Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
I Do


__ADS_3

“Berdirilah, Theo!” sahut Mia dengan suara bergetar. Tak hanya suara, seluruh tubuhnya pun  terasa ikut gemetar. Entah mengapa, kali ini rasanya jauh berbeda dengan saat Valentino melamarnya dulu. Padahal, saat itu Valentino melamarnya di tempat dan dalam suasana yang indah. Namun, Mia sama sekali tak merasakan getaran apapun saat itu.


 


Lidah Mia terasa benar-benar kelu, sehingga ia tak tahu harus menjawab apa. Ia begitu bimbang dengan lamaran yang sangat tiba-tiba tersebut. Terlebih, ia dan Matteo baru dipertemukan kembali setelah tiga tahun lamanya.


 


Diliriknya Francesca yang juga tampak terkejut, sama seperti dirinya. Gadis manis yang kini telah berprofesi sebagai model profesional tersebut, sama tidak percayanya dengan Mia. Mereka tidak menyangka jika seorang Matteo de Luca dapat melakukan hal seperti itu.


 


Begitu juga dengan Coco. Entah mimipi apa dirinya, sehingga dapat menyaksikan adegan yang langka seperti yang sedang tersaji di hadapannya. Coco pun ikut bimbang, antara harus terharu atau justru tertawa geli karena melihat aksi langka sahabatnya yang selama ini selalu bersikap dingin dan datar.


 


Dalam hati, Mia merasakan kegalauan yang cukup besar. Ia teringat akan pengorbanan dan penderitaan Francesca selama tiga tahun terakhir ini akibat dirinya. Francesca lebih memilih membuang cinta pertamanya demi Mia. Rasanya tak adil jika ia harus berbahagia, sementara Francesca telah berkorban perasaan untuk dirinya. Mia sama sekali tak ingin mengabaikan hal itu.


 


“Maafkan aku, Theo. Aku tidak bisa menerimanya,” tolak Mia dengan suaranya yang begitu lirih dan terdengar ragu. Wanita muda tersebut menggigit bibir bawahnya perlahan demi menahan perasaan tak karuan yang kini melanda hatinya.


 


Tubuh Matteo terasa lemas seketika. Tulang-tulangnya bagai tercerabut dari badan. Tak pernah ia merasa selemah ini. Terlebih di hadapan seorang wanita. “Kenapa, Mia? Aku pikir kau sudah memaafkanku,” tanyanya pelan dengan wajah yang terlihat begitu kecewa.


 


“A-aku … Francy .…” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Wanita muda itu malah menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.


 


“Hentikan, Mia!” seru Francesca. “Untuk sekali ini saja, jangan memikirkan orang lain selain dirimu. Sudah cukup kau merawat mama, Daniella dan juga aku. Apa yang kulakukan selama tiga tahun terakhir ini, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuanganmu merawat dan menjaga kami bertiga. Kau selalu menempatkan orang lain lebih dulu daripada dirimu sendiri. Sudah cukup!” sergah Francesca dengan tegas.


 


Gadis itu kemudian mendekati Mia dan memegang bahunya. “Aku tahu sejak awal kau sudah jatuh cinta pada Matteo. Sejak orang aneh ini memasuki rumah kita, aku terus mengamatimu. Kau selalu memandang Matteo dengan begitu lembut dan penuh kasih, seperti ketika mama memandang ayah setiap kali mereka bercengkerama,” tutur Francesca. Coco yang menyandarkan tubuhnya di dinding ruang tamu, terlihat menahan tawa saat Francesca menyebut Matteo sebagai orang aneh.


 


“Jangan dipendam lagi, Mia! Kau berhak bahagia! Jangan pedulikan aku! Aku tak selemah yang kau kira!” tegas gadis belia itu seraya memeluk erat kakak tiri yang sangat disayanginya.


 


Hati Matteo menghangat melihat itu semua. Salah satu dari sekian banyak hal tentang Mia, yang membuatnya jatuh cinta adalah ia tak pernah egois. Mia selalu tulus pada setiap orang di sekitarnya. Ia tak pernah setengah-setengah dalam membantu siapa pun. Gadis itu seperti mata air jernih yang mampu memberikan kesegaran untuk semua orang di kala dahaga melanda.


