Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
La Mia Sposa


__ADS_3

Camilla terpaku menghadapi kenyataan yang terjadi di depan matanya. Harapan yang ia gantungkan setinggi-tingginya untuk Matteo, kini hancur begitu saja. Semuanya terhempas dengan sangat keras ke jurang yang teramat dalam.


Hatinya serasa berubah menjadi serpihan kecil, berkeping-keping. Gadis itu sampai tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang terus menetes membasahi pipi mulusnya.


Banyak hal yang ingin ia ungkapkan saat ini di depan Matteo. Akan tetapi, sepatah kata pun tak bisa ia keluarkan. Camilla berusaha menyunggingkan sebuah senyuman, meskipun hatinya terasa begitu sakit. Seumur hidup, ia tak pernah merasakan kekecewaan seperti saat ini.


Selama ini, tak ada satu keinginan pun yang tak pernah dituruti oleh kedua orang tuanya. Mereka adalah keluarga terpandang di Brescia. Kemewahan pun telah menjadi teman Camilla sejak gadis itu terlahir ke dunia. Namun, kini semua kemewahannya terasa sia-sia, karena semua itu tak mampu membeli cinta Matteo untuknya. Perlahan, Camilla memundurkan dirinya beberapa langkah, sebelum tubuh ramping itu berbalik dan berlari meninggalkan Mia serta Matteo.


“Apa kau tidak ingin mengejarnya, Theo?” tanya Mia sembari menunduk dalam-dalam. Suaranya terdengar sangat lirih dan ragu-ragu.


“Apa kau ingin aku mengejarnya?” Matteo balik bertanya dengan datar. Ia mengiringi kepergian Camilla dengan tatapan dingin.


“Tergantung bagaimana hatimu menginginkannya,” jawab Mia seraya memalingkan muka. Wanita muda itu merasa sangat kecewa.


Matteo terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada wajah murung Mia yang tampak muram. “Aku tidak ingin mengejarnya. Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di sini!” tegasnya.


“Aku rasa kau sudah berbuat semena-mena dan tidak adil kepada Camilla,” gumam Mia pelan.


Matteo terbelalak tak percaya. Raut mukanya yang terbiasa datar dan dingin, kini menjadi penuh ekspresi. “Kau sungguh-sungguh unik, Sayangku! Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin aku mengejarnya? Apa kau tidak cemburu?” cecar Matteo.


“Tentu saja aku cemburu!” sentak Mia. “Hanya saja aku membayangkan diriku sebagai gadis itu! Kau memanfaatkan tubuhnya seenak hatimu, lalu kau buang begitu saja!” sungut gadis itu kesal.


Mia membalikan badannya dan membelakangi Matteo. Sambil bersedekap, gadis itu nanar memandang hamparan pohon anggur di depannya.


“Aku memang brengsek, Mia! Aku tak akan menyalahkan siapapun karena memang akulah yang hilang arah sejak kehilangan dirimu. Aku tak bisa berpikir dengan jernih saat itu,” kilah Matteo.


“Akan tetapi, aku tetap tidak akan mengejarnya!” imbuhnya beberapa saat kemudian. Sedikit memaksa, Matteo memegang kedua lengan Mia dan membalikkan badan calon istrinya tersebut.


Ditatapnya Mia dalam-dalam. Napas Matteo memburu. Wajah sendu Mia dengan sorot mata yang sayu, selalu berhasil menghanyutkannya. “Susah payah aku meraihmu, Mia. Aku tak akan membiarkan kau terlepas lagi. Tidak sekarang, ataupun selamanya!” nada bicara Matteo penuh dengan penekanan. Setelah itu, diciumnya bibir Mia lembut dan begitu menghanyutkan, hingga keduanya tak sadar jika Sorella sudah berada di dekat mereka berdua.


“Ma-maafkan saya, Tuan Matteo. Sudah saatnya nona Florecita mencoba gaun pengantinnya,” ucap Sorella tergagap seraya menunduk dalam-dalam.


Matteo terpaksa melepaskan bibir ranum itu dan menoleh kepada Sorella. “Apa desainer yang kupesan sudah datang?” tanyanya.


