
Matteo memeluk erat tubuh Mia. Ia mencoba untuk memberikan ketenangan kepada sang istri. Matteo ingin agar Mia merasa terlindungi saat berada dekat dengannya. Sementara Francesca hanya terisak, bahkan ketika Daniella kembali ke kamar itu dengan segelas air putih untuk Mia.
"Para tamu sudah membubarkan diri. Oh, aku tidak habis pikir kenapa hal seperti ini bisa terulang lagi," keluh Daniella seraya meletakan gelas berisi air putih tersebut. Sesaat kemudian, ia menatap Mia yang masih tampak ketakutan dalam dekapan Matteo. Rasa iba kembali muncul dalam hatinya. Daniella tahu betul jika Mia sudah berjuang melawan rasa trauma dalam dirinya hampir selama tiga tahun. Namun, kini semua ketakutan yang dirasakan oleh adik tirinya itu harus kembali menghampiri dan membuatnya histeris lagi.
"Oh, Mia ...." Daniella benar-benar sedih melihat kondisi Mia, meskipun kini ada Matteo di dekatnya. Gadis yang selalu percaya diri dengan tampilannya yang sangat mencolok tersebut, menyambut pelukan Francesca yang juga terlihat sedih. "Aku sangat merindukan ayah," isak Franceska pelan. Ia seakan tak ingin Mia mendengar apa yang diucapkannya.
Daniella mengelus lembut rambut sang adik. "Sebaiknya kita keluar saja. Biarkan Mia istirahat. Lagi pula, ada Matteo yang menjaganya," ucap gadis itu. Ia lalu mengajak Francesca untuk keluar kamar, karena kebetulan dokter yang Matteo hubungi telah tiba di sana.
Dokter keluarga de Luca segera memeriksa Mia dengan saksama. Berkali-kali ia mengukur denyut nadi dan tekanan darah Mia, karena dilihatnya wajah wanita muda itu masih pucat. Sementara Matteo sama sekali tak beranjak dari sisi Mia. Ia bahkan masih memakai tuxedo, karena sejak tadi Mia tak bersedia melepaskan genggaman tangannya. Ia terus mencengkeram erat telapak tangan Matteo.
“Istri Anda mengalami gangguan stress pasca trauma. Jelas sekali terlihat bahwa Nyonya de Luca belum bisa melupakan pengalaman masa lalu yang mengendap di memorinya, dan menimbulkan gangguan kecemasan yang berlebihan,” tutur dokter itu pelan setelah selesai memeriksa keadaan Mia.
“Dulu istriku pernah mendapatkan perawatan dari seorang psikiater. Lalu, untuk sekarang apa yang harus kulakukan? Jika ia merasa ketakutan, gejalanya selalu diiringi dengan kesulitan bernapas. Aku sungguh khawatir padanya,” sahut Matteo. “Lihatlah, tangannya sedari tadi tak mau melepaskanku,” tunjuknya.
Dokter yang sudah berusia senja itu mengembuskan napasnya perlahan. “Jangan biarkan Nyonya de Luca sendirian. Ia harus terus didampingi dan diberikan semangat. Untuk kasus istri Anda, kecemasan yang dialaminya sama seperti seseorang yang terkena alergi. Nyonya de Luca bisa kesulitan bernapas. Akan sangat berbahaya jika ia dibiarkan sendirian,” paparnya lagi.
“Oh, Mia,” desah Matteo. Diciuminya kening sang istri berkali-kali. Ia sama sekali tak menyangka bahwa istrinya akan mengalami kejadian memilukan seperti itu. “Seandainya saja waktu itu aku tidak mengusirmu pergi. Seandainya saja saat itu aku langsung menerima cintamu dan mengikatmu,” sesal Matteo pelan.
“Jangan khawatir, Tuan Matteo. Anda bisa mengganti kenangan buruk istri Anda dengan kenangan indah yang akan kalian ukir bersama,” tutup dokter itu seraya menepuk pundak Matteo pelan.
Pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu tertegun untuk sesaat. Ia kemudian tersenyum samar. “Grazie, Dottore,” ucap Matteo.
Dokter senior tersebut mengangguk sambil memberikan resep obat penenang untuk Mia. “Minumkan hanya ketika gangguan kecemasan Nyonya de Luca kambuh,” ujarnya sebelum berlalu.
