Coco lagi.
“Nanti siang ia baru akan kembali dari Roma. Setidaknya begitulah rencana yang ia katakan kemarin sebelum berangkat. Kau tahu sendiri bukan bagaimana kebiasaan Marco. Kita tidak bisa memegang kata-katanya,” jelas Matteo.
Selesai Matteo berbicara demikian, terdengar suara riuh rendah yang berasal dari bagian depan bangunan Casa de Luca.
“Suara apa itu, Theo?” Mia segera berdiri dan berjalan keluar dari ruang makan, diikuti oleh Matteo dan juga Coco.
“Astaga!” seru Coco saat dirinya sudah sampai di halaman depan. Tampak di depannya seorang gadis berambut coklat gelap berteriak-teriak memanggil namanya. Beberapa orang anak buah Matteo terlihat kewalahan memeganginya.
“Ada apa ini?” sentak Matteo yang seketika memperlihatkan wajah garangnya. “Siapa gadis ini? Bagaimana ia bisa masuk kemari?” tegur Matteo tegas pada para penjaga pintu gerbang.
“Kami minta maaf karena telah lalai, Bos. Gadis ini ketahuan menyelinap ke dalam truk pengangkut anggur. Ia bersembunyi di balik tubuh para pekerja yang lalu lalang,” jelas salah seorang anak buah Matteo yang berbadan besar.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Ricci!” seru gadis itu, membuat Matteo dan Mia seketika menoleh kepada pria bermata cokelat itu. Sementara Coco hanya cengar-cengir ketika Matteo melotot kepadanya.
__ADS_1
“Itu gadis yang kuceritakan padamu tadi, Amico. Namanya Lucia,” bisik Coco pada Matteo yang masih memasang wajah tak bersahabat. Pria itu mendengus kesal.
“Hey, Nona! Kenapa kau ingin bertemu dengan sahabatku?” tanya Matteo ketus sembari mengangkat tangan sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk melepaskan gadis itu.
“Aku membutuhkan perlindungan, tapi Ricci malah meninggalkanku begitu saja di bengkelnya," jelas gadis bermata hijau tersebut.
“Aku mengizinkanmu tinggal di sana saja sudah lebih dari cukup, Lucia!” ujar Coco.
“Ah, jadi dia yang bernama Lucia,” Matteo menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya.
“Lucia?” Mia yang tak mengikuti pembicaraan itu sedari awal, tampak kebingungan. Matanya awas menatap gadis cantik bermata hijau yang baru pertama kali ini ia temui. “Apakah kau sedang mempermainkan adikku, Ricci?” tanyanya sewot.
Namun, belum sempat Coco menjawab pertanyaan Mia, sebuah kendaraan SUV melaju pelan dan berhenti di halaman. Dengan tenangnya, Marco turun dari sana lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Daniella. Tak berapa lama, pintu belakang mobil juga ikut terbuka. Francesca melompat turun dari sana dengan wajah ceria. “Ricci!” seru Francesca seraya menghambur ke dalam pelukan Coco. Rindunya sudah tak tertahankan meski mereka hanya baru berpisah beberapa hari.
“Ayolah, Ricci! Bantu aku!” Lucia yang awalnya terdiam dan hanya dapat melihat itu semua, mulai bersuara. Kini semua mata memandang ke arahnya.
“Siapa lagi ini, Ricci?” ledek Marco sambil tertawa geli melihat drama di pagi menjelang siang itu. Ia terlihat begitu senang ketika melihat wajah pucat Coco. Alih-alih memanggil nama Coco, pria berwajah kelimis itu justru lebih memilih menggunakan panggilan ‘Ricci’.
Francesca mengalihkan pandangannya kepada gadis yang tadi berbicara pada Coco. Ia masih dapat mengingat gadis tersebut dengan jelas. Francesca yakin jika gadis itu adalah seseorang yang telah membuatkan sarapan untuk Coco, ketika dirinya datang ke bengkel pria itu. “Ada masalah apa ini? Kenapa temanmu ikut kemari?” bisiknya lirih, tepat di telinga Coco.