“Sudah, Tuan. Mereka sudah menunggu di ruang tengah. Permisi,” Sorella masih menundukkan kepala dan sedikit membungkuk sebelum berlalu dari hadapan Matteo.


“Ayo, Cara mia. Gaun pengantinmu sudah menunggu,” ajak Matteo. Seketika tubuh Mia membeku. Mendengar kata ‘gaun pengantin’, kembali mengingatkannya pada masa kelam tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


Sementara itu, Camilla setengah berlari menuju mobil yang ia parkir begitu saja di depan gerbang kedua Cassa de Luca. Air matanya tak juga berhenti mengalir, meskipun ia tahan sedemikian rupa. Tak ada yang ia inginkan saat itu, selain pulang ke apartemennya. Ia ingin menangis sejadi-jadinya sambil meringkuk di atas ranjang kamarnya yang mewah.


Dengan tergesa-gesa, Camilla mengeluarkan remote mobil dan berusaha membuka kuncinya. Akan tetapi, semuanya terhenti ketika Antonio datang menghampirinya dengan raut wajah yang susah diartikan.


"Camilla, Putriku" suara berat Antonio terdengar menyapanya dengan hangat.


Camilla menoleh. "Paman," lirihnya.


Antonio semakin mendekat. “Biar kutebak! Kau pasti sudah bertemu dengan wanita itu,” ujar pria dengan janggut tebal tersebut seraya menyeringai kecil. Ia lalu bersandar di samping pintu kemudi tanpa permisi. Sedangkan Camilla hanya mengangguk samar sambil mengusap kedua pipinya yang basah.


“Kenapa kau menangis? Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu?” pancing Antonio dengan nada dingin. "Aku sangat mengenal ayahmu. Rasanya akan sangat berdosa jika aku membiarkanmu terluka seperti itu karena ulah Matteo keponakanku," lanjutnya lagi.


Camilla menggeleng pelan. “Mungkin aku memang sering menemani Matteo tidur dan jadi pelampiasannya. Namun, aku tahu ia tidak pernah mencintaiku, meskipun aku berharap ia akan berubah setelah semua yang aku berikan untuknya,” sesalnya.


“Lalu, kau akan menerima begitu saja atas perlakuan Matteo padamu? Ia adalah seorang ketua klan. Seharusnya ia menunjukkan sikap tanggung jawabnya terhadapmu,” desak Antonio.


“Kau berhak menuntut hakmu atas tiga tahun yang telah kalian lewati bersama,” lanjutnya lagi.


“Kau lihat sendiri bukan, seperti apa gadis pilihan Matteo? Sungguh-sungguh tidak pantas bersanding dengannya! Kaulah yang jauh lebih layak bersanding dengan Matteo! Apalagi orang tuamu dan adikku sudah berteman sejak lama!”


Camilla tercenung mendengar ucapan Antonio, tapi ia tak ingin menanggapi perkataan pria yang diseganinya itu. Gadis tersebut malah membisu sambil memasuki kendaraannya. Akan tetapi, ketika Camilla hendak menyalakan mesin mobilnya, tangan Antonio segera mengetuk keras kaca mobil itu sehingga mau tak mau Camilla membukanya.


Demikian pula dengan Mia. Ketika memasuki ruang tengah, dada wanita muda itu kembali terasa sesak. Sebuah gaun pengantin sudah terpajang di sana. Gaun dengan warna putih yang indah dan elegan. Sementara itu, beberapa orang terlihat mondar-mandir di sekitar gaun itu sambil melakukan sesuatu di atas kainnya.


“Aku berpikir untuk memberikanmu gaun pengantin yang dulu pernah dipakai saat pernikahan ibuku, hanya tinggal mengganti model lengan dan pinggangnya saja,” tutur Matteo penuh semangat. "Kita tidak punya banyak waktu untuk memesan gaun yang baru. Namun, lihatlah! Itu gaun yang sangat bersejarah. Karena gaun itulah, pria tampan ini lahir ke dunia," tutur Matteo diselingi candaan yang membuat Mia sedikit heran. Ia tidak menyangka jika Matteo bisa bercanda juga.