Di luar kamar, Daniella mendengarkan dengan saksama semua penjelasan dokter. Ia menutup mulut agar suara tangisannya tak terdengar. Begitu pula Francesca yang hanya bisa termangu seraya merangkul bahu sang kakak.
“Selama ini aku selalu bersikap tidak baik terhadap Mia,” ucapnya lirih. “Padahal ia yang menjaga keluarga kita agar tetap utuh. Mia pula yang selalu merawat mama hingga beliau tiada,” Daniella menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai terisak.
“Sudahlah, Dani, tak ada gunanya menyesali masa lalu. Sejak kejadian itu, kau juga sudah berubah,” hibur Francesca seraya meletakan dagunya di bahu sang kakak.
“Betul sekali, Dani. Lagi pula tidak baik menguping di depan kamar pengantin baru,” ujar suara seorang pria yang tiba-tiba hadir di sana dan membuat kakak beradik itu menoleh secara bersamaan.
“Apa yang kau lakukan di sini, Marco?” tanya Daniella dengan agak ketus.
“Aku tinggal di sini. Terserah aku dengan apapun yang kulakukan,” jawabnya tak kalah ketus. Sementara sorot matanya sama sekali tak lepas dari wajah Daniella. “Sekadar informasi. Sepertinya kalian harus menjaga saudari kalian dengan lebih ketat lagi atau ....” Marco seakan ragu melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Apa kau sedang mengancam Mia?” sela Francesca dengan nada suaranya yang cukup tinggi.
“Oh, tentu saja tidak, Manis. Ini bukan ancaman. Anggap saja ini adalah peringatan dariku, bahwa ada yang tidak menyukai kehadiran Mia di sini. Kalian harus selalu waspada,” Marco mengangkat dua jarinya, lalu ia mengarahkan kedua telunjuk itu kepadanya dan kepada Daniella. Setelah itu, Marco pergi begitu saja, sembari bersiul dan meletakkan kedua tangannya di saku celana.
“Orang gila!” umpat Francesca, bersamaan dengan dokter keluarga yang keluar dari kamar Matteo. Gadis itu segera beringsut mundur sambil meminta maaf. Sementara sang dokter hanya mengangguk dan tersenyum ramah.
Kedua kakak beradik itu bermaksud untuk memasuki kamar. Akan tetapi mereka melihat Mia dan Matteo tengah bercengkerama dengan mesra. Akhirnya mereka pun memilih untuk mengurungkan niatnya. “Kita pergi saja dulu, Dani. Mia sepertinya membutuhkan waktu berdua dengan Matteo,” saran Francesca.
“Mereka sudah menikah. Mereka akan memiliki lebih banyak waktu bersama daripada dengan kita,” elak Daniella. Namun, gadis itu tetap menuruti perkataan Francesca dan berlalu dari tempat tersebut.
Di dalam kamar, Mia masih belum juga mau melepaskan genggamannya dari tangan Matteo. Tak dipedulikannya telapak sang suami yang mulai berkeringat.
"Apakah tanganmu selalu berkeringat saat cemas, Mia?" tanya Matteo dengan setengah berbisik.
Mia mengangguk pelan. “Berbaringlah di sisiku, Theo,” pintanya.
“Tentu saja, Sayang. Tunggu sebentar, aku harus melepas jasku. Rasanya sangat tidak nyaman,” keluh Matteo seraya memasang mimik memelas, membuat Mia tersenyum geli.
“Melihat sisi dirimu yang seperti ini, rasanya aku tak bisa mempercayai bahwa kau sudah banyak menghilangkan nyawa musuh-musuhmu,” ucap Mia pelan dengan tatapan yang begitu dalam untuk sang suami. Namun, seketika raut penuh ekspresi di wajah Matteo menghilang. Semuanya kembali menjadi datar seperti semula.
“Ma-maafkan aku, Theo. Aku telah salah bicara,” Mia semakin mempererat genggaman tangannya pada Matteo. Ia merasa tidak enak, karena mungkin telah membuat Matteo tidak nyaman dengan ucapannya tadi.
