
"Kau bertanya padaku, Cara mia?" nada bicara Matteo terdengar begitu sinis. Mia yang merasakan keanehan dari sikap Matteo, segera melepaskan rangkulan dari pria itu dan mundur beberapa langkah. Otaknya mencoba untuk mencerna maksud dari sikap dingin Matteo terhadap dirinya. Sepintas, ingatan Mia kembali tertuju pada pertengkaran hebat antara dirinya dan Matteo beberapa waktu silam. Tatap mata pria itu sama persis seperti sorot mata Matteo saat ini. Terlihat begitu menakutkan. Tak terlihat sama sekali sosok Matteo yang lembut dan penuh cinta.
"Apakah kau marah padaku, Theo?" tanya Mia dengan lirih. Ia menatap lekat sang suami. Sepertinya, saat itu Matteo tengah berusaha untuk menahan amarah yang siap meledak dengan begitu dahsyat. "Memangnya apa salahku?" tanya Mia lagi tak mengerti.
Matteo mencekal lengan Mia dengan kencang. Jelas sudah jika pria itu memang tengah dilanda amarah yang sangat besar. "Kau masih berani bertanya padaku? Seharusnya kau sudah mengetahui jawabannya!" jawab Matteo dengan penekanan suara yang sangat dalam dan tegas. Seandainya saat itu tak ada Miabella yang sedang tertidur lelap, mungkin Matteo sudah membentak Mia dengan keras.
"Aku benar-benar tidak mengerti, Theo," bantah Mia tegas.
"Apa yang tidak kau mengerti, Florecita Mia?" sergah Matteo dengan penekanan yang sangat kuat pada nada bicaranya. Sorot matanya semakin tajam ia layangkan terhadap Mia yang meringis karena cengkeraman kencang di lengannya. "Selama ini, aku mencintaimu dengan sangat tulus, bahkan aku rela meninggalkan segalanya demi dirimu. Lalu, apa yang kau lakukan padaku? Katakan rahasia terlarang apa yang kau miliki dengan D'Angelo!" nada bicara Matteo terdengar semakin menakutkan.
"Tidak ada!" sanggah Mia. "Aku tidak pernah memiliki rahasia terlarang apapun dengannya! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" ia tetap membantah tuduhan Matteo dengan sangat tegas.
"Bagaimana katamu? Kau lupa siapa aku?" tegas Matteo lagi. "Aku memang bukan seorang ketua Klan de Luca lagi, tapi instingku tidak pernah meninggalkan dan membuat otakku menjadi tumpul apalagi bodoh! Kau ... kau tahu aku tidak menyukai pengkhianatan dan tak akan pernah berkompromi dengan seorang pengkhianat, siapa pun itu!" Matteo mengempaskan lengan Mia yang sejak tadi ia cekal dengan kasar.
"Kau menyakitiku, Theo!" balas Mia. Matanya mulai berkaca-kaca atas sikap kasar Matteo terhadapnya. "Aku berani bersumpah demi cinta kita, demi hubungan suci antara kau dan diriku! Aku tak pernah mengkhianatimu sedikitpun! Jangankan di dunia nyata, bahkan dalam bayangan sekalipun tak pernah terlintas olehku untuk melakukannya!" sanggah Mia dengan tegas dan yakin.
"Namun, sayangnya aku melihatmu, Mia! Aku mendengar seluruh perbincanganmu dengan Adriano D'Angelo tadi! Jadi, sebaiknya kau berhenti untuk mengelak dan bersikap jujurlah padaku," Matteo mengakhiri kalimatnya dengan nada bicara yang semakin rendah. Sementara Mia begitu terkejut mendengar ucapan sang suami. Ia tak menyangka bahwa Matteo akan mengetahui apa yang dirinya dan Adriano perbincangkan tadi. Sekarang, Mia dapat memahami alasan dari kemarahan pria itu terhadap dirinya.
Mia terduduk di tepian tempat tidur. Ia menjadi serba salah saat itu. Semua hal yang ditutupinya selama ini, mau tak mau harus ia ungkapkan demi nama baik dan kepercayaan Matteo yang tengah meragukannya. "Theo, maafkan aku," ucap Mia pelan dan terdengar begitu lirih. Sementara Matteo mendengus kesal seraya memilih untuk duduk di sisi lain tempat tidur. Saat itu, keduanya dalam posisi saling membelakangi.
