
Dengan raut wajah datar seperti biasanya, Matteo memasuki sebuah toko perhiasan mewah yang terkenal di Milan. Seorang pegawai wanita berseragam formal, menghampirinya seraya tersenyum manis. “Selamat siang. Selamat datang di Crown Jewelry,” sambutnya.
Matteo menanggapainya hanya dengan anggukan pelan, ia kemudian berjalan menuju etalase yang memajang berbagai macam model cincin bertahtakan berlian dan permata. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya ia tumpukan di atas kaca etalase sembari mengetuk-ngetuknya dengan ujung jari.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya pegawai itu ramah.
“Aku ingin memesan cincin ....” Matteo menggantungkan kalimatnya. Ia tampak sedang berpikir sejenak sembari memegang dagu.
“Cincin pertunangan, pernikahan, atau hanya sekadar hadiah untuk istri Anda?” tanya pegawai itu lagi. Tersemat pin bertuliskan nama Leyla di krah blazernya.
Matteo sempat membaca nama itu sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. “Tidak, aku belum punya istri. Uhm, maksudku aku akan menikah. Aku berniat melamar seorang gadis, Nona Leyla,” entah kenapa Matteo bertutur panjang lebar pada pegawai itu. Tiba-tiba saja ia merasa gugup saat membayangkan dirinya akan berlutut di hadapan Camilla dan melamarnya.
“Jadi, cincin itu untuk melamar kekasih Anda, Tuan?” pegawai itu memutari etalase dan berdiri berhadapan dengan Matteo. Ia menggeser penutup kaca, lalu mengeluarkan berbagai macam bentuk cincin. “Kami mempunyai banyak model. Anda dapat memesan tipe yang bisa disesuaikan dengan karakter kekasih Anda,” lanjut pegawai itu.
“Tidak, dia bukan kekasihku. Aku hanya ingin melamarnya saja,” racau Matteo sembari memijat pelipisnya.
Pegawai itu tampak mengernyit keheranan mendengar penjelasan Matteo. “Baiklah. Silakan desain sendiri cincinnya sesuai dengan karakter pasangan Anda. Kami yang akan membuatkannya. Berapa ukuran jari kekasih Anda, Tuan?” tanyanya.
“Ukuran jarinya?” ulang Matteo. Seketika ingatannya melayang pada sosok Mia. Gadis itu adalah gadis paling lembut dan anggun yang pernah ia temui. Tubuhnya begitu ramping dengan dada dan pinggul yang proporsional. Lakunya bagaikan seorang dewi yang dapat menghilangkan segala luka di hati dan tubuh Matteo. Jemari Mia yang lentik dan juga ramping, terasa begitu lembut saat menyapu wajahnya.
Sesaat, ingatan Matteo melayang pada malam tiga tahun yang lalu. Entah kenapa ia begitu kesulitan melupakan semua yang telah ia dan Mia lakukan pada malam tersebut. Padahal, Matteo sudah melewatkan banyak malam yang jauh lebih panas dengan Camilla selama tiga tahun ini.
“Jadi, berapa ukuran jari pasangan anda, Tuan?” pegawai itu sampai harus mengulang pertanyaannya kembali, karena Theo tak kunjung menjawab. Pria itu malah termangu dengan tatapan kosong. Akan tetapi, Matteo segera tersadar dari lamunannya. Ia sedikit gelagapan karenanya.
“Tuan?”
Matteo masih tergagap. “Ah, ya! Ukuran jemarinya sekitar lima atau mungkin enam. Ia sangat cantik dan juga langsing. Ia sangat manis dan lembut. Makanan buatannya pun sangat enak dan ....” Matteo tidak melanjutkan kata-katanya. Bukannya menggambarkan Camilla, dirinya malah membayangkan sosok Mia saat itu. Kenapa ia begitu bersemangat setiap kali mengingat gadis manis itu. Matteo mengela napas pelan.
“Bolehkah saya catat?”
Belum sempat Matteo menjawab pertanyaan itu, dering ponselnya sudah berbunyi nyaring. Tampak nama Coco tertera di layar. Matteo mengangguk pada pegawai tersebut. Ia lalu menjawab panggilan itu. “Ada apa, Amico?” tanyanya.
“Kau tidak akan percaya akan apa yang kulihat!” seru Coco dari seberang sana. Suaranya terdengar begitu menggebu-gebu.
