Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Nuovo Puzzle


__ADS_3

Mia menatap lekat Matteo. Ia mencoba untuk menyelami warna abu-abu yang tajam itu dengan begitu dalam. Mia bahkan terus melakukannya hingga ia tiba di dasar sebuah bangunan yang berlandaskan kepercayaan.


 


Semua yang telah Matteo lakukan untuknya, sudah jauh lebih dari bukti rasa cinta pria itu terhadapnya. Matteo berani membunuh Antonio yang merupakan pamannya sendiri, hanya demi menyelamatkan nyawa Mia. Makin lama, Mia semakin menemukan sesuatu dari balik sorot mata abu-abu tersebut. Ia melihat sebuah isyarat tanpa kata yang Matteo sampaikan untuknya.


 


“Jangan lupa, kau harus minum obat pereda nyeri, Sayang,” ucap Mia lembut. “Aku ke kamar dulu. Perutku terasa sangat mual jika berada lama di sini,” ucapnya lagi seraya mengecup bibir Matteo dengan mesra. Hal itu membuat Camilla kembali memalingkan wajahnya. Tanpa berpamitan kepada Camilla, Mia berlalu begitu saja meninggalkan Matteo berdua dengan gadis cantik itu.


 


“Istrimu tidak selembut yang kau pikir, Theo,” ucap Camilla setelah Mia tak lagi terlihat.


 


“Ya, kau memang benar,” balas Matteo seraya mengalihkan pandangannya kepada wajah cantik Camilla. Mata biru dengan bibir penuh itu memang terlihat sangat menggoda, tapi tidak lagi bagi seorang Matteo. “Aku sudah menikah dengan Mia. Aku sangat bahagia dengan pernikahan kami,” Matteo memijit pangkal hidungnya. “Kenapa kau masih terus mengusikku, Camilla?”


 


“Kau bertanya ‘kenapa’ padaku, Matteo de Luca?” Camilla tersenyum getir. “Seharusnya kau tahu apa jawabannya. Aku hanya ingin menagih hakku yang telah kau ambil tiga tahun yang lalu. Perhitungkanlah dalam tiga tahun ada berapa hari!” Camilla menatap lekat Matteo. Rona kekecewaan tergambar jelas di sudut matanya.


 


“Aku tahu jika kau sudah melupakan atau bahkan mungkin tidak pernah menganggap tiga tahun kebersamaan kita! Namun, aku bukan seorang pela•cur jalanan, Theo! Aku adalah putri Emilio Rosetti, seorang pengusaha yang merupakan rekan bisnis ayahmu!” Camilla tampaknya ingin mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya.


 


“Kenapa kau harus membahas hal itu? Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang pela•cur jalanan. Aku memperlakukanmu dengan baik dalam waktu tiga tahun itu. Akan tetapi, jika saat ini aku lebih memilih Mia ... semua itu karena aku memang menginginkannya untuk menjadi istriku. Aku tidak akan pernah melarangmu seandainya kau ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Sama halnya dengan dulu. Kita berdua hanya bersenang-senang. Lalu, mengapa kau bermain hati?”


 


Tanpa terasa, Camilla meneteskan air matanya ketika mendengar pernyataan dari Matteo yang begitu menyakitkan. Harga dirinya runtuh dengan seketika. Semua rasa percaya diri yang selalu menjadikan Camilla tampak begitu angkuh, kini sirna dan luruh di bawah kaki seorang Matteo de Luca, pria yang sangat ia cintai.


 


“Kau memang tidak memiliki hati! Apa kau ingat malam itu? Malam ketika orang tua kita asyik berbincang di ruang tamu, sementara kau menyelinap masuk ke kamarku ....” Camilla terdiam untuk sejenak. Gadis itu kemudian semakin mendekat dan berdiri tepat di hadapan Matteo. “Kau adalah pria pertama untukku, Theo. Bukankah aku juga gadis pertama untukmu?” lirih gadis bermata biru tersebut.


 


“Ya,” jawab Matteo dingin. “Namun, yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir. Aku tidak akan menyangkal semua itu, Nona Rosetti. Kau memang gadis pertama untukku, tapi itu bukan berarti aku menjadikanmu sebagai seseorang yang istimewa,” sanggah Matteo datar.


