
Siang hari yang cerah. Matteo yang saat itu baru selesai berenang, segera mengalihkan pandangannya dari permukaan kolam ketika ia melihat orang tuanya berjalan melintasi ruangan dengan pakaian yang sudah rapi. “Kau sungguh ingin melewatkan pestanya, Nak?” tanya Gabriela. Ia setengah berjinjit untuk mencium kening putra kesayangannya.
“Kau juga masih berhutang cerita padaku, Figlio Mio (putraku)," timpal Roberto seraya menunjuk pada Matteo yang hanya tersenyum menanggapi ayahnya.
Semalam, Antonio buru-buru mengajak Roberto keluar dengan alasan mendesak yang tidak Matteo ketahui. Akhirnya, ia tidak jadi menceritakan ‘petualangannya’ selama beberapa hari ke belakang.
"Lain kali saja, Yah. Lagi pula, bukankah sekarang kalian akan segera berangkat?"
"Ah, ya! Kami sudah terlambat," Roberto segera merengkuh pundak Gabriella dan mengajaknya pergi.
"Tunggu, Sayang. Aku ingin mencium putraku sekali lagi," ucap Gabriella seraya kembali mengecup kening Matteo yang masih duduk di tepian kolam. "Kau putraku yang terbaik, Theo," ucap wanita itu.
Matteo tersenyum. Sementara Roberto hanya mengela napas dalam-dalam. "Tentu saja, Gaby. Theo putra kita satu-satunya," ujar pria itu seraya berlalu. Gabriella pun mengikutinya sambil sesekali menoleh dan tersenyum kepada Matteo.
"Stay attento per la strada (Hati-hati di jalan)," seru Matteo dengan senyum samar di wajahnya. Namun, sayangnya terlambat. Kedua orang tuanya telah menjauh dan tak mendengar ucapannya. Matteo kembali mengalihkan pandangannya pada permukaan kolam renang.
Sepeninggal mereka yang akan menghadiri pesta, Matteo segera bersiap. Ia memakai jaket kulitnya dan juga sebuah topi. Sebelum keluar, Matteo menyempatkan diri mampir ke kamar Coco, untuk melihat keadaan sahabatnya.
Coco terlihat sedang asyik menonton sebuah acara di televisi, saat Matteo masuk ke kamar yang ditempatinya. Pria berambut coklat itu tampak heran. Ia pikir, Matteo ikut ke pesta bersama anggota keluarga yang lain.
“Kau akan pergi ke pesta dengan jaket dan celana jeans seperti itu, Kawan?” tanya Coco seraya memerhatikan sahabatnya dengan tatapan yang sangat aneh.
“Orang tuaku sudah berangkat sejak tadi,” jawab Matteo. Ia kemudian duduk di sebelah Coco yang saat itu terlihat malas-malasan di atas tempat tidur.
“Aku akan keluar sebentar. Luigi menghubungiku tadi pagi. Ia mengatakan jika kapal cargo yang membawa senjataku telah tiba. Luigi sudah membawanya ke bengkel senjata milikku,” terang Matteo. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya.
“Aku harus melakukan beberapa pengecekan. Kau beristirahatlah! Jika perlu apa-apa panggilah pelayan, tapi ingat jangan bersikap macam-macam!” tukas Matteo dengan geli.
__ADS_1
Seketika Coco menyeringai kepada sahabatnya itu. “Kau pikir aku tidak sanggup lagi mencari gadis cantik, sehingga harus melahap seorang pelayan?” protes Coco. Ia tampak kesal.
“Perayu sepertimu biasanya selalu tergoda saat melihat setiap gadis. Aku tidak akan heran dengan hal seperti itu,” ledek Matteo seraya berlalu dengan diiringi lemparan bantal dari Coco.
Pria berambut coklat itu mendengus kesal. Namun, ia segera kembali mengalihkan pandangannya pada layar televisi dan melihat gadis-gadis berbikini dalam acara ajang pemilihan ratu kecantikan. Coco terlihat sangat menikmati tontonan itu, karena rasa kesalnya terhadap Matteo seketika sirna dan berganti dengan sebuah senyuman manis penuh kenakalan.
Sementara itu, Matteo memarkirkan sepeda motor yang ia kendarai. Ia melepas helm yang dikenakannya dan melangkah ke sebuah bangunan dengan bentuk yang tidak biasa. Tampak dari depan, bangunan kecil itu terdiri dari dua buah dinding dengan atap berbentuk datar. Matteo kemudian menggeser pintu besi yang tidak terlalu lebar dan kembali menutupnya dengan rapat. Dengan hati-hati, ia menuruni anak tangga hingga sampai ke lantai bawah.
Suasana di dalam sana cukup temaram. Namun, lain halnya dengan sebuah ruangan khusus yang kini Matteo masuki. Di sana sudah menunggunya seorang pemuda dengan postur yang tidak lebih tinggi dari dirinya.
Pemuda berambut hitam lurus dengan model belah tengah. Wajahnya tidak setampan Matteo ataupun Coco, tapi ia memiliki mata biru yang indah. Pemuda itulah yang bernama Luigi. Satu-satunya asisten kepercayaan Matteo yang masih tersisa, karena ketiga anak buah Matteo yang lainnya telah tewas dalam penyerangan yang dilakukan oleh anak buah Silvio tempo hari.