Mia mengangguk dan memaksakan senyumnya. Tak dapat dipungkiri jika dirinya kini merasa begitu bahagia. Namun, di sisi lain ketakutan itu terus datang menyapa. Tanpa terasa, bulir-bulir keringat deras membasahi keningnya. Wajah Mia mendadak berubah pucat pasi.


“Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?” Matteo memegang pundak Mia dan menelisik setiap inchi wajahnya. Ia berusaha mencari sebuah jawaban di sana.


“Aku tidak apa-apa,” bantah Mia. Akan tetapi, ia tak berani mengarahkan bola matanya kepada Matteo.


“Kumohon, jangan sembunyikan apapun dariku,” pinta pria itu pelan.


Mia terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan Matteo. Hampir saja ia membuka mulutnya, saat salah seorang anak buah desainer yang Matteo pesan menghampiri mereka berdua seraya berkata, “Anda boleh mencoba gaunnya sekarang, Nona Florecita.”


Tanpa sadar, Mia mencengkeram lengan Matteo demikian erat. Apa yang Mia lakukan saat itu, sama seperti yang ia lakukan saat acara penyambutan oleh para tetua tadi malam. Mia juga sempat mencengkeram erat tangan Matteo. Barulah kini Matteo mengerti. Mia melakukan hal itu ketika ia berada dalam ketakutan. “Apa yang kau takutkan, Mia?” tanya Matteo lembut. Mia terbelalak seraya menggelengkan kepalanya

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Sebaiknya kau terus terang padaku,” bujuk Matteo.


Mia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku ... aku takut, Theo. Aku takut melihat gaun pengantin, karena ... karena mengingatkanku pada kejadian itu.” Bayangan Mia kembali berputar pada kejadian beberapa tahun silam. Tiba-tiba saja dadanya terasa panas hingga ia kesulitan untuk bernapas. Mia mere•mas dadanya. Napasnya mulai tersengal-sengal. Keringat dingin bercampur air mata, menetes deras di wajahnya.


“Hei, Mia! Tenanglah, Sayang! Berusahalah untuk menarik napas dan hilangkan sejenak bayangan mengerikan itu. Tatap saja wajahku,” bujuk Matteo demi menenangkan Mia. Ditangkupnya wajah gelisah Mia dengan lembut.


“Temani aku. Temani aku ke ruang ganti,” bisik Mia lirih.


“Tentu saja, Cara mia. Akan kutemani,” tanpa ragu, Matteo menggenggam pergelangan tangan Mia untuk menuju ke ruang ganti. Di sana, sudah menunggu desainer kenalan Matteo bersama beberapa orang asistennya yang sedang memegangi gaun yang akan Mia coba beberapa saat lagi.


“Tetap di sampingku, Theo,” resah Mia dengan raut wajah yang terlihat begitu cemas.


Matteo mengangguk seraya tersenyum samar. Ia menuruti perkataan Mia dengan tetap berada di sampingnya, sampai saat seorang asisten menyodorkan gaun pengantin berwarna putih itu kepada Mia. Dengan segera, Matteo menerima gaun pengantin peninggalan ibunya.


Ruang ganti berukuran kecil itu terasa penuh dengan kehadiran Matteo. Namun, ia tak peduli.


Dengan telaten, Matteo membantu membuka resleting baju Mia. Tampaklah punggung mulus yang selalu membuat Matteo tergoda. Bahkan untuk saat ini. Pria itu masih sempat-sempatnya mengecup pundak dan beberapa bagian di punggung Mia.


“Mana gaunnya, Theo? Mereka sudah menunggu!” protes Mia dengan setengah berbisik. Ia merasa risih dengan kelakuan nakal calon suaminya tersebut. Matteo terkekeh geli menyadari tingkah lakunya sendiri. Ia kemudian membantu memasangkan gaun itu ke tubuh Mia, yang saat itu berdiri terpaku di depan cermin setinggi dirinya. Gaun putih polos itu, kini sudah terpasang dan membuat Matteo tak dapat memalingkan pandangan dari pantulan cermin di hadapannya


"La mia sposa (Pengantinku)," bisik Matteo pelan seraya mencium pundak Mia dengan lembut dan penuh cinta.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2