
Semenjak hari itu, Matteo kembali ke bengkel dan memulai pekerjaanya. Semua komponen yang ia butuhkan sudah dikirim dari Palermo. Dengan dibantu Valerie, Matteo dapat merakit semua komponen itu jauh lebih cepat. Lagi pula, tak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Valerie untuk dapat beradaptasi dengan cara kerja Matteo. Gadis bertato itu tampak sangat bersemangat. Sementara untuk urusan Antonio, Matteo menyerahkannya kepada Marco.
Matteo juga selalu mengajak Mia setiap kali ia pergi ke bengkel perakitan, meskipun tak ada yang Mia lakukan di sana selain memperhatikan sang suami yang terlihat begitu serius dengan pekerjaannya. Kekaguman Mia atas diri Matteo tak pernah berubah, dan mungkin tak akan ada habisnya.
Dalam jangka waktu kurang lebih dua minggu saja, Matteo sudah menyelesaikan semua pesanan lima ratus pucuk senjata. Padahal ia masih memiliki waktu sekitar satu minggu lagi. Namun, Matteo sudah bernapas lega. Di sela-sela waktu senggang itu, ia juga kerap mengajari Mia untuk berlatih menembak, meskipun saat itu Mia masih duduk di atas kursi roda. Sedangkan Valerie hanya dapat memperhatikan kemesraan sepasang suami-istri itu dengan senyuman semu, bahkan ketika ia melihat Matteo mencium Mia dengan sikap yang tampak sangat berbeda. Pria itu seperti bukan Matteo yang ia lihat, ketika sedang berhadapan dengan sebuah senjata.
"Apa yang kau lihat, Val?" suara Adriano yang tiba-tiba hadir di sana, seketika membuyarkan semua lamunan Valerie. Gadis dengan penampilan eksentrik itu menoleh kepada kakak angkatnya dan tersenyum. Sedangkan Adriano, menatap nanar Matteo yang kembali mengajari Mia menembak. "Jangan pernah berpikir untuk dapat menarik perhatian Tuan de Luca. Lihatlah perlakuannya terhadap Mia. Pria seperti itu bukan tipe orang yang mudah untuk ditaklukan," ucap Adriano lagi.
Valerie mengempaskan napas pelan. "Kapan kau datang? Bagaimana bisa aku tidak mendengar suara mobilmu?" Valerie tak menanggapi ucapan pria bermata biru tersebut.
"Kau terlalu asyik memperhatikan Tuan de Luca," ujar Adriano seraya berlalu dari dekat Valerie. Ia berjalan ke arah Matteo dan Mia. "Selamat siang, Tuan de Luca," sapa Adriano ramah. Raut wajahnya terlihat berseri. Terutama ketika ia berdiri di dekat Mia dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Tuan D'Angelo? Kapan Anda datang?" Matteo mengernyitkan keningnya. Ia lalu menoleh kepada Valerie yang juga ikut bergabung dengan mereka.
"Baru saja," jawab Adriano ramah. "Ah, Nyonya de Luca sedang berlatih menembak rupanya. Luar biasa," Adriano berdecak kagum. Sementara Mia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman lembut.
"Ya. Istriku tak mau kalah dari suaminya," ujar Matteo seraya menyodorkan senjata laras panjang yang tadi digunakan untuk berlatih kepada Valerie.
"Nyonya de Luca belajar dengan cepat. Kapan-kapan kita bisa berlatih bersama," Valerie ikut menanggapi.
"Ya, tentu Val. Pasti akan menyenangkan bisa berlatih bersamamu," sahut Mia lembut dan berbalas sebuah senyuman dari gadis bertato itu.
"Valerie merupakan seorang penembak jitu, Nyonya. Anda bisa belajar banyak darinya," sela Adriano, membuat Mia menoleh kepadanya.
"Apakah Anda yang mengajarinya, Tuan D'Angelo?" tanya Mia.
__ADS_1
"Valerie menyerap ilmu dari semua orang. Ia belajar dengan sangat cepat," sanjung Adriano seraya melirik adik angkatnya tersebut.
"Bisakah kau berhenti membuatku melambung, Moy brat? Aku tidak akan membalasmu dengan sebuah sanjungan juga, karena kau adalah kakak yang sangat cerewet," ujar Valerie yang seketika membuat Adriano tergelak. "Aku yakin kau datang kemari bukan untuk memberitahu Tuan dan Nyonya de Luca tentang seberapa kerennya diriku. Iya, kan?" kelakar gadis itu.
"Ya, tentu saja bukan. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu," Adriano kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Matteo yang sejak tadi hanya mendengarkan perbincangan kakak beradik itu. "Ini tentang pemesan senjata rakitan Anda, Tuan de Luca. Aku sudah menyampaikan kepadanya bahwa Anda telah menyelesaikan seluruh pesanan pertama. Tuan Sergei Redomir, mengundang Anda untuk datang ke Monaco. Itu juga jika Anda berminat. Seperti yang sudah kukatakan dulu, bahwa ia akan memesan lagi dalam jumlah yang jauh lebih banyak," terang Adriano.
Matteo tak langsung memberikan jawabannya. Ia menoleh kepada Mia dan menatapnya sesaat. "Aku tidak bisa pergi dalam bulan-bulan ini, karena aku harus menemani Mia melakukan terapi," ujar Matteo dengan gaya bicaranya yang khas. Datar dan terkesan dingin.