“Apa kabar, Tuan?” sapa Luigi dengan sopan. Ia terlihat begitu senang melihat Matteo telah kembali. Namun, di sisi lain ia juga tampak sedih karena ketiga rekannya telah tiada.
Matteo dapat memahami hal itu. Selama ini, mereka selalu bekerja sama membantu dirinya dalam membuat berbagai komponen untuk senjata rakitannya. Luigi pasti sangat kehilangan mereka bertiga.
“Aku sangat menyesalkan hal itu,” ucap Matteo seraya menepuk lengan pria yang berusia lebih muda darinya. Luigi mengangguk lesu. Namun, ia terlihat melawan rasa sedihnya.
Matteo segera menghampiri peti itu dan membukanya. Ia mengambil senjata laras panjang dari dalam peti itu dan mulai mengamati bagian luarnya. Matteo meneliti setiap bagiannya dengan saksama. “Ayo kita coba sekarang!” ajak Matteo.
Ia melangkah keluar dari ruangan bawah tanah itu dan menuju sebuah tanah lapang yang biasa ia gunakan untuk melakukan uji coba senjatanya.
Luigi berdiri di sebelah tuannya. Ia memerhatikan pria yang kini tengah bersiap untuk menembak sasaran dari jarak sekitar lima ratus meter. Luigi begitu kagum dengan kepiawaian Matteo. Itulah yang membuat dirinya merasa bangga karena dapat menjadi orang kepercayaan dari pria dua puluh enam tahun itu.
Dua kali tembakan Matteo lesatkan dari senapan laras panjangnya. Sesaat kemudian, pria itu terdiam dan berpikir untuk sejenak. “Ayo!” ajaknya kemudian kepada pemuda di sebelahnya.
Luigi kembali mengikuti Matteo ke ruang bawah tanah yang menjadi bengkel tempat perakitan senjata itu. “Apa ada masalah, Tuan?” tanyanya setelah mereka berada di dalam. Ia melihat wajah Matteo yang saat itu tampak sangat datar.
__ADS_1
“Sepertinya Silvio telah membongkar senapan ini. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Akurasinya tidak setepat biasanya,” ujar Matteo. Ia memerhatikan senjata itu untuk sesaat. “Ambilkan peralatanku!” titah Matteo
Tanpa harus diperintah dua kali, Luigi segera melakukan tugasnya. Pemuda itu begitu cekatan dalam membantu pekerjaan Matteo. Ia seperti seorang anak yang tengah memerhatikan ayahnya, yang sedang membuatkannya sebuah mainan.
Dengan penuh konsentrasi tinggi, Matteo mulai membongkar senjata itu. Ia memeriksa setiap komponen yang ada di dalamnya. Matteo mengecek apakah ada bagian yang hilang atau mungkin ditukar dengan komponen lain yang bukan merupakan komponen aslinya.
“Oh, sial!” gerutu Matteo kesal. “Ada satu komponen penting yang diubah. Aku rasa Silvio telah mengambil komponen asli dari senjataku. Bajingan itu pasti berniat untuk membuat duplikatnya!” ujar Matteo dengan wajah yang tampak sangat jengkel.
“Kenapa Anda harus khawatir, Tuan? Anda membuat komponen itu sendiri di sini dengan bahan khusus yang tidak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Lagi pula, keahlian Anda juga sangat spesial dan tidak setiap orang memilikinya,” ucap Luigi. Ia mencoba menenangkan tuannya.
Matteo terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria itu menoleh kepada Luigi dan tersenyum kecil. Apa yang dikatakannya memang benar juga. Ia tidak harus merasa khawatir secara berlebihan. Apalagi ia telah melenyapkan Silvio beserta seluruh anak buahnya. Namun, lain cerita jika komponen yang Silvio curi itu telah sampai ke tangan kakaknya, Vincenzo Moriarty.
Matteo tidak mengharapkan hal itu sampai terjadi, karena ia pasti harus kembali memutar otaknya untuk mendapatkan kembali benda itu sebelum Vincenzo berhasil membuat duplikatnya.
Tanpa banyak bicara, Matteo kembali merakit senjata itu seperti semula. Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi seorang profesional seperti dirinya. Sekitar pukul delapan malam, Matteo baru kembali ke Casa de Luca.
Rasa penasaran menyelimuti hatinya, ketika ia melihat raut aneh yang ditunjukan oleh Damiano. Di sebelahnya, Coco juga tampak terdiam dan menunjukkan raut yang sangat tegang. Dengan segera, Matteo menghampiri kedua pria itu. “Ada apa, Damiano?” tanyanya dengan tatapan tajam kepada pengasuh setianya.
Damiano tidak dapat berkata apa-apa. Pria berusia setengah abad itu sepertinya tengah menahan sebuah gejolak perasaan yang akan segera meledak dengan dahsyat.
Matteo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Coco. “Ada apa, Kawan? Kenapa kalian bersikap sangat aneh?” selidik Matteo. Namun, Coco hanya menundukan wajahnya dengan lesu, membuat rasa penasaran di hati Matteo kian besar.
“Ada apa ini? Kenapa kalian hanya diam?” tanya Matteo dengan nada bicara yang tegas dan tinggi. Rasa penasaran bercampur khawatir telah membuat ketenangannya terusik. Matteo merasakan firasat yang tidak baik saat melihat sikap yang ditunjukan kedua pria itu.
__ADS_1