Matteo duduk dengan sedikit membungkukan badannya. Berkali-kali ia mengusap wajah dengan kasar. Rambut yang tersisir rapi ke belakang pun kini mulai berantakan. Sedangkan Mia tertunduk lesu. Sebisa mungkin wanita itu menahan dirinya agar tidak menangis. Mia tak ingin terlihat lemah, apalagi ia merasa jika dirinya tidak bersalah.
"Theo, aku menyembunyikan semua ini bukan tanpa alasan," Mia memulai penjelasannya kepada Matteo. "Sebenarnya aku juga benar-benar tidak nyaman karena harus bersandiwara di hadapanmu, tapi aku melakukannya hanya karena tak ingin ketenangan hidup kita terusik lagi. Aku menyukai Matteo yang baru, dan kau pun sudah sangat memahami hal itu," tutur Mia pelan.
__ADS_1
"Jangan bertele-tele!" sahut Matteo yang menanggapi ucapan Mia. "Katakan rahasia apa yang kau ketahui tentang Adriano D'Angelo!" nada bicara Matteo masih terdengar dingin dan datar. Sedangkan Mia tak segera menjawab. Ia masih menimbang-nimbang dampak yang akan terjadi andai dirinya mengatakan siapa sebenarnya Adriano. Namun, semuanya sudah terlanjur Matteo ketahui kini.
"Theo, kau ingat tentang pria yang berfoto dengan ayahmu?" Mia menoleh kepada Matteo yang masih membelakanginya. "Pria itu adalah paman dari Adriano D'Angelo," lanjut Mia, membuat Matteo seketika menoleh kepada wanita cantik itu. Ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri. Matteo berdiri tak jauh dari Mia yang saat itu tengah menatapnya dengan lekat.
"Dari mana kau mengetahui hal itu?" selidik Matteo. "Katakan padaku bagaimana kau bisa mengetahui sesuatu yang bahkan tidak kuketahui? Sedekat apa antara dirimu dengan Adriano D'Angelo?" cecar Matteo penuh curiga.
"Tidak sama sekali, Theo!" bantah Mia dengan tegas. "Aku tak akan terima jika kau terus menuduhku seperti itu!" Mia menatap Matteo dengan tajam.
"Kalau begitu, segera berikan aku sebuah penjelasan yang masuk akal! Jangan pernah mencoba untuk mengelabuiku, Florecita Mia!" nada bicara Matteo masih terdengar diliputi oleh kemarahan karena rasa cemburunya yang terlalu besar.
Mia segera berdiri dan mendekat kepada sang suami. Ia berusaha agar tak terpancing emosi seperti saat itu, di mana dirinya mengambil keputusan yang keliru dan berakhir dengan sebuah bencana mengerikan.
"Dengarkan aku, Theo. Aku tidak tahu apakah pantas untuk mengatakan ini padamu atau tidak," Mia terdiam sejenak.
"Malam itu .... ketika kita masih berada di mansion milik Adriano ...." Mia kemudian menceritakan awal mula dirinya bisa menemukan ruang kerja rahasia pria bermata biru itu. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya melihat foto Alessandro Moriarty di sana, yang belakangan Mia ketahui sebagai paman dari Adriano.
"Lalu, apa lagi yang terjadi setelah itu?" cecar Matteo lagi dengan penuh selidik.
"Aku tidak tahu jika Adriano saat itu habis minum, dan mungkin ia sedikit mabuk. Dirinya menjadi hilang kontrol dan ... dan ia menciumku dengan paksa," Mia tertunduk seraya mengulum bibirnya. Sedangkan Matteo terdiam dengan tatapan lekat yang sejak tadi ia layangkan kepada Mia. Pria tersebut tidak segera menanggapi penuturan dari sang istri. Hal itu membuat Mia kembali merasakan kegelisahan yang teramat besar. Namun, ia tak mampu untuk kembali bersuara, dan hanya sebuah isakan pelan yang terdengar dari bibirnya.
"Apakah hanya itu?" tanya Matteo dingin setelah ia terdiam beberapa saat lamanya.
"Ya. Setelah itu, Adriano segera meminta maaf padaku dan ...." belum sempat Mia melanjutkan kata-katanya, Matteo telah terlebih dahulu melangkah menuju pintu. "Theo, tunggu! Kau mau ke mana?" Mia berusaha meraih lengan pria yang sepertinya kembali dikuasai amarah tersebut.
__ADS_1
"Tetap di sini dan tidurlah. Temani Miabella!" tegas kata-kata Matteo terdengar mengandung arti lain dalam benak Mia. Ia yakin jika suaminya pasti akan melakukan sesuatu yang di luar batas. Mia pun menjadi gelisah. Wanita itu berjalan sambil mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali Mia menggigit kuku jari telunjuk demi menghalau rasa was-was dalam hatinya. Ia pun segera meraih ponsel dan mencoba untuk menghubungi Coco. Sayangnya, saat itu Coco meninggalkan ponsel di dalam kamar. Sementara ia sendiri tengah asyik memadu kasih bersama Francesca di bagian lain kastil yang sepi.
Matteo melangkah dengan tegap menyusuri lorong. Ia terlihat begitu gagah dengan wajah dingin dan tatapan lurus ke depan. Tujuannya kini hanya satu, yaitu aula tempat berlangsungnya pesta. Di sana para tamu masih tampak menikmati jalannya acara. Sajian musik dan juga berbagai kudapan khas kalangan atas.
Setibanya di aula, Matteo berdiri dan mulai mengedarkan pandangannya. Tatapan mata abu-abu itu akhirnya terpaku pada sosok tegap yang tengah berdiri menatap lukisan besar Coradeo de Luca. Matteo pun segera menghampiri pria yang tiada lain adalah Adriano. "Ikutlah denganku," ucapnya dengan setengah berbisik.
Adriano yang saat itu tengah fokus pada lukisan tadi, segera menoleh dan tersenyum. "Tuan de Luca? Siapa yang membuat lukisan ini? Aku sangat menyukai detailnya. Terlihat ...."
"Lain kali saja kita membahas tentang lukisan," potong Matteo dengan dingin dan seakan memberikan sebuah pertanda kepada Adriano. Pria itu pun bersikap waspada. Namun, ia tak menolak ketika Matteo mengajaknya untuk keluar dari aula tempat berlangsungnya pesta tersebut.
Tanpa banyak bertanya, Adriano terus mengikuti langkah Matteo. Pria bermata biru itu mengamati bahasa tubuh dari pria yang tengah berjalan sedikit di depannya. Ia pun tak tahu ke mana Matteo akan membawanya kali ini.
Sementara Coco yang tengah asyik bermesraan dengan sang kekasih, tanpa sengaja melihat kedua pria itu melangkah keluar kastil. Mereka sepertinya tengah menuju landasan helikopter. Coco pun menyuruh Francesca untuk masuk. "Francy, masuklah dulu. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Nanti kita lanjutkan lagi," ucap pria berambut ikal tersebut sambil membetulkan tali gaun Francesca yang melorot.
"Kau hendak ke mana, Ricci?" tanya gadis bermata hazel itu curiga.
"Aku ingin ke toilet," jawab Coco terlihat meyakinkan. Bakat sebagai perayu wanita, membuatnya terlihat dapat dipercaya meskipun ketika sedang berdusta.
"Baiklah," balas Francesca dengan terpaksa. Gadis itu pun melangkah masuk ke dalam kastil, sedangkan Coco bergegas menuju landasan helikopter.
Sementara Adriano merasa bingung karena Matteo membawanya ke tempat itu. Ia pun merasa harus bertanya kepada Matteo. "Maaf, Tuan de Luca. Untuk apa kita kemari?" tanya Adriano dengan heran.
Matteo yang saat itu dalam posisi membelakangi Adriano segera berbalik dan menjawab, "Untuk ini, Bajingan!" sebuah pukulan keras mendarat dengan sempurna di wajah tampan Adriano.
__ADS_1