 


“Kau tahu, Mia? Seandainya kau menolakku sekarang, aku tak akan berhenti meminta dan memaksamu sampai kau bersedia,” seringai Matteo. Ia berdiri mensejajari gadis cantik yang masih menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya itu. Matteo meraih tangan Mia, lalu menariknya. Mia hanya pasrah ketika Matteo menuntun kedua tangan halus itu dan meletakkannya di pinggang.


 


“Utarakan apa yang ingin kau katakan, Mia,” Matteo menirukan ucapan Mia saat pertama kali dirinya memasuki ruang apartemen itu.


Mia mendongak, menatap mata abu-abu Matteo. Mulutnya sudah sedikit terbuka dan bersiap untuk bicara, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari sana.


 


“Katakan, Mia!” paksa Matteo.


 


“Aku bersedia, Theo,” ujar Mia lirih.


 


“Kau bicara apa, Bella? Aku sama sekali tidak bisa mendengarmu,” goda Matteo seraya tertawa.


 


“Aku bersedia menikah denganmu!” seru Mia yang kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Matteo, diiringi oleh tepuk tangan Coco dan juga Francesca. “Saatnya kembali ke Brescia, Amico! Aku meninggalkan bengkel begitu saja saat mengetahui bahwa Francesca tinggal di Roma,” tutur Coco beberapa saat kemudian.


 

__ADS_1


“Benarkah itu, Ricci? Kau bergegas kemari setelah mengetahui keberadaanku di sini?” ulang Francesca tak percaya.


 


“Ya, aku melihat wajahmu di sampul majalah sport. Ada artikel tentangmu pula. Dari sana, aku mencari keberadaanmu,” tutur Coco bangga.


 


“Lalu, akhirnya kita semua bertemu di sini,” timpal Francesca. “Akankah kita selamanya bisa seperti ini, ataukah akan ada sesuatu yang memisahkan kita lagi?” lanjut gadis itu dengan mimik ragu.


 


“Kalian semua sudah menjadi bagian dari keluarga de Luca. Itu artinya, tak ada yang perlu ditakutkan!” tegas Matteo. Tangannya tak juga lepas dari pinggang ramping Mia. “Aku ingin kau pulang bersamaku, Mia. Kita persiapkan pernikahan secepat mungkin sebelum berangkat ke Venice,” lanjut pria rupawan itu.


 


“Untuk apa kau ke Venice?” tanya Coco seraya mengernyitkan keningnya.


 


“Aku ingin memperlihatkan kepada Mia, orang-orang yang bertanggungjawab atas peristiwa berdarah saat pernikahannya,” jawab Matteo.


 


“Kau akan membawa kakakku pergi, Matteo?” ada setitik rasa khawatir di raut wajah Francesca.


 


“Tidak masalah, kan?” Matteo malah balik bertanya.


 


“Bagaimana dengan restoran La Florecita? Jujur saja, aku tidak bisa menangani dua pekerjaan sekaligus!” tolak Francesca mentah-mentah.


 


“Tenanglah, Francy. Ada Dani yang akan mengatur segalanya,” hibur Mia. Francesca tak menyangka bahwa Mia akan berubah secepat itu. Segala ketakutan dan trauma bertahun-tahun, seakan menguap begitu saja. Kini wanita muda tersebut tampak seperti hidup kembali. Ia terlihat begitu nyaman di dekat Matteo.


 


 


“Tidak ada. Kami hanya mulai saling terbuka,” jawab Matteo dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang.


 


Coco pun sama herannya dengan Francesca. Selama dirinya mengenal Matteo, tak pernah sekalipun ia melihat wajah sahabatnya seceria dan seramah seperti saat ini. “Mungkin kita harus meninggalkan mereka berdua, Francy,” bisik Coco. Bibirnya begitu dekat dengan pipi Francesca, sehingga membuat bulu kuduk gadis belia itu meremang.


 


“Kita akan ke mana?” Francesca berusaha menutupi debaran jantung dan rasa gugupnya dengan menyunggingkan sebuah senyuman.


 


“Seharusnya kau yang lebih tahu,” Coco mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Francesca. “Mengajakku berkeliling kota Roma, mungkin?” tawarnya kemudian.