 


“Dengarkan aku, Camilla. Aku bisa membunuh pria manapun dengan mudah, tapi pantang bagiku untuk bersikap kasar terhadap seorang wanita. Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak mengusik ketenangan Miaku. Jangan karena aku diam dan terkesan membiarkanmu, maka kau bisa bersikap seenaknya. Bagaimanapun juga, aku masih menghargaimu karena kau telah menemaniku selama tiga tahun ke belakang. Namun, aku sudah menutup cerita tiga tahun itu ketika Mia berdiri di altar bersamaku,” Matteo mengempaskan napas pelan.


 

__ADS_1


“Ini sudah waktunya aku minum obat. Sebaiknya kau segera pulang dan istirahat. Jangan menangisi diriku, Camilla. Anggap saja aku pria brengsek yang pantas untuk kau buang jauh,” selesai berkata seperti itu, Matteo kemudian berlalu meninggalkan Camilla yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Perasaan gadis berambut panjang itu begitu hancur. Namun, ia tak mampu membantah kata-kata seorang Matteo. Rasa cinta yang ia persembahkan untuk pria bermata abu-abu itu terlalu besar dan indah.


 


Sementara itu, Mia berdiri di dekat jendela kamar. Tatapannya menerawang jauh pada perkebunan luas Casa de Luca. Mia seakan tengah mencari sesuatu yang masih samar bagi dirinya. Ia begitu fokus, sampai-sampai tak menyadari jika Matteo telah berdiri di belakangnya. Pria rupawan itu mengecup pundak Mia dengan lembut.


 


“Cosa stai guardando, Amore mia (Apa yang sedang kau lihat, Cintaku?),” bisik Matteo pelan.


Mia tersentak. Ia menoleh ke sebelah kanannya, di mana wajah Matteo berada. Sesaat kemudian, wanita bermata coklat tersebut kembali melayangkan tatapannya pada perkebunan anggur yang mulai berbuah.


 


“Sto cercando la tua onestà tra l’uva (Aku sedang mencari kejujuranmu di antara buah anggur),” jawab Mia dengan setengah bergumam.


 


Matteo tersenyum simpul. Ia meletakkan dagunya di atas pundak Mia dan mengikuti arah tatapan wanita itu. “Apa kau bisa menemukannya, Sayang?” bisik Matteo lagi.


 


Mia tidak menjawab. Perasaannya kini bercampur aduk. Mia tak tahu harus berkata apa. Wanita berambut coklat tersebut tak ingin marah ataupun menangis. Ia hanya memilih untuk diam.


 


 


Melihat Matteo melakukan hal itu, Mia bergegas menghampirinya. Tanpa diminta, ia segera membantu melepaskan mantel tersebut, membuat  Matteo membalikkan badannya dan menatap Mia. Pria itu tersenyum kecil. Senyuman yang meskipun terkesan pelit, tetapi tampak sangat manis bagi Mia. Ya, sangat manis dan bahkan teramat manis, terlebih karena sentuhan bibir pria itu yang selalu membuat Mia terbuai. Dire•masnya mantel yang ia gantungkan pada lengan sebelah kirinya. Mia tak pernah sanggup menolak ciuman sekecil apapun dari seorang Matteo.


 


“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Tubuhmu harus bersih sebelum beristirahat,” ujar Mia sesaat setelah merasakan manis bibir suaminya. Ia juga menuntun Matteo untuk melepas sepatu dan kemejanya.


“Grazie, Mia,” tatapan Matteo tak lepas dari gerak-gerik Mia yang tengah menggantungkan mantel dan menyimpan sepatu mahalnya di dalam rak khusus. “Satu hal yang harus kau tahu. Sedikit pun tidak pernah terbersit dalam benakku untuk menyakitimu, baik hati maupun fisik,” ungkap Matteo lirih, tapi Mia dapat mendengarnya dengan jelas. Ia menghentikan kegiatannya sejenak, lalu bergegas ke arah pintu.


“Aku akan mengambil baskom sebentar,” ucapnya. Akan tetapi, ia kembali berhenti saat seorang pelayan berdiri di hadapannya ketika Mia membuka pintu kamar.


“Maaf, Nyonya. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan,” ujar pelayan itu sopan.


“Siapa?” Mia mengedarkan pandangannya ke luar kamar, mencari sosok Camilla yang mungkin saja masih di sana. “Apakah Nona Rosetti?” tanyanya.


“Bukan, Nyonya. Nona Rosetti sudah meninggalkan Casa de Luca beberapa menit yang lalu,” jawab pelayan itu.


