Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Behind Dark Glasses


__ADS_3

Roman Forum, menjadi tempat yang dipilih oleh Adriano untuk melakukan pertemuan secara pribadi dengan Matteo siang itu. Ia bahkan datang lebih awal ke tempat tersebut, dan rela menunggu di sana, di antara reruntuhan bangunan kuno yang penuh dengan nilai sejarah.


Sesekali, Adriano melihat arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. Cuaca yang cukup terik, tak membuatnya merasa terganggu sama sekali. Terlebih, ketika akhirnya ia melihat seseorang yang tengah melangkah dengan gagah ke arahnya.


Adriano tersenyum simpul seraya mengeluarkan tangan kanan yang sejak tadi bersembunyi di dalam saku celana. Ia lalu menyalami Matteo yang kini telah berada di tempat tersebut. Sementara Matteo, mau tak mau harus membalas jabat tangan itu. Ia menatap tajam pria rupawan di hadapannya, dari balik kaca mata hitam yang ia kenakan saat itu.


"Aku pikir Anda tidak jadi datang, Tuan de Luca," sambut Adriano yang saat itu terlihat begitu tampan dengan setelan kemeja putih berbalut blazer warna abu-abu. Ia juga memakai kaca mata hitam keluaran brand ternama, yang membuat penampilannya semakin terlihat mahal.


"Aku bukan tipikal orang yang suka ingkar janji," sahut Matteo dingin, ia berdiri dengan angkuh saat menghadapi Adriano. Kedua tangannya bersembunyi di dalam saku jaket kulit hitam, yang membuatnya terlihat sangat maskulin meskipun rambutnya tampak sedikit acak-acakan.


"Ya, tentu saja. Itulah mengapa aku tertarik untuk menawarkan kerja sama dengan Anda. Namun, aku yakin jika pertemuan kita kali ini bukan untuk membahas masalah anggur. Benar, kan?" balas Adriano masih dengan sikapnya yang terlihat kalem.


Matteo mengela napas panjang dan mengempaskannya begitu saja. Tatap matanya masih ia layangkan pada sosok pria yang telah membuatnya dibakar api cemburu. Namun, Matteo juga tak akan membahas masalah itu tentunya. "Memang bukan. Aku sengaja meminta bertemu di sini, untuk membahas kelakuan anak buahmu yang telah berani bermain api denganku, Tuan D'Angelo!" tegas Matteo, tapi dengan nada bicara yang masih terkesan dingin.


Adriano menarik napas pelan. Ia mengusap rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. Penampilan Adriano memang selalu terlihat parlente. Ia adalah tipe pria metroseksual yang sangat menarik. "Ya, aku benar-benar minta maaf tentang hal itu. Aku sama sekali tidak tahu jika ada oknum anak buahku yang ...."


"Mereka mengeroyok sahabatku, lalu mereka menyekap dan mengancam keselamatan saudari istriku. Aku tidak yakin jika kau sampai tidak mengetahui hal itu!" tegas Matteo lagi membuat Adriano tercengang.


"Saudari Nyonya de Luca?" gumamnya. Paras cantik Mia dengan mini dress hitam pada kemarin malam ketika di club, tiba-tiba hadir dalam benaknya. Namun, Adriano segera dapat menguasai dirinya. "Begini, Tuan de Luca. Biar kujelaskan dulu kepada Anda," Adriano kembali menarik napas pelan. Ia harus benar-benar berkonsentrasi dan menghilangkan bayangan Mia untuk sesaat.

__ADS_1


"Aku minta maaf untuk semua yang telah anak buahku lakukan, terlebih karena mereka berani mengusik orang-orang terdekat Anda. Untuk kasus pemukulan yang dilakukan terhadapn teman Anda, aku memang mengetahuinya. Akan tetapi, itu juga setelah aku mendapat kabar bahwa mereka berdua sudah dijebloskan ke dalam penjara. Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengenal pria yang telah menyuruh mereka berdua," jelas Adriano dengan tenang. Ia berusaha untuk tidak terpancing emosi, meskipun Adriano dapat melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh Matteo melaui bahasa tubuh pria tersebut.


"Lalu, untuk kasus penyekapan yang dilakukan terhadap saudari Nyonya de Luca, terus terang saja bahwa aku benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali. Anda tenang saja, aku akan mencari oknum dari ...."


