Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Ambizione


__ADS_3

Keesokan harinya, seorang pria dengan tampilan yang terlihat ‘spektakuler’ datang ke mansion mewah milik Adriano. Pria itu membawakan semua hal yang Adriano pesan, yaitu gaun dan beberapa perlengkapan pesta lainnya. Ia juga menyiapkan tuksedo untuk dikenakan para pria.


 


Para pelayan wanita, mengantarkan perlengkapan pesta itu ke kamar yang ditempati masing-masing tamu istimewa sang majikan. Tak terkecuali dengan gaun malam dan tuksedo yang akan Mia dan Matteo kenakan untuk pergi ke pesta besok malam.


 


“Padahal kita bisa memerintahkan seseorang, untuk mengirimkan pakaian yang kita butuhkan kemari. Aku tidak suka cara seperti ini,” keluh Matteo. Masih ada rasa gengsi dalam dirinya untuk memakai pakaian yang Adriano siapakan untuk mereka.


 


“Sudahlah, Theo. Tidak baik menolak kemurahan hati dari tuan rumah. Lagi pula, tak setiap hari kita menerima perlakuan seperti ini,” balas Mia lembut. Ia terus berusaha untuk meredam semua emosi dalam diri Matteo. Tentu saja, itu sesuatu yang aneh bagi seorang ketua dari organisasi sebesar Klan de Luca. Itu terlalu memalukan bagi dirinya.


 


“Lihatlah, Theo. Gaun malam ini sangat indah, tapi aku tetap lebih menyukai semua gaun yang kau belikan untukku. Mereka jauh lebih cantik,” ucap Mia seraya menunjukkan gaun malam yang Adriano siapkan untuknya. Gaun dengan model off shoulders berwarna krem dan terlihat begitu gemerlap karena tetesan kristal kecil di seluruh permukaannya. “Apa menurutmu ini tidak terlalu berlebihan, Theo?” gumam Mia seraya mengernyitkan keningnya.


 


“Tidak ada yang terlalu berlebihan untuk Nyonya de Luca. Tuan Adriano D’Angelo bahkan akan membelikanmu sebuah lampu gantung hias dari Perancis. Ah, sungguh luar biasa. Seharusnya aku tak menerima tawarannya untuk menginap di sini,” gerutu Matteo. Sedangkan Mia menanggapinya dengan tawa pelan. Ia meletakkan gaun itu di atas kasur berlapis sprei dari sutera dengan bedcover beludru yang lembut.


 


“Aku kira kau tak akan cemburu buta lagi, Theo. Kau sangat tampan dan luar biasa. Kau pikir aku akan rela melepaskan Matteo de Luca demi seseorang yang belum tentu sebaik dirimu? Tidak, Sayang. Rasa cintaku padamu sudah terlalu mendarah daging, dan itu tak bisa aku hilangkan kecuali jika kau menghancurkan seluruh tubuhku hingga tak berbentuk,” rayu Mia seraya menjinjitkan kakinya dan menangkup wajah rupawan sang suami.


 


Matteo tersenyum kalem mendengar rayuan manis dari wanita yang sangat ia cintai. Siapa sangka jika dirinya dapat luluh hanya dengan sebuah ucapan kecil dari Mia. Cinta yang besar sungguh telah membutakan dan membuatnya tak jarang menjadi terlihat lemah.


 


“Apa kau akan mengizinkanku keluar dari kamar dan berjalan-jalan di sekitar mansion ini, Theo?” tanya Mia dengan setengah berharap.


 


“Ya, tentu. Ajaklah Dani dan Francy untuk menemanimu. Aku tak ingin kau pergi sendiri dan tersesat di kamar D’Angelo,” ujarnya yang segera berbalas sebuah cubitan gemas dari Mia.

__ADS_1


 


“Kau sungguh manis, Theo. Aku semakin jatuh cinta padamu,” ucap Mia lembut seraya mencium mesra bibir sang suami. Bersamaan dengan hal itu, sebuah ketukan terdengar di pintu kamar yang mereka tempati. Matteo mengeluh karena ia merasa terganggu. Niatnya untuk bermesraan dengan Mia harus segera ia hentikan. Pria bertato itu melangkah ke arah pintu dan membukanya. Tampaklah seorang pelayan wanita yang tengah berdiri dengan kepala tertunduk hormat.


 


“Selamat sore, Tuan. Saya diperintahkan oleh Tuan D’Angelo untuk memanggil Anda agar menemui beliau di ruang bersantai. Tuan D’Angelo ingin berbincang dengan Anda sebelum saatnya berangkat ke pesta,” lapor pelayan itu sopan.


 


Matteo mengempaskan napas pelan. Ia kemudian menoleh kepada Mia yang saat itu memberi isyarat agar Matteo menyetujui undangan dari Adriano. Seperti biasa, pria itu tak mampu untuk membantah Mia. Matteo kemudian mengalihkan pandangannya kepada pelayan tadi. “Antarkan aku ke sana. Aku takut tersesat,” ucapnya datar.


 


Pelayan itu mengangguk hormat. Ia berjalan terlebih dahulu, sementara Matteo mengiringinya dari belakang. Pria itu terus melangkah dan sesekali mengedarkan pandangannya pada setiap hal yang ia lewati. Semua yang berada di dalam mansion milik Adriano memang sungguh luar biasa. Kata mewah sepertinya tak cukup untuk menggambarkan suasana di sana.


 


Langkah pelayan itu kemudian berhenti di sebuah ruangan yang berukuran tidak seluas ruang tamu mansion tersebut. Akan tetapi, suasana di ruangan itu terasa jauh lebih hangat. Ada sebuah sofa berbentuk melingkar di sana. Sofa itu menghadap langsung pada tungku perapian dengan ukiran yang indah. Di sudut ruangan itu juga terdapat beberapa pot berisi tanaman hias berharga puluhan juta.