“Ceritanya sangat panjang, Francy. Satu hal yang pasti, aku telah berhutang budi kepada kakaknya, sehingga mau tak mau aku harus membantu Lucia,” terang Coco dengan suara pelan.
“Bagaimana jika kita menyelesaikan semuanya di dalam saja? Aku rasa akan jauh lebih elok, daripada berkerumun di sini,” ajak Matteo pada semua yang ada di sana, sesaat setelah ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke pos masing-masing. Tak ada seorang pun dari mereka yang berani menentang ucapan pria itu. Semuanya mengikuti langkah Matteo, tak terkecuali Lucia.
Di ruang tamu yang sangat nyaman itu, mereka memilih tempat masing-masing. Matteo duduk di sebuah kursi yang dulu merupakan tempat duduk sang ayah. Sedangkan Mia memilih tempat yang berada tepat di samping Matteo. Pria bermata abu-abu itu menoleh dan tersenyum kalem kepada sang istri.
__ADS_1
Marco memilih berada di samping Daniella yang terlihat tak acuh. Sementara Francesca tak melepaskan pegangan tangannya sama sekali dari lengan Coco. “Kita duduk di sini saja,” gadis cantik itu memilihkan posisi yang paling dekat dengan Matteo. Sementara Lucia terpaksa menduduki satu kursi yang tersisa dan berada cukup jauh dari Coco, tepat di seberang Matteo.
Gara-gara kejadian pagi ini, Matteo mendengus pelan. Rencananya untuk membicarakan pemakaman sang paman, lagi-lagi harus terjeda karena kedatangan tamu tak diundang. Tak berselang lama, beberapa orang pelayan kembali berdatangan sembari menyuguhkan minuman untuk mereka.
“Jadi, kau adalah Matteo de Luca?” suasana hening yang menghiasi ruangan itu untuk beberapa saat lamanya, terpecah oleh suara Lucia dengan sorot matanya yang mengarah kepada Matteo.
Pria bermata abu-abu itu pun balas menatap tajam ke arah Lucia. “Ya, itu aku. Memangnya kenapa? Apa ada masalah?” sahutnya datar dan dingin.
“Tidak ada. Selama ini aku hanya mendengar nama besarmu saja,” jawab Lucia tenang. “Orang dengan kekuasaan tak terbatas sepertimu, mungkin bisa membantuku. Apalagi kau berteman akrab dengan Ricci,” lanjutnya.
“Jaga bicaramu, Luce!” sergah Coco.
Matteo segera mengangkat tangannya, seakan meminta Coco untuk diam sejenak. “Bantuan dalam hal apa?” nada bicaranya semakin dingin dan datar.
“Aku memiliki hutang pada geng kecil. Awalnya mereka bersedia memberiku waktu sebulan untuk melunasi. Namun, sepertinya sekarang mereka telah berubah pikiran. Mereka mengejar dan mengancam untuk melukaiku jika aku tidak segera melunasinya,” terang Lucia.
“Maksudmu, kau ingin meminta uang pada Matteo? Tak tahu malu sekali kau ini, Luce!” hardik Coco.
“Bukan begitu! Aku hanya ingin meminta perlindungan darinya agar orang-orang itu tak menyakitiku,” sanggah Lucia.
“Aku bukan penjaga bayaran. Aku menolak!” ujar Matteo tegas.
“Ayolah, Matteo!” desak Lucia. Entah kenapa, Mia risih mendengar gaya bicara gadis itu. Ia seolah tak memiliki sopan santun atau etika sama sekali. Bahasa tubuh Lucia menunjukkan keangkuhannya.
“Jika bukan karena aku berhutang nyawa pada kakakmu, tentu aku sudah menendangmu keluar dari sini,” geram Coco sembari mengepalkan tangannya.
__ADS_1