Mia mengela napas panjang, bersamaan dengan Matteo yang sedang melepas jas dan kemejanya. Pria itu dengan bertelanjang dada segera berbaring di sisi Mia. Mereka berbaring dengan saling berhadapan dalam posisi menyamping.
“Aku ingin mengetahui segala sesuatunya tentangmu, Theo. Aku tak ingin kalah dengan Camilla, yang pastinya jauh lebih mengenalmu jika dibandingkan denganku,” ujar Mia dengan agak parau.
Matteo tertawa pelan. “Kau cemburu, Sayang?" godanya. Ia lalu mengusap kening Mia dengan lembut. "Camilla memang sudah mengenalku selama bertahun-tahun, bahkan sejak kecil kami sudah saling mengenal. Akan tetapi, selama rentang waktu itu aku tak pernah menganggapnya istimewa, sementara dirimu ....” Matteo menyentuh hidung Mia dengan telunjuknya, “tidak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk menjadikanmu yang teristimewa," lanjutnya. Sebuah jawaban yang mampu meruntuhkan segala kesedihan dan keraguan di hati Mia sehingga matanya kembali berbinar. Senyum pun tak henti-hentinya mengembang dari bibir indah itu.
“Dasar, penakluk wanita!” ledek Mia.
Matteo tergelak mendengarnya. “Ti amo tanto (aku sangat mencintaimu), Mia,” ucapnya dengan sungguh-sungguh setelah beberapa detik kemudian.
“Ti amo di piu (aku lebih mencintaimu),” balas Mia.
“Benarkah itu? Bukankah beberapa hari yang lalu kau hampir membunuhku?” sindir Matteo yang membuat wajah Mia cemberut seketika. “Jangan ingatkan aku akan hal itu, Theo! Aku jadi merasa bersalah,” sesalnya.
Matteo kembali tertawa pelan. Ia lalu merengkuh tubuh Mia dengan hangat. “Tidak apa-apa. Mati di tanganmu akan jauh lebih baik daripada harus kehilanganmu lagi,” ucap Theo sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Ternyata selain menjadi raja dari Klan de Luca, kau juga merupakan raja gombal, Theo. Kau sangat pintar merayu,” Mia tertawa renyah. Hal itu membuat Matteo terpana dan tak tahan untuk tidak mengecup bibir indahnya. Akan tetapi, kemesraan itu harus terhenti kala terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar.
“Biar kubuka,” Matteo beranjak turun dari ranjang, lalu segera membuka pintu. Tampak Antonio berdiri di depannya dengan wajah serius.
“Ada apa, Paman?” tanya Matteo datar.
“Boleh aku masuk? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, sekalian menjenguk istrimu. Apa ia baik-baik saja?” tanpa menunggu persetujuan dari Matteo, Antonio segera masuk begitu saja. Bahunya sempat bertabrakan pelan dengan bahu Matteo.
“Bagaimana kondisimu, Signora Mia?” tanya Antonio.
“Sudah lebih baik, Tuan. Terima kasih,” sahut Mia dengan bahasa formal.
“Ah, jangan panggil aku Tuan. Cukup paman saja,” protes Antonio. “Jadi, apakah kau sudah menginterogasi pelakunya, Theo?” kini pria paruh baya itu beralih kepada Matteo.
“Tidak, aku belum sempat," jawab Matteo. "Aku tidak bisa meninggalkan Mia sendirian. Lagi pula, ada Damiano yang sudah mengatasi semuanya,” lanjutnya.
“Kau percayakan semua kepadanya?” Antonio mengerutkan kening, bersikap seolah tak percaya.
“Kenapa memangnya?”
“Ah, Theo. Sejak kapan otakmu menjadi tumpul begitu?” cerca Antonio yang segera menyulut emosi Matteo.
“Apa maksud Paman?” geram Matteo.
“Damiano yang kau percaya mengatur acara pesta pernikahanmu. Seharusnya ia yang bertanggung jawab! Bagaimana ia bisa kecolongan dengan masuknya seorang pelayan tak dikenal yang kemudian dengan sengaja menumpahkan darah binatang ke gaun istrimu!” tegas Antonio. “Jangan-jangan … Damiano lah yang mengatur semua ini?” Antonio menyeringai sembari mengusap jenggotnya.
__ADS_1