“Ada apa? Apa yang kau lihat?” sahut Matteo seraya beringsut ke sisi ruangan toko.
__ADS_1
“Aku menemukan artikel tentang Francesca di majalah sport! Ia menjadi seorang model sekarang! Sudah kutelusuri namanya di mesin pencari di internet! Ia bergabung di agensi terkenal di pusat kota Roma sejak setahun lalu, Amico! Ia ada di Roma! Ia tinggal di Roma! Kau tahu apa artinya itu, kan?” teriaknya begitu nyaring sampai-sampai Matteo harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“M-maksudmu … Mia juga ada di Roma?” tanya Matteo ragu. Dadanya berdebar demikian kencang sehingga terasa sakit.
“Hei! Bukankah di mana ada Francy, di sana ada Mia? Aku tidak tahu! Coba sajalah! Kau datang saja ke Roma! Susul aku!” titah Coco.
“Memangnya kau ada di mana sekarang?” tanya Matteo.
“Aku sedang dalam perjalanan menuju Roma, Amico! Kuharap kau juga segera meluncur kemari!” jawab Coco.
“Apa? Jangan gila! Aku belum memesan tiket pesawat,” protes Matteo pelan.
“Persetan dengan tiket pesawat! Kau bisa menyetir kemari!” umpat Coco yang sedikit kesal karena Matteo menjadi tak segesit biasanya. Tanpa basa-basi ia menutup telponnya.
Berjuta perasaan yang terpendam sekian tahun lamanya, kembali berpendar dan menyeruak dari dalam diri Matteo. Wajahnya seketika terlihat cerah dan berbinar, bahkan ada sedikit rona merah yang menghiasi pipi orang nomor satu di Klan de Luca.
“Tolong buatkan pesanan cincin secepat yang kalian bisa. Kuserahkan pada kalian untuk modelnya,” Matteo segera menyerahkan kartu namanya pada sang pegawai dan bergegas keluar dari toko mewah itu. Ia segera menyalakan kendaraan dan memacu jeep kesayangannya dengan sangat kencang menuju kota Roma.
Hanya lima jam yang dibutuhkan dari tujuh jam perjalanan yang seharusnya ditempuh untuk sampai di ibukota Italia itu. Tak ada yang lain di pikiran Matteo selain tiba di kota Roma secepatnya. Petang mulai menjelang ketika ia tiba di pusat kota. Kebingungan akan arah yang akan ia tuju, Matteo memarkirkan kendaraannya di tepi jalan. Ia kemudian menelepon Coco.
Akan tetapi, berkali-kali Matteo memanggil, sahabatnya itu tak jua mengangkat telponnya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh pria berambut ikal itu sekarang. “Ck,” Matteo berdecak kesal. Dilemparkannya begitu saja ponsel itu ke atas dashboard.
Adalah Fontana di Trevi. Sebuah air mancur legendaris yang terletak di distrik Trevi, kota Roma yang menjadi tempat tujuan utama para turis. Selain untuk menikmati keindahan arsitektur kolamnya, para wisatawan juga tertarik untuk melemparkan koin, sehubungan dengan banyaknya mitos yang beredar tentang siapapun yang melempar koin ke dalam kolam air mancur. Jika ia melemparkan satu koin, maka ia akan kembali lagi ke kota Roma. Jika ia melemparkan dua koin, maka ia akan bahagia, dan jika ia melemparkan tiga koin, maka da akan jatuh cinta dengan orang Italia.
Matteo terkekeh geli mengingat mitos tersebut. Namun hal itu tak mengurungkan niatnya untuk melemparkan sebutir koin ke tengah kolam air mancur. “Aku hanya ingin bertemu denganmu sekali saja, sebelum aku melanjutkan hidupku. Aku ingin bertemu dan menjelaskan semuanya padamu, Mia” gumamnya pelan.
Cukup lama Matteo tercenung di depan air mancur, sampai ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Perut kosongnya sudah berbunyi. Matteo ingat bahwa terakhir kali ia makan adalah sarapan pagi tadi di Casa de Luca.
Segera dia memasuki mobilnya dan mulai berkendara dengan kecepatan pelan. Ia mencari tempat makan di area yang tak jauh dari sana, sambil menunggu Coco dapat ia hubungi kembali. Sambil menyetir, pandangan Matteo berkeliling ke segala arah.