"Oh, apakah gips Nyonya de Luca sudah dilepas?"
"Ya, Tuan D'Angelo. Aku sudah melepas gips sejak seminggu yang lalu, dan sudah mulai melakukan terapi. Aku berharap bisa segera terbebas dari kursi roda ini," jawab Mia masih dengan nada bicaranya yang lembut.
"Baiklah. Namun, Anda bersedia bukan untuk bertemu secara langsung dengan Tuan Redomir di Monaco?" Adriano kembali mengalihkan perhatiannya kepada Matteo. Nada bicaranya terdengar penuh harap.
"Jika Mia telah menyesaikan terapinya, aku rasa bisa saja. Tak ada masalah bagiku," jawab Matteo tenang. "Lagi pula, aku memang berencana untuk mengajak istriku berlibur," lanjutnya seraya menyentuh pundak sang istri. Mia membalas hal itu dengan menyentuh punggung tangan Matteo dan mengusapnya perlahan. Sebuah hal kecil yang tak lepas dari penglihatan mata biru Adriano. Pria rupawan itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk sesaat.
Matteo menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Pria itu tak membutuhkan sebuah sanjungan. Matteo sangat mengetahui kualitas dari senjata yang diproduksinya, meskipun sekarang ia hanya sekadar merakit dan tak terjun langsung dalam proses produksi setiap komponen. Akan tetapi, semua proses itu tetap berada di bawah pengawasannya.
"Untuk saat ini, aku hanya ingin fokus pada pemulihan Mia. Barulah setelah itu aku akan memikirkan hal lain. Jika kolega Anda bisa menunggu, maka aku akan sangat berterima kasih. Namun, jika ia tak bisa bersabar, maka aku tidak akan ambil pusing dengan hal itu," jelas Matteo dengan tenangnya. Ia seperti tak peduli dengan hal lain, selain kesembuhan Mia.
"Kau tidak takut kehilangan konsumen, Theo?" tanya Mia melirik sang suami.
"Aku hanya takut kehilanganmu, Cara mia," jawab Matteo dengan yakin, membuat Mia tersipu. Sementara Valerie memperlihatkan senyuman samar. "Kenapa aku begitu terkesan mendengar ucapanmu, Tuan de Luca?" celotehnya.
"Sudah kukatakan jika suamiku sebenarnya pria yang manis, Val," sahut Mia dengan diiringi tawa pelan.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku masuk dan menyimpan senjata ini, daripada aku harus menembak diriku sendiri," keluh Valerie seraya berlalu.
"Hey, kenapa kau harus melakukan hal itu?" tanya Mia dengan suara yang cukup nyaring, karena Valerie sudah melangkah pergi menuju ke dalam bengkel.
"Karena aku begitu terkesan dengan suamimu, Nyonya," seru Valerie yang saat itu tertegun dan menoleh sesaat, sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dalam bengkel. Sedangkan Mia kembali tertawa pelan. Ia tak merasa risih dengan ucapan Valerie. Mia justru menyukai sikap terbuka yang ditunjukan oleh gadis itu. Baginya, karakter Valerie begitu unik dan menarik.
Sementara Matteo memandang Mia dengan tatapan aneh dan heran. “Apa tidak salah, Cara mia?” tanyanya.
“Apanya yang salah, Theo?” Mia balik bertanya sambil menautkan alisnya.
“Kau tidak cemburu sama sekali kepada Valerie?” Matteo mengerutkan kedua alisnya yang hitam.
Tak hanya Mia yang mendengarkan pertanyaan Matteo, tetapi juga Adriano. Pria bermata biru itu ikut menunggu jawaban Mia.
“Kau tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya di masa lalu. Tidak seperti kau dan Camilla yang sudah bersama sejak remaja,” Mia tersenyum masam sambil membetulkan letak turbannya.
“Astaga. Masih saja kau membahas Camilla, Sayangku? Ia sudah menikah sekarang,” ujar Matteo.
“Bagi seorang wanita, tak ada bedanya sekalipun mantan Anda telah menikah dan memiliki anak, mereka tetap akan menjadi ketakutan terbesar dalam hidupnya,” sela Adriano, membuat Matteo melotot tajam ke arahnya.
“Camilla bukan mantan kekasihku!” protes Matteo setengah melotot. “ Kenapa Anda suka sekali ikut campur?” keluhnya
“Kebetulan aku masih ada di sini dan tak sengaja mendengar percakapan kalian,” kilah Adriano tenang. Sedangkan Matteo hanya memutar bola matanya atas alasan yang mengada-ada tersebut.
“Benar sekali, Tuan D’Angelo. Camilla bukan mantan kekasih suamiku. Ia hanyalah teman ranjang,” celetuk Mia sambil mengangkat alisnya.
__ADS_1
“Cukup, Mia! Aku akan menghukummu!” tanpa banyak bicara, Matteo segera mengangkat tubuh Mia dan menggendongnya. Lagi-lagi ia meninggalkan kursi roda itu begitu saja. Matteo juga meninggalkan Adriano yang masih diam terpaku di tempatnya. Sebelah tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung pegangan kursi roda. Sementara tangan lainnya meraih ponsel dan tampak menelepon seseorang.