
Matteo berjongkok dan memiringkan kepalanya. Sementara, Mia berdiri ketakutan di belakang sang suami. Ia sedikit menjaga jarak dari Matteo. “Siapa pria ini, Theo?” tanyanya dengan agak khawatir.
“Entahlah, tapi aku seperti pernah melihat wajahnya. Ia mengingatkanku pada seseorang,” Matteo tampak berpikir sambli mengusap dagu.
“Bagaimana caranya ia bisa masuk kemari? Bukankah sistem keamanan di Casa de Luca adalah yang terbaik?” Mia memberanikan diri berjongkok di samping Matteo dan ikut mengamati pria yang sudah tak sadarkan diri itu. “Lalu, akan kau apakan orang ini?” tanyanya lagi.
“Akan kubangunkan,” jawab Matteo singkat. Selesai berbicara demikian, ia berdiri dan menarik kaki pria tersebut. Kekuatannya yang luar biasa, membuat Mia berdecak kagum.
Pria yang terkulai lemah itu memiliki postur tegap dan kekar. Ia juga mempunyai gaya rambut cepak, dengan tato yang memenuhi tubuhnya hingga ke leher. Matteo menyeret pria misterius tersebut seakan tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Dengan santai, ia membawa tubuh itu ke kamar mandi dan membaringkannya begitu saja di atas lantai. Sementara Mia terus mengikuti dari belakang dan memperhatikan apa yang akan sang suami lakukan.
Matteo kemudian meraih shower dan menyalakannya. Setelah airnya mengalir kencang, ia mengarahkan shower itu pada wajah si pria misterius tadi. Awalnya, pria itu tak merespons, hingga beberapa saat kemudian, refleks tubuhnya mulai bergerak. Pria itu gelagapan karena tak mendapat cukup oksigen. Saluran pernapasannya penuh dengan air yang masuk melalui lubang hidung.
Dia terbatuk dan membungkuk sambil memegangi perutnya. “Am-ampuni aku, Tuan de Luca,” ujarnya terbata dan terdengar begitu lemah.
“Kenapa aku harus mengampunimu? Kau masuk ke kamar tanpa izin dan juga hampir saja mencelakai istriku!” geram Matteo seraya mengangkat satu kaki, lalu menekan kakinya ke atas dada pria itu.
“Aku berani bersumpah, bahwa aku tidak berniat mencelakai istrimu. Aku hanya merasa terpojok,” kilahnya yang begitu lemah menggerakkan tangan, sehingga akhirnya harus pasrah menerima apapun perlakuan Matteo. Ia meringis kesakitan, karena ujung hak ankle boot milik Matteo sudah melesak ke atas permukaan kulit dada pria itu.
“Katakan bagaimana caranya kau masuk ke rumahku dan apa tujuanmu! Jangan sampai kau berbohong atau ujung sepatuku ini akan menembus paru-parumu!” ancam Matteo. Rautnya kembali terlihat dingin dan garang.
“Aku berani bersumpah, aku hanya mencari Coco. Kupikir ia tinggal di kamar ini. Akan tetapi, setelah aku tahu bahwa ini adalah kamar istrimu, aku mendadak panik dan bermaksud menyanderanya,” dalih pria itu.
Matteo terkejut saat mengetahui bahwa pria itu mengenal Coco. “Apa kau mengenal Coco?” tanyanya penuh curiga.
“Tentu saja! Pria itu berutang nyawa padaku!”
jawaban pria asing itu membuat Matteo terdiam dan berpikir untuk sejenak. Ingatannya kembali pada cerita Coco yang pernah diselamatkan oleh seseorang saat mengalami kecelakaan lalu lintas. “Apakah kau kakak dari Lucia?” tebaknya kemudian.
__ADS_1
“Ya, betul! Aku Stefano, kakak dari Lucia Veratti. Apa kau tahu adikku berada di mana sekarang?” tanya pria bernama Stefano itu.
“Aku tidak tahu dan tidak peduli sama sekali!” desis Matteo. Ia mendekatkan wajahnya pada Stefano yang basah kuyup. Dicengkeramnya kerah kaus putih yang dipakai oleh pria itu. “Sekali lagi, aku bertanya! Bagaimana caranya kau bisa masuk kemari!” cecar Matteo lagi dengan penekanan suara yang sangat berat.
“Aku mengawasi kalian di seberang jalan pintu masuk gerbang utama Casa de Luca. Saat itu, kulihat kalian hendak bepergian ke suatu tempat. Sejak saat itu, aku berpikir keras untuk bisa memasuki rumah megah ini,” tuturnya.
“Lalu, aku menemukan cara brilian. Aku mengamati truk anggur yang keluar masuk tiap beberapa jam sekali dan mempunyai ide untuk mendekati salah satu sopirnya. Aku mengancam salah satu sopir itu dengan belati, agar ia mau menyembunyikanku di bawah kolong kemudi, sehingga akhirnya aku bisa masuk gerbang dengan leluasa. Dari sanalah aku bisa sampai kemari,” imbuh Stefano panjang lebar.