“Apa ada masalah, Cara Mia?” tiba-tiba saja Matteo sudah berdiri di belakang Mia dengan bertelanjang dada. Walaupun arm slingnya masih terpasang sempurna, tetapi keindahan tubuh atletisnya tetap terlihat dengan jelas, sampai-sampai pelayan wanita yang masih berusia belia itu harus menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Tuan. Orang itu mengatakan bahwa beliau dari kepolisian,” jawabnya tanpa berani mendongak.


Untuk sesaat, Matteo dan Mia saling berpandangan, sebelum akhirnya Matteo memutuskan untuk mengenakan kembali kemejanya, dibantu oleh Mia tentunya. Ia lalu turun ke ruang tamu.

__ADS_1


Di ruang tamu yang luas bergaya Tuscany itu, Matteo melihat seorang pria berjas hitam dengan lencananya. Ia sedang duduk di sofa berwarna coklat. Sementara Mia terus mengikuti Matteo dari belakang.


“Buon pomeriggio (selamat siang). Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Matteo dengan nada bicaranya yang khas, terkesan dingin dan mengintimidasi.


“Selamat siang. Anda pasti Tuan Matteo de Luca," sahut pria itu ramah. "Perkenalkan, saya detektif Fabrizio Ranieri. Saya dari kepolisian distrik Brescia. Sayalah yang selama ini menyelidiki kasus kematian Tuan dan Nyonya de Luca,” pria itu berdiri dan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


Matteo menyambut jabat tangan itu dan mempersilakan pria tersebut untuk kembali duduk. “Bukankah pamanku sudah menyerahkan pelakunya kepada pihak Anda?” tanyanya datar.


“Sebenarnya itulah yang menjadi permasalahan kami saat ini. Pria bernama Ernesto Homar itu benar-benar meragukan untuk dijadikan sebagai tersangka,” terang detektif itu hati-hati.


“Aku tidak mengerti,” Matteo menggeleng pelan. Ia kemudian duduk berhadapan dengan detektif polisi itu, dan diikuti oleh Mia yang duduk dengan anggun di sampingnya.


“Ernesto Homar telah mengakui bahwa ia yang telah menyebabkan kematian orang tua Anda. Akan tetapi, ia tak bisa menjelaskan seperti apa


caranya” tutur Fabrizio.


“Maksudnya?” Matteo mencondongkan tubuhnya seraya mengernyitkan kening. Sedangkan Mia terlihat tegang saat itu.


“Orang tua Anda meninggal akibat bom mobil yang dipasang di sisi roda. Siapapun yang memasangnya, jelas adalah seseorang yang sangat ahli, sementara Ernesto ... ia bahkan tak bisa membedakan antara timer dengan remote bom,” jelas detektif Fabrizio.


“Bom yang menewaskan kedua orang tua Anda, diledakkan menggunakan remote jarak jauh. Seseorang telah menekan tombolnya dari tempat yang tak diketahui dengan pasti. Saat kami menanyakan hal itu kepada Ernesto Homar, ia tampak sangat kebingungan. Kami melakukan rekonstruksi dan memberikan kepadanya alat-alat yang biasanya digunakan untuk merakit bom. Kami memintanya untuk memperagakan caranya memasang dan meledakkan bom itu, tapi ternyata ia tak bisa. Ia sama sekali buta akan hal itu,” lanjut detektif itu panjang lebar.


“Jadi?” degup jantung Matteo meningkat tajam seiring detik jam dinding yang ikut menunggu jawaban dari detektif Fabrizio.


“Kesimpulan kami adalah ... Ernesto Homar bukanlah pelakunya. Ia hanya seseorang yang dikorbankan untuk menutupi kejahatan orang lain. Jadi, kami harus menemui paman Anda, Antonio de Luca, untuk dimintai keterangan,” tegas Fabrizio membuat jantung Matteo seketika berhenti berdetak. Begitu juga dengan Mia yang saat itu tampak gelisah.


🍒


🍒


🍒


Hai, semua. Ini ceuceu kasih rekomendasi novel keren yang bisa dikunjungi dan menemani puasa kita.



🍒 Berhubung sudah memasuki Bulan Ramadhan, sementara ada beberapa bab yang tidak dianjurkan dibaca siang hari, jd ceuceu up malam hari. Mohon pengertiannya ya para pembaca setia Matteo, ceuceu juga harus mengikuti kerangka yang sudah dibuat, karena kalau keluar dari kerangka, nanti kepala ceuceu bisa pening. Ceuceu mesti otak-atik lagi ceritanya. Sementara ceuceu juga kan masih punya kesibukan lain di real life (aduh, sok sibuk😁). Intinya begitu ya, para reader yang budiman. Terima kasih untuk semua dukungannya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2