 


 


“Anda mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan hal itu?” Matteo terlihat dingin menaggapi pertanyaan Adriano.


 


“Tentu saja tidak, Tuan de Luca,” sahut Adriano masih terlihat tenang. Ia mengajak Matteo untuk duduk bersamanya. Tak berselang lama, seorang pelayang datang dan menyuguhkan teh hangat untuk mereka berdua. “Aku ingin kita berbincang tentang hal lain. Tentang Tuan Sergei Redomir salah satunya,” lanjut Adriano lagi.


 


“Memangnya apa yang menarik dari pria itu?” tanya Matteo datar. Ia seakan tidak begitu tertarik dengan perbincangannya bersama Adriano saat itu.


 


“Ada beberapa hal yang harus Anda ketahui tentang Tuan Redomir. Anggap saja sebagai pengetahuan awal, agar Anda tidak merasa canggung saat nanti bertemu dengannya,” ujar Adriano.

__ADS_1


“Seberapa hebat dan penting pria itu sehingga begitu istimewa?” tanya Matteo sinis. Ia merasa jika sikap Adriano terlalu berlebihan.


“Asalkan Anda tahu, Tuan de Luca. Proses distribusi senjata di seluruh pasar gelap Semenanjung Balkan hingga Amerika Selatan tidak akan terjadi, jika bukan karena campur tangan dari Tuan Redomir. Setelah bekerja sama dengannya, maka aku bisa pastikan senjata hasil rakitan Anda tidak hanya akan tersebar di semenanjung Afrika, Asia, atau Eropa saja. Akan tetapi, bisa hingga ke seluruh dunia. Itu cita-citaku,” tegas Adriano berapi-api.


“Kenapa?” tanya Matteo dengan tatapan dan nada bicara yang sangat serius.


“Apa?” Adriano menautkan alisnya atas pertanyaan singkat Matteo.


“Kenapa kau terlihat bersemangat sekali agar senjataku tersebar ke seluruh dunia?” telisik Matteo.


“Kenapa?" Adriano tertawa pelan. "Jawabannya tentu saja karena selain itu menguntungkan bagiku, alasan lainnya adalah aku sangat mengagumimu. Nama besar Anda begitu menggaung di dunia hitam. Alangkah bangganya jika namaku dan namamu bersanding, dan dikenal oleh semua klan juga organisasi tak hanya di Eropa, melainkan di seluruh benua,” jawab Adriano penuh percaya diri.


Tersungging senyuman samar di sudut bibir Matteo. Jarang sekali ia mendapatkan pujian secara langsung seperti itu. Namun, saat ia hendak menanggapi, datanglah seorang pelayan pria setengah baya bersetelan jas hitam rapi membungkuk kepada Adriano. "Tuan, kendaraan sudah siap," lapornya penuh hormat.


“Ah, baiklah. Sepertinya kita juga harus segera bersiap-siap, Tuan de Luca,” ujar Adriano seraya berdiri dan segera diikuti oleh Matteo.


“Aku akan ke kamar dulu,” balas Matteo. Kedua pria tampan itu lalu berjalan berlawanan arah. Adriano yang sudah berpakaian rapi, langsung menuju ballroom yang berada satu lantai di bawah lantai dasar. Pria itu mendesain aula mansionnya di bawah tanah. Tak jauh dari aula megah itu, ada sebuah ruangan rahasia yang hanya dapat diakses oleh dirinya. Entah apa yang tersimpan di dalam sana, karena pintu geser otomatis itu segera tertutup, setelah Adriano masuk ke sana.


Sedangkan Matteo segera menuju kamar yang ia tempati. Saat hendak membuka pintu, terdengar riuh suara wanita di dalam sana. Penasaran, Matteo pun segera membukanya. Ternyata di sana ada Francesca dan Daniella yang telah bersiap dengan busana pesta yang indah. Namun, Matteo tak melihat sosok sang istri. “Di mana Mia?” tanya Matteo.


“Mia masih bercermin di kaca wastafel, sedang memberikan sentuhan terakhirnya,” bersamaan dengan jawaban dari Daniella, pintu kamar mandi lalu terbuka. Mia keluar dari sana dengan langkah anggun. Sementara Matteo hanya mampu terpana melihat kecantikan istrinya. Degup jantung pria itu menjadi tak beraturan, dan berdebar dengan semakin kencang tatkala Mia mendekat ke arahnya.


“Bagaimana penampilanku, Theo? Apa kau menyukainya?” tanya Mia terlihat ragu


Matteo masih ternganga. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Tatap mata abu-abu itu masih juga terpaku pada wajah cantik Mia. Beberapa saat kemudian, barulah ia kembali tersadar. Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan Mia, Matteo malah menyambar bibir Mia yang sudah dipoles dengan rapi oleh lipstik berwarna red cherry.


“Hei, Theo! Astaga! Kau akan merusak riasan kakakku!” hardik Francesca seraya menarik tubuh Matteo hingga menjauh dari Mia. Sedangkan Matteo hanya tertawa pelan.


“Ganti baju sana!” timpal Daniella ketus.


Mia tergelak melihat adegan kocak di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka jika ketua mafia yang menakutkan seperti Matteo, bisa tak berdaya di hadapa saudari-saudarinya. Itulah kekuatan tersembunyi dari seorang wanita. “Ini akan jadi pesta yang menarik,” gumam Mia.


Tepat pukul tujuh malam, mereka berangkat menuju tempat berlangsungnya pesta, yaitu mansion mewah milik Sergei Redomir. Mansion yang tak kalah megahnya dari milik Adriano.


 


 

__ADS_1


__ADS_2