“Setelah tiba di perkebunan, aku menyelinap masuk ke bangunan utama dengan menyamar sebagai salah satu pekerja,” lanjutnya lagi.
“Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” tatapan mata tajam masih tak lepas Matteo tujukan kepada Stefano, sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Coco dan meminta bantuannya,” jawab Stefano yang sudah terlihat normal.
"Baiklah!" Matteo meraih kerah baju Stefano dari belakang dan menyeretnya keluar kamar mandi. Ia terus menggusur pria itu dari kamarnya dan menuju salah satu ruangan, di mana saat itu Coco tengah asyik berbincang dengan Damiano. Sesampainya di sana, Matteo mengempaskan tubuh Stefano dengan kasar. "Teman lamamu datang berkunjung, Coco," ujar Matteo dengan raut wajah yang belum berubah. Ia tidak akan mentolerir apa atau siapa pun yang telah mengancm keselamatan Mia.
Coco dan Damiano sontak berdiri dengan rona terkejut. "Siapa pria ini, Anakku?" tanya Damiano. Ada rasa iba dalam hatinya melihat perlakuan Matteo kepada Stefano.
"Aku mencari Lucia. Aku pikir ia ada bersamamu," jawab Stefano pelan.
"Aku sudah memberinya tumpangan di bengkelku, tapi Lucia malah menyusulku kemari. Casa de Luca bukan panti sosial yang bisa menampung siapa saja, karena itu aku menyuruh Lucia untuk kembali," terang Coco membuat Stefano terperanjat dan menatapnya tajam.
"Kau benar-benar tak tahu terima kasih, Coco!" sentaknya seraya mencengkeram leher T Shirt yang Coco kenakan saat itu dengan sangat kuat. Terlukis raut kemarahan bercampur rasa khawatir dalam sorot matanya.
"Hey, tenanglah!" Coco melepaskan cengkeraman Stefano dari bajunya. "Aku sudah berbaik hati dengan bersedia meminjamkan bengkelku sebagai tempat bersembunyi untuk adikmu," ujarnya enteng.
"Adikku tak hanya butuh tempat untuk bersembunyi, tapi ia juga memerlukan perlindungan dari seseorang. Namun, sayangnya saat itu aku tertangkap. Untunglah aku bisa melarikan diri, tapi bagaimana nasib Lucia saat ini?" Stefano tampak begitu cemas. Hal itu membuat Coco merasa sangat heran.
"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan kalian berdua, sehingga bisa merasa terancam seperti saat ini?" pinta Coco. Bagaimanapun juga, rasa utang budi dalam dirinya tak pernah ia lupakan begitu saja.
__ADS_1
Stefano membetulkan posisi duduknya. Untuk sesaat ia menatap Matteo yang saat itu masih memperhatikannya dengan tajam. Ia merasa takut terhadap pria itu. Stefano kemudian mengalihkan pandangan kepada Damiano yang lembut, lalu kepada Coco. Sedangkan Mia, memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Kau tahu bukan apa pekerjaanku? Kesalahan yang kulakukan adalah, karena sudah beberapa minggu ini aku tidak menyetorkan hasil penjualan narkoba kepada mereka, hingga akhirnya utangku menumpuk," terang Stefano.
"Memangnya berapa utangmu?" tanya Coco lagi.
"Sekitar lima puluh ribu euro," jawab Stefano dengan lesu.
Sementara Matteo tersenyum sinis. "Temanmu ini benar-benar bodoh, Coco!" cibirnya. "Kau selesaikan urusanmu, dan jangan libatkan aku atau siapa pun yang ada di Casa de Luca! Tadi pria ini hampir menyakiti Mia!" tegas Matteo. Ia pun berlalu dari sana, dan membiarkan Coco menyelesaikan kegaduhan itu. Sementara Damiano masih di sana. Ia harus menjadi penengah, jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan di Casa de Luca.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Coco. "Dengarkan aku! Jangan karena aku berutang budi padamu, lantas kau bersikap seenaknya dan terus mengungkit hal itu!" tegasnya.
"Kenapa kau tidak memberinya bantuan, Anakku?" Damiano ikut bersuara.
"Jika aku harus membayarkan utang-utangnya, terus terang aku tidak mau! Aku sedang menabung untuk biaya pernikahan. Kau tahu kan, aku sudah tak tahan untuk segera berkeluarga," dalih Coco kepada Damiano sambil cengar-cengir. Sedangkan Damiano hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kalau begitu bantu aku menemukan Lucia," pinta Stefano. "Sebelum datang kemari, aku sempat mencoba menghubunginya, tapi tak tersambung. Sebagai seorang kakak, aku sangat mencemaskan adikku."
__ADS_1