"Aku sudah menghabisi mereka semua. Maaf karena aku melakukannya tanpa meminta izin terlebih dahulu padamu, Tuan D'Angelo," sela Matteo dengan penuh penekanan, membuat Adriano terdiam. Raut wajahnya berubah seketika, dan ia seakan tidak tahu harus berkata apa. Adriano hanya dapat menatap Matteo dari balik kaca mata hitamnya. Ia pun terpaku untuk sesaat.


"Begitukah?" tanyanya setelah beberapa saat kemudian. Ia pun manggut-mangut dengan perlahan. "Baiklah. Aku tidak ingin memperpanjang kesalahpahaman di antara kita. Aku harap insiden ini tidak memengaruhi kerja sama yang akan kita jalin ke depannya," ujar Adriano dengan sikapnya yang dibuat setenang mungkin.


Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Matteo. "Kau tidak ada masalah sama sekali setelah aku menghabisi anak buahmu? Itu sangat luar biasa," sindir Matteo.


"Jika memang mereka pantas untuk mendapat hukuman, kenapa tidak? Kalaupun bukan Anda yang menghukum mereka, maka pasti aku yang akan melakukannya," jawab Adriano. "Ada seseorang yang pernah mengatakan padaku, bahwa aku tidak boleh pandang bulu dalam memberikan sebuah hukuman terhadap siapa pun yang berada dalam wilayah kekuasaanku," lanjut pria rupawan itu. Sementara Matteo tidak menjawab. Akan tetapi, sorot matanya masih tajam ia layangkan untuk Adriano, meskipun tersamarkan oleh kaca mata hitam yang ia kenakan.


"Kirimkan saja," balas Matteo datar.


"Secepatnya, Tuan de Luca. Kebetulan aku akan kembali ke Monaco akhir bulan ini. Namun, sebelum itu aku akan ke Milan terlebih dahulu. Jika sempat aku akan mampir ke Brescia," terang Adriano.


"Tidak perlu memaksakan diri, Tuan D'Angelo. Jika email darimu sudah masuk, maka akan langsung kami pelajari. Setelah itu, kami akan langsung memberikan jawaban kepada Anda," tolak Matteo dengan halus, membuat Adriano tertawa pelan.


"Kedengarannya Anda sangat khawatir, Tuan de Luca," balas Adriano tenang.

__ADS_1


"Ya," jawab Matteo dengan datar. "Aku khawatir tidak bisa mengendalikan diriku," lanjutnya.


"Tentu. Apalagi Anda sudah melepas arm sling yang ...."


"Oh, itu karena Mia merawatku dengan sangat baik. Sekarang pun harusnya aku sudah kembali ke Brescia. Ia berjanji akan membuatkanku arancini, jika aku kembali dalam keadaan baik-baik saja," Matteo terdiam untuk sejenak. "Aku permisi dulu," ucapnya lagi seraya membalikan badan. Matteo melangkah dengan gagahnya diiringi tatapan Adriano. Namun, baru saja beberapa langkah, Matteo kembali menoleh.


"Aku hampir lupa memberitahu Anda, Tuan D'Angelo," ucap Matteo dengan tenangnya. "Aku sudah menghabisi tiga dari lima anak buahmu yang telah berani bersikap kurang ajar. Sementara, dua orang lagi melarikan diri. Akan tetapi, aku masih dapat mengingat dengan jelas rupa dari dua pengecut yang melarikan diri itu. Jadi, jangan protes jika sampai aku menghabisi mereka, di manapun aku melihat kedua orang tersebut!" ancam Matteo seraya kembali berbalik dan melanjutkan langkah menuju mobil jeep kesayangannya.


Adriano masih terpaku di tempatnya. Apa yang ia dengar tentang karakter seorang Matteo de Luca, memang bukanlah isapan jempol semata. Pria itu sangat pemberani dan seperti tak mengenal rasa takut sama sekali. Namun, hal itu justru membuat pria tiga puluh tahun tersebut merasa semakin tertantang. Adriano tak akan mundur untuk tetap melakukan kerja sama dengan Matteo, meskipun Matteo sendiri selalu menunjukkan sikap yang kurang bersahabat kepada dirinya.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Hai, ini ceuceu bawain lagi rekomendasi novel keren buat reader semua, silakan masukan rak dan pantengin terus sampai tamat. GrazieπŸ€—


__ADS_1


__ADS_2