Beberapa saat kemudian, mata abu-abunya terpaku pada nama sebuah restoran yang mengingatkannya akan plang nama yang tertempel di pintu kamar seorang gadis, di sebuah distrik di kota Venice. ‘La Florecita’. Begitu nama restoran tersebut. Tanpa sadar, Matteo memarkirkan jeepnya begitu saja di halaman parkir restoran. Kakinya melangkah bagaikan terhipnotis ke dalam ruang rumah makan yang bernuansa feminin dengan dekorasi bunga dan tanaman hias di sudut-sudut restoran.
Matteo mengambil tempat duduk di dekat jendela. Seorang pelayan wanita yang terlihat masih belia, datang menghampirinya. “Ingin mencoba menu andalan kami, Tuan?” tawarnya sembari menyodorkan buku menu.
“Apa itu?” tanya Theo sembari membuka menu. Ia tertegun membaca sebuah nama masakan yang terpampang besar di halaman pertama. “Arancini,” gumamnya.
__ADS_1
“Betul, Tuan! Arancini adalah menu andalan restoran kami yang sudah dimodifikasi sehingga memiliki cita rasa khas masakan bintang lima,” terang pelayan itu. Ia sudah bersiap dengan buku catatan dan alat tulis di tangannya.
Ingatan Matteo terbang ke masa lalu, ketika dirinya sedang terluka, dirawat oleh Mia. Setiap pagi gadis itu menyediakan Arancini untuknya. “Aku memesan Arancini,” ujarnya dengan mata menerawang.
Pelayan itu pun mengangguk dan berlalu. Tak berapa lama, pesanannya datang. Si pelayan belia menyajikan padanya Arancini dengan tatanan yang begitu cantik dan menggugah selera. “Apakah ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?” tanya gadis itu.
Matteo tak menjawab. Ia begitu konsentrasi memasukkan satu sendok potongan Arancini ke dalam mulutnya. Pria rupawan tersebut seketika terbelalak dan menatap pelayan di depannya. Sedangkan gadis belia itu tersipu malu saat seorang pria tampan melotot ke arahnya.
“Siapa pemilik restoran ini?” tanya Matteo dengan suara bergetar.
“Sesuai dengan nama restoran ini, Tuan. Nona Florecita,” jawab pelayan itu.
“Bisakah aku bertemu dengannya?” pinta Matteo penuh harap.
“Saya tidak tahu apakah Nona Florecita bersedia atau tidak, tapi akan saya sampaikan,” ujar pelayan itu sopan.
“Jadi, dia di sini?” jantung Matteo semakin bertalu.
“Nona Florecita ada di ruangannya sampai restoran tutup,” jelas gadis itu lagi.
“Aku akan menunggunya di sini! Tidak masalah jika aku harus menunggu sampai tutup!” tegas Matteo.
“Baiklah, Tuan,” pelayan itu terlihat serba salah. Ia meninggalkan Matteo dengan tatapan penuh keheranan.
Sementara Matteo masih tak bisa berkata-kata. Cita rasa Arancini yang baru saja memanjakan lidahnya, sama persis dengan buatan Mia tiga tahun yang lalu. Kali ini ia sangat yakin, restoran ini adalah milik Mia. Matteo hanya perlu membuktikan keyakinannya.
Beberapa jam telah berlalu dan Matteo masih setia duduk di tempatnya. Jendela-jendela juga sudah mulai ditutupi oleh tirai. Sedangkan, si pemilik restoran tak jua datang menghampirinya. Matteo mulai resah. Instingnya mulai mengatakan bahwa ada yang tak beres.
Akhirnya, tanpa membuang waktu Matteo beranjak keluar dan berlari memutari gedung restoran. Ia menuju bagian belakang restoran itu dan berhenti di sana, tepat di samping pintu belakangnya.
Beberapa menit kemudian, pintu di sisinya terbuka. Seorang gadis dengan rambut coklat layer panjang, muncul dari sana. Sorot matanya teduh sekaligus sendu. Bibirnya yang indah tampak menggumamkan sesuatu. Rupanya ia sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Gadis itu sama sekali tak menyadari kehadiran Matteo di sana sampai pria itu menyebut namanya. “Apa kabar, Mia?” sapa Matteo.
__ADS_1