 


Dengan wajah memerah, Francesca memberanikan diri menggandeng lengan Coco dan mengajaknya keluar dari apartemen Mia. “Aku tahu sebuah tempat yang bagus. Kau pasti akan menyukainya,” ujar Francesca sembari menutup pintu apartemen Mia.


 


Ruangan minimalis bernuansa putih itu kembali hening. Mia dan Matteo hanya saling pandang dan terdiam. “A-aku akan menyiapkan makan malam,” ujar Mia memecah keheningan. Ia tiba-tiba merasa gugup.


 


“Aku akan membantumu,” sahut Matteo sambil melipat lengan kemeja putihnya. Ia lalu berdiri di samping Mia dan menghadap ke meja dapur. Ukiran tato terlihat di tangan kirinya hingga pergelangan. Sekilas, Mia melirik gambar-gambar aneh yang tidak ia mengerti itu.


 


“Sepertinya kau menambah koleksi tatomu, Theo,” gumam Mia sembari memasak air dan membersihkan tomat. Ia juga memberikan tugas kepada Matteo untuk memasak pasta.


 

__ADS_1


“Hanya beberapa,” jawab Matteo singkat.


 


“Aku juga tadi melihat tato mahkota di punggungmu,” ujar Mia lagi.


 


Matteo tersenyum lembut. “Itu tato khusus untuk penguasa klan,” sahutnya.


 


“Kau sudah berada di puncak dunia, Theo,” ucap Mia dengan pandangan lurus ke arah tomat yang ia potong kecil-kecil, lalu ia masukkan ke dalam panci berisi air mendidih.


 


“Aku tidak merasa berada di puncak dunia, cara mia. Sejujurnya, aku sangat kesepian,” sahut Matteo dengan begitu lirih, sampai-sampai Mia harus menajamkan indra pendengarannya.


 


“Bukankah kau memiliki gadis yang dekat denganmu selama ini? Kenapa kau masih saja merasa kesepian?” Mia menghentikan kegiatannya lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Matteo.


 


“Karena bukan ia yang kuinginkan,” Matteo kembali mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Mia. “Aku ingin segera membawa dan mengenalkanmu kepada para tetua Klan sebagai calon istriku,” ujar Matteo sambil mengecup lembut bibir Mia sekilas.


 


“Bagaimana jika mereka tak setuju?” pikiran buruk kembali menghantui Mia. Rasanya sulit untuk menerima bahwa kali ini ia akan mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa kebahagiaan.


 


“Maka aku akan memaksa mereka untuk menyetujuinya! Siapa yang berani menentang keputusan ketua klan? Tekadku sudah bulat. Aku akan menjeratmu dengan rantai emas dan mengikatmu di tubuhku. Kau tak akan bisa lagi kemana-mana,” tegas Matteo dengan sorot mata tajam seperti biasa.


 


“Kau membuatku takut,” ucap Mia seraya kembali pada pekerjaannya. Sesekali ia menunduk malu. Sementara Matteo menghentikan aktivitasnya. Ia segera memeluk Mia dari belakang, sehingga Mia dapat kembali mendengar helaan napas berat pria bermata abu-abu tersebut.


 


“Aku jauh lebih takut. Aku tak ingin kehilanganmu lagi. Karena itu, jika perlu maka aku akan menyekapmu di dalam kamarku agar kau tak dapat ke mana-mana,” bisik Matteo nakal. Hari ini ia tak seperti biasanya. Sejak tadi, Matteo begitu banyak bicara.


 


“Begitukah?” Mia tersipu malu mendengar ucapan Matteo.


 


“Seberapa besar kau merindukanku, Mia?” tanya Matteo dengan setengah berbisik. Ia masih memeluk wanita muda itu dari belakang. Sementara Mia tidak segera menjawab. “Kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak pernah merindukanku selama ini?”


 


“Aku telah jatuh cinta padamu, dari semenjak kau pingsan di dalam kedai ayahku,” ungkap Mia. “Kau kira-kira saja sendiri.”


🍒


🍒


🍒


Berhubung Matteo dan Mia mau makan malam dulu, ada baiknya mampir ke novel keren di bawah ini. Jangan lupa berikan dukungannya 🤗


 


 


 



 


__ADS_1


 